Memperoleh Lailatul Qadar dan Habituasi Setelahnya, Membangun Spiritualitas yang Berkelanjutan - Universitas NU Sidoarjo April 2
Archived: 2026-04-23 17:35
Memperoleh Lailatul Qadar dan Habituasi Setelahnya, Membangun Spiritualitas yang Berkelanjutan - Universitas NU Sidoarjo April 24, 2026
Blog
You are here:
Home
1
/
Blog
2
/
Gagasan
3
/
Memperoleh Lailatul Qadar dan Habituasi Setelahnya, Membangun Spiritualitas...
Malam 27 Bulan Ramadhan kali ini tampak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Pada malam ini hampir separuhnya diguyur hujan dengan intensitas tinggi hingga sedang. Bagi sebagian wilayah yang merasakan guyuran hujan dengan intensitas tinggi mereka akan merasakan bahwa hujan pada malam ini tidak menimbulkan dampak negatif, seperti banjir yang merusak atau angin yang memporak-porandakan lingkungan. Kelembaban udara serta suhu pada malam ini juga tidak begitu gerah dan tidak begitu dingin serasa sejuk meski tidak ada angin yang berhembus.
Suasana yang nyaman pada malam 27 ini dimanfaatkan oleh banyak orang untuk beribadah secara individual maupun kolektif. Pada waktu sepertiganya, sekitar pukul satu dini hari. Tampak terlihat beberapa kerumunan orang berbondong-bondong ke masjid atau musholla untuk
qiyamul lail
. Mereka benar-benar menghidupkan malam ini dengan pengabdian penuh kepada Allah SWT. Shalat Tahajud, Shalat Taubat, Shalat Hajat hingga Shalat Tasbih mereka persembahkan untuk Allah. Demikian juga dengan panjatan harapan serta doa terbaik mereka mohonkan kepada Sang Penunai Hajat. Mereka menengadahkan tangan, memohon, meminta, memuji, mengagungkan Tuhan Semesta Alam. Memang pada dasarnya malam 27 ini seperti terkondisikan nyaman untuk beribadah.
Praktik beribadah secara kolektif semacam ini dilakukan dengan berbagai macam motivasi. Seperti motivasi untuk memperoleh fadhilah malam Lailatul Qadar. Beribadah dengan motivasi mendapatkan Lailatul Qadar sah saja sebab kaum Muslimin memang diajarkan untuk mencari dan menghidupkan malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Artinya, nilai ibadah pada malam tersebut memiliki keutamaan yang luar biasa besar, melampaui nilai ibadah yang dilakukan selama puluhan tahun.
Baca juga:
Tingkatkan Mutu Akademik, FAI UNUSIDA Gelar Benchmarking dan Visiting Lecturer ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Motivasi memperoleh Lailatul Qadar inilah yang kemudian mendorong banyak orang untuk meningkatkan intensitas ibadahnya pada penghujung Ramadhan. Masjid-masjid yang biasanya mulai sepi setelah pertengahan malam tiba-tiba kembali hidup. Lampu-lampu menyala, lantunan doa terdengar khusyuk, dan jamaah duduk bersila membaca Al-Qur’an atau berzikir dengan penuh harap. Ada semacam kesadaran kolektif bahwa kesempatan ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Namun demikian, terdapat satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama. Apakah semangat ibadah yang memuncak pada malam-malam tertentu di bulan Ramadhan itu akan terus berlanjut setelah Ramadhan berlalu? Ataukah semangat tersebut hanya menjadi fenomena musiman yang menghilang begitu saja ketika kalender telah berganti menjadi bulan Syawal?
Di sinilah pentingnya memahami makna spiritual Lailatul Qadar secara lebih mendalam. Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang diburu untuk mendapatkan pahala berlipat ganda, tetapi juga momentum transformasi spiritual bagi seorang Muslim. Malam ini seharusnya menjadi titik balik kesadaran manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Jika seseorang benar-benar merasakan kehadiran spiritual Lailatul Qadar, maka dampaknya tidak berhenti pada satu malam saja. Pengalaman spiritual tersebut semestinya melahirkan perubahan sikap, perubahan perilaku, dan perubahan orientasi hidup hingga seribu bulan lamanya. Orang yang merasakan kedekatan dengan Tuhan pada malam itu akan terdorong untuk mempertahankan kualitas ibadahnya pada hari-hari berikutnya, itulah Lailatul Qadar yang membekas pada spiritualitasnya.
