Deforestasi - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke isi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Untuk kegiatan penebangan hutan untuk mendapatkan kayu bulat, lihat
pembalakan
Deforestasi hutan hujan Amazon
di negara bagian
Maranhão
, Brasil, 2016
Deforestasi di provinsi Riau, Sumatra,
Indonesia
demi pembukaan lahan perkebunan
kelapa sawit
pada tahun 2007.
Deforestasi di kota Rio de Janeiro di negara bagian
Rio de Janeiro
, Brasil, 2009
Deforestasi
atau
penggundulan hutan
adalah penghilangan dan pemusnahan
hutan
atau tegakan pohon dari lahan yang kemudian
dialihfungsikan
menjadi peruntukan non-hutan.
Deforestasi dapat melibatkan konversi lahan hutan menjadi
lahan pertanian
peternakan
, atau penggunaan
perkotaan
. Sekitar 31% permukaan daratan Bumi tertutup oleh
hutan
saat ini.
Angka ini sepertiga lebih sedikit dibandingkan
tutupan hutan
sebelum ekspansi pertanian, dengan setengah dari kehilangan tersebut terjadi pada abad terakhir.
Rata-rata 2.400 pohon ditebang setiap menitnya.
Estimasi sangat bervariasi mengenai tingkat luasnya deforestasi di
daerah tropis
Pada tahun 2019, hampir sepertiga dari keseluruhan hilangnya tutupan pohon, atau 3,8 juta hektare, terjadi di dalam
hutan primer
tropis lembap. Ini adalah area
hutan hujan
dewasa yang sangat penting bagi
keanekaragaman hayati
dan
penyimpanan karbon
Penyebab langsung sebagian besar deforestasi sejauh ini adalah pertanian.
10
Lebih dari 80% deforestasi dikaitkan dengan pertanian pada tahun 2012.
11
Hutan dikonversi menjadi perkebunan untuk
kopi
minyak kelapa sawit
karet
, dan berbagai produk populer lainnya.
12
Penggembalaan
ternak juga memicu deforestasi. Pemicu lainnya adalah
industri perkayuan
pembalakan
),
urbanisasi
, dan
pertambangan
Dampak perubahan iklim
merupakan penyebab lain melalui peningkatan risiko
kebakaran liar
(lihat
deforestasi dan perubahan iklim
).
Deforestasi mengakibatkan
kerusakan habitat
yang pada gilirannya menyebabkan
hilangnya keanekaragaman hayati
. Deforestasi juga menyebabkan
kepunahan
hewan dan tumbuhan, perubahan iklim lokal, dan terdesaknya
masyarakat adat
yang tinggal di hutan. Wilayah yang mengalami deforestasi sering kali juga menderita masalah lingkungan lain seperti
penggurunan
dan
erosi tanah
Masalah lain adalah bahwa deforestasi mengurangi penyerapan karbon dioksida (
sekuestrasi karbon
) dari atmosfer. Hal ini mengurangi potensi hutan untuk membantu
mitigasi perubahan iklim
. Peran hutan dalam menangkap dan menyimpan karbon serta memitigasi perubahan iklim juga penting bagi sektor pertanian.
13
Alasan keterkaitan ini adalah karena
dampak perubahan iklim terhadap pertanian
menimbulkan risiko baru bagi
sistem pangan
global.
13
Sejak tahun 1990, diperkirakan sekitar
420 juta hektare
hutan telah hilang melalui
konversi
menjadi
penggunaan lahan
lain, meskipun laju deforestasi telah menurun selama tiga dekade terakhir. Antara tahun 2015 dan 2020, laju deforestasi diperkirakan sebesar 10 juta hektare per tahun, turun dari 16 juta hektare per tahun pada 1990-an. Luas hutan primer di seluruh dunia telah berkurang lebih dari 80 juta hektare sejak tahun 1990. Lebih dari 100 juta hektare hutan terkena dampak buruk dari kebakaran hutan, hama, penyakit,
spesies invasif
kekeringan
, dan peristiwa cuaca buruk.
14
Definisi
Tingkat perubahan bersih luas hutan per negara pada tahun 2020
Deforestasi didefinisikan sebagai konversi hutan menjadi penggunaan lahan lain (terlepas dari apakah hal itu disebabkan oleh manusia).
15
Deforestasi
dan
perubahan bersih luas hutan
tidaklah sama: istilah yang terakhir merupakan jumlah dari seluruh kehilangan hutan (deforestasi) dan seluruh penambahan hutan (ekspansi hutan) pada periode tertentu. Oleh karena itu, perubahan bersih dapat bernilai positif atau negatif, bergantung pada apakah penambahan melebihi kehilangan, atau sebaliknya.
15
Status terkini berdasarkan benua, wilayah, dan negara
Deforestasi tahunan
Perubahan tahunan luas hutan
FAO memperkirakan bahwa stok karbon hutan global telah menurun sebesar 0,9%, dan tutupan pohon sebesar 4,2% antara tahun 1990 dan 2020.
16
16,
52
Perubahan stok karbon hutan berdasarkan wilayah
Angka dalam gigaton
16
52,
tabel 43
Wilayah
1990
2020
Eropa (termasuk Rusia)
158,7
172,4
Amerika Utara
136,6
140,0
Afrika
94,3
80,9
Gabungan Asia Selatan dan Tenggara
45,8
41,5
Oseania
33,4
33,1
Amerika Tengah
5,0
4,1
Amerika Selatan
161,8
144,8
Hingga tahun 2019, masih terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah hutan global menyusut atau tidak: "Sementara stok karbon biomassa di atas permukaan tanah diperkirakan menurun di daerah tropis, stok tersebut meningkat secara global akibat peningkatan stok di hutan iklim sedang dan hutan boreal.
17
385
Deforestasi di banyak negara
—baik yang terjadi secara alami
18
maupun
akibat ulah manusia
—merupakan masalah yang terus berlanjut.
19
Antara tahun 2000 dan 2012,
23
juta kilometer persegi (8.900.000 mil persegi)
hutan di seluruh dunia ditebang.
20
Deforestasi dan degradasi hutan terus terjadi pada tingkat yang mengkhawatirkan, yang berkontribusi secara signifikan terhadap
hilangnya keanekaragaman hayati
yang sedang berlangsung.
13
Jumlah lahan pertanian yang dibutuhkan secara global akan berkurang tiga perempatnya jika seluruh populasi menerapkan pola makan
vegan
21
Deforestasi terjadi lebih ekstrem di hutan tropis dan subtropis di negara-negara ekonomi berkembang. Lebih dari setengah dari semua spesies tumbuhan dan hewan darat di dunia hidup di
hutan tropis
22
Sebagai akibat dari deforestasi, hanya tersisa
62
juta kilometer persegi (24
juta mil persegi)
dari
16
juta kilometer persegi (6
juta mil persegi)
hutan hujan tropis asli yang dahulunya menutupi Bumi.
20
Lebih dari 3,6 juta hektare hutan tropis perawan hilang pada tahun 2018.
23
Kerugian bersih tahunan global pohon diperkirakan sekitar 10 miliar.
24
25
Menurut
Asesmen Sumber Daya Hutan Global 2020
, rata-rata lahan terdeforestasi tahunan global pada paruh dekade 2015–2020 adalah 10 juta hektare, dan rata-rata kerugian bersih luas hutan tahunan pada dekade 2000–2010 adalah 4,7 juta hektare.
15
Dunia telah kehilangan 178 juta ha hutan sejak tahun 1990, sebuah wilayah yang kira-kira seukuran Libya.
15
Sebuah analisis pola deforestasi global pada tahun 2021 menunjukkan bahwa pola perdagangan, produksi, dan konsumsi memacu laju deforestasi dengan cara yang kompleks. Meskipun lokasi deforestasi dapat dipetakan, hal tersebut tidak selalu sesuai dengan tempat komoditas dikonsumsi. Sebagai contoh, pola konsumsi di
negara-negara G7
diperkirakan menyebabkan rata-rata kehilangan 3,9 pohon per orang per tahun. Dengan kata lain, deforestasi dapat terkait langsung dengan impor—sebagai contoh, kopi.
26
27
Pada tahun 2023,
Global Forest Watch
melaporkan penurunan sebesar 9% dalam kehilangan hutan primer tropis dibandingkan tahun sebelumnya, dengan pengurangan regional yang signifikan di
Brasil
dan
Kolombia
yang terbayangi oleh peningkatan di tempat lain, menyebabkan kenaikan deforestasi global sebesar 3,2%. Kebakaran hutan masif di
Kanada
, yang diperparah oleh
perubahan iklim
, berkontribusi pada peningkatan kehilangan tutupan pohon global sebesar 24%, menyoroti ancaman berkelanjutan terhadap hutan yang esensial bagi
penyimpanan karbon
dan
keanekaragaman hayati
. Meskipun ada beberapa kemajuan, tren keseluruhan dalam kerusakan hutan dan dampak iklim masih belum berada di jalur yang tepat.
28
Laporan Penilaian Keenam IPCC
menyatakan pada tahun 2022: "Lebih dari 420 juta ha hutan hilang akibat deforestasi dari tahun 1990 hingga 2020; lebih dari 90% kehilangan tersebut terjadi di daerah tropis (tingkat keyakinan tinggi), mengancam keanekaragaman hayati, jasa lingkungan, mata pencaharian masyarakat hutan, dan ketahanan terhadap guncangan iklim (tingkat keyakinan tinggi)."
29
Lihat pula:
Deforestasi berdasarkan benua
Halaman-halaman lainnya
Semua halaman dengan
deforestasi di
Semua halaman dengan
judul yang mengandung
deforestasi di
Halaman-halaman lainnya
Semua halaman dengan
deforestasi
Semua halaman dengan
judul yang mengandung
deforestasi
Halaman-halaman lainnya
Semua halaman dengan
pembukaan lahan di
Semua halaman dengan
judul yang mengandung
pembukaan lahan di
Laju deforestasi
Periode sejak tahun 1950 telah membawa "transformasi paling cepat dalam hubungan manusia dengan dunia alami dalam sejarah umat manusia".
30
Hingga tahun 2018, manusia telah mengurangi luas hutan sekitar ~30% dan padang rumput/semak belukar sekitar ~68%, untuk menyediakan lahan bagi penggembalaan ternak dan tanaman pangan bagi manusia.
31
Deforestasi global
32
mengalami percepatan tajam sekitar tahun 1852.
33
34
Hingga tahun 1947, planet ini memiliki
15 hingga 16
juta
km
(5,8 hingga 6,2
juta
sq
mi)
hutan tropis
dewasa,
35
namun pada tahun 2015, diperkirakan sekitar separuh dari jumlah tersebut telah musnah.
36
22
37
Total cakupan lahan oleh hutan hujan tropis menurun dari 14% menjadi 6%. Sebagian besar kehilangan ini terjadi antara tahun 1960 dan 1990, ketika 20% dari seluruh hutan hujan tropis dimusnahkan. Dengan laju ini, kepunahan hutan-hutan tersebut diproyeksikan akan terjadi pada pertengahan abad ke-21.
butuh rujukan
Pada awal tahun 2000-an, beberapa ilmuwan memprediksi bahwa kecuali jika langkah-langkah signifikan (seperti mencari dan melindungi hutan pertumbuhan lama yang belum terganggu)
35
diambil secara global, pada tahun 2030 hanya akan tersisa 10%, dengan 10% lainnya
dalam kondisi terdegradasi
33
80% akan telah hilang, dan bersamaan dengan itu ratusan ribu spesies yang tak tergantikan.
33
Estimasi sangat bervariasi mengenai tingkat luasnya deforestasi di daerah tropis.
Pada tahun 2019, dunia kehilangan hampir 12 juta hektare tutupan pohon. Hampir sepertiga dari kehilangan tersebut, yakni 3,8 juta hektare, terjadi di dalam hutan primer tropis lembap, area hutan hujan dewasa yang sangat penting bagi keanekaragaman hayati dan penyimpanan karbon. Ini setara dengan kehilangan area hutan primer seluas lapangan sepak bola setiap enam detik.
Laju perubahan
Dalam dekade-dekade sejak 1990, Amerika Selatan dan Afrika telah menunjukkan kehilangan luas hutan terbesar, dengan kerugian bersih global pada tahun 2010-an masih sekitar 60% dari nilai tahun 1990-an.
38
Laju hilangnya tutupan pohon global telah meningkat sekitar dua kali lipat sejak tahun 2001, mencapai kerugian tahunan yang mendekati luas wilayah Italia.
39
Hilangnya hutan
primer (pertumbuhan lama)
di daerah tropis terus menunjukkan tren peningkatan, dengan kerugian akibat kebakaran memberikan kontribusi porsi yang kian meningkat.
40
Sebuah analisis citra satelit tahun 2002 menunjukkan bahwa laju deforestasi di daerah tropis lembap (sekitar 5,8 juta hektare per tahun) kira-kira 23% lebih rendah daripada angka yang paling sering dikutip.
41
Sebuah laporan tahun 2005 oleh
Organisasi Pangan dan Pertanian
(FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa meskipun total luas hutan Bumi terus menurun sekitar 13 juta hektare per tahun, laju deforestasi global telah melambat.
42
43
Di sisi lain, analisis citra satelit tahun 2005 mengungkapkan bahwa
deforestasi hutan hujan Amazon
terjadi dua kali lebih cepat dari yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya.
44
45
Dari tahun 2010 hingga 2015, luas hutan di seluruh dunia menurun sebesar 3,3 juta ha per tahun, menurut
FAO
. Selama periode lima tahun ini, hilangnya luas hutan terbesar terjadi di daerah tropis, khususnya di Amerika Selatan dan Afrika. Penurunan luas hutan per kapita juga merupakan yang terbesar di daerah tropis dan subtropis, namun terjadi di setiap zona iklim (kecuali di
iklim sedang
) seiring dengan bertambahnya populasi.
46
Diperkirakan 420 juta ha hutan telah hilang di seluruh dunia akibat deforestasi sejak tahun 1990, namun laju hilangnya hutan telah menurun secara substansial. Pada periode lima tahun terakhir (2015–2020), laju tahunan deforestasi diperkirakan sebesar 10 juta ha, turun dari 12 juta ha pada periode 2010–2015.
15
Sebagai rumah bagi sebagian besar
hutan hujan Amazon
, kehilangan hutan tropis
primer (pertumbuhan lama)
di Brasil jauh melampaui negara-negara lain.
47
Secara keseluruhan, 20% hutan hujan Amazon telah "diubah" (dideforestasi) dan 6% lainnya telah "sangat terdegradasi", menyebabkan Amazon Watch memperingatkan bahwa Amazonia tengah berada di tengah krisis titik kritis.
48
Afrika memiliki laju tahunan kehilangan hutan bersih terbesar pada 2010–2020, yakni 3,9 juta ha, diikuti oleh Amerika Selatan sebesar 2,6 juta ha. Laju kehilangan hutan bersih telah meningkat di Afrika pada setiap dekade dari tiga dekade sejak 1990. Namun, laju tersebut telah menurun secara substansial di Amerika Selatan, menjadi sekitar separuh dari laju pada periode 2010–2020 dibandingkan dengan 2000–2010. Asia memiliki penambahan bersih luas hutan tertinggi pada 2010–2020, diikuti oleh Oseania dan Eropa. Meskipun demikian, baik Eropa maupun Asia mencatat tingkat penambahan bersih yang jauh lebih rendah pada 2010–2020 dibandingkan pada 2000–2010. Oseania mengalami kehilangan bersih luas hutan pada dekade 1990–2000 dan 2000–2010.
15
Beberapa pihak mengklaim bahwa hutan hujan sedang dihancurkan dengan laju yang kian cepat.
49
Rainforest Foundation yang berbasis di London mencatat bahwa "angka PBB didasarkan pada definisi hutan sebagai area dengan tutupan pohon aktual sesedikit 10%, yang oleh karena itu akan mencakup area yang sebenarnya merupakan ekosistem mirip sabana dan hutan yang rusak parah".
50
Kritikus lain terhadap data FAO menunjukkan bahwa data tersebut tidak membedakan tipe hutan,
51
dan bahwa data tersebut sebagian besar didasarkan pada pelaporan dari departemen
kehutanan
masing-masing negara,
52
yang tidak memperhitungkan aktivitas tidak resmi seperti pembalakan liar.
53
Terlepas dari ketidakpastian ini, terdapat kesepakatan bahwa penghancuran hutan hujan tetap menjadi masalah lingkungan yang signifikan.
Laju kehilangan hutan bersih menurun dari 7,8 juta ha per tahun pada dekade 1990–2000 menjadi 5,2 juta ha per tahun pada 2000–2010 dan 4,7 juta ha per tahun pada 2010–2020. Laju penurunan kehilangan hutan bersih melambat pada dekade terakhir disebabkan oleh pengurangan laju ekspansi hutan.
15
Reboisasi dan aforestasi
Artikel utama:
Reboisasi
dan
Aforestasi
Di berbagai belahan dunia, khususnya di negara-negara Asia Timur,
reboisasi
dan
aforestasi
sedang meningkatkan luas lahan berhutan.
54
Jumlah hutan telah meningkat di 22 dari 50 negara dengan hutan terluas di dunia. Asia secara keseluruhan mengalami penambahan 1 juta
hektare
hutan antara tahun 2000 dan 2005. Hutan tropis di El Salvador meluas lebih dari 20% antara tahun 1992 dan 2001. Berdasarkan tren ini, sebuah studi memproyeksikan bahwa penghutanan global akan meningkat sebesar 10%—sebuah wilayah seukuran India—pada tahun 2050.
55
36% dari area hutan tanaman global berada di
Asia Timur
– sekitar 950.000 kilometer persegi. Dari jumlah tersebut, 87% berada di Tiongkok.
56
Status berdasarkan wilayah
Artikel utama:
Deforestasi berdasarkan benua
Laju deforestasi bervariasi di seluruh dunia. Hingga 90% hutan hujan pesisir
Afrika Barat
telah menghilang sejak tahun 1900.
57
Madagaskar
telah kehilangan 90% hutan hujan bagian timurnya.
58
59
Di
Asia Selatan
, sekitar 88% hutan hujannya telah musnah.
60
Meksiko
India
Filipina
Indonesia
Thailand
Burma
Malaysia
Bangladesh
, Tiongkok,
Sri Lanka
Laos
Nigeria
Republik Demokratik Kongo
Liberia
Guinea
Ghana
, dan
Pantai Gading
, telah kehilangan sebagian besar wilayah hutan hujan mereka.
61
62
Citra satelit
lokasi
kebakaran hutan hujan Amazon 2019
yang terdeteksi oleh
MODIS
dari 15 Agustus hingga 22 Agustus 2019
Deforestasi di
Ekuador
Sebagian besar hutan hujan dunia yang tersisa berada di
lembah Amazon
, tempat
hutan hujan Amazon
mencakup sekitar 4 juta kilometer persegi.
63
Sekitar 80% deforestasi Amazon dapat dikaitkan dengan peternakan sapi,
64
mengingat Brasil adalah pengekspor daging sapi terbesar di dunia.
65
Wilayah Amazon telah menjadi salah satu kawasan peternakan sapi terbesar di dunia.
66
Wilayah dengan laju deforestasi tropis tertinggi antara tahun 2000 dan 2005 adalah
Amerika Tengah
—yang kehilangan 1,3% hutannya setiap tahun—dan Asia tropis.
