Dari lahan terdegradasi ke bioekonomi ramah hutan di Indonesia
Bagaimana lahan terdegradasi bisa menjadi fondasi bioekonomi ramah hutan di Indonesia
Himlal Baral
Robert Finlayson
Bambang Supriyatno
28 Jan 2026
EN
ID
Bagikan
Bagikan artikel ini
Email
Salin Tautan
4 menit baca
By
Himlal Baral
Robert Finlayson
and
Bambang Supriyatno
Himlal Baral
Robert Finlayson
Bambang Supriyatno
Bagikan
Bagikan artikel ini
Email
Salin Tautan
Memenuhi kebutuhan pangan dan energi sekaligus memperkuat ketahanan iklim, tanpa menambah deforestasi.
perbukitan kering di dekat Labuan Bajo, Indonesia bagian timur, menggambarkan luasnya lahan terdegradasi dan marginal yang berpotensi direstorasi dan dimanfaatkan kembali untuk sistem pangan dan energi yang berpihak pada hutan.
Dengan tuntutan pangan, energi, dan mitigasi iklim yang kian meningkat, Indonesia perlu menjawab tantangan utama: bisakah pembangunan terus berjalan tanpa konversi hutan alam?
Alih-alih membuka hutan baru, sebuah
perspektif ilmiah terbaru
justru menunjukkan jalan lain. Dengan memanfaatkan lahan terdegradasi dan kurang dimanfaatkan secara cerdas, sistem pangan dan energi terintegrasi dapat menopang penghidupan, memulihkan alam, dan menyimpan karbon—semuanya tanpa mengorbankan hutan.
Tantangan utama: Trilema nasional
Para pembuat kebijakan di Indonesia dihadapkan pada dilema klasik yang kian kompleks. Di satu sisi, pertumbuhan penduduk dan ekonomi terus meningkatkan kebutuhan pangan dan energi. Di sisi lain, Indonesia juga telah berkomitmen pada target iklim yang ambisius serta perlindungan jangka panjang hutan alam.
Selama ini, peningkatan produksi sering ditempuh dengan membuka lahan baru—sebuah pendekatan yang berisiko mendorong hilangnya hutan. Cara ini tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati dan cadangan karbon, tetapi juga melemahkan ketahanan jangka panjang, sementara manfaat pembangunannya kerap bersifat sementara.
Arah pembangunan berbasis sains
Melalui artikel ini, Baral dan rekan-rekannya, termasuk
Robert Nasi
, Direktur General CIFOR dan Direktur Sains
CIFOR-ICRAF
menunjukkan alternatif berbasis sains yang menjauh dari konversi hutan. Fokusnya adalah agroforestri dan bioenergi yang mendukung restorasi, pertanian cerdas iklim, dan pemanfaatan lahan terdegradasi.
Lahan-lahan yang sebelumnya dianggap tidak produktif kini dilihat sebagai ruang pemulihan—tempat pangan, energi terbarukan, dan ternak dapat diintegrasikan dalam sistem agroforestri yang berkelanjutan.
Di lahan-lahan ini, tanaman pangan dapat ditanam untuk memenuhi gizi dan pasar lokal, pohon penghasil bioenergi menyediakan energi terbarukan dan biomassa, sementara ternak dikelola dalam mosaik agroforestri yang saling mendukung.
Kombinasi ini membuat lahan lebih produktif, memperkuat penghidupan desa, dan meningkatkan penyerapan karbon tanpa mengorbankan hutan.
Baca juga
A Pathway to a Forest-Positive Bioeconomy in Indonesia: Harnessing Degraded Lands for Food and Energy Security
Mengapa lahan terdegradasi penting
Lahan terdegradasi tersebar luas di Indonesia, dari bekas pertanian hingga kawasan berhutan dengan produktivitas rendah. Meski potensinya besar, lahan-lahan ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pangan, iklim, dan keanekaragaman hayati.
Dengan memfokuskan pembangunan ke lahan tersebut, Indonesia bisa menjaga laju pertumbuhan tanpa menambah deforestasi—sekaligus membangun bioekonomi yang ramah hutan dan berkelanjutan.
Manfaat besar, tantangan nyata
Bioekonomi yang bertumpu pada pemulihan lahan menawarkan manfaat ganda bagi masyarakat dan lingkungan. Pendekatan ini membuka peluang pendapatan baru di perdesaan, memperkuat energi terbarukan, dan meningkatkan penyerapan karbon.
Tak hanya itu, arah ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia dalam Perjanjian Paris serta berbagai agenda pembangunan nasional.
Meski menjanjikan, penerapan pendekatan ini dalam skala besar bukan tanpa tantangan. Diperlukan kejelasan tata kelola dan hak atas lahan, investasi pada infrastruktur pengolahan dan akses pasar, pelibatan aktif petani kecil, serta skema pembiayaan jangka panjang yang memberi insentif pada pemulihan ekosistem.
Tantangan ini memang kompleks, tetapi bukan mustahil diatasi—terutama jika direncanakan secara terpadu di tingkat bentang alam dan didukung strategi rantai nilai yang terintegrasi.
Baca juga
Beyond oil palm: Tropical trees for bioenergy and restoration of degraded lands
Relevansi kebijakan dan langkah selanjutnya
Pesan bagi pembuat kebijakan jelas: pertumbuhan ekonomi dan perlindungan hutan bisa berjalan beriringan. Dengan memanfaatkan lahan terdegradasi secara cerdas, Indonesia dapat mengembangkan bioekonomi yang produktif, adil, dan ramah hutan.
Pendekatan ini juga membuka peluang kerja sama lintas sektor serta menekankan pentingnya riset dan proyek percontohan untuk membuktikan efektivitasnya di lapangan.
Di tengah meningkatnya perhatian global pada solusi berbasis alam, pengalaman Indonesia dalam mengelola lahan terdegradasi berpeluang menjadi rujukan bagi negara-negara tropis lain yang ingin tumbuh secara berkelanjutan tanpa mengorbankan hutan mereka.
Lainnya untuk Anda
Paradoks Belém: mengapa ‘COP Hutan’ gagal menyelamatkan pohon
Hutan Tropis Cekungan Kongo dalam krisis: Ancaman dan solusi
Hutan tropis di Cekungan Kongo kekurangan dana. Dampaknya tak sepele.
Terjebak di tengah: Celah koordinasi dalam konservasi hutan
Artikel Sebelumnya
Masterplan Pengelolaan Darat-Laut Terintegrasi Provinsi Sulawesi Tengah
28 Jan 2026
1 menit baca
Artikel Selanjutnya
Mengapa harus ayah?
Stunting, gender, dan peran ayah dalam keluarga
03 Feb 2026
1 menit baca
PILIHAN EDITOR
Lihat semua
Berinvestasi pada sumber daya manusia: Memajukan pendidikan restorasi di seluruh Asia
05 Apr 2026
8 menit baca
Hutan Tropis Cekungan Kongo dalam krisis: Ancaman dan solusi
21 Mar 2026
10 menit baca
Hutan dan ekonomi: Mencari titik temu keberlanjutan
21 Mar 2026
1 menit baca
Hutan tropis di Cekungan Kongo kekurangan dana. Dampaknya tak sepele.
20 Mar 2026
6 menit baca