Dalam perspektif pendidikan spiritual, hal ini dapat disebut sebagai proses habituasi atau pembiasaan. Ramadhan pada dasarnya adalah
madrasah ruhaniyah
yang melatih manusia untuk membentuk kebiasaan baik. Puasa melatih pengendalian diri, tarawih melatih konsistensi ibadah malam, sedekah melatih kepedulian sosial, dan tadarus Al-Qur’an melatih kedekatan dengan wahyu Ilahi.
Baca juga:
Semangat Kepahlawanan sebagai Puncak Pembelajaran Hidup
Semua latihan tersebut mencapai puncaknya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan ketika umat Islam berlomba-lomba mencari Lailatul Qadar. Namun, tujuan akhir dari latihan tersebut bukanlah sekadar pengalaman spiritual yang bersifat sesaat, melainkan terbentuknya karakter religius yang berkelanjutan.
Dalam konteks inilah, habituasi setelah Ramadan menjadi sangat penting. Orang yang terbiasa bangun malam selama Ramadhan idealnya tetap melanjutkan kebiasaan tersebut meskipun dalam kadar yang lebih sederhana. Orang yang terbiasa membaca Al-Qur’an setiap hari selama Ramadhan juga diharapkan tetap menjaga kedekatannya dengan Al-Qur’an pada bulan-bulan berikutnya. Demikian pula dengan kebiasaan bersedekah, menjaga lisan, dan memperbanyak doa.
Habituasi ini penting karena dalam ajaran Islam, amal yang paling dicintai oleh Allah bukanlah amal yang besar tetapi dilakukan sekali, melainkan amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Konsistensi atau istiqamah inilah yang menjadi indikator kematangan spiritual seseorang.
Dengan demikian, keberhasilan seseorang memperoleh keberkahan Lailatul Qadar tidak hanya diukur dari seberapa khusyuk ia beribadah pada malam itu, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu mempertahankan nilai-nilai spiritual Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari setelahnya. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali pada kebiasaan lama yang jauh dari nilai-nilai ketakwaan, maka bisa jadi ia hanya mendapatkan euforia spiritual sesaat tanpa transformasi yang nyata.
Sebaliknya, jika pengalaman spiritual pada malam-malam Ramadhan mampu melahirkan kebiasaan baik yang terus dipelihara, maka di situlah hakikat keberkahan Lailatul Qadar benar-benar terwujud. Malam itu tidak hanya menjadi malam yang penuh pahala, tetapi juga menjadi awal dari perjalanan spiritual yang lebih matang.
Walhasil,
Lailatul Qadar bukan hanya tentang satu malam yang penuh kemuliaan, tetapi tentang bagaimana kemuliaan malam tersebut mampu membentuk kebiasaan hidup yang lebih baik hingga seribu bulan. Ramadhan mungkin akan berlalu, tetapi nilai-nilai spiritual yang ditanamkan di dalamnya seharusnya tetap hidup dalam diri setiap Muslim. Dengan cara itulah, cahaya Lailatul Qadar tidak hanya menerangi satu malam, tetapi juga menerangi perjalanan hidup manusia sepanjang waktu. Semoga kita diperkenankan oleh Allah untuk menjumpai Ramadhan berikutnya.
Baca juga:
Perspektif Pendidikan Modern: Keteladanan Ibu dalam Pembentukan Karakter Anak Usia Sekolah
Oleh: Dr. Rangga Sa’adillah S.A.P. (Kabag MKU UNUSIDA)
Post Views:
305
https://unusida.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/18214232/Dosen-FAI-UNUSIDA.jpeg
368
454
UNUSIDA Author
https://www.unusida.ac.id/wp-content/uploads/2023/04/Logo-UNUSIDA.jpg
UNUSIDA Author
2026-03-18 21:45:42
2026-03-18 21:45:42
Memperoleh Lailatul Qadar dan Habituasi Setelahnya, Membangun Spiritualitas yang Berkelanjutan
You might also like
Festival PIAUD UNUSIDA, Semarak Kreativitas Mahasiswa dan Anak Usia Dini
Dosen UNUSIDA Berikan Pendampingan Parenting untuk Orang Tua Anak Jalanan: Ubah Pola Pikir Deduktif Menjadi Inspiratif dengan Menggunakan Metode Hypnotherapy
Dosen UNUSIDA Raih Pendanaan Program Pengabdian Masyarakat BiMA 2025: Dorong Inovasi Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis AI di Pesantren
Pulang dari Liburan: Mengubah Jeda Menjadi Momentum Inspirasi dan Motivasi Peningkatan Performa Kinerja
Tingkatkan Mutu Akademik, FAI UNUSIDA Gelar Benchmarking dan Visiting Lecturer ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Refleksi HUT RI Ke-80: Dosen UNUSIDA Ajak Meneladani Sikap Keberanian dan Keikhlasan Para Pendiri Bangsa
Jadi Bagian dari Generasi Masa Depan
Daftar sekarang di UNUSIDA dan mulai petualangan baru yang menginspirasi!