50
Di
Amerika Tengah
, dua pertiga hutan tropis dataran rendah telah diubah menjadi padang penggembalaan sejak tahun 1950 dan 40% dari seluruh hutan hujan telah hilang dalam 40 tahun terakhir.
67
Brasil
telah kehilangan 90–95% hutan
Mata Atlântica
-nya.
68
Deforestasi di Brasil
meningkat sebesar 88% pada bulan Juni 2019, dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
69
Meskipun demikian, Brasil masih memusnahkan 1,3 juta hektare pada tahun 2019.
Brasil
adalah salah satu dari beberapa negara yang menyatakan deforestasi mereka sebagai darurat nasional.
70
71
Paraguay
kehilangan hutan semi-lembap alami di wilayah barat negara tersebut dengan laju 15.000 hektare pada periode 2 bulan yang diteliti secara acak pada tahun 2010.
72
Pada tahun 2009, parlemen Paraguay menolak untuk mengesahkan undang-undang yang akan menghentikan penebangan hutan alam sepenuhnya.
73
Hingga tahun 2007,
kurang dari 50% hutan Haiti yang tersisa
74
Dari tahun 2015 hingga 2019, laju
deforestasi
di Republik Demokratik Kongo meningkat dua kali lipat.
75
Pada tahun 2021, deforestasi
hutan hujan Kongo
meningkat sebesar 5%.
76
Proyek
ekoregion
World Wildlife Fund
mengatalogkan tipe habitat di seluruh dunia, termasuk hilangnya habitat seperti deforestasi, yang menunjukkan sebagai contoh bahwa bahkan di hutan kaya di bagian
Kanada
seperti
hutan Kanada Tengah-Benua
di provinsi prairi, setengah dari tutupan hutan telah hilang atau berubah.
Pada tahun 2011,
Conservation International
mendaftar 10 besar hutan paling terancam punah, yang ditandai dengan kehilangan 90% atau lebih dari
habitat
aslinya, dan masing-masing menyimpan setidaknya 1500 spesies tanaman
endemik
(spesies yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia).
77
Hingga 2015
update
, diperkirakan bahwa 70% hutan dunia berada dalam jarak satu kilometer dari tepi hutan, tempat mereka paling rentan terhadap gangguan dan perusakan oleh manusia.
78
79
10 Besar Hutan Paling Terancam Punah pada Tahun 2011
77
Hutan terancam punah
Wilayah
Habitat tersisa
Tipe vegetasi dominan
Catatan
Indo-Burma
Asia-Pasifik
5%
Hutan daun lebar lembap tropis dan subtropis
Sungai, lahan basah dataran banjir, hutan bakau.
Burma
Thailand
Laos
Vietnam
Kamboja
India
80
Kaledonia Baru
Asia-Pasifik
5%
Hutan daun lebar lembap tropis dan subtropis
Lihat catatan untuk wilayah yang tercakup.
81
Sundaland
Asia-Pasifik
7%
Hutan daun lebar lembap tropis dan subtropis
Bagian barat kepulauan Indo-Melayu termasuk
Borneo
selatan dan
Sumatra
82
Filipina
Asia-Pasifik
7%
Hutan daun lebar lembap tropis dan subtropis
Hutan di seluruh negeri termasuk 7.100 pulau.
83
Hutan Atlantik
Amerika Selatan
8%
Hutan daun lebar lembap tropis dan subtropis
Hutan di sepanjang pantai Atlantik
Brasil
, meluas ke bagian dari
Paraguay
Argentina
dan
Uruguay
84
Pegunungan Tiongkok Barat Daya
Asia-Pasifik
8%
Hutan konifer iklim sedang
Lihat catatan untuk wilayah yang tercakup.
85
Provinsi Floristik California
Amerika Utara
10%
Hutan daun lebar kering tropis dan subtropis
Lihat catatan untuk wilayah yang tercakup.
86
Hutan Pesisir Afrika Timur
Afrika
10%
Hutan daun lebar lembap tropis dan subtropis
Mozambik
Tanzania
Kenya
Somalia
87
Madagaskar
& Kepulauan Samudra Hindia
Afrika
10%
Hutan daun lebar lembap tropis dan subtropis
Madagaskar
Mauritius
Reunion
Seychelles
Komoro
88
Afromontane Timur
Afrika
11%
Hutan daun lebar lembap tropis dan subtropis
Padang rumput dan semak belukar pegunungan
Hutan tersebar di sepanjang tepi timur Afrika, dari
Arab Saudi
di utara hingga
Zimbabwe
di selatan.
89
Menurut negara
Deforestasi di negara-negara tertentu:
Deforestasi menurut negara
Afrika
Afrika Selatan
Afrika Tengah
Aljazair
Angola
Benin
Botswana
Burkina Faso
Burundi
Chad
Eritrea
Eswatini
Etiopia
Gabon
Gambia
Ghana
Guinea
Guinea Khatulistiwa
Guinea-Bissau
Jibuti
Kamerun
Kenya
Komoro
Republik Demokratik Kongo
Republik Kongo
Lesotho
Liberia
Libya
Madagaskar
Malawi
Mali
Maroko
Mauritania
Mauritius
Mesir
Mozambik
Namibia
Niger
Nigeria
Pantai Gading
Rwanda
Sao Tome dan Principe
Senegal
Seychelles
Sierra Leone
Somalia
Sudan
Sudan Selatan
Tanjung Verde
Tanzania
Togo
Tunisia
Uganda
Zambia
Zimbabwe
Amerika
Utara
Amerika Serikat
Antigua dan Barbuda
Bahama
Barbados
Belize
Dominika
Republik Dominika
El Salvador
Grenada
Guatemala
Haiti
Honduras
Jamaika
Kanada
Kosta Rika
Kuba
Meksiko
Nikaragua
Panama
Saint Kitts dan Nevis
Saint Lucia
Saint Vincent dan Grenadine
Trinidad dan Tobago
Selatan
Argentina
Bolivia
Brasil
Chili
Ekuador
Guyana
Kolombia
Paraguay
Peru
Suriname
Uruguay
Venezuela
Asia
Afganistan
Arab Saudi
Azerbaijan
Bahrain
Bangladesh
Bhutan
Brunei
Filipina
India
Indonesia
Irak
Iran
Israel
Jepang
Kamboja
Kazakhstan
Kirgizstan
Korea Selatan
Korea Utara
Kuwait
Laos
Lebanon
Maladewa
Malaysia
Mongolia
Myanmar
Nepal
Oman
Pakistan
Palestina
Qatar
Singapura
Siprus
Sri Lanka
Suriah
Tajikistan
Thailand
Timor Leste
Tiongkok
Turkmenistan
Uni Emirat Arab
Uzbekistan
Vietnam
Yaman
Yordania
Eropa
Albania
Andorra
Armenia
Austria
Belanda
Belarus
Belgia
Bosnia dan Herzegovina
Britania Raya
Inggris
Irlandia Utara
Skotlandia
Wales
Bulgaria
Ceko
Denmark
Estonia
Finlandia
Georgia
Hungaria
Republik Irlandia
Islandia
Italia
Jerman
Kosovo
Kroasia
Latvia
Liechtenstein
Lituania
Luksemburg
Makedonia Utara
Malta
Moldova
Monako
Montenegro
Norwegia
Polandia
Portugal
Prancis
Rumania
Rusia
San Marino
Serbia
Slovenia
Slowakia
Spanyol
Swedia
Swiss
Turki
Ukraina
Vatikan
Yunani
Oseania
Australia
Fiji
Kiribati
Kepulauan Marshall
Federasi Mikronesia
Nauru
Palau
Papua Nugini
Samoa
Selandia Baru
Kepulauan Solomon
Tonga
Tuvalu
Vanuatu
Penyebab
Lihat pula:
Deforestasi hutan hujan Amazon §
Penyebab deforestasi
, dan
Deforestasi di Brasil §
Penyebab
Pemicu deforestasi dan degradasi hutan menurut wilayah, 2000–2010
13
Pemicu deforestasi tropis
Tumpukan kayu gergajian terakhir dari
hutan gambut
di
Indragiri Hulu
Sumatra
Indonesia
. Deforestasi untuk perkebunan
kelapa sawit
Ekspansi pertanian
terus menjadi pemicu utama deforestasi dan fragmentasi hutan serta hilangnya keanekaragaman hayati hutan yang terkait dengannya.
13
Pertanian komersial skala besar (terutama peternakan sapi serta budi daya kedelai dan kelapa sawit) menyumbang 40 persen dari deforestasi tropis antara tahun 2000 dan 2010, dan pertanian subsisten lokal menyumbang 33 persen lainnya.
13
Pohon ditebang untuk digunakan sebagai bahan bangunan, kayu pertukangan, atau dijual sebagai bahan bakar (terkadang dalam bentuk
arang
atau
kayu
), sementara lahan yang telah dibuka digunakan sebagai
lahan penggembalaan
bagi
ternak
dan tanaman pertanian.
Sebagian besar aktivitas pertanian yang mengakibatkan deforestasi
disubsidi oleh pendapatan pajak pemerintah
90
Pengabaian terhadap nilai yang melekat,
pengelolaan hutan
yang lemah, dan hukum lingkungan yang tidak memadai merupakan beberapa faktor yang menyebabkan deforestasi skala besar.
Jenis-jenis pemicu sangat bervariasi bergantung pada wilayah tempat terjadinya. Wilayah dengan tingkat deforestasi terbesar untuk peternakan dan pertanian tanaman baris adalah Amerika Tengah dan Selatan, sementara deforestasi tanaman komoditas utamanya ditemukan di Asia Tenggara. Wilayah dengan kehilangan hutan terbesar akibat pertanian berpindah adalah Afrika sub-Sahara.
91
Pertanian
Informasi lebih lanjut:
Ekspansi pertanian
Penyebab langsung deforestasi yang paling dominan sejauh ini adalah pertanian.
10
Pertanian subsisten
bertanggung jawab atas 48% deforestasi;
pertanian komersial
bertanggung jawab atas 32%;
pembalakan
bertanggung jawab atas 14%, dan pengambilan kayu bakar mencapai 5%.
10
Lebih dari 80% deforestasi dikaitkan dengan pertanian pada tahun 2018.
11
Hutan dikonversi menjadi perkebunan untuk kopi, teh,
minyak kelapa sawit
, padi,
karet
, dan berbagai produk populer lainnya.
12
Meningkatnya permintaan akan produk-produk tertentu dan kesepakatan perdagangan global menyebabkan
konversi hutan
, yang pada akhirnya berujung pada
erosi tanah
92
Lapisan tanah atas
sering kali tererosi setelah hutan dibuka yang menyebabkan peningkatan sedimen di sungai dan aliran air.
Bioma antropogenik dunia
Sebagian besar deforestasi juga terjadi di wilayah tropis. Estimasi jumlah total massa daratan yang digunakan oleh pertanian adalah sekitar 38%.
93
Sejak tahun 1960, sekitar 15% dari
Amazon
telah dimusnahkan dengan tujuan mengganti lahan tersebut dengan praktik pertanian.
94
Bukanlah suatu kebetulan bahwa Brasil baru-baru ini menjadi pengekspor daging sapi terbesar di dunia pada saat yang bersamaan dengan
hutan hujan Amazon
yang sedang ditebang habis.
95
Metode deforestasi pertanian lain yang umum adalah
pertanian tebang-dan-bakar
, yang utamanya digunakan oleh petani subsisten di wilayah tropis namun kini menjadi kian tidak berkelanjutan. Metode ini tidak menyisakan lahan untuk produksi pertanian berkelanjutan, melainkan menebang dan membakar petak-petak kecil lahan hutan yang kemudian diubah menjadi zona pertanian. Para petani kemudian memanfaatkan nutrisi yang terkandung dalam abu tanaman yang dibakar.
96
97
Selain itu, api yang sengaja disulut dapat memicu dampak yang menghancurkan ketika secara tidak sengaja menjalar ke lahan yang lebih luas, yang dapat mengakibatkan kerusakan kanopi pelindung.
98
Siklus berulang dari hasil panen yang rendah dan periode bera yang diperpendek pada akhirnya menyebabkan berkurangnya vegetasi yang mampu tumbuh di lahan bekas bakar dan penurunan biomassa tanah rata-rata.
99
Di petak-petak lokal yang kecil, keberlanjutan tidak menjadi masalah karena periode bera yang lebih lama dan deforestasi keseluruhan yang lebih sedikit. Ukuran petak yang relatif kecil memungkinkan tidak adanya pelepasan input bersih
CO
100
Peternakan
Konsumsi dan produksi daging sapi merupakan pemicu utama deforestasi di Amazon
, dengan sekitar 80% dari seluruh lahan yang dialihfungsikan digunakan untuk memelihara sapi.
101
102
91% lahan Amazon yang terdeforestasi sejak tahun 1970 telah dikonversi menjadi peternakan sapi.
103
104
Peternakan
ekstensif
membutuhkan lahan yang luas untuk memelihara kawanan hewan dan tanaman pakan ternak demi kebutuhan konsumen. Menurut
World Wildlife Fund
, "Peternakan sapi ekstensif adalah penyebab utama deforestasi di hampir setiap negara Amazon, dan menyumbang 80% dari deforestasi saat ini."
105
Industri sapi bertanggung jawab atas sejumlah besar
emisi metana
karena 60% dari seluruh mamalia di bumi adalah sapi ternak.
106
107
Mengganti lahan hutan dengan padang rumput menyebabkan hilangnya
stok hutan
, yang berimplikasi pada peningkatan emisi gas rumah kaca melalui metode pembakaran pertanian dan
perubahan penggunaan lahan
108
Surat sampah
Artikel utama:
Surat iklan
Lebih dari 100 juta pohon ditebang setiap tahunnya untuk keperluan surat sampah.
109
Alasan utama Amerika Serikat mengizinkan praktik deforestasi ini adalah untuk mendanai
Layanan Pos Amerika Serikat
110
Industri perkayuan
Informasi lebih lanjut:
Industri perkayuan
Faktor penyumbang besar terhadap deforestasi adalah
industri kayu
. Sebanyak hampir
juta hektare (9,9
juta ekar)
kayu,
111
atau sekitar 1,3% dari seluruh lahan hutan, dipanen setiap tahun. Selain itu, meningkatnya permintaan akan produk kayu berbiaya rendah hanya mendukung perusahaan kayu untuk terus melakukan pembalakan.
112
Para ahli tidak sepakat mengenai apakah pembalakan industri merupakan penyumbang penting bagi deforestasi global.
113
114
Sebagian berpendapat bahwa masyarakat miskin lebih cenderung membuka hutan karena mereka tidak memiliki alternatif lain, sementara yang lain berpendapat bahwa masyarakat miskin tidak memiliki kemampuan untuk membayar bahan dan tenaga kerja yang diperlukan untuk membuka hutan.
113
Pembangunan ekonomi
Penyebab lain dari deforestasi kontemporer mungkin mencakup
korupsi
lembaga pemerintah,
115
116
117
distribusi kekayaan dan kekuasaan yang tidak adil
118
pertumbuhan penduduk
119
serta
kelebihan populasi
120
121
dan
urbanisasi
122
123
Dampak pertumbuhan penduduk terhadap deforestasi telah diperdebatkan. Sebuah studi menemukan bahwa peningkatan populasi akibat tingkat kesuburan yang tinggi merupakan pemicu utama deforestasi tropis hanya dalam 8% kasus.
124
Pada tahun 2000,
Organisasi Pangan dan Pertanian
(FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa menemukan bahwa "peran dinamika populasi dalam lingkup lokal dapat bervariasi dari menentukan hingga dapat diabaikan", dan bahwa deforestasi dapat diakibatkan oleh "kombinasi dari
tekanan penduduk
dan kondisi ekonomi, sosial, serta teknologi yang mandek".
119
Globalisasi
sering dipandang sebagai akar penyebab lain dari deforestasi,
125
126
meskipun terdapat kasus-kasus di mana dampak globalisasi (arus baru tenaga kerja, modal, komoditas, dan gagasan) telah mempromosikan pemulihan hutan secara lokal.
127
Penambangan emas
ilegal
di Madre de Dios,
Peru
Degradasi ekosistem hutan juga telah ditelusuri ke insentif ekonomi yang menjadikan konversi hutan tampak lebih menguntungkan daripada konservasi hutan.
128
Banyak fungsi hutan yang penting tidak memiliki pasar, dan oleh karena itu, tidak memiliki nilai ekonomi yang tampak jelas bagi pemilik hutan atau komunitas yang bergantung pada hutan untuk kesejahteraan mereka.
128
Beberapa komentator telah mencatat adanya pergeseran dalam pemicu deforestasi selama 30 tahun terakhir.
129
Jika sebelumnya deforestasi terutama didorong oleh aktivitas subsisten dan proyek pembangunan yang disponsori pemerintah seperti
transmigrasi
di negara-negara seperti
Indonesia
dan
kolonisasi
di
Amerika Latin
India
Jawa
, dan sebagainya, selama akhir abad ke-19 dan paruh pertama abad ke-20, pada tahun 1990-an sebagian besar deforestasi disebabkan oleh faktor industri, termasuk industri ekstraktif, peternakan sapi skala besar, dan pertanian ekstensif.
130
Sejak tahun 2001, deforestasi yang didorong oleh komoditas, yang cenderung bersifat permanen, telah menyumbang sekitar seperempat dari seluruh gangguan hutan, dan kehilangan ini terkonsentrasi di Amerika Selatan dan Asia Tenggara.
131
Seiring dengan bertambahnya populasi manusia, rumah-rumah baru, komunitas, dan perluasan kota akan terjadi, yang mengarah pada peningkatan jalan untuk menghubungkan komunitas-komunitas ini. Jalan pedesaan mempromosikan pembangunan ekonomi tetapi juga memfasilitasi deforestasi.
132
Sekitar 90% dari deforestasi telah terjadi dalam jarak 100
km dari jalan di sebagian besar wilayah Amazon.
133
Pertambangan
Pentingnya
pertambangan
sebagai penyebab deforestasi meningkat pesat pada awal abad ke-21, antara lain dikarenakan oleh meningkatnya permintaan akan mineral. Dampak langsung pertambangan relatif kecil, namun dampak tidak langsungnya jauh lebih signifikan. Lebih dari sepertiga hutan bumi kemungkinan terdampak, pada tingkat tertentu, dan pada tahun 2001–2021, "755.861 km
... ...telah terdeforestasi oleh penyebab yang secara tidak langsung terkait dengan aktivitas pertambangan di samping pemicu deforestasi lainnya (berdasarkan data dari WWF)"
134
Pada tahun 2023, pertambangan, termasuk untuk unsur-unsur yang dibutuhkan bagi
transisi energi
, berkontribusi kuat terhadap deforestasi. Pertambangan merupakan ancaman khusus bagi keanekaragaman hayati: "pada tahun 2019, 79 persen ekstraksi bijih logam global berasal dari lima dari enam bioma paling kaya spesies".
135
Perubahan iklim
Secara global,
kebakaran liar
dan deforestasi telah mengurangi penyerapan bersih
gas rumah kaca
oleh hutan, sehingga mengurangi efektivitasnya dalam memitigasi perubahan iklim.
136
Pemanasan global meningkatkan kebakaran hutan yang melepaskan lebih banyak gas rumah kaca, menciptakan
lingkaran umpan balik
yang menyebabkan pemanasan lebih lanjut.
137
Selama beberapa dekade terakhir, "gangguan hutan" (kerusakan) akibat kebakaran telah meningkat di sebagian besar zona hutan planet ini.