Daftar Sekarang
Unusida Official – Instagram
Recent
Magang di WIJABA Jadi Momentum untuk Belajar, Mengabdi,...
April 21, 2026 - 8:31 pm
Kartini Masa Kini Hadir dalam Setiap Perempuan yang Menjalani...
April 21, 2026 - 2:59 pm
Sinergi Hebat Alumni untuk Kemajuan Bersama, IKA Fakultas...
April 21, 2026 - 9:03 am
Zaza Wahyu Faradillah, Alumni PGSD UNUSIDA Buktikan Bekal...
April 21, 2026 - 8:44 am
Tags
#Diktisaintekberdampak#unusidatoday #unusida #unusidakece #UNUSIDAkampuspilihanku #KampusWirausahaMuda #kabarunusida #pmbunusida
#PrestasiUnusida
#unusidakece
#unusidatoday
Akuntansi
Alumni Unusida
Diktisaintekberdampak
DKV Unusida
Dosen Unusida
FAI Unusida
fakultas ekonomi
Fakultas Teknik
Filkom Unusida
FKIP Unusida
Hima Prodi Manajemen
HMTL UNUSIDA
Inspirasi alumni
Internasional
kabarunusida
Kampus Berprestasi
Kampus NU
KampusWirausahaMuda
KKN Unusida
LPTNU
Mahasiswa
Mahasiswa Aktif
Mahasiswa Berprestasi
Mahasiswa Unusida
Manajemen
Ormawa Unusida
PCNU Sidoarjo
Pengabdian Masyarakat
PGSD UNUSIDA
PKM
pmbunusida
Prestasi Unusida
PTNU
Teknik Lingkungan
unusida
Unusida Berdaya
UNUSIDAkampuspilihanku
UPT PIK Unusida
Webinar Nasional
Wisuda 2025
Workshop
Kategori
Berita
Design / Branding
Gagasan
Info Terbaru
Inspirasi Alumni
JPZIS Unusida
News
Pemberitahuan
Wisuda
Kampus I:
Jl. Monginsidi Kav. DPR No. A23 Dalam, Sidoklumpuk, Sidokumpul, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61218
Kampus II:
Jl. Lingkar Timur KM 5,5 Rangkah Kidul, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61234
Telepon: (031) 8079900
Email: humas@unusida.ac.id
Akses Cepat
Sistem Informasi Manajemen UNUSIDA (MY UNUSIDA)
Penerimaan Mahasiswa Baru
E-Learning UNUSIDA (ELIN UNUSIDA)
Tracer Study
Sistem Poin Mahasiswa
Digital Library
Aplikasi Perpustakaan KUBUKU UNUSIDA
Jurnal UNUSIDA
Seminar UNUSIDA
Perpustakaan Islam Digital (PID)
Books of Taylor & Francis Group
Unduhan Cepat
Akreditasi UNUSIDA
Kelembagaan
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Badan Pengelola Sumber Daya Manusia
Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran
Badan Satuan Pengawas Internal
Biro Akademik
Biro Umum
Biro Keuangan
Biro Humas dan Kerjasama
Biro Kemahasiswaan dan Alumni
UPT Penerimaan Mahasiswa Baru
UPT Pengembangan dan Inovasi Pendidikan
UPT Perpustakaan
UPT Teknologi Informasi dan Digitalisasi
UPT Inkubasi Bisnis
UPT Halal Centre
UPT Pengkajian Islam dan Keaswajaan
Waktu Pelayanan
Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang prima kepada mahasiswa, staf, dan masyarakat secara umum untuk memenuhi kebutuhan dan mendukung perkembangan akademik serta administratif.
Senin s.d. Jum'at:
08.00 WIB - 16.00 WIB
Sabtu dan Minggu:
Tutup
Inspirasi Alumni UNUSIDA: Izzah Nadlifah Kirana, dari Bangku Kuliah Menuju Finance...