138
Peningkatan luas, frekuensi, dan keparahan kebakaran hutan menciptakan
umpan balik positif
yang meningkatkan pemanasan global.
138
Penyebab lain deforestasi adalah karena
dampak perubahan iklim
: Lebih banyak
kebakaran liar
, wabah serangga,
spesies invasif
, dan peristiwa
cuaca ekstrem
yang lebih sering (seperti badai) merupakan faktor-faktor yang meningkatkan deforestasi.
139
Sebuah studi menunjukkan bahwa "hutan tropis, kering, dan iklim sedang mengalami penurunan ketahanan yang signifikan, yang mungkin terkait dengan peningkatan keterbatasan air dan variabilitas iklim" yang dapat menggeser ekosistem menuju
transisi kritis
dan
keruntuhan ekosistem
140
Sebaliknya, "hutan boreal menunjukkan pola lokal yang berbeda dengan tren rata-rata peningkatan ketahanan, mungkin mendapat manfaat dari pemanasan dan pemupukan
CO
, yang mungkin lebih besar daripada dampak buruk perubahan iklim".
140
Telah diusulkan bahwa hilangnya ketahanan pada hutan "dapat dideteksi dari peningkatan autokorelasi temporal (TAC) dalam keadaan sistem, yang mencerminkan penurunan tingkat pemulihan karena perlambatan kritis (CSD) dari proses sistem yang terjadi pada ambang batas".
140
23% dari hilangnya tutupan pohon diakibatkan oleh kebakaran liar dan perubahan iklim meningkatkan frekuensi serta kekuatannya.
141
Meningkatnya suhu menyebabkan kebakaran liar masif terutama di
Hutan boreal
. Salah satu dampak yang mungkin terjadi adalah perubahan komposisi hutan.
142
Deforestasi juga dapat menyebabkan hutan menjadi lebih rentan terhadap kebakaran melalui mekanisme seperti pembalakan.
143
Penyebab militer
Lihat pula:
Dampak lingkungan dari perang
Helikopter Huey
Bell UH-1 Iroquois
milik
Angkatan Darat Amerika Serikat
menyemprotkan
Agen Oranye
selama
Perang Vietnam
Operasi dalam
perang
juga dapat menyebabkan deforestasi. Sebagai contoh, dalam
Pertempuran Okinawa
tahun 1945,
pengeboman
dan
operasi tempur
lainnya mengubah lanskap tropis yang rimbun menjadi "hamparan luas lumpur, timah, pembusukan, dan belatung".
144
Deforestasi juga dapat diakibatkan oleh
taktik militer
yang disengaja oleh
angkatan militer
Membuka
hutan menjadi elemen dalam keberhasilan Kekaisaran Rusia pada
penaklukan Kaukasus
di pertengahan abad ke-19.
145
Inggris (selama
Darurat Malaya
) dan Amerika Serikat (dalam
Perang Korea
146
dan dalam
Perang Vietnam
) menggunakan
defolian
(seperti
Agen Oranye
atau lainnya).
147
148
149
verifikasi
Penghancuran hutan dalam Perang Vietnam adalah salah satu contoh yang paling sering digunakan untuk
ekosida
, termasuk oleh Perdana Menteri Swedia
Olof Palme
, pengacara, sejarawan, dan akademisi lainnya.
150
151
152
Dampak
Terhadap atmosfer dan iklim
Informasi lebih lanjut:
Deforestasi dan perubahan iklim
Mekanisme biofisik bagaimana hutan memengaruhi iklim.
153
Emisi
CO
per kapita dari deforestasi untuk produksi pangan
Praktik "
tebang-dan-bakar
" ilegal di
Madagaskar
, 2010
Rerata kehilangan karbon tahunan akibat deforestasi tropis.
154
Deforestasi merupakan penyumbang utama
perubahan iklim
155
156
157
Hal ini sering dikutip sebagai salah satu penyebab utama peningkatan
efek rumah kaca
. Perhitungan terbaru menunjukkan bahwa emisi
CO
dari deforestasi dan degradasi hutan (tidak termasuk emisi
lahan gambut
) menyumbang sekitar 12% dari total emisi
CO
antropogenik, dengan kisaran antara 6% hingga 17%.
158
Sebuah studi tahun 2022 menunjukkan emisi karbon tahunan dari deforestasi tropis telah meningkat dua kali lipat selama dua dekade terakhir dan terus meningkat: dari 0,97 ± 0,16 PgC (
petagram
karbon, yaitu miliaran ton) per tahun pada 2001–2005 menjadi 1,99 ± 0,13 PgC per tahun pada 2015–2019.
159
154
Menurut sebuah tinjauan, di sebelah utara 50°LU, deforestasi skala besar menyebabkan pendinginan global bersih secara keseluruhan; namun deforestasi di daerah tropis menyebabkan pemanasan yang substansial: tidak hanya karena dampak
CO
, tetapi juga karena mekanisme biofisik lainnya (yang membuat metrik yang berpusat pada karbon menjadi tidak memadai). Selain itu, tinjauan tersebut menunjukkan bahwa hutan tropis yang tegak membantu mendinginkan suhu rata-rata global lebih dari 1 °C.
160
153
Menurut studi selanjutnya, deforestasi di lintang utara juga dapat meningkatkan pemanasan, sementara kesimpulan tentang pendinginan akibat deforestasi di area-area ini yang dibuat oleh studi sebelumnya diakibatkan oleh kegagalan model dalam menangkap efek evapotranspirasi secara tepat.
161
Insinerasi dan pembakaran tanaman hutan untuk membuka lahan melepaskan sejumlah besar
CO
, yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
162
Para ilmuwan juga menyatakan bahwa deforestasi tropis melepaskan 1,5 miliar ton karbon setiap tahun ke atmosfer.
163
Penurunan karbon atau sumber karbon
Lihat pula:
Sekuestrasi karbon
Pemerosotan karbon
, dan
Biomassa (energi) §
Dampak iklim
Sebuah studi menunjukkan bahwa hutan tropis yang telah ditebang dan terdegradasi secara struktural merupakan
sumber karbon
selama setidaknya satu dekade – bahkan ketika sedang dalam masa pemulihan
butuh klarifikasi
– akibat kehilangan karbon yang lebih besar
dari bahan organik tanah
dan kayu mati. Hal ini mengindikasikan bahwa
rosot karbon
hutan tropis (setidaknya di Asia Selatan) "mungkin jauh lebih kecil dari yang diperkirakan sebelumnya", bertentangan dengan anggapan bahwa "hutan tropis terdegradasi dan bekas tebangan yang sedang memulih adalah rosot karbon bersih".
164
Kebakaran di Borneo dan Sumatra
, 2006. Penduduk menggunakan deforestasi
tebang-dan-bakar
untuk membuka lahan pertanian.
Section 'Kehutanan' not found
Terhadap lingkungan
Menurut studi tahun 2020, jika deforestasi berlanjut pada laju saat ini, hal itu dapat memicu
kepunahan umat manusia
secara total atau hampir total dalam 20 hingga 40 tahun mendatang. Mereka menyimpulkan bahwa "dari sudut pandang statistik... probabilitas peradaban kita mampu bertahan adalah kurang dari 10% dalam skenario paling optimis." Untuk menghindari keruntuhan ini, umat manusia harus beralih dari peradaban yang didominasi oleh ekonomi menuju "masyarakat budaya" yang "mengutamakan kepentingan ekosistem di atas kepentingan individu komponen-komponennya, namun pada akhirnya selaras dengan kepentingan komunal secara keseluruhan."
165
166
Perubahan siklus air
Siklus air
juga terpengaruh oleh deforestasi. Pohon mengekstraksi
air tanah
melalui akarnya dan melepaskannya ke atmosfer. Ketika sebagian hutan dihilangkan, pohon tidak lagi mentranspirasikan air ini, yang mengakibatkan
iklim yang jauh lebih kering
. Deforestasi mengurangi kadar air di dalam tanah dan air tanah serta kelembapan atmosfer. Tanah yang kering menyebabkan asupan air yang lebih rendah bagi pohon untuk diekstraksi.
167
Deforestasi mengurangi kohesi tanah, sehingga
erosi
, banjir, dan
tanah longsor
pun terjadi.
168
169
Menyusutnya
tutupan hutan
mengurangi kapasitas lanskap untuk mengintersep, menahan, dan
mentranspirasikan
presipitasi. Alih-alih merangkap presipitasi, yang kemudian berperkolasi ke sistem air tanah, area yang terdeforestasi menjadi sumber limpasan air permukaan, yang bergerak jauh lebih cepat daripada aliran bawah permukaan. Hutan mengembalikan sebagian besar air yang jatuh sebagai presipitasi ke atmosfer melalui transpirasi. Sebaliknya, ketika suatu area mengalami deforestasi, hampir seluruh presipitasi hilang sebagai limpasan.
170
Transportasi air permukaan yang lebih cepat tersebut dapat bermanifestasi menjadi
banjir bandang
dan banjir yang lebih terlokalisasi daripada yang akan terjadi dengan adanya tutupan hutan. Deforestasi juga berkontribusi pada penurunan
evapotranspirasi
, yang mengurangi kelembapan atmosfer yang dalam beberapa kasus memengaruhi tingkat curah hujan di arah angin dari area yang terdeforestasi, karena air tidak didaur ulang ke hutan di arah angin, melainkan hilang dalam limpasan dan kembali langsung ke lautan. Menurut sebuah studi, di Tiongkok utara dan barat laut yang terdeforestasi, rata-rata curah hujan tahunan menurun sepertiganya antara tahun 1950-an dan 1980-an.
171
Deforestasi
Dataran Tinggi
di Madagaskar telah menyebabkan
siltasi
yang luas dan aliran sungai-sungai barat yang tidak stabil.
Pohon, dan tanaman pada umumnya, memengaruhi
siklus air
secara signifikan:
172
kanopinya mengintersep sebagian
presipitasi
, yang kemudian diuapkan kembali ke atmosfer (
intersepsi kanopi
);
serasah, batang, dan pokok pohon memperlambat
limpasan permukaan
akarnya menciptakan
makropori
– saluran besar – di dalam tanah yang meningkatkan
infiltrasi
air;
pohon berkontribusi pada evaporasi terestrial dan mengurangi
kelembapan tanah
melalui
transpirasi
serasah
dan residu organik lainnya mengubah sifat tanah yang memengaruhi kapasitas tanah untuk menyimpan air.
daunnya mengendalikan
kelembapan
atmosfer dengan cara
mentranspirasikan
. 99% air yang diserap oleh akar bergerak naik ke daun dan ditranspirasikan.
173
Akibatnya, keberadaan atau ketiadaan pohon dapat mengubah kuantitas air di permukaan, di dalam tanah atau air tanah, atau di atmosfer. Hal ini pada gilirannya mengubah laju erosi dan ketersediaan air baik untuk fungsi ekosistem maupun layanan manusia. Deforestasi di dataran rendah memindahkan pembentukan awan dan curah hujan ke elevasi yang lebih tinggi.
174
Hutan mungkin memiliki dampak kecil terhadap banjir dalam kasus curah hujan yang besar, yang melampaui kapasitas penyimpanan tanah hutan jika tanah berada pada atau mendekati titik jenuh.
Hutan hujan tropis
memproduksi sekitar 30%
air tawar
Bumi.
175
Deforestasi mengganggu pola cuaca normal, menciptakan cuaca yang lebih panas dan kering sehingga meningkatkan kekeringan, penggurunan, gagal panen, mencairnya lapisan es kutub,
banjir pesisir
, dan perpindahan rezim vegetasi utama.
176
Erosi tanah
Deforestasi di
Prancis
Karena adanya serasah tumbuhan di permukaan, hutan yang tidak terganggu memiliki tingkat
erosi
yang minimal. Laju erosi muncul akibat deforestasi, karena hal tersebut mengurangi jumlah tutupan serasah yang memberikan perlindungan dari
limpasan permukaan
177
Tingkat erosi adalah sekitar 2 metrik ton per kilometer persegi.
178
rujukan terbitan sendiri
Hal ini dapat menjadi keuntungan pada tanah hutan hujan tropis yang mengalami pencucian berlebih. Operasi kehutanan itu sendiri juga meningkatkan erosi melalui
pembangunan
jalan
hutan
) dan penggunaan peralatan mekanis.
78
Deforestasi di Dataran Tinggi Loess Tiongkok bertahun-tahun yang lalu telah menyebabkan erosi tanah; erosi ini telah menyebabkan terbukanya lembah-lembah. Peningkatan tanah dalam limpasan menyebabkan Sungai Kuning meluap dan menjadikannya berwarna kuning.
178
Erosi yang lebih besar tidak selalu menjadi konsekuensi dari deforestasi, sebagaimana diamati di wilayah barat daya AS. Di wilayah-wilayah ini, hilangnya rumput akibat keberadaan pohon dan semak belukar lainnya menyebabkan lebih banyak erosi dibandingkan ketika pohon ditebang.
178
Tanah diperkuat oleh keberadaan pohon, yang mengamankan tanah dengan mengikatkan akarnya ke batuan dasar tanah. Akibat deforestasi, hilangnya pohon menyebabkan lahan miring menjadi lebih rentan terhadap
tanah longsor
172
Perubahan lain pada tanah
Pembukaan hutan mengubah lingkungan
komunitas mikroba di dalam tanah
, dan menyebabkan
hilangnya keanekaragaman hayati
terkait mikroba karena keanekaragaman hayati sebenarnya sangat bergantung pada
tekstur tanah
179
Meskipun dampak deforestasi memiliki konsekuensi yang jauh lebih mendalam pada tanah berpasir dibandingkan dengan tanah seperti lempung, gangguan yang disebabkan oleh deforestasi pada akhirnya mengurangi sifat-sifat tanah seperti
konduktivitas hidrolik
dan penyimpanan air, sehingga mengurangi efisiensi penyerapan air dan panas.
179
180
Dalam sebuah simulasi proses deforestasi di Amazon, para peneliti menemukan bahwa suhu permukaan dan tanah meningkat sebesar 1 hingga 3 derajat Celsius, yang menunjukkan hilangnya kemampuan tanah untuk menyerap radiasi dan kelembapan.
180
Selain itu, tanah yang kaya akan bahan pelapukan organik lebih rentan terhadap kebakaran, terutama selama kekeringan panjang.
179
Perubahan sifat tanah dapat mengubah tanah itu sendiri menjadi
sumber karbon
alih-alih
rosot karbon
181
Hilangnya keanekaragaman hayati
Informasi lebih lanjut:
Hilangnya keanekaragaman hayati
Deforestasi pada skala manusia mengakibatkan penurunan
keanekaragaman hayati
182
dan pada skala global alami diketahui menyebabkan kepunahan banyak spesies.
183
184
Penghilangan atau perusakan area tutupan hutan telah mengakibatkan lingkungan yang terdegradasi dengan
keanekaragaman hayati
yang berkurang.
121
Hutan mendukung keanekaragaman hayati, menyediakan habitat bagi
satwa liar
185
selain itu, hutan mendorong konservasi
tanaman obat
186
Dengan
biotop
hutan yang menjadi sumber obat-obatan baru yang tak tergantikan (seperti
taxol
), deforestasi dapat memusnahkan variasi
genetik
(seperti ketahanan tanaman pangan) secara permanen.
187
Pembalakan liar di Madagaskar
. Pada tahun 2009, sebagian besar
kayu rosewood
yang diperoleh secara ilegal diekspor ke
Tiongkok
Mengingat
hutan hujan tropis
adalah
ekosistem
yang paling beragam di Bumi
188
189
dan sekitar 80%
keanekaragaman hayati
dunia yang diketahui dapat ditemukan di hutan hujan tropis,
190
penghilangan atau perusakan area tutupan hutan yang signifikan telah mengakibatkan lingkungan yang
terdegradasi
191
dengan keanekaragaman hayati yang berkurang.
183
192
Pembangunan jalan dan pengembangan lahan di sekitarnya, yang sangat mengurangi area hutan belantara utuh dan menyebabkan erosi tanah, merupakan faktor penyumbang utama hilangnya keanekaragaman hayati di wilayah tropis.
78
Sebuah studi di
Rondônia
, Brasil, telah menunjukkan bahwa deforestasi juga menghilangkan komunitas mikroba yang terlibat dalam daur ulang nutrisi, produksi air bersih, dan penghilangan polutan.
193
Diperkirakan bahwa 137 spesies tanaman, hewan, dan serangga punah setiap harinya akibat deforestasi hutan hujan, yang setara dengan 50.000 spesies per tahun.
194
Pihak lain menyatakan bahwa deforestasi hutan hujan tropis berkontribusi terhadap
kepunahan massal Holosen
yang sedang berlangsung.
195
196
Laju kepunahan yang diketahui dari laju deforestasi sangatlah rendah, sekitar satu spesies per tahun dari mamalia dan burung, yang jika diekstrapolasi menjadi sekitar 23.000 spesies per tahun untuk semua spesies. Prediksi telah dibuat bahwa lebih dari 40% spesies hewan dan
tanaman
di
Asia Tenggara
dapat musnah pada abad ke-21.
197
Prediksi semacam itu dipertanyakan oleh data tahun 1995 yang menunjukkan bahwa di wilayah Asia Tenggara, banyak hutan asli telah dikonversi menjadi perkebunan monospesifik, namun spesies yang berpotensi terancam punah hanya sedikit dan flora pohon tetap tersebar luas dan stabil.
198
Peta dunia
hutan hujan
Hutan hujan tropis
Hutan hujan iklim sedang/subtropis
Pemahaman ilmiah mengenai proses kepunahan tidaklah cukup untuk membuat prediksi yang akurat tentang dampak deforestasi terhadap keanekaragaman hayati.
199
Sebagian besar prediksi hilangnya keanekaragaman hayati terkait kehutanan didasarkan pada model spesies-area, dengan asumsi dasar bahwa seiring menurunnya hutan, keanekaragaman spesies akan menurun secara serupa.
200
Namun, banyak model semacam itu telah terbukti salah dan
hilangnya habitat
tidak serta-merta menyebabkan hilangnya spesies dalam skala besar.
200
Model spesies-area diketahui memprediksi secara berlebihan jumlah spesies yang diketahui terancam di area tempat deforestasi aktual sedang berlangsung, dan sangat memprediksi secara berlebihan jumlah spesies terancam yang tersebar luas.
198
Pada tahun 2012, sebuah studi tentang Amazon Brasil memprediksi bahwa meskipun sejauh ini belum ada kepunahan, hingga 90 persen dari kepunahan yang diprediksi akhirnya akan terjadi dalam 40 tahun ke depan.
201
Kesalahpahaman pasokan oksigen
Masyarakat awam secara luas meyakini bahwa hutan hujan menyediakan sejumlah besar
oksigen
dunia.
175
Namun, penelitian ilmiah telah menemukan bahwa hutan hujan hanya menyumbang sedikit oksigen bersih ke
atmosfer Bumi
, sehingga deforestasi hanya memiliki dampak kecil terhadap kadar oksigen atmosfer.
202
203
Faktanya, sekitar 50 persen oksigen Bumi dihasilkan oleh
alga
, sebagian besar di lautan.
204
Terhadap kesehatan manusia
Deforestasi mengurangi jam kerja yang aman bagi jutaan orang di daerah tropis, terutama bagi mereka yang melakukan pekerjaan berat di luar ruangan. Pemanasan global dan hilangnya hutan yang berkelanjutan diperkirakan akan memperparah dampak-dampak ini, serta semakin mengurangi jam kerja bagi kelompok rentan.