Halal Bihalal Keluarga Besar UNUSIDA: Teguhkan Profesionalisme dan Khidmah Pasca...
Scroll to top
Blog
You are here:
Home
1
/
Blog
2
/
Gagasan
3
/
Memperoleh Lailatul Qadar dan Habituasi Setelahnya, Membangun Spiritualitas...
Malam 27 Bulan Ramadhan kali ini tampak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Pada malam ini hampir separuhnya diguyur hujan dengan intensitas tinggi hingga sedang. Bagi sebagian wilayah yang merasakan guyuran hujan dengan intensitas tinggi mereka akan merasakan bahwa hujan pada malam ini tidak menimbulkan dampak negatif, seperti banjir yang merusak atau angin yang memporak-porandakan lingkungan. Kelembaban udara serta suhu pada malam ini juga tidak begitu gerah dan tidak begitu dingin serasa sejuk meski tidak ada angin yang berhembus.
Suasana yang nyaman pada malam 27 ini dimanfaatkan oleh banyak orang untuk beribadah secara individual maupun kolektif. Pada waktu sepertiganya, sekitar pukul satu dini hari. Tampak terlihat beberapa kerumunan orang berbondong-bondong ke masjid atau musholla untuk
qiyamul lail
. Mereka benar-benar menghidupkan malam ini dengan pengabdian penuh kepada Allah SWT. Shalat Tahajud, Shalat Taubat, Shalat Hajat hingga Shalat Tasbih mereka persembahkan untuk Allah. Demikian juga dengan panjatan harapan serta doa terbaik mereka mohonkan kepada Sang Penunai Hajat. Mereka menengadahkan tangan, memohon, meminta, memuji, mengagungkan Tuhan Semesta Alam. Memang pada dasarnya malam 27 ini seperti terkondisikan nyaman untuk beribadah.
Praktik beribadah secara kolektif semacam ini dilakukan dengan berbagai macam motivasi. Seperti motivasi untuk memperoleh fadhilah malam Lailatul Qadar. Beribadah dengan motivasi mendapatkan Lailatul Qadar sah saja sebab kaum Muslimin memang diajarkan untuk mencari dan menghidupkan malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Artinya, nilai ibadah pada malam tersebut memiliki keutamaan yang luar biasa besar, melampaui nilai ibadah yang dilakukan selama puluhan tahun.
Baca juga:
Tingkatkan Mutu Akademik, FAI UNUSIDA Gelar Benchmarking dan Visiting Lecturer ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Motivasi memperoleh Lailatul Qadar inilah yang kemudian mendorong banyak orang untuk meningkatkan intensitas ibadahnya pada penghujung Ramadhan. Masjid-masjid yang biasanya mulai sepi setelah pertengahan malam tiba-tiba kembali hidup. Lampu-lampu menyala, lantunan doa terdengar khusyuk, dan jamaah duduk bersila membaca Al-Qur’an atau berzikir dengan penuh harap. Ada semacam kesadaran kolektif bahwa kesempatan ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Namun demikian, terdapat satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama. Apakah semangat ibadah yang memuncak pada malam-malam tertentu di bulan Ramadhan itu akan terus berlanjut setelah Ramadhan berlalu? Ataukah semangat tersebut hanya menjadi fenomena musiman yang menghilang begitu saja ketika kalender telah berganti menjadi bulan Syawal?
Di sinilah pentingnya memahami makna spiritual Lailatul Qadar secara lebih mendalam. Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang diburu untuk mendapatkan pahala berlipat ganda, tetapi juga momentum transformasi spiritual bagi seorang Muslim. Malam ini seharusnya menjadi titik balik kesadaran manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Jika seseorang benar-benar merasakan kehadiran spiritual Lailatul Qadar, maka dampaknya tidak berhenti pada satu malam saja. Pengalaman spiritual tersebut semestinya melahirkan perubahan sikap, perubahan perilaku, dan perubahan orientasi hidup hingga seribu bulan lamanya. Orang yang merasakan kedekatan dengan Tuhan pada malam itu akan terdorong untuk mempertahankan kualitas ibadahnya pada hari-hari berikutnya, itulah Lailatul Qadar yang membekas pada spiritualitasnya.