205
Sebuah studi yang dilakukan dari tahun 2002 hingga 2018 juga menyimpulkan bahwa peningkatan suhu sebagai akibat dari perubahan iklim, dan kurangnya naungan akibat deforestasi, telah meningkatkan
tingkat mortalitas
pekerja di
Indonesia
206
Sebuah analisis pan-tropis tahun 2025 memperkirakan bahwa pemanasan lokal akibat deforestasi tropis (2001–2020) memaparkan ~345 juta orang pada risiko dan dikaitkan dengan ~28.330 kematian tambahan terkait panas per tahun, menyumbang sekitar sepertiga dari mortalitas yang disebabkan oleh panas di area kehilangan hutan, dengan tingkat tertinggi di Asia Tenggara.
207
Penyakit menular
Deforestasi menghilangkan sejumlah besar spesies tumbuhan dan hewan yang juga sering kali mengakibatkan paparan manusia terhadap
penyakit zoonosis
13
208
209
Penyakit yang berasosiasi dengan hutan meliputi malaria, penyakit Chagas (juga dikenal sebagai tripanosomiasis Amerika), tripanosomiasis Afrika (penyakit tidur), leismaniasis, penyakit Lyme, HIV, dan Ebola.
13
Mayoritas penyakit menular baru yang menjangkiti manusia, termasuk
virus SARS-CoV-2
yang menyebabkan
pandemi COVID-19
, bersifat zoonosis dan kemunculannya mungkin terkait dengan hilangnya habitat akibat perubahan kawasan hutan dan ekspansi populasi manusia ke dalam kawasan hutan, yang keduanya meningkatkan paparan manusia terhadap satwa liar.
13
Deforestasi telah dikaitkan dengan peningkatan kejadian wabah penyakit. Di
Malaysia
, ribuan ekar hutan telah dibuka untuk peternakan babi. Hal ini mengakibatkan peningkatan penyebaran
virus Nipah
210
211
Di
Kenya
, deforestasi telah menyebabkan peningkatan kasus malaria yang kini menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara tersebut.
212
213
Sebuah studi tahun 2017 menemukan bahwa deforestasi secara substansial meningkatkan insiden malaria di Nigeria.
214
Jalur lain di mana deforestasi memengaruhi penyakit adalah relokasi dan penyebaran inang pembawa penyakit. Jalur kemunculan penyakit ini dapat disebut "
perluasan jangkauan
", di mana jangkauan inang (dan dengan demikian jangkauan patogen) meluas ke area geografis baru.
215
Melalui deforestasi, inang dan spesies reservoir dipaksa masuk ke habitat tetangga. Menyertai spesies reservoir tersebut adalah patogen yang memiliki kemampuan untuk menemukan inang baru di wilayah yang sebelumnya tidak terpapar. Saat patogen dan spesies ini melakukan kontak lebih dekat dengan manusia, manusia terinfeksi baik secara langsung maupun tidak langsung. Contoh lain dari perluasan jangkauan akibat deforestasi dan dampak habitat
antropogenik
lainnya mencakup hewan pengerat
Kapibara
di
Paraguay
216
Menurut
World Economic Forum
, 31%
penyakit menular baru
terkait dengan deforestasi.
217
Sebuah publikasi oleh
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa
pada tahun 2016 menemukan bahwa deforestasi,
perubahan iklim
, dan pertanian
ternak
adalah beberapa penyebab utama yang meningkatkan risiko
penyakit zoonosis
, yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia.
218
Pandemi COVID-19
Lihat pula:
Pandemi COVID-19
dan
Pencegahan pandemi §
Kebijakan lingkungan dan ekonomi
Para ilmuwan telah mengaitkan
pandemi Koronavirus
dengan kerusakan alam, khususnya dengan deforestasi,
hilangnya habitat
secara umum, dan
perdagangan satwa liar
219
Menurut
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa
(UNEP),
Penyakit koronavirus 2019
bersifat zoonosis, mis., virus tersebut menular dari hewan ke manusia. UNEP menyimpulkan bahwa: "Cara paling mendasar untuk melindungi diri kita dari penyakit zoonosis adalah dengan mencegah kerusakan alam. Di mana ekosistem sehat dan memiliki keanekaragaman hayati, mereka menjadi tangguh, mudah beradaptasi, dan membantu meregulasi penyakit.
220
Terhadap ekonomi dan pertanian
Citra satelit yang memperlihatkan
deforestasi untuk perkebunan kelapa sawit
di Malaysia
Bagian ini memerlukan
pemutakhiran informasi
Harap perbarui artikel dengan menambahkan informasi terbaru yang tersedia.
Kerugian ekonomi akibat
deforestasi di Brasil
dapat mencapai sekitar 317 miliar dolar per tahun, kira-kira 7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan nilai seluruh komoditas yang diproduksi melalui deforestasi.
221
Industri hasil hutan merupakan bagian besar dari ekonomi di negara maju maupun negara berkembang. Keuntungan ekonomi jangka pendek yang diperoleh dari konversi hutan menjadi pertanian, atau
eksploitasi berlebih
produk kayu, biasanya menyebabkan hilangnya pendapatan jangka panjang dan produktivitas biologis jangka panjang.
Afrika Barat
Madagaskar
Asia Tenggara
, dan banyak wilayah lainnya telah mengalami penurunan pendapatan akibat menurunnya panen kayu. Pembalakan liar menyebabkan kerugian miliaran dolar bagi perekonomian nasional setiap tahunnya.
222
Ketahanan sistem pangan manusia dan kapasitasnya untuk beradaptasi terhadap perubahan masa depan terkait dengan keanekaragaman hayati – termasuk spesies semak dan pohon yang beradaptasi dengan lahan kering yang membantu memerangi penggurunan, serangga, kelelawar, dan spesies burung penghuni hutan yang menyerbuki tanaman, pohon dengan sistem perakaran luas di
ekosistem pegunungan
yang mencegah
erosi tanah
, serta spesies bakau yang memberikan ketahanan terhadap banjir di wilayah pesisir.
13
Dengan perubahan iklim yang memperparah risiko terhadap sistem pangan, peran hutan dalam menangkap dan menyimpan karbon serta memitigasi perubahan iklim menjadi penting bagi sektor pertanian.
13
Citra satelit perbatasan
Haiti
dengan
Republik Dominika
(kanan) menunjukkan jumlah
deforestasi di sisi Haiti
Deforestasi di sekitar Cagar Alam Harimau Pakke, India
Pemantauan
Agen dari IBAMA, polisi lingkungan
Brasil
, mencari aktivitas pembalakan liar di
wilayah adat
di
hutan hujan Amazon
, 2018
Terdapat berbagai metode yang tepat dan andal untuk mengurangi dan memantau deforestasi. Salah satu metodenya adalah "interpretasi visual foto udara atau citra satelit yang padat karya namun tidak memerlukan pelatihan tingkat tinggi dalam pemrosesan citra komputer atau sumber daya komputasi yang ekstensif".
133
Metode lain mencakup analisis titik panas (yaitu, lokasi perubahan cepat) menggunakan pendapat ahli atau data satelit resolusi kasar untuk mengidentifikasi lokasi guna analisis digital terperinci dengan citra satelit resolusi tinggi.
133
Deforestasi biasanya dinilai dengan mengukur jumlah area yang terdeforestasi, yang diukur pada saat ini.
Dari sudut pandang lingkungan, mengukur kerusakan dan konsekuensi yang mungkin terjadi adalah tugas yang lebih penting, sementara upaya konservasi lebih berfokus pada perlindungan lahan berhutan dan pengembangan alternatif penggunaan lahan untuk menghindari deforestasi yang berkelanjutan.
133
Laju deforestasi dan total area terdeforestasi telah digunakan secara luas untuk memantau deforestasi di banyak wilayah, termasuk pemantauan deforestasi Amazon Brasil oleh INPE.
163
Tampilan satelit global telah tersedia, sebuah contoh pemantauan
ilmu perubahan lahan
terhadap tutupan lahan dari waktu ke waktu.
223
224
Pencitraan satelit telah menjadi krusial dalam memperoleh data mengenai tingkat deforestasi dan reboisasi. Data
satelit
Landsat
, sebagai contoh, telah digunakan untuk memetakan deforestasi tropis sebagai bagian dari
Pathfinder Humid Tropical Deforestation Project
milik
NASA
. Proyek ini menghasilkan peta deforestasi untuk
Lembah Amazon
Afrika Tengah
, dan
Asia Tenggara
untuk tiga periode pada tahun 1970-an, 1980-an, dan 1990-an.
225
Greenpeace telah memetakan hutan-hutan yang masih utuh
226
dan memublikasikan informasi ini di internet.
227
World Resources Institute
pada gilirannya telah membuat peta tematik yang lebih sederhana
228
yang menunjukkan jumlah hutan yang ada tepat sebelum zaman manusia (8000 tahun yang lalu) dan tingkat hutan (yang berkurang) saat ini.
229
Pengendalian
Kebijakan internasional, nasional, dan subnasional
Konsep tak lengkap kerangka kerja pengurutan bauran kebijakan untuk tata kelola nol deforestasi. Tiadanya intervensi dalam proses yang terkait dengan produksi daging sapi melalui kebijakan dapat menjadi pemicu utama deforestasi tropis.
Informasi lebih lanjut:
Pembangunan berkelanjutan
dan
Pendapatan dasar universal di Brasil
Kebijakan untuk perlindungan hutan mencakup program informasi dan edukasi, langkah-langkah ekonomi untuk meningkatkan imbal hasil pendapatan dari aktivitas resmi, serta langkah-langkah untuk meningkatkan efektivitas "teknisi hutan dan pengelola hutan".
230
Kemiskinan dan sewa pertanian ditemukan sebagai faktor utama yang menyebabkan deforestasi.
231
Para pengambil keputusan politik dalam dan luar negeri kontemporer dimungkinkan untuk menciptakan dan mengimplementasikan kebijakan yang hasilnya memastikan bahwa aktivitas ekonomi di hutan-hutan kritis selaras dengan nilai yang disematkan secara ilmiah untuk
jasa ekosistem
, mitigasi perubahan iklim, dan tujuan lainnya.
Kebijakan semacam itu dapat menggunakan dan mengorganisasi pengembangan sarana teknis dan ekonomi komplementer – termasuk untuk tingkat produksi, penjualan, dan konsumsi daging sapi yang lebih rendah (yang juga akan memberikan manfaat besar bagi
mitigasi perubahan iklim
した場合,
232
233
tingkat aktivitas ekonomi spesifik lainnya yang lebih tinggi di area tersebut (seperti reboisasi, perlindungan hutan,
pertanian berkelanjutan
untuk kelas produk pangan tertentu, dan
pekerjaan kuartener
secara umum),
persyaratan
informasi produk
, sertifikasi praktik dan produk, serta
eko-tarif
, bersama dengan pemantauan dan
ketertelusuran
yang diperlukan.
Menginduksi penciptaan dan penegakan kebijakan semacam itu
, sebagai contoh, dapat mencapai penghentian bertahap global terhadap
daging sapi yang terkait deforestasi
234
235
236
Templat:Additional citation needed
Dengan langkah-langkah tata kelola polisentris yang kompleks, tujuan seperti mitigasi perubahan iklim yang memadai sebagaimana diputuskan misalnya dalam
Persetujuan Paris
dan penghentian deforestasi pada tahun 2030 sebagaimana diputuskan dalam
Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2021
dapat dicapai.
237
Sebuah studi menyarankan agar negara-negara berpendapatan tinggi perlu mengurangi
impor
produk yang terkait dengan hutan tropis dan membantu pembangunan sosioekonomi yang secara teoretis terkait dengan hutan. Kebijakan pemerintah yang proaktif dan kebijakan hutan internasional yang "meninjau kembali dan merancang ulang perdagangan hutan global" juga diperlukan.
238
239
Pada tahun 2022,
Parlemen Eropa
menyetujui rancangan undang-undang yang bertujuan untuk menghentikan impor yang terkait dengan deforestasi.
Peraturan Produk Bebas Deforestasi Uni Eropa
(EUDR) ini, sebagai contoh, dapat menyebabkan Brasil menghentikan deforestasi untuk produksi pertanian dan mulai "meningkatkan produktivitas di lahan pertanian yang sudah ada".
240
Undang-undang tersebut diadopsi dengan beberapa perubahan oleh
Dewan Eropa
pada Mei 2023 dan diperkirakan akan mulai berlaku beberapa minggu setelahnya. RUU tersebut mewajibkan perusahaan yang ingin mengimpor jenis produk tertentu ke Uni Eropa untuk membuktikan bahwa produksi komoditas tersebut tidak terkait dengan area yang dideforestasi setelah 31 Desember 2020. Aturan ini juga melarang impor produk yang terkait dengan pelanggaran
Hak asasi manusia
. Daftar produk tersebut meliputi:
minyak kelapa sawit
sapi
kayu
kopi
kakao
karet
, dan
kedelai
. Beberapa turunan dari produk-produk tersebut juga disertakan:
cokelat
mebel
kertas cetak
, dan beberapa turunan berbasis minyak kelapa sawit.
241
242
Namun sayangnya, sebagaimana ditunjukkan oleh laporan
Bankrolling ecosystem destruction
243
regulasi impor produk ini tidaklah cukup. Sektor keuangan Eropa menginvestasikan miliaran euro dalam perusakan alam. Bank-bank tidak menanggapi secara positif permintaan untuk menghentikan hal ini, itulah sebabnya laporan tersebut menyerukan agar regulasi Eropa di bidang ini diperketat dan agar bank dilarang untuk terus mendanai deforestasi.
244
Ikrar internasional
Pada tahun 2014, sekitar 40 negara menandatangani
Deklarasi New York tentang Hutan
, sebuah ikrar sukarela untuk memangkas separuh deforestasi pada tahun 2020 dan mengakhirinya pada tahun 2030. Akan tetapi, kesepakatan tersebut tidak mengikat secara hukum, dan beberapa negara utama, seperti Brasil, Tiongkok, dan Rusia, tidak turut menandatanganinya. Akibatnya, upaya tersebut gagal, dan deforestasi justru meningkat dari tahun 2014 hingga 2020.
245
246
Pada bulan November 2021, 141 negara (yang mencakup sekitar 85%
hutan tropis
primer
dunia dan 90%
tutupan pohon
global) menyepakati
Deklarasi Pemimpin Glasgow tentang Hutan dan Tata Guna Lahan
pada
KTT iklim COP26 di Glasgow
, sebuah ikrar untuk mengakhiri dan membalikkan deforestasi pada tahun 2030.
246
247
248
Kesepakatan ini disertai dengan komitmen pendanaan terkait sebesar sekitar $19,2 miliar.
247
Perjanjian Glasgow
2021 menyempurnakan Deklarasi New York dengan kini menyertakan Brasil dan banyak negara lain yang tidak menandatangani perjanjian tahun 2014.
246
247
Beberapa negara utama dengan laju deforestasi tinggi (termasuk Malaysia, Kamboja, Laos, Paraguay, dan Myanmar) belum menandatangani Deklarasi Glasgow.
247
Seperti perjanjian sebelumnya, Deklarasi Pemimpin Glasgow disepakati di luar
Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim
dan dengan demikian tidak mengikat secara hukum.
247
Pada bulan November 2021, badan eksekutif Uni Eropa menguraikan rancangan undang-undang yang mewajibkan perusahaan untuk membuktikan bahwa komoditas pertanian seperti daging sapi, kayu, minyak kelapa sawit, kedelai,
kopi
, dan
kakao
yang ditujukan bagi 450 juta konsumen UE tidak terkait dengan deforestasi.
249
Pada bulan September 2022, Parlemen UE mendukung dan memperkuat rencana dari badan eksekutif UE tersebut dengan perolehan suara 453 berbanding 57.
250
Pada tahun 2018, pedagang minyak kelapa sawit terbesar, Wilmar, memutuskan untuk mengendalikan pemasoknya guna menghindari deforestasi.
251
Templat:Additional citation needed
Pada tahun 2021, lebih dari 100 pemimpin dunia, yang mewakili negara-negara dengan cakupan lebih dari 85% hutan dunia, berkomitmen untuk menghentikan dan membalikkan deforestasi serta degradasi lahan pada tahun 2030.
252
Hak atas tanah
Mengalihkan
hak atas tanah
kepada penduduk asli dinilai dapat melestarikan hutan secara efisien.
Masyarakat adat telah lama menjadi garda terdepan dalam perlawanan terhadap deforestasi.
253
Pengalihan hak atas tanah dari ranah publik kepada
penduduk aslinya
dinilai sebagai strategi yang efektif biaya untuk melestarikan hutan.
254
Hal ini mencakup perlindungan hak-hak tersebut yang termaktub dalam undang-undang yang ada, seperti
Undang-Undang Hak Hutan
di India.
254
Pengalihan hak-hak semacam itu di
Tiongkok
, yang mungkin merupakan
reforma agraria
terbesar di masa modern, dinyatakan telah meningkatkan tutupan hutan.
255
Di
Brasil
, kawasan berhutan yang hak tenurialnya diberikan kepada kelompok masyarakat adat memiliki laju
pembukaan
yang bahkan lebih rendah dibandingkan
taman nasional
255
Konsesi komunitas di
Hutan hujan Kongo
mengalami deforestasi yang jauh lebih sedikit karena masyarakat diberi insentif untuk mengelola lahan secara berkelanjutan, bahkan turut mengurangi kemiskinan.
256
Pengelolaan hutan
Informasi lebih lanjut:
Pengelolaan hutan
Di area di mana "
tebang-dan-bakar
" dipraktikkan, beralih ke "
tebang-dan-arang
" akan mencegah deforestasi cepat dan degradasi tanah yang menyertainya.
Bioarang
yang tercipta dengan cara ini, ketika dikembalikan ke tanah, bukan hanya menjadi metode
sekuestrasi karbon
yang tahan lama, tetapi juga merupakan
amendemen
yang sangat bermanfaat bagi tanah. Jika dicampur dengan
biomassa
, ini akan menghasilkan penciptaan
terra preta
, salah satu tanah terkesubur di planet ini dan satu-satunya yang diketahui dapat meregenerasi dirinya sendiri.
Bambu dianjurkan sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan daripada menebang kayu untuk bahan bakar.
257
Sertifikasi, sebagaimana disediakan oleh sistem sertifikasi global seperti
Programme for the Endorsement of Forest Certification
dan
Forest Stewardship Council
, berkontribusi dalam menanggulangi deforestasi dengan menciptakan permintaan pasar akan kayu dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), "Syarat utama bagi adopsi pengelolaan hutan berkelanjutan adalah permintaan akan produk yang diproduksi secara berkelanjutan dan kesediaan konsumen untuk membayar biaya lebih tinggi yang ditimbulkannya. [...] Dengan mempromosikan atribut positif produk hutan dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan, sertifikasi berfokus pada sisi permintaan dari konservasi lingkungan."
258
Moratorium kedelai Amazon
Brasil, sebuah kesepakatan di antara pedagang komoditas untuk tidak membeli dari area yang dideforestasi setelah tahun 2008, telah berkontribusi pada penurunan laju deforestasi dan kurang dari 2% lahan produksi tidak patuh pada tahun 2018/19.
259
Kompensasi finansial untuk pengurangan emisi dari deforestasi
Artikel utama:
Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan
Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD)
di negara-negara berkembang telah muncul sebagai potensi baru untuk melengkapi kebijakan iklim yang sedang berjalan. Idenya terdiri dari pemberian kompensasi finansial untuk pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dari deforestasi dan degradasi hutan".
260
REDD dapat dipandang sebagai alternatif bagi sistem
perdagangan emisi
karena pada sistem yang terakhir, pencemar harus membayar izin untuk hak mengemisikan polutan tertentu (yaitu
CO
).
Organisasi internasional utama termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia, telah mulai mengembangkan program yang ditujukan untuk menahan laju deforestasi. Istilah umum
Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation
(REDD) menggambarkan jenis program-program ini, yang menggunakan insentif moneter langsung atau insentif lainnya untuk mendorong negara-negara berkembang membatasi dan/atau membalikkan deforestasi. Pendanaan telah menjadi masalah, namun pada Konferensi Para Pihak ke-15 (COP-15)
Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa
(UNFCCC) di Kopenhagen pada Desember 2009, sebuah kesepakatan dicapai dengan komitmen kolektif oleh negara-negara maju untuk sumber daya baru dan tambahan, termasuk
kehutanan
dan investasi melalui lembaga internasional, yang akan mendekati US$30 miliar untuk periode 2010–2012.
261
Pekerjaan signifikan sedang berlangsung pada perangkat yang digunakan untuk memantau kepatuhan negara berkembang terhadap target REDD yang disepakati. Perangkat ini, yang mengandalkan pemantauan hutan jarak jauh menggunakan citra satelit dan sumber data lainnya, mencakup inisiatif FORMA (Forest Monitoring for Action) dari
Center for Global Development
262
dan Portal Pelacakan Karbon Hutan milik
Group on Earth Observations
263
Panduan metodologis untuk pemantauan hutan juga ditekankan pada COP-15.
264
Organisasi lingkungan
Avoided Deforestation Partners
memimpin kampanye untuk pengembangan REDD melalui pendanaan dari pemerintah AS.
265
Sejarah
Informasi lebih lanjut:
Linimasa sejarah lingkungan
Prasejarah
Keruntuhan Hutan Hujan Karbon
183
adalah peristiwa yang terjadi 300 juta tahun yang lalu. Perubahan iklim memporak-porandakan hutan hujan tropis yang menyebabkan kepunahan banyak spesies tanaman dan hewan. Perubahan tersebut terjadi secara mendadak, khususnya, pada saat itu iklim menjadi lebih dingin dan kering, kondisi yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan hutan hujan dan sebagian besar keanekaragaman hayati di dalamnya. Hutan hujan terfragmentasi membentuk 'pulau-pulau' yang menyusut dan makin berjauhan. Populasi seperti subkelas
Lissamphibia
hancur, sedangkan
Reptilia
selamat dari keruntuhan tersebut. Organisme yang bertahan hidup beradaptasi lebih baik terhadap lingkungan yang lebih kering yang tertinggal dan menjadi warisan dalam suksesi setelah keruntuhan.
butuh rujukan
Deretan artefak Neolitikum, termasuk gelang, kepala kapak, pahat, dan alat pemoles.
Hutan hujan pernah menutupi 14% permukaan daratan bumi; kini hutan tersebut hanya menutupi 6% dan para ahli memperkirakan bahwa hutan hujan yang tersisa dapat habis dalam waktu kurang dari 40 tahun.
266
Deforestasi skala kecil dipraktikkan oleh beberapa masyarakat selama puluhan ribu tahun sebelum dimulainya peradaban.
267
Bukti pertama deforestasi muncul pada
periode Mesolitikum
268
Hal ini mungkin digunakan untuk mengubah hutan tertutup menjadi ekosistem yang lebih terbuka yang menguntungkan bagi hewan buruan.
267
Dengan munculnya pertanian, area yang lebih luas mulai dideforestasi, dan api menjadi alat utama untuk membuka lahan tanaman. Di Eropa, hanya ada sedikit bukti kuat sebelum tahun 7000 SM.
Pencari makan
Mesolitikum menggunakan api untuk menciptakan bukaan bagi
rusa merah
dan
babi hutan
. Di Britania Raya, spesies toleran naungan seperti
ek
dan
ash
digantikan dalam
catatan serbuk sari
oleh
hazel
, semak berduri, rerumputan, dan jelatang. Penghilangan hutan menyebabkan penurunan
transpirasi
, yang mengakibatkan pembentukan
rawa gambut
dataran tinggi. Penurunan luas
serbuk sari
elm
di seluruh Eropa antara 8400 dan 8300 SM serta 7200–7000 SM, dimulai di Eropa selatan dan secara bertahap bergerak ke utara menuju Britania Raya, mungkin merepresentasikan
pembukaan
lahan dengan api pada awal pertanian
Neolitikum
Periode Neolitikum
menyaksikan deforestasi ekstensif untuk
lahan pertanian
269
270
Kapak batu dibuat sejak sekitar 3000 SM tidak hanya dari rijang, tetapi juga dari berbagai jenis batuan keras dari seluruh Britania dan Amerika Utara. Ini termasuk
industri kapak Langdale
yang terkenal di
Distrik Danau Inggris
, tambang yang dikembangkan di
Penmaenmawr
di
Wales Utara
, dan berbagai lokasi lainnya. Bentuk kasar dibuat secara lokal di dekat tambang, dan beberapa dipoles secara lokal untuk memberikan hasil akhir yang halus. Langkah ini tidak hanya meningkatkan
kekuatan mekanik
kapak, tetapi juga membuat penetrasi ke kayu menjadi lebih mudah.
Rijang
masih digunakan dari sumber-sumber seperti
Grimes Graves
tetapi juga dari banyak tambang lain di seluruh Eropa.
Bukti deforestasi telah ditemukan di
Kreta
Minoa
; sebagai contoh lingkungan sekitar
Istana Knossos
mengalami deforestasi parah pada
Zaman Perunggu
271
Sejarah pra-industri
Lihat pula:
Deforestasi selama periode Romawi
dan
Deforestasi berdasarkan benua
Pulau Paskah
, terdeforestasi.
Sebagaimana para arkeolog telah menunjukkan bahwa masyarakat tani prasejarah harus menebang atau membakar hutan sebelum menanam, dokumen dan artefak dari peradaban awal sering kali mengungkapkan sejarah deforestasi. Beberapa yang paling dramatis adalah
relief
Asiria abad kedelapan SM yang menggambarkan kayu gelondongan dihanyutkan ke hilir dari wilayah taklukan ke wilayah ibu kota yang kurang berhutan sebagai rampasan perang. Teks-teks Tiongkok kuno menjelaskan bahwa beberapa area di lembah Sungai Kuning telah menghancurkan banyak hutannya lebih dari 2000 tahun yang lalu dan harus menanam pohon sebagai tanaman atau mengimpornya dari jarak jauh.
272
Di Tiongkok Selatan, sebagian besar tanah menjadi milik pribadi dan digunakan untuk penanaman kayu secara komersial.
273
Tiga studi regional tentang erosi dan aluviasi bersejarah di
Yunani kuno
menemukan bahwa, di mana pun terdapat bukti yang memadai, fase utama erosi mengikuti pengenalan pertanian di berbagai wilayah Yunani sekitar 500–1.000 tahun kemudian, mulai dari Neolitikum akhir hingga Zaman Perunggu Awal.
274
Seribu tahun setelah pertengahan milenium pertama SM terjadi lonjakan erosi tanah yang serius dan berselang-seling di banyak tempat.
Pendangkalan
bersejarah pelabuhan di sepanjang pantai selatan
Asia Kecil
misalnya
Klaros
, dan contoh
Efesus
Priene
, dan
Miletus
, di mana pelabuhan harus ditinggalkan karena endapan lumpur dari Sungai Meander) dan di pesisir
Suriah
selama abad-abad terakhir SM.
275
276
Pulau Paskah
telah menderita
erosi tanah
yang parah dalam beberapa abad terakhir, yang diperburuk oleh pertanian dan deforestasi.
277
Hilangnya pepohonan di pulau itu tampaknya bertepatan dengan kemunduran peradabannya sekitar abad ke-17 dan ke-18. Para sarjana mengaitkan keruntuhan tersebut dengan deforestasi dan eksploitasi berlebihan terhadap semua sumber daya.
278
279
Pendangkalan pelabuhan
Brugge
yang terkenal, yang memindahkan perdagangan pelabuhan ke
Antwerpen
, juga mengikuti periode peningkatan pertumbuhan permukiman (dan tampaknya deforestasi) di daerah aliran sungai bagian hulu. Di
Riez
abad pertengahan awal di
Provence
hulu, endapan lumpur aluvial dari dua sungai kecil menaikkan dasar sungai dan memperlebar dataran banjir, yang perlahan mengubur permukiman Romawi dalam aluvium dan secara bertahap memindahkan konstruksi baru ke tempat yang lebih tinggi; secara bersamaan lembah hulu di atas Riez dibuka untuk penggembalaan.
280
Perangkap kemajuan
yang umum adalah bahwa kota-kota sering dibangun di daerah berhutan, yang akan menyediakan kayu untuk beberapa industri (misalnya, konstruksi, pembuatan kapal, tembikar). Namun, ketika deforestasi terjadi tanpa penanaman kembali yang tepat; pasokan kayu lokal menjadi sulit diperoleh cukup dekat agar tetap kompetitif, yang menyebabkan ditinggalkannya kota tersebut, seperti yang terjadi berulang kali di
Asia Kecil
Kuno. Karena kebutuhan bahan bakar, pertambangan dan metalurgi sering menyebabkan deforestasi dan ditinggalkannya kota.
281
Budak
membersihkan
Hutan Atlantik
di Brasil,
ca
1820–1825
Dengan sebagian besar penduduk tetap aktif di (atau secara tidak langsung bergantung pada) sektor pertanian, tekanan utama di sebagian besar wilayah tetaplah
pembukaan
lahan untuk tanaman pangan dan peternakan. Ruang hijau liar yang cukup biasanya dibiarkan berdiri (dan sebagian digunakan, misalnya, untuk mengumpulkan kayu bakar, kayu pertukangan, dan buah-buahan, atau untuk menggembalakan babi) agar satwa liar tetap lestari. Perlindungan kaum elit (bangsawan dan pendeta tinggi) terhadap hak berburu dan hewan buruan mereka sendiri sering kali melindungi hutan yang signifikan.
butuh rujukan
Peran utama dalam penyebaran (dan dengan demikian pertumbuhan yang lebih tahan lama) populasi dimainkan oleh 'perintisan' biara (terutama oleh ordo
Benediktin
dan
Komersial
) dan beberapa tuan tanah
feodal
yang merekrut petani untuk bermukim (dan menjadi pembayar pajak) dengan menawarkan kondisi hukum dan fiskal yang relatif baik. Bahkan ketika spekulan berusaha untuk mendorong pertumbuhan kota, para pemukim membutuhkan sabuk pertanian di sekitar atau terkadang di dalam tembok pertahanan. Ketika populasi menurun dengan cepat oleh penyebab seperti
Maut Hitam
kolonisasi Amerika
282
atau peperangan yang menghancurkan (misalnya, gerombolan
Mongol
pimpinan
Jenghis Khan
di Eropa timur dan tengah,
Perang Tiga Puluh Tahun
di Jerman), hal ini dapat menyebabkan permukiman ditinggalkan. Tanah tersebut direklamasi oleh alam, tetapi
hutan sekunder
biasanya tidak memiliki
keanekaragaman hayati
asli.
Invasi dan penaklukan Mongol
saja mengakibatkan pengurangan 700 juta ton karbon dari atmosfer dengan memungkinkan pertumbuhan kembali hutan penyerap karbon di lahan yang tidak berpenghuni selama periode waktu yang signifikan.
283
284
Deforestasi di
Suriname
ca
1880–1900
Dari tahun 1100 hingga 1500 M, deforestasi yang signifikan terjadi di
Eropa Barat
sebagai akibat dari
perluasan populasi manusia
285
Pembangunan kapal layar kayu skala besar oleh pemilik angkatan laut (pesisir) Eropa sejak abad ke-15 untuk eksplorasi,
kolonisasi
perdagangan budak
, dan perdagangan lain di laut lepas, menghabiskan banyak sumber daya hutan dan bertanggung jawab atas masuknya berbagai wabah
pes bubo
pada abad ke-14.
Pembajakan
juga berkontribusi pada pemanenan hutan yang berlebihan, seperti di Spanyol. Hal ini menyebabkan melemahnya ekonomi domestik setelah penemuan Amerika oleh Columbus, karena ekonomi menjadi bergantung pada kegiatan kolonial (penjarahan, pertambangan, ternak, perkebunan, perdagangan, dll.)
butuh rujukan
Penggunaan
arang
secara masif dalam skala industri di
Eropa Modern Awal
adalah jenis konsumsi hutan barat yang baru.
286
Setiap kapal perang
Angkatan Laut Britania Raya
Nelson di Trafalgar (1805) membutuhkan 6.000 pohon ek dewasa untuk konstruksinya.
butuh rujukan
Di Prancis,
Colbert
menanam hutan
ek
untuk memasok angkatan laut Prancis di masa depan. Ketika perkebunan ek tersebut matang pada pertengahan abad ke-19, tiang-tiang tersebut tidak lagi diperlukan karena perkapalan telah berubah.
287
Upaya untuk menghentikan atau memperlambat deforestasi telah dicoba selama berabad-abad karena telah lama diketahui bahwa deforestasi dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup dalam beberapa kasus untuk menyebabkan keruntuhan masyarakat. Di
Tonga
, para penguasa tertinggi mengembangkan kebijakan yang dirancang untuk mencegah konflik antara keuntungan jangka pendek dari konversi hutan menjadi lahan pertanian dan masalah jangka panjang yang akan ditimbulkan oleh hilangnya hutan,
288
sementara selama abad ke-17 dan ke-18 di
Tokugawa
, Jepang,
289
para syogun mengembangkan sistem perencanaan jangka panjang yang sangat canggih untuk menghentikan dan bahkan membalikkan deforestasi dari abad-abad sebelumnya melalui penggantian kayu dengan produk lain dan penggunaan lahan yang lebih efisien yang telah diolah selama berabad-abad.
Pada abad ke-16 di Jerman, para tuan tanah juga mengembangkan
silvikultur
untuk menangani masalah deforestasi. Namun, kebijakan ini cenderung terbatas pada lingkungan dengan
curah hujan yang baik
tidak ada musim kemarau
, dan
tanah
yang sangat muda
(melalui
vulkanisme
atau
glasiasi
). Hal ini dikarenakan pada tanah yang lebih tua dan kurang subur, pohon tumbuh terlalu lambat untuk silvikultur menjadi ekonomis, sementara di daerah dengan musim kemarau yang kuat selalu ada risiko kebakaran hutan yang menghancurkan tanaman pohon sebelum matang.
Abad ke-19 dan ke-20
Deforestasi di Burma (kini
Myanmar
sekitar
tahun 1920, selama
era kolonial Britania
Lihat pula:
Deforestasi berdasarkan benua
Kapal uap
Pada abad ke-19, diperkenalkannya
kapal uap
di
Amerika Serikat
menjadi penyebab deforestasi di tepian sungai-sungai besar, seperti
Sungai Mississippi
, dengan peningkatan banjir yang lebih parah sebagai salah satu dampak lingkungannya. Awak kapal uap menebang kayu setiap hari dari tepian sungai untuk memicu mesin uap. Di antara
St. Louis
dan pertemuan dengan
Sungai Ohio
di selatan, Sungai Mississippi menjadi lebih lebar dan dangkal serta mengubah salurannya secara lateral. Upaya untuk meningkatkan navigasi dengan menggunakan
penarik tunggul
sering kali mengakibatkan para awak
membersihkan
pohon-pohon besar sejauh 100 hingga
200 kaki (61
m)
dari tepian sungai. Beberapa kota kolonial Prancis di
Negeri Illinois
, seperti
Kaskaskia
Cahokia
, dan St. Philippe,
Illinois
, kebanjiran dan ditinggalkan pada akhir abad ke-19, yang mengakibatkan hilangnya catatan budaya
arkeologi
mereka.
290
Masyarakat dan budaya
Berbagai budaya di tempat yang berbeda di dunia memiliki interpretasi yang beragam mengenai tindakan penebangan pohon. Sebagai contoh, dalam
Mitologi Meitei
dan
Cerita rakyat Meitei
di
Manipur
(India), deforestasi disebutkan sebagai salah satu alasan yang membuat
ibu pertiwi
menangis dan berduka atas kematian anak-anaknya yang berharga.
291
292
293
Lihat pula
Tebang habis
Pembukaan lahan
Defaunasi
Transisi hutan
Pembalakan liar
Tahun Hutan Internasional
Penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan, dan kehutanan
Pemindahan puncak gunung
Referensi
"Arti kata deforestasi"
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia
SAFnet Dictionary|Definition For [deforestation
Diarsipkan
25 July 2011 di
Wayback Machine
. Dictionary of forestry.org (29 July 2008). Retrieved 15 May 2011.
Deforestation|Threats|WWF
. Worldwildlife.org. Retrieved 13 November 2016.
Ritchie, Hannah
Roser, Max
(2021-02-09).
"Forests and Deforestation"
Our World in Data
"On Water"
European Investment Bank
(dalam bahasa Inggris)
. Diakses tanggal
2020-10-13
Teja Tscharntke; Christoph Leuschner; Edzo Veldkamp; Heiko Faust; Edi Guhardja, ed. (2010).
Tropical Rainforests and Agroforests Under Global Change
. Springer. hlm.
270–
271.
ISBN
978-3-642-00492-6
Watson, Robert T.; Noble, Ian R.; Bolin, Bert; Ravindranath, N. H.; Verardo, David J.; Dokken, David J. (2000).
Land Use, Land-Use Change, and Forestry
(Report). Cambridge University Press.
Guy, Jack; Ehlinger, Maija (2 June 2020).
"The world lost a football pitch-sized area of tropical forest every six seconds in 2019"
CNN
. Diakses tanggal
2020-06-02
Weisse, Mikaela; Goldman, Elizabeth Dow (2020-06-02).
"We Lost a Football Pitch of Primary Rainforest Every 6 Seconds in 2019"
World Resources Institute
(dalam bahasa Inggris)
. Diakses tanggal
2020-06-04
"Investment and financial flows to address climate change"
(PDF)
unfccc.int
. UNFCCC. 2007. hlm.
81.
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 2008-05-10.
"Agriculture is the direct driver for worldwide deforestation"
ScienceDaily
(dalam bahasa Inggris)
. Diakses tanggal
2018-04-29
"Forest Conversion"
WWF
. Diakses tanggal
22 October
2020
10
11
The State of the World's Forests 2020. Forests, biodiversity and people – In brief
. Rome: FAO & UNEP. 2020.
doi
10.4060/ca8985en
ISBN
978-92-5-132707-4
S2CID
241416114
The State of the World's Forests 2020. In brief – Forests, biodiversity and people
. Rome: FAO & UNEP. hlm.
9–
10.
ISBN
978-92-5-132707-4
"Global Forest Resource Assessment 2020"
www.fao.org
(dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari
asli
tanggal 20 May 2020
. Diakses tanggal
20 September
2020
FAO (2020).
"Global Forest Resources Assessment"
(PDF)
IPCC (2019a).
"Climate Change and Land: an IPCC special report on climate change, desertification, land degradation, sustainable land management, food security, and greenhouse gas fluxes in terrestrial ecosystems. Chapter 4. Land Degradation"
(PDF)
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 2019-12-20.