Dalam perspektif pendidikan spiritual, hal ini dapat disebut sebagai proses habituasi atau pembiasaan. Ramadhan pada dasarnya adalah
madrasah ruhaniyah
yang melatih manusia untuk membentuk kebiasaan baik. Puasa melatih pengendalian diri, tarawih melatih konsistensi ibadah malam, sedekah melatih kepedulian sosial, dan tadarus Al-Qur’an melatih kedekatan dengan wahyu Ilahi.
Baca juga:
Semangat Kepahlawanan sebagai Puncak Pembelajaran Hidup
Semua latihan tersebut mencapai puncaknya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan ketika umat Islam berlomba-lomba mencari Lailatul Qadar. Namun, tujuan akhir dari latihan tersebut bukanlah sekadar pengalaman spiritual yang bersifat sesaat, melainkan terbentuknya karakter religius yang berkelanjutan.
Dalam konteks inilah, habituasi setelah Ramadan menjadi sangat penting. Orang yang terbiasa bangun malam selama Ramadhan idealnya tetap melanjutkan kebiasaan tersebut meskipun dalam kadar yang lebih sederhana. Orang yang terbiasa membaca Al-Qur’an setiap hari selama Ramadhan juga diharapkan tetap menjaga kedekatannya dengan Al-Qur’an pada bulan-bulan berikutnya. Demikian pula dengan kebiasaan bersedekah, menjaga lisan, dan memperbanyak doa.
Habituasi ini penting karena dalam ajaran Islam, amal yang paling dicintai oleh Allah bukanlah amal yang besar tetapi dilakukan sekali, melainkan amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Konsistensi atau istiqamah inilah yang menjadi indikator kematangan spiritual seseorang.
Dengan demikian, keberhasilan seseorang memperoleh keberkahan Lailatul Qadar tidak hanya diukur dari seberapa khusyuk ia beribadah pada malam itu, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu mempertahankan nilai-nilai spiritual Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari setelahnya. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali pada kebiasaan lama yang jauh dari nilai-nilai ketakwaan, maka bisa jadi ia hanya mendapatkan euforia spiritual sesaat tanpa transformasi yang nyata.
Sebaliknya, jika pengalaman spiritual pada malam-malam Ramadhan mampu melahirkan kebiasaan baik yang terus dipelihara, maka di situlah hakikat keberkahan Lailatul Qadar benar-benar terwujud. Malam itu tidak hanya menjadi malam yang penuh pahala, tetapi juga menjadi awal dari perjalanan spiritual yang lebih matang.
Walhasil,
Lailatul Qadar bukan hanya tentang satu malam yang penuh kemuliaan, tetapi tentang bagaimana kemuliaan malam tersebut mampu membentuk kebiasaan hidup yang lebih baik hingga seribu bulan. Ramadhan mungkin akan berlalu, tetapi nilai-nilai spiritual yang ditanamkan di dalamnya seharusnya tetap hidup dalam diri setiap Muslim. Dengan cara itulah, cahaya Lailatul Qadar tidak hanya menerangi satu malam, tetapi juga menerangi perjalanan hidup manusia sepanjang waktu. Semoga kita diperkenankan oleh Allah untuk menjumpai Ramadhan berikutnya.
Baca juga:
Perspektif Pendidikan Modern: Keteladanan Ibu dalam Pembentukan Karakter Anak Usia Sekolah
Oleh: Dr. Rangga Sa’adillah S.A.P. (Kabag MKU UNUSIDA)
Post Views:
305
https://unusida.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/18214232/Dosen-FAI-UNUSIDA.jpeg
368
454
UNUSIDA Author
https://www.unusida.ac.id/wp-content/uploads/2023/04/Logo-UNUSIDA.jpg
UNUSIDA Author
2026-03-18 21:45:42
2026-03-18 21:45:42
Memperoleh Lailatul Qadar dan Habituasi Setelahnya, Membangun Spiritualitas yang Berkelanjutan
You might also like
Festival PIAUD UNUSIDA, Semarak Kreativitas Mahasiswa dan Anak Usia Dini
Dosen UNUSIDA Berikan Pendampingan Parenting untuk Orang Tua Anak Jalanan: Ubah Pola Pikir Deduktif Menjadi Inspiratif dengan Menggunakan Metode Hypnotherapy
Dosen UNUSIDA Raih Pendanaan Program Pengabdian Masyarakat BiMA 2025: Dorong Inovasi Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis AI di Pesantren
Pulang dari Liburan: Mengubah Jeda Menjadi Momentum Inspirasi dan Motivasi Peningkatan Performa Kinerja
Tingkatkan Mutu Akademik, FAI UNUSIDA Gelar Benchmarking dan Visiting Lecturer ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Refleksi HUT RI Ke-80: Dosen UNUSIDA Ajak Meneladani Sikap Keberanian dan Keikhlasan Para Pendiri Bangsa
Jadi Bagian dari Generasi Masa Depan
Daftar sekarang di UNUSIDA dan mulai petualangan baru yang menginspirasi!