"The causes of deforestation"
Eniscuola
. Diakses tanggal
2020-08-06
"The five: areas of deforestation"
The Guardian
(dalam bahasa Inggris). 2019-11-24
. Diakses tanggal
2020-06-05
"Facts About Rainforests"
Diarsipkan
22 October 2015 di
Wayback Machine
The Nature Conservancy
. Retrieved 19 October 2015.
Poore, J.; Nemecek, T. (1 June 2018).
"Reducing food's environmental impacts through producers and consumers"
Science
360
(6392):
987–
992.
Bibcode
2018Sci...360..987P
doi
10.1126/science.aaq0216
ISSN
0036-8075
PMID
29853680
Rainforest Facts
Diarsipkan
22 October 2015 di
Wayback Machine
. Nature.org (1 November 2016). Retrieved 13 November 2016.
Human society under urgent threat from loss of Earth's natural life. Scientists reveal 1 million species at risk of extinction in damning UN report
6 May 2019 Guardian
"Earth has 3 trillion trees but they're falling at alarming rate"
Reuters
(dalam bahasa Inggris). 2 September 2015
. Diakses tanggal
26 May
2020
Carrington, Damian (4 July 2019).
"Tree planting 'has mind-blowing potential' to tackle climate crisis"
The Guardian
. Diakses tanggal
26 May
2020
"Average westerner's eating habits lead to loss of four trees every year"
the Guardian
(dalam bahasa Inggris). 29 March 2021
. Diakses tanggal
19 April
2021
Hoang, Nguyen Tien; Kanemoto, Keiichiro (29 March 2021).
"Mapping the deforestation footprint of nations reveals growing threat to tropical forests"
Nature Ecology & Evolution
(dalam bahasa Inggris).
(6):
845–
853.
Bibcode
2021NatEE...5..845H
doi
10.1038/s41559-021-01417-z
ISSN
2397-334X
PMID
33782576
S2CID
232420306
. Diakses tanggal
19 April
2021
Spring, Jake (April 4, 2024). Dunham, Will (ed.).
"Tropical forest loss eased in 2023 but threats remain, analysis shows"
www.reuters.com
. Diakses tanggal
4 April
2024
Ometto, J.P., K. Kalaba, G.Z. Anshari, N. Chacón, A. Farrell, S.A. Halim, H. Neufeldt, and R. Sukumar, 2022:
CrossChapter Paper 7: Tropical Forests
. In:
Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability
. Contribution of Working Group II to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [H.-O. Pörtner, D.C. Roberts, M. Tignor, E.S. Poloczanska, K. Mintenbeck, A. Alegría, M. Craig, S. Langsdorf, S. Löschke, V. Möller, A. Okem, B. Rama (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, UK and New York, NY, USA, pp. 2369–2410, doi:10.1017/9781009325844.024.
Steffen, Will; Sanderson, Angelina; Tyson, Peter; Jäger, Jill; et
al. (2004).
"Global Change and the Climate System / A Planet Under Pressure"
(PDF)
. International Geosphere-Biosphere Programme (IGBP). hlm.
131, 133.
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 19 March 2017.
Fig. 3.67(j): loss of tropical rainforest and woodland, as estimated for tropical Africa, Latin America and South and Southeast Asia.
Ritchie, Hannah (4 February 2021).
"Deforestation and Forest Loss / Humanity destroyed one third of the world's forests by expanding agricultural land"
Our World in Data
. Our World in Data (OWID).
Diarsipkan
dari versi aslinya tanggal 7 November 2022.
Data: Historical data on forests from Williams (2003) – Deforesting the Earth. Historical data on agriculture from The History Database of Global Environment (HYDE). Modern data from the FAO
Duke Press policy studies / Global deforestation and the nineteenth-century world economy / edited by Richard P. Tucker and J. F. Richards
E. O. Wilson
, 2002,
The Future of Life
, Vintage
ISBN
0-679-76811-4
Map reveals extent of deforestation in tropical countries
, guardian.co.uk, 1 July 2008.
Maycock, Paul F.
Deforestation
pranala nonaktif permanen
. WorldBookOnline.
Nunez, Christina (7 February 2019).
"Deforestation and Its Effect on the Planet"
National Geographic
(dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari
asli
tanggal 17 January 2017
. Diakses tanggal
2020-06-02
Ron Nielsen,
The Little Green Handbook: Seven Trends Shaping the Future of Our Planet
, Picador, New York (2006)
ISBN
978-0-312-42581-4
Global Forest Resources Assessment / 2020 / Key findings
(PDF)
. Food and Agriculture Organization of the United Nations. 2020. hlm.
2, 3.
doi
10.4060/ca8753en
ISBN
978-92-5-132581-0
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 22 September 2023.
Butler, Rhett A. (31 March 2021).
"Global forest loss increases in 2020"
Mongabay
Diarsipkan
dari versi aslinya tanggal 1 April 2021.
● Data from
"Indicators of Forest Extent / Forest Loss"
. World Resources Institute. 4 April 2024.
Diarsipkan
dari versi aslinya tanggal 27 May 2024 .
Chart in section titled "Annual rates of global tree cover loss have risen since 2000".
"Fires Drove Record-breaking Tropical Forest Loss in 2024"
WRI.org
. World Resources Institute. 21 May 2025.
Diarsipkan
dari versi aslinya tanggal 23 May 2025.
● 2022 Global Forest Watch data quoted by
McGrath, Matt; Poynting, Mark (27 June 2023).
"Climate change: Deforestation surges despite pledges"
. BBC.
Diarsipkan
dari versi aslinya tanggal 29 June 2023.
Achard, F; Eva, H. D.; Stibig, H. J.; Mayaux, P; Gallego, J; Richards, T; Malingreau, J. P. (2002).
"Determination of deforestation rates of the world's humid tropical forests"
Science
297
(5583):
999–
1003.
Bibcode
2002Sci...297..999A
doi
10.1126/science.1070656
PMID
12169731
S2CID
46315941
"Pan-tropical Survey of Forest Cover Changes 1980–2000"
Forest Resources Assessment
. Rome, Italy: Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO).
Committee On Forestry
. FAO (16 March 2001). Retrieved 29 August 2010.
Jha, Alok (21 October 2005).
"Amazon rainforest vanishing at twice rate of previous estimates"
The Guardian
Satellite images reveal Amazon forest shrinking faster
, csmonitor.com, 21 October 2005.
FAO. 2016. Global Forest Resources Assessment 2015. How are the world's forests changing?
● 2021 data:
"Forest Pulse: The Latest on the World's Forests"
WRI.org
. World Resources Institute. June 2023.
Diarsipkan
dari versi aslinya tanggal 27 June 2023.
● 2022 and 2023 data:
"Forest Pulse: The Latest on the World's Forests"
WRI.org
. World Resources Institute / Global Forest Review. 4 April 2024.
Diarsipkan
dari versi aslinya tanggal 4 April 2024.
● 2024 data:
Goldman, Elizabeth; Carter, Sarah; Sims, Michelle (21 May 2025).
"Fires Drove Record-breaking Tropical Forest Loss in 2024"
. World Resources Institute.
Diarsipkan
dari versi aslinya tanggal 26 May 2025.
"Amazon Against the Clock: A Regional Assessment on Where and How to Protect 80% by 2025"
(PDF)
Amazon Watch
. September 2022. hlm.
8.
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 10 September 2022.
Graphic 2: Current State of the Amazon by country, by percentage / Source: RAISG (Red Amazónica de Información Socioambiental Georreferenciada) Elaborated by authors.
Worldwatch: Wood Production and Deforestation Increase & Recent Content
Diarsipkan
25 October 2008 di
Wayback Machine
Worldwatch Institute
Butler, Rhett A. (16 November 2005).
"World deforestation rates and forest cover statistics, 2000–2005"
mongabay.com
The fear is that highly diverse habitats, such as tropical rainforest, are vanishing at a faster rate that is partly masked by the slower deforestation of less biodiverse, dry, open forests. Because of this omission, the most harmful impacts of deforestation (such as habitat loss) could be increasing despite a possible decline in the global rate of deforestation.
"Remote sensing versus self-reporting"
The World Bank estimates that 80% of logging operations are illegal in
Bolivia
and 42% in
Colombia
, while in
Peru
, illegal logging accounts for 80% of all logging activities. (World Bank (2004).
Forest Law Enforcement
.) (The Peruvian Environmental Law Society (2003).
Case Study on the Development and Implementation of Guidelines for the Control of Illegal Logging with a View to Sustainable Forest Management in Peru
.)
Foley, J. A.; Defries, R; Asner, G. P.; Barford, C; Bonan, G; Carpenter, S. R.; Chapin, F. S.; Coe, M. T.; Daily, G. C.; Gibbs, H. K.; Helkowski, J. H.; Holloway, T; Howard, E. A.; Kucharik, C. J.; Monfreda, C; Patz, J. A.; Prentice, I. C.; Ramankutty, N; Snyder, P. K. (2005).
"Global Consequences of Land Use"
Science
309
(5734):
570–
574.
Bibcode
2005Sci...309..570F
doi
10.1126/science.1111772
PMID
16040698
S2CID
5711915
pranala nonaktif permanen
James Owen,
"World's Forests Rebounding, Study Suggests"
National Geographic News
, 13 November 2006.
Abbasi, Akane O.; Tang, Xiaolu; Harris, Nancy L.; Goldman, Elizabeth D.; Gamarra, Javier G. P.; Herold, Martin; Kim, Hyun Seok; Luo, Weixue; Silva, Carlos Alberto; Tchebakova, Nadezhda M.; Mitra, Ankita; Finegold, Yelena; Jahanshahi, Mohammad Reza; Alvarez, Cesar Ivan; Kim, Tae Kyung; Ryu, Daun; Liang, Jingjing (22 July 2023).
"Spatial database of planted forests in East Asia"
Scientific Data
10
(1): 480.
Bibcode
2023NatSD..10..480A
doi
10.1038/s41597-023-02383-w
PMC
10363164
PMID
37481639
"Forest Holocaust"
National Geographic
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 22 April 2009
. Diakses tanggal
16 October
2008
IUCN – Three new sites inscribed on World Heritage List
Diarsipkan
14 January 2009 di
Wayback Machine
, 27 June 2007.
"Madagascar's rainforest map"
New Scientist
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 20 September 2016
. Diakses tanggal
26 August
2017
"THE SIZE OF THE RAINFORESTS"
. csupomona.edu. Diarsipkan dari
asli
tanggal 30 September 2012.
Chart – Tropical Deforestation by Country & Region
. Mongabay.com. Retrieved 4 December 2011.
Rainforest Destruction
. rainforestweb.org
The Amazon Rainforest
, BBC, 14 February 2003.
Schlanger, Zoë; Wolfe, Daniel (21 August 2019).
"The fires in the Amazon were likely set intentionally"
Quartz
. Diakses tanggal
22 August
2019
Mackintosh, Eliza (23 August 2019).
"The Amazon is burning because the world eats so much meat"
CNN
. Diakses tanggal
23 August
2019
Liotta, Edoardo (23 August 2019).
"Feeling Sad About the Amazon Fires? Stop Eating Meat"
Vice
. Diakses tanggal
30 August
2019
Revington, John.
"The Causes of Tropical Deforestation"
New Renaissance Magazine
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 27 June 2009
. Diakses tanggal
17 October
2008
"What is Deforestation?"
kids.mongabay.com
"Brazil registers huge spike in Amazon deforestation"
Deutsche Welle
. 3 July 2019.
Amazon deforestation rises sharply in 2007
, USATODAY.com, 24 January 2008.
Vidal, John (31 May 2005).
"Rainforest loss shocks Brazil"
The Guardian
. London
. Diakses tanggal
1 April
2010
"Paraguay es principal deforestador del Chaco"
ABC Color newspaper, Paraguay
. Diakses tanggal
13 August
2011
pranala nonaktif permanen
"Paraguay farmland"
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 18 September 2012
. Diakses tanggal
13 August
2011
"Haiti Is Covered with Trees"
EnviroSociety
. Tarter, Andrew. 19 May 2016
. Diakses tanggal
14 November
2016
Kinver, Mark (2019-09-12).
"World 'losing battle against deforestation'
BBC News
"Analysis: The next Amazon? Congo Basin faces rising deforestation threat"
Reuters
. 11 November 2022.
"The World's 10 Most Threatened Forest Hotspots"
Conservation.org
. Conservation International. February 2, 2011. Diarsipkan dari
asli
tanggal February 5, 2011.
Nabuurs, G-J.; R. Mrabet; A. Abu Hatab; M. Bustamante; H. Clark; P. Havlík; J. House; C. Mbow; K.N. Ninan; A. Popp; S. Roe; B. Sohngen; S. Towprayoon (2022). "Agriculture, Forestry and Other Land Uses (AFOLU)".
Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change. Contribution of Working Group III to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change
(PDF)
(Report). Cambridge University Press. hlm.
768–
769.
doi
10.1017/9781009157926.009
ISBN
978-1-009-15792-6
Nick M. Haddad; Lars A. Brudvig; Jean Clobert; et
al. (2015).
"Habitat fragmentation and its lasting impact on Earth's ecosystems"
Science Advances
(2) e1500052.
Bibcode
2015SciA....1E0052H
doi
10.1126/sciadv.1500052
PMC
4643828
PMID
26601154
Indo-Burma
, Conservation International.
New Caledonia
, Conservation International.
Sundaland
, Conservation International.
Philippines
, Conservation International.
Atlantic Forest
Diarsipkan
12 December 2011 di
Wayback Machine
, Conservation International.
Mountains of Southwest China
, Conservation International.
California Floristic Province
Diarsipkan
14 April 2011 di
Wayback Machine
, Conservation International.
Coastal Forests of Eastern Africa
, Conservation International.
Madagascar & Indian Ocean Islands
, Conservation International.
Eastern Afromontane
, Conservation International.
"Government Subsidies for Agriculture May Exacerbate Deforestation, says new UN report"
United Nations Sustainable Development
(dalam bahasa American English). September 3, 2015.
Diarsipkan
dari versi aslinya tanggal 3 August 2016
. Diakses tanggal
2021-07-10
Curtis, Philip G.; Slay, Christy M.; Harris, Nancy L.; Tyukavina, Alexandra; Hansen, Matthew C. (2018-09-14).
"Classifying drivers of global forest loss"
Science
(dalam bahasa Inggris).
361
(6407):
1108–
1111.
Bibcode
2018Sci...361.1108C
doi
10.1126/science.aau3445
ISSN
0036-8075
PMID
30213911
Starkel, Leszek (2018).
"Role Of Climatic And Anthropogenic Factors Accelerating Soil Erosion And Fluvial Activity In Central Europe"
(PDF)
Studia Quaternaria
22
Longobardi, Patrick (April 21, 2016).
"Deforestation induced Climate Change: Effects of Spatial Scale"
PLOS ONE
11
(4) e0153357.
Bibcode
2016PLoSO..1153357L
doi
10.1371/journal.pone.0153357
PMC
4839769
PMID
27100667
"Cattle ranching in the Amazon rainforest"
www.fao.org
. Diakses tanggal
2020-02-25
"Growth of Brazil's Beef Industry Fueling Fires Destroying Amazon Rainforest"
KTLA
(dalam bahasa Inggris). 2019-08-23. Diarsipkan dari
asli
tanggal 25 February 2020
. Diakses tanggal
2020-02-25
"slash-and-burn agriculture | Definition & Impacts"
Encyclopedia Britannica
(dalam bahasa Inggris)
. Diakses tanggal
2020-04-28
"What is Slash and Burn Agriculture"
World Atlas
(dalam bahasa Inggris)
. Diakses tanggal
2020-04-28
"Deforestation and Climate Change"
Climate Institute
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 15 March 2023
. Diakses tanggal
28 September
2023
Houghton, R.A (December 2012). "Carbon emissions and the drivers of deforestation and forest degradation in the tropics".
Current Opinion in Environmental Sustainability
(6):
597–
603.
Bibcode
2012COES....4..597H
doi
10.1016/j.cosust.2012.06.006
ISSN
1877-3435
Tinker, P. Bernard; Ingram, John S. I.; Struwe, Sten (1996-06-01).
"Effects of slash-and-burn agriculture and deforestation on climate change"
Agriculture, Ecosystems & Environment
(dalam bahasa Inggris).
58
(1):
13–
22.
Bibcode
1996AgEE...58...13T
doi
10.1016/0167-8809(95)00651-6
ISSN
0167-8809
Wang, George C. (9 April 2017).
"Go vegan, save the planet"
CNN
. Diakses tanggal
25 August
2019
Liotta, Edoardo (23 August 2019).
"Feeling Sad About the Amazon Fires? Stop Eating Meat"
Vice
. Diakses tanggal
25 August
2019
Steinfeld, Henning; Gerber, Pierre; Wassenaar, T. D.; Castel, Vincent (2006).
Livestock's Long Shadow: Environmental Issues and Options
Food and Agriculture Organization of the United Nations
ISBN
978-92-5-105571-7
. Diakses tanggal
19 August
2008
Margulis, Sergio (2004).
Causes of Deforestation of the Brazilian Amazon
(PDF)
. World Bank Working Paper No. 22. Washington D.C.: The World Bank. hlm.
9.
ISBN
0-8213-5691-7
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 10 September 2008
. Diakses tanggal
4 September
2008
"Unsustainable Cattle Ranching"
. World Wildlife Fund
. Diakses tanggal
22 October
2022
"How cattle ranches are chewing up the Amazon rainforest | Greenpeace UK"
Greenpeace UK
(dalam bahasa Inggris (Britania)). 2009-01-31
. Diakses tanggal
2018-04-29
Carrington, Damian (2018-05-21).
"Humans just 0.01% of all life but have destroyed 83% of wild mammals – study"
The Guardian
(dalam bahasa Inggris (Britania)).
ISSN
0261-3077
. Diakses tanggal
2020-04-28
Sanquetta, Carlos R.; Bastos, Alexis De S.; Sanquetta, Mateus N. I.; Barberena, Iara M.; Corte, Ana P. Dalla; Queiroz, Alexandre; Almeida, Luiz Felipe P. U. (2022-08-05).
"Assessing the carbon stock of cultivated pastures in Rondônia, southwestern Brazilian Amazon"
Anais da Academia Brasileira de Ciências
(dalam bahasa Inggris).
94
(4) e20210262.
doi
10.1590/0001-3765202220210262
ISSN
0001-3765
PMID
35946750
S2CID
251429424
Rubenstein, Steve.
"SAN FRANCISCO / Artist reminds us: Junk mail grows from trees / Credit card offers, ads form sculpture for recycling center"
SFGate
"How Junk Mail is Helping to Prop up the Postal Service"
"Rates of Deforestation & Reforestation in the U.S."
Diarsipkan dari
asli
tanggal 11 August 2019
. Diakses tanggal
2018-04-11
"Logging | Global Forest Atlas"
globalforestatlas.yale.edu
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 2019-06-05
. Diakses tanggal
2020-04-28
Angelsen, Arild; Kaimowitz, David (February 1999).
"Rethinking the causes of deforestation: Lessons from economic models"
The World Bank Research Observer
14
(1). Oxford University Press:
73–
98.
doi
10.1093/wbro/14.1.73
JSTOR
3986539
PMID
12322119
Laurance, William F. (December 1999).
"Reflections on the tropical deforestation crisis"
(PDF)
Biological Conservation
91
2–
3):
109–
117.