Daftar Sekarang
Unusida Official – Instagram
Recent
Magang di WIJABA Jadi Momentum untuk Belajar, Mengabdi,...
April 21, 2026 - 8:31 pm
Kartini Masa Kini Hadir dalam Setiap Perempuan yang Menjalani...
April 21, 2026 - 2:59 pm
Sinergi Hebat Alumni untuk Kemajuan Bersama, IKA Fakultas...
April 21, 2026 - 9:03 am
Zaza Wahyu Faradillah, Alumni PGSD UNUSIDA Buktikan Bekal...
April 21, 2026 - 8:44 am
Tags
#Diktisaintekberdampak#unusidatoday #unusida #unusidakece #UNUSIDAkampuspilihanku #KampusWirausahaMuda #kabarunusida #pmbunusida
#PrestasiUnusida
#unusidakece
#unusidatoday
Akuntansi
Alumni Unusida
Diktisaintekberdampak
DKV Unusida
Dosen Unusida
FAI Unusida
fakultas ekonomi
Fakultas Teknik
Filkom Unusida
FKIP Unusida
Hima Prodi Manajemen
HMTL UNUSIDA
Inspirasi alumni
Internasional
kabarunusida
Kampus Berprestasi
Kampus NU
KampusWirausahaMuda
KKN Unusida
LPTNU
Mahasiswa
Mahasiswa Aktif
Mahasiswa Berprestasi
Mahasiswa Unusida
Manajemen
Ormawa Unusida
PCNU Sidoarjo
Pengabdian Masyarakat
PGSD UNUSIDA
PKM
pmbunusida
Prestasi Unusida
PTNU
Teknik Lingkungan
unusida
Unusida Berdaya
UNUSIDAkampuspilihanku
UPT PIK Unusida
Webinar Nasional
Wisuda 2025
Workshop
Kategori
Berita
Design / Branding
Gagasan
Info Terbaru
Inspirasi Alumni
JPZIS Unusida
News
Pemberitahuan
Wisuda
Kampus I:
Jl. Monginsidi Kav. DPR No. A23 Dalam, Sidoklumpuk, Sidokumpul, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61218
Kampus II:
Jl. Lingkar Timur KM 5,5 Rangkah Kidul, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61234
Telepon: (031) 8079900
Email: humas@unusida.ac.id
Akses Cepat
Sistem Informasi Manajemen UNUSIDA (MY UNUSIDA)
Penerimaan Mahasiswa Baru
E-Learning UNUSIDA (ELIN UNUSIDA)
Tracer Study
Sistem Poin Mahasiswa
Digital Library
Aplikasi Perpustakaan KUBUKU UNUSIDA
Jurnal UNUSIDA
Seminar UNUSIDA
Perpustakaan Islam Digital (PID)
Books of Taylor & Francis Group
Unduhan Cepat
Akreditasi UNUSIDA
Kelembagaan
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Badan Pengelola Sumber Daya Manusia
Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran
Badan Satuan Pengawas Internal
Biro Akademik
Biro Umum
Biro Keuangan
Biro Humas dan Kerjasama
Biro Kemahasiswaan dan Alumni
UPT Penerimaan Mahasiswa Baru
UPT Pengembangan dan Inovasi Pendidikan
UPT Perpustakaan
UPT Teknologi Informasi dan Digitalisasi
UPT Inkubasi Bisnis
UPT Halal Centre
UPT Pengkajian Islam dan Keaswajaan
Waktu Pelayanan
Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang prima kepada mahasiswa, staf, dan masyarakat secara umum untuk memenuhi kebutuhan dan mendukung perkembangan akademik serta administratif.
Senin s.d. Jum'at:
08.00 WIB - 16.00 WIB
Sabtu dan Minggu:
Tutup
Inspirasi Alumni UNUSIDA: Izzah Nadlifah Kirana, dari Bangku Kuliah Menuju Finance...
Halal Bihalal Keluarga Besar UNUSIDA: Teguhkan Profesionalisme dan Khidmah Pasca...
Scroll to top