Bibcode
1999BCons..91..109L
doi
10.1016/S0006-3207(99)00088-9
. Diarsipkan dari
asli
(PDF)
tanggal 8 September 2006.
Burgonio, T.J. (3 January 2008).
"Corruption blamed for deforestation"
Philippine Daily Inquirer
pranala nonaktif permanen
"WRM Bulletin Number 74"
. World Rainforest Movement. September 2003. Diarsipkan dari
asli
tanggal 4 October 2008
. Diakses tanggal
17 October
2008
Cozma, Adeline-Cristina; Cotoc, Corina-Narcisa (Bodescu); Vaidean, Viorela Ligia; Achim, Monica Violeta (2021).
"Corruption, Shadow Economy and Deforestation: Friends or Strangers?"
Risks
(dalam bahasa Inggris).
(9): 153.
doi
10.3390/risks9090153
hdl
10419/258237
"Global Deforestation"
Global Change Curriculum
. University of Michigan Global Change Program. 4 January 2006. Diarsipkan dari
asli
tanggal 15 June 2011.
Marcoux, Alain (August 2000).
"Population and deforestation"
SD Dimensions
. Sustainable Development Department, Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). Diarsipkan dari
asli
tanggal 28 June 2011.
Butler, Rhett A.
"Impact of Population and Poverty on Rainforests"
Mongabay.com / A Place Out of Time: Tropical Rainforests and the Perils They Face
. Diakses tanggal
13 May
2009
Stock, Jocelyn; Rochen, Andy.
"The Choice: Doomsday or Arbor Day"
umich.edu
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 16 April 2009.
Ehrhardt-Martinez, Karen.
"Demographics, Democracy, Development, Disparity and Deforestation: A Crossnational Assessment of the Social Causes of Deforestation"
Paper presented at the annual meeting of the American Sociological Association, Atlanta Hilton Hotel, Atlanta, GA, 16 August 2003
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 10 December 2008
. Diakses tanggal
13 May
2009
"Urbanisation | DEFORESTATION IN SOUTHEAST ASIA"
blogs.ntu.edu.sg
. Diakses tanggal
2022-11-01
Geist, Helmut J.; Lambin, Eric F. (February 2002).
"Proximate Causes and Underlying Driving Forces of Tropical Deforestation"
BioScience
52
(2):
143–
150.
doi
10.1641/0006-3568(2002)052
0143:PCAUDF
2.0.CO
"The Double Edge of Globalization"
YaleGlobal Online
. Yale University Press. June 2007. Diarsipkan dari
asli
tanggal 10 April 2009
. Diakses tanggal
17 October
2008
Butler, Rhett A.
"Human Threats to Rainforests—Economic Restructuring"
Mongabay.com / A Place Out of Time: Tropical Rainforests and the Perils They Face
. Diakses tanggal
13 May
2009
Hecht, Susanna B.; Kandel, Susan; Gomes, Ileana; Cuellar, Nelson; Rosa, Herman (2006).
"Globalization, Forest Resurgence, and Environmental Politics in El Salvador"
(PDF)
World Development
34
(2):
308–
323.
doi
10.1016/j.worlddev.2005.09.005
. Diarsipkan dari
asli
(PDF)
tanggal 29 October 2008
. Diakses tanggal
17 October
2008
Pearce, David W (December 2001).
"The Economic Value of Forest Ecosystems"
(PDF)
Ecosystem Health
(4):
284–
296.
doi
10.1046/j.1526-0992.2001.01037.x
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 2008-05-11.
Butler, Rhett A.; Laurance, William F. (August 2008).
"New strategies for conserving tropical forests"
(PDF)
Trends in Ecology & Evolution
23
(9):
469–
472.
Bibcode
2008TEcoE..23..469B
doi
10.1016/j.tree.2008.05.006
PMID
18656280
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 2009-12-11.
Rudel, T.K. (2005)
Tropical Forests: Regional Paths of Destruction and Regeneration in the Late 20th Century
. Columbia University Press
ISBN
0-231-13195-X
Curtis, P. G.; Slay, C. M.; Harris, N. L.; Tyukavina, A.; Hansen, M. C. (2018).
"Classifying drivers of global forest loss"
Science
361
(6407):
1108–
1111.
Bibcode
2018Sci...361.1108C
doi
10.1126/science.aau3445
PMID
30213911
S2CID
52273353
Chomitz, Kenneth; Gray, David A. (1999).
"Roads, lands, markets, and deforestation: a spatial model of land use in Belize"
(PDF)
. Policy Research Working Papers.
doi
10.1596/1813-9450-1444
(tidak aktif 1 July 2025).
S2CID
129453055
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 2017-08-15.
Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (
link
Ferraz, Silvio Frosini de Barros; Vettorazzi, Carlos Alberto; Theobald, David M. (2009).
"Using indicators of deforestation and land-use dynamics to support conservation strategies: A case study of central Rondônia, Brazil"
Forest Ecology and Management
257
(7):
1586–
1595.
Bibcode
2009ForEM.257.1586F
doi
10.1016/j.foreco.2009.01.013
EXTRACTED FORESTS UNEARTHING THE ROLE OF MINING-RELATED DEFORESTATION AS A DRIVER OF GLOBAL DEFORESTATION
(PDF)
. World Wildlife Fund. 2023. hlm.
3, 6, 7, 22
. Diakses tanggal
23 April
2023
Forests under fire: Tracking progress on 2030 forest goals
(PDF)
. Forest Declaration Assessment Partners. October 2024. hlm.
8, 14, 15, 19, 57, 58
. Diakses tanggal
29 October
2024
Harris, Nancy; Rose, Melissa (24 July 2025).
"World's Forest Carbon Sink Shrank to its Lowest Point in at Least 2 Decades, Due to Fires and Persistent Deforestation"
. World Resources Institute.
Chart: "Net Forest Carbon Sink (Gt CO2e/yr)"
Mulkey, Sachi Kitajima; Stevens, Harry (24 July 2025).
"For 1st Time, Fires Are Biggest Threat to Forests' Climate-Fighting Superpower"
The New York Times
Diarsipkan
dari versi aslinya tanggal 25 July 2025.
Potapov, Peter; Tyukavina, Alexandra; Turubanova, Svetlana; Hansen, Matthew C.; et
al. (21 July 2025).
"Unprecedentedly high global forest disturbance due to fire in 2023 and 2024"
Proceedings of the National Academy of Sciences
122
(30) e2505418122.
Bibcode
2025PNAS..12205418P
doi
10.1073/pnas.2505418122
PMC
12318170
PMID
40690667
Fig. 1A.
Seymour, Frances; Gibbs, David (2019-08-08).
"Forests in the IPCC Special Report on Land Use: 7 Things to Know"
World Resources Institute
(dalam bahasa Inggris)
. Diakses tanggal
2020-03-20
Forzieri, Giovanni; Dakos, Vasilis; McDowell, Nate G.; Ramdane, Alkama; Cescatti, Alessandro (August 2022).
"Emerging signals of declining forest resilience under climate change"
Nature
(dalam bahasa Inggris).
608
(7923):
534–
539.
doi
10.1038/s41586-022-04959-9
ISSN
1476-4687
PMC
9385496
PMID
35831499
News article:
"Forests are becoming less resilient because of climate change"
New Scientist
. Diakses tanggal
21 August
2022
Harris, Nancy; Dow Goldman, Elizabeth; Weisse, Mikaela; Barrett, Alyssa (13 September 2018).
"When a Tree Falls, Is It Deforestation?"
World Resources Institute
. Diakses tanggal
30 August
2019
Dapcevich, Madison (28 August 2019).
"Disastrous Wildfires Sweeping Through Alaska Could Permanently Alter Forest Composition"
. Ecowatch
. Diakses tanggal
30 August
2019
Woods, Paul (1989). "Effects of Logging, Drought, and Fire on Structure and Composition of Tropical Forests in Sabah, Malaysia".
Biotropica
21
(4):
290–
298.
Bibcode
1989Biotr..21..290W
doi
10.2307/2388278
ISSN
0006-3606
JSTOR
2388278
Higa, Takejiro.
Battle of Okinawa
Diarsipkan
20 July 2011 di
Wayback Machine
, The Hawaii Nisei Project
Arreguín-Toft, Ivan (8 December 2005).
How the Weak Win Wars: A Theory of Asymmetric Conflict
. Cambridge Studies in International Relations. Vol.
99. Cambridge: Cambridge University Press. hlm.
61.
ISBN
978-0-521-83976-1
. Diakses tanggal
17 June
2018
[...] Voronzov [...] then set about organizing a more methodical destruction of Shamil and the subsequent conquest of the Caucasus. Over the next decade, this involved nothing more complicated or less deadly than the deforestation of Chechnia.
"DEFOLIANT DEVELOPED BY US WAS FOR KOREAN WAR".
States News Services
. 29 May 2011.
Pesticide Dilemma in the Third World: A Case Study of Malaysia
. Phoenix Press. 1984. hlm.
23.
Krech III, Shepard; Merchant, Carolyn; McNeill, John Robert, ed. (2004).
Encyclopedia of World Environmental History
. Routledge.
ISBN
978-0-415-93732-0
Marchak, M. Patricia (18 September 1995).
Logging the globe
. McGill-Queen's Press – MQUP. hlm.
157–.
ISBN
978-0-7735-1346-4
. Diakses tanggal
4 December
2011
Zierler, David (2011).
The invention of ecocide: agent orange, Vietnam, and the scientists who changed the way we think about the environment
. Athens, Ga.: Univ. of Georgia Press.
ISBN
978-0-8203-3827-9
Falk, Richard A. (1973). "Environmental Warfare and Ecocide — Facts, Appraisal, and Proposals".
Bulletin of Peace Proposals
(1):
80–
96.
doi
10.1177/096701067300400105
ISSN
0007-5035
JSTOR
44480206
S2CID
144885326
Giovanni, Chiarini (2022-04-01).
"Ecocide: From the Vietnam War to International Criminal Jurisdiction? Procedural Issues In-Between Environmental Science, Climate Change, and Law"
Cork Online Law Review
(dalam bahasa Inggris).
SSRN
4072727
Lawrence, Deborah; Coe, Michael; Walker, Wayne; Verchot, Louis; Vandecar, Karen (2022).
"The Unseen Effects of Deforestation: Biophysical Effects on Climate"
Frontiers in Forests and Global Change
756115.
Bibcode
2022FrFGC...5.6115L
doi
10.3389/ffgc.2022.756115
hdl
10568/119219
ISSN
2624-893X
Feng, Yu; Zeng, Zhenzhong; Searchinger, Timothy D.; Ziegler, Alan D.; Wu, Jie; Wang, Dashan; He, Xinyue; Elsen, Paul R.; Ciais, Philippe; Xu, Rongrong; Guo, Zhilin; Peng, Liqing; Tao, Yiheng; Spracklen, Dominick V.; Holden, Joseph; Liu, Xiaoping; Zheng, Yi; Xu, Peng; Chen, Ji; Jiang, Xin; Song, Xiao-Peng; Lakshmi, Venkataraman; Wood, Eric F.; Zheng, Chunmiao (28 February 2022).
"Doubling of annual forest carbon loss over the tropics during the early twenty-first century"
Nature Sustainability
(dalam bahasa Inggris).
(5):
444–
451.
Bibcode
2022NatSu...5..444F
doi
10.1038/s41893-022-00854-3
hdl
2346/92751
ISSN
2398-9629
S2CID
247160560
Deforestation causes global warming
Diarsipkan
5 August 2009 di
Wayback Machine
FAO
"Tropical Deforestation and Global Warming | Union of Concerned Scientists"
www.ucsusa.org
(dalam bahasa Inggris)
. Diakses tanggal
2022-11-01
Ripple, William J.
; Wolf, Christopher; van Vuuren, Detlef P.; Gregg, Jillian W.; Lenzen, Manfred (January 9, 2024).
"An environmental and socially just climate mitigation pathway for a planet in peril"
Environmental Research Letters
19
(2): 021001.
Bibcode
2024ERL....19b1001R
doi
10.1088/1748-9326/ad059e
...land use change, particularly deforestation (driven by agricultural land expansion and wood demand), has also been one of the major contributors to climate change.
Van Der Werf, G. R.; Morton, D. C.; Defries, R. S.; Olivier, J. G. J.; Kasibhatla, P. S.; Jackson, R. B.; Collatz, G. J.; Randerson, J. T. (2009). "CO
emissions from forest loss".
Nature Geoscience
(11):
737–
738.
Bibcode
2009NatGe...2..737V
doi
10.1038/ngeo671
S2CID
129188479
"Deforestation emissions far higher than previously thought, study finds"
The Guardian
(dalam bahasa Inggris). 28 February 2022
. Diakses tanggal
16 March
2022
"Forests help reduce global warming in more ways than one"
Science News
. 24 March 2022
. Diakses tanggal
19 April
2022
M. Makarieva, Anastassia; V. Nefiodov, Andrei; Rammig, Anja; Donato Nobre, Antonio (20 July 2023).
"Re-appraisal of the global climatic role of natural forests for improved climate projections and policies"
Frontiers in Forests and Global Change
1150191.
arXiv
2301.09998
Bibcode
2023FrFGC...650191M
doi
10.3389/ffgc.2023.1150191
Fearnside, Philip M.; Laurance, William F. (2004). "Tropical Deforestation and Greenhouse-Gas Emissions".
Ecological Applications
14
(4): 982.
Bibcode
2004EcoAp..14..982F
doi
10.1890/03-5225
Defries, Ruth; Achard, Frédéric; Brown, Sandra; Herold, Martin; Murdiyarso, Daniel; Schlamadinger, Bernhard; De Souza, Carlos (2007).
"Earth observations for estimating greenhouse gas emissions from deforestation in developing countries"
(PDF)
Environmental Science Policy
10
(4):
385–
394.
Bibcode
2007ESPol..10..385D
doi
10.1016/j.envsci.2007.01.010
. Diarsipkan dari
asli
(PDF)
tanggal 18 January 2012.
Mills, Maria B.; Malhi, Yadvinder; Ewers, Robert M.; Kho, Lip Khoon; Teh, Yit Arn; Both, Sabine; Burslem, David F. R. P.; Majalap, Noreen; Nilus, Reuben; Huaraca Huasco, Walter; Cruz, Rudi; Pillco, Milenka M.; Turner, Edgar C.; Reynolds, Glen; Riutta, Terhi (17 January 2023).
"Tropical forests post-logging are a persistent net carbon source to the atmosphere"
Proceedings of the National Academy of Sciences
(dalam bahasa Inggris).
120
(3) e2214462120.
Bibcode
2023PNAS..12014462M
doi
10.1073/pnas.2214462120
ISSN
0027-8424
PMC
9934015
PMID
36623189
Nafeez, Ahmed (28 July 2020).
"Theoretical Physicists Say 90% Chance of Societal Collapse Within Several Decades"
Vice
. Diakses tanggal
9 August
2020
Bologna, M.; Aquino, G. (2020).
"Deforestation and world population sustainability: a quantitative analysis"
Scientific Reports
10
(7631): 7631.
arXiv
2006.12202
Bibcode
2020NatSR..10.7631B
doi
10.1038/s41598-020-63657-6
PMC
7203172
PMID
32376879
"Underlying Causes of Deforestation"
UN Secretary-General's Report
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 11 April 2001.
Rogge, Daniel.
"Deforestation and Landslides in Southwestern Washington"
University of Wisconsin-Eau Claire
China's floods: Is deforestation to blame?
BBC News. 6 August 1999.
Raven, P. H. and Berg, L. R. (2006)
Environment
, 5th ed, John Wiley & Sons. p. 406.
ISBN
0471704385
Hongchang, Wang (1 January 1998).
"Deforestation and Desiccation in China A Preliminary Study"
. Dalam Schwartz, Jonathan Matthew (ed.).
The Economic Costs of China's Environmental Degradation: Project on Environmental Scarcities, State Capacity, and Civil Violence, a Joint Project of the University of Toronto and the American Academy of Arts and Sciences
. Committee on Internat. Security Studies, American Acad. of Arts and Sciences. Diarsipkan dari
asli
tanggal 30 December 2009.
Mishra, D.D. (2010).
Fundamental Concept in Environmental Studies
. S. Chand Publishing. hlm.
14–
15.
ISBN
978-81-219-2937-0
"Soil, Water and Plant Characteristics Important to Irrigation".
Diarsipkan
25 November 2012 di
Wayback Machine
North Dakota State University.
Ray, Deepak K.; Nair, Udaysankar S.; Lawton, Robert O.; Welch, Ronald M.; Pielke, Roger A. (2006).
"Impact of land use on Costa Rican tropical montane cloud forests: Sensitivity of orographic cloud formation to deforestation in the plains"
Journal of Geophysical Research
111
(D2): D02108.
Bibcode
2006JGRD..111.2108R
doi
10.1029/2005JD006096
"How can you save the rain forest. 8 October 2006. Frank Field"
The Times
. London. 8 October 2006. Diarsipkan dari
asli
tanggal 17 May 2008
. Diakses tanggal
1 April
2010
"Deforestation as a major threat"
Daily Sun
(Opinion) (dalam bahasa Inggris)
. Diakses tanggal
2022-02-26
Morgan, R.P.C (2009).
Soil Erosion and Conservation
. John Wiley & Sons. hlm.
343.
ISBN
978-1-4051-4467-4
Henkel, Marlon (22 February 2015).
21st Century Homestead: Sustainable Agriculture III: Agricultural Practices
. Lulu.com. hlm.
110.
ISBN
978-1-312-93975-2
rujukan terbitan sendiri
"Deforestation of sandy soils a greater threat to climate change"
YaleNews
(dalam bahasa Inggris). 2014-04-01
. Diakses tanggal
2018-02-09
Shukla, J.; Nobre, C.; Sellers, P. (1990-03-16). "Amazon Deforestation and Climate Change".
Science
(dalam bahasa Inggris).
247
(4948):
1322–
1325.
Bibcode
1990Sci...247.1322S
doi
10.1126/science.247.4948.1322
hdl
10535/2838
ISSN
0036-8075
PMID
17843795
S2CID
8361418
Rebecca, Lindsey (2007-03-30).
"Tropical Deforestation: Feature Articles"
earthobservatory.nasa.gov
(dalam bahasa Inggris)
. Diakses tanggal
2018-02-09
Nilsson, Sten (March 2001).
Do We Have Enough Forests?
Diarsipkan
7 June 2019 di
Wayback Machine
, American Institute of Biological Sciences.
Sahney, S.; Benton, M.J. & Falcon-Lang, H.J. (2010).
"Rainforest collapse triggered Pennsylvanian tetrapod diversification in Euramerica"
Geology
38
(12):
1079–
1082.
Bibcode
2010Geo....38.1079S
doi
10.1130/G31182.1
Lewis, Sophie (September 9, 2020).
"Animal populations worldwide have declined by almost 70% in just 50 years, new report says"
CBS News
. Diakses tanggal
September 10,
2020
The report points to land-use change — in particular, the destruction of habitats like rainforests for farming — as the key driver for loss of biodiversity, accounting for more than half of the loss in Europe, Central Asia, North America, Latin America and the Caribbean.
Rainforest Biodiversity Shows Differing Patterns
, ScienceDaily, 14 August 2007.
"Medicine from the rainforest"
Research for Biodiversity Editorial Office
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 6 December 2008.
Single-largest biodiversity survey says primary rainforest is irreplaceable
Diarsipkan
14 August 2009 di
Wayback Machine
, Bio-Medicine, 14 November 2007.
Tropical rainforests – The tropical rainforest
, BBC
Tropical Rain Forest
. thinkquest.org
U.N. calls on Asian nations to end deforestation
Diarsipkan
24 September 2015 di
Wayback Machine
, Reuters, 20 June 2008.
Tropical rainforests – Rainforest water and nutrient cycles
Diarsipkan
13 February 2009 di
Wayback Machine
, BBC
Butler, Rhett A. (2 July 2007)
Primary rainforest richer in species than plantations, secondary forests
, mongabay.com,
Flowers, April (25 December 2012).
"Deforestation in the Amazon Affects Microbial Life As Well As Ecosystems"
Science News
. Redorbit.com. Diarsipkan dari
asli
tanggal 2 May 2013
. Diakses tanggal
12 March
2013
Rainforest Facts
. Rain-tree.com (20 March 2010). Retrieved 29 August 2010.
Leakey, Richard and Roger Lewin, 1996,
The Sixth Extinction
: Patterns of Life and the Future of Humankind
, Anchor,
ISBN
0-385-46809-1
The great rainforest tragedy
Diarsipkan
12 September 2011 di
Wayback Machine
, The Independent, 28 June 2003.
Biodiversity wipeout facing South East Asia
, New Scientist, 23 July 2003.
Pimm, S. L.; Russell, G. J.; Gittleman, J. L.; Brooks, T. M. (1995).
"The Future of Biodiversity"
Science
269
(5222):
347–
350.
Bibcode
1995Sci...269..347P
doi
10.1126/science.269.5222.347
PMID
17841251
S2CID
35154695
Pimm, S. L.; Russell, G. J.; Gittleman, J. L.; Brooks, T. M. (1995).
"The future of biodiversity"
Science
269
(5222):
347–
50.
Bibcode
1995Sci...269..347P
doi
10.1126/science.269.5222.347
PMID
17841251
S2CID
35154695
Whitmore, Timothy Charles; Sayer, Jeffrey; International Union for Conservation of Nature and Natural Resources. General Assembly; IUCN Forest Conservation Programme (15 February 1992).
Tropical deforestation and species extinction
. Springer.
ISBN
978-0-412-45520-9
Sohn, Emily (12 July 2012).
"More extinctions expected in Amazon"
Discovery
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 7 November 2012
. Diakses tanggal
13 July
2012
Broecker, Wallace S. (2006).
"Breathing easy: Et tu, O
".
Columbia University
Moran, Emilio F. (1993). "Deforestation and land use in the Brazilian Amazon".
Human Ecology
21
(1):
1–
21.
Bibcode
1993HumEc..21....1M
doi
10.1007/BF00890069
S2CID
153481315
Chapman, Russell Leonard (2013-01-01).
"Algae: the world's most important "plants"—an introduction"
Mitigation and Adaptation Strategies for Global Change
(dalam bahasa Inggris).
18
(1):
5–
12.
Bibcode
2013MASGC..18....5C
doi
10.1007/s11027-010-9255-9
ISSN
1573-1596
S2CID
85214078
Quaglia, Sofia (2021-12-17).
"Deforestation making outdoor work unsafe for millions, says study"
The Guardian
(dalam bahasa Inggris).
Diarsipkan
dari versi aslinya tanggal 17 December 2021
. Diakses tanggal
2021-12-18
Wolff, Nicholas H.; Zeppetello, Lucas R. Vargas; Parsons, Luke A.; Aggraeni, Ike; Battisti, David S.; Ebi, Kristie L.; Game, Edward T.; Kroeger, Timm; Masuda, Yuta J.; Spector, June T. (2021-12-01).
"The effect of deforestation and climate change on all-cause mortality and unsafe work conditions due to heat exposure in Berau, Indonesia: a modelling study"
The Lancet Planetary Health
(dalam bahasa English).
(12):
e882 –
e892
Bibcode
2021LanPH...5.e882W
doi
10.1016/S2542-5196(21)00279-5
ISSN
2542-5196
PMID
34774222
S2CID
244068407
Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (
link
Reddington, C. L.; Smith, C.; Butt, E. W.; Baker, J. C. A.; Oliveira, B. F. A.; Yamba, E. I.; Spracklen, D. V. (2025-08-27).
"Tropical deforestation is associated with considerable heat-related mortality"
Nature Climate Change
(dalam bahasa Inggris).
15
(9):
992–
999.
Bibcode
2025NatCC..15..992R
doi
10.1038/s41558-025-02411-0
ISSN
1758-6798
PMC
12417208
PMID
40933509
"UN Decade on Ecosystem Restoration"
Global emergence of infectious diseases: links with wild meat consumption, ecosystem disruption, habitat degradation and biodiversity loss
. Rome: FAO. 2020.
doi
10.4060/ca9456en
ISBN
978-92-5-132818-7
S2CID
240645073
Deforestation and emerging diseases|Bulletin of the Atomic Scientists
. Thebulletin.org (15 February 2011). Retrieved 13 November 2016.
Lam, Sai Kit; Chua, Kaw Bing (2002).
"Nipah Virus Encephalitis Outbreak in Malaysia"
Clinical Infectious Diseases
34
: S48–51.
Bibcode
2002CliID..34S..48L
doi
10.1086/338818
PMID
11938496
African Politics Portal|Tag Archive|Environmental impact of deforestation in Kenya
Diarsipkan
13 April 2016 di
Wayback Machine
. African-politics.com (28 May 2009). Retrieved 13 November 2016.
2014 Kenya Economic Survey Marks Malaria As Country's Leading Cause Of Death|The Henry J. Kaiser Family Foundation
. Kff.org (1 May 2014). Retrieved 13 November 2016.
Julia, Berazneva; Byker, Tanya S. (1 May 2017). "Does Forest Loss Increase Human Disease? Evidence from Nigeria".
American Economic Review
(dalam bahasa Inggris).
107
(5):
516–
521.
doi
10.1257/aer.p20171132
ISSN
0002-8282
PMID
29557569
Scheidt, Spencer N.; Hurlbert, Allen H. (2014).
"Range Expansion and Population Dynamics of an Invasive Species: The Eurasian Collared-Dove (
Streptopelia decaocto
)"
PLOS ONE
(10) e111510.
Bibcode
2014PLoSO...9k1510S
doi
10.1371/journal.pone.0111510
PMC
4213033
PMID
25354270
Deforestation sparks giant rodent invasions
. News.mongabay.com (15 December 2010). Retrieved 13 November 2016.
Outbreak Readiness and Business Impact Protecting Lives and Livelihoods across the Global Economy
(PDF)
. World Economic Forum, Harvard Global Health Institute. January 2019. hlm.
7.
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 2019-01-21
. Diakses tanggal
12 March
2020
UNEP Frontiers 2016 Report: Emerging Issues of Environmental Concern
(PDF)
. Nairoby: United Nations Environment Programme. 2016. hlm.
18–
32.
ISBN
978-92-807-3553-6
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 2017-02-24
. Diakses tanggal
1 May
2020
Text was copied from this source, which is available under a
Creative Commons Attribution 4.0 International License
Carrington, Damian (17 June 2020).
"Pandemics result from destruction of nature, say UN and WHO"
. The Guardian
. Diakses tanggal
18 June
2020
"Science points to causes of COVID-19"
United Nations Environmental Programm
. United Nations. 22 May 2020
. Diakses tanggal
2 June
2020
"World Bank: Brazil faces $317 billion in annual losses to Amazon deforestation"
8.9ha
. World Bank. 24 May 2023
. Diakses tanggal
30 May
2023
"Destruction of Renewable Resources"
rainforests.mongabay.com
"Global Forest Change – Google Crisis Map"
Google Crisis Map
. Diakses tanggal
12 October
2016
Popkin, Gabriel (4 October 2016).
"Warning to forest destroyers: this scientist will catch you"
Nature News & Comment
538
(7623):
24–
26.
Bibcode
2016Natur.538...24P
doi
10.1038/538024a
PMID
27708330
Earth Observatory. NASA Tropical Deforestation Research.
Diarsipkan
2009-11-23 di
Wayback Machine
accessed 12 November 2009.
The world's last intact forest landscapes
. intactforests.org
"World Intact Forests campaign by Greenpeace"
intactforests.org
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 28 February 2009
. Diakses tanggal
10 July
2008
The World's Forests from a Restoration Perspective
, WRI
"Alternative thematic map by Howstuffworks; in pdf"
(PDF)
. Diarsipkan dari
asli
(PDF)
tanggal 11 July 2009
. Diakses tanggal
6 April
2009
"29. Policies, strategies and technologies for forest resource protection – William B. Magrath* and Richard Grandalski**"
www.fao.org
. Diakses tanggal
2 May
2021
Miyamoto, Motoe (1 March 2020).
"Poverty reduction saves forests sustainably: Lessons for deforestation policies"
World Development
(dalam bahasa Inggris).
127
104746.
Bibcode
2020WoDev.12704746M
doi
10.1016/j.worlddev.2019.104746
ISSN
0305-750X
Henders, Sabine; Persson, U Martin; Kastner, Thomas (1 December 2015).
"Trading forests: land-use change and carbon emissions embodied in production and exports of forest-risk commodities"
Environmental Research Letters
(dalam bahasa Inggris).
10
(12) 125012.
Bibcode
2015ERL....10l5012H
doi
10.1088/1748-9326/10/12/125012
Pierrehumbert, R T; Eshel, G (1 August 2015).
"Climate impact of beef: an analysis considering multiple time scales and production methods without use of global warming potentials"
Environmental Research Letters
(dalam bahasa Inggris).
10
(8) 085002.
Bibcode
2015ERL....10h5002P
doi
10.1088/1748-9326/10/8/085002
ISSN
1748-9326
S2CID
152365403
Nepstad, Daniel; McGrath, David; Stickler, Claudia; Alencar, Ane; Azevedo, Andrea; Swette, Briana; Bezerra, Tathiana; DiGiano, Maria; Shimada, João; Seroa da Motta, Ronaldo; Armijo, Eric; Castello, Leandro; Brando, Paulo; Hansen, Matt C.; McGrath-Horn, Max; Carvalho, Oswaldo; Hess, Laura (6 June 2014).
"Slowing Amazon deforestation through public policy and interventions in beef and soy supply chains"
Science
344
(6188):
1118–
1123.
Bibcode
2014Sci...344.1118N
doi
10.1126/science.1248525
PMID
24904156
S2CID
206553761
Nolte, Christoph; le Polain de Waroux, Yann; Munger, Jacob; Reis, Tiago N. P.; Lambin, Eric F. (1 March 2017). "Conditions influencing the adoption of effective anti-deforestation policies in South America's commodity frontiers".
Global Environmental Change
(dalam bahasa Inggris).
43
1–
14.
Bibcode
2017GEC....43....1N
doi
10.1016/j.gloenvcha.2017.01.001
ISSN
0959-3780
McAlpine, C. A.; Etter, A.; Fearnside, P. M.; Seabrook, L.; Laurance, W. F. (1 February 2009).
"Increasing world consumption of beef as a driver of regional and global change: A call for policy action based on evidence from Queensland (Australia), Colombia and Brazil"
Global Environmental Change
(dalam bahasa Inggris).
19
(1):
21–
33.
Bibcode
2009GEC....19...21M
doi
10.1016/j.gloenvcha.2008.10.008
ISSN
0959-3780
Furumo, Paul R.; Lambin, Eric F. (27 October 2021).
"Policy sequencing to reduce tropical deforestation"
Global Sustainability
(dalam bahasa Inggris).
e24.
Bibcode
2021GlSus...4E..24F
doi
10.1017/sus.2021.21
hdl
2078.1/255479
ISSN
2059-4798
S2CID
239890357
"200 million acres of forest cover have been lost since 1960"
Grist
(dalam bahasa American English). 5 August 2022
. Diakses tanggal
15 September
2022
Estoque, Ronald C; Dasgupta, Rajarshi; Winkler, Karina; Avitabile, Valerio; Johnson, Brian A; Myint, Soe W; Gao, Yan; Ooba, Makoto; Murayama, Yuji; Lasco, Rodel D (1 August 2022).
"Spatiotemporal pattern of global forest change over the past 60 years and the forest transition theory"
Environmental Research Letters
(dalam bahasa Inggris).
17
(8): 084022.
Bibcode
2022ERL....17h4022E
doi
10.1088/1748-9326/ac7df5
ISSN
1748-9326
Schröder, André (15 September 2022).
"European bill passes to ban imports of deforestation-linked commodities"
Mongabay
. Diakses tanggal
18 September
2022
"Council adopts new rules to cut deforestation worldwide"
European Counsil
. European Union
. Diakses tanggal
22 May
2023
Téllez Chávez, Luciana (16 May 2023).
"EU Approves Law for 'Deforestation-Free' Trade"
Human Rights Watch
. Diakses tanggal
22 May
2023
'Bankrolling ecosystem destruction – The EU must stop the cash flow to businesses destroying nature'
Bankrolling nature destruction
"COP26: World leaders promise to end deforestation by 2030"
BBC News
. 2 November 2021.
Rhett A. Butler (5 November 2021).
"What countries are leaders in reducing deforestation? Which are not?"
. Mongabay.
Jake Spring; Simon Jessop (3 November 2021).
"Over 100 global leaders pledge to end deforestation by 2030"
Reuters
"Glasgow Leaders' Declaration on Forests and Land Use"
2021 United Nations Climate Change Conference
. November 12, 2021. Diarsipkan dari
asli
tanggal November 14, 2021.
Rankin, Jennifer (2021-11-17).
"EU aims to curb deforestation with beef and coffee import ban"
The Guardian
(dalam bahasa Inggris).
Diarsipkan
dari versi aslinya tanggal 17 November 2021
. Diakses tanggal
2021-11-17
Petrequin, Samuel (2022-09-13).
"EU lawmakers support ban of goods linked to deforestation"
AP NEWS
(dalam bahasa Inggris)
. Diakses tanggal
2022-09-14
Holder, Michael (10 December 2018).
'Potential breakthrough': Palm oil giant Wilmar steps up 'no deforestation' efforts"
Business Green
. Diakses tanggal
11 December
2018
"Major shifts in private finance, trade and land rights to protect world's forests"
GOV.UK
(dalam bahasa Inggris). 2021-11-02.
Diarsipkan
dari versi aslinya tanggal 2 November 2021
. Diakses tanggal
2021-11-07
"Indigenous Peoples' Forest Tenure"
Project Drawdown
(dalam bahasa Inggris). 2020-02-06
. Diakses tanggal
2020-09-13
"India should follow China to find a way out of the woods on saving forest people"
The Guardian
. 22 July 2016
. Diakses tanggal
7 August
2016
"China's forest tenure reforms"
. rightsandresources.org. Diarsipkan dari
asli
tanggal 23 September 2016
. Diakses tanggal
7 August
2016
"The bold plan to save Africa's largest forest"
BBC
. 7 January 2021
. Diakses tanggal
16 September
2021
Rosenberg, Tina (13 March 2012).
"In Africa's vanishing forests, the benefits of bamboo"
The New York Times
. Diakses tanggal
26 July
2012
"State of the World's Forests 2009"
. United Nations Food and Agriculture Organization.
"Brazil's Amazon soy moratorium"
WWF Forest Solutions
World Wide Fund for Nature
. Diakses tanggal
14 December
2025
Wertz-Kanounnikoff, Sheila; Alvarado, Rubio; Ximena, Laura.
"Why are we seeing "REDD"?"
. Institute for Sustainable Development and International Relations. Diarsipkan dari
asli
tanggal 25 December 2007
. Diakses tanggal
14 November
2016
"Copenhagen Accord of 18 December 2009"
(PDF)
. UNFCC. 2009.
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 2010-01-31
. Diakses tanggal
28 December
2009
Forest Monitoring for Action (FORMA)
: Center for Global Development
: Initiatives: Active
. Cgdev.org (23 November 2009). Retrieved 29 August 2010.
Browser – GEO FCT Portal
pranala nonaktif permanen
. Portal.geo-fct.org. Retrieved 29 August 2010.
"Methodological Guidance"
(PDF)
. UNFCC. 2009.
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 2010-01-19
. Diakses tanggal
28 December
2009
Agriculture Secretary Vilsack: $1 billion for REDD+ "Climate Progress
Diarsipkan
8 June 2010 di
Wayback Machine
. Climateprogress.org (16 December 2009). Retrieved 29 August 2010.
Taylor, Leslie (2004).
The Healing Power of Rainforest Herbs: A Guide to Understanding and Using Herbal Medicinals
. Square One.
ISBN
978-0-7570-0144-4
Flannery, T (1994).
The future eaters
. Melbourne: Reed Books.
ISBN
0-7301-0422-2
Brown, Tony (1997).
"Clearances and Clearings: Deforestation in Mesolithic/Neolithic Britain"
Oxford Journal of Archaeology
16
(2):
133–
146.
doi
10.1111/1468-0092.00030
"hand tool: Neolithic tools"
Encyclopædia Britannica Online
. 19 June 2023.
"Neolithic Age from 4,000 BC to 2,200 BC or New Stone Age"
www.archaeolink.co.uk
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 4 March 2007
. Diakses tanggal
2 October
2008
Hogan, C. Michael (22 December 2007).
"Knossos fieldnotes"
The Modern Antiquarian
Miller, Ian M.; Davis, Bradley C.; Lander, Brian; Lee, John (2022).
The Cultivated Forest: People and Woodlands in Asian History
. Seattle: University of Washington Press.
ISBN
978-0-295-75090-3
Miller, Ian M. (2020).
Fir and Empire: The Transformation of Forests in Early Modern China
. Seattle: University of Washington Press.
ISBN
978-0-295-74733-0
Van Andel, Tjeerd H.; Zangger, Eberhard; Demitrack, Anne (2013).
"Land Use and Soil Erosion in Prehistoric and Historical Greece"
(PDF)
Journal of Field Archaeology
17
(4):
379–
396.
doi
10.1179/009346990791548628
Diarsipkan
(PDF)
dari versi aslinya tanggal 2013-05-29.
"Miletus"
The Byzantine Legacy
(dalam bahasa Inggris)
. Diakses tanggal
2022-11-22
"Miletus (Site)"
www.perseus.tufts.edu
. Diakses tanggal
2022-11-22
"The Mystery of Easter Island"
Smithsonian Magazine
, 1 April 2007.
"Historical Consequences of Deforestation: Easter Island (Diamond 1995)"
. mongabay.com. Diarsipkan dari
asli
tanggal 29 April 2009
. Diakses tanggal
8 July
2008
"Jared Diamond, Easter Island's End"
. hartford-hwp.com.
Iyyer, Chaitanya (2009).
Land Management: Challenges & Strategies
. Global India Publications. hlm.
11.
ISBN
978-93-80228-48-8
Chew, Sing C. (2001).
World Ecological Degradation
. Oxford, England: AltaMira Press. hlm.
69–
70.
Koch, Alexander; Brierley, Chris; Maslin, Mark M.; Lewis, Simon L. (2019).
"Earth system impacts of the European arrival and Great Dying in the Americas after 1492"
Quaternary Science Reviews
207
13–
36.
Bibcode
2019QSRv..207...13K
doi
10.1016/j.quascirev.2018.12.004
"War, Plague No Match For Deforestation in Driving CO2 Buildup"
Carnegie Institution for Science
Carnegie Institution for Science
. 20 January 2011
. Diakses tanggal
22 November
2019
Julia Pongratz;
Ken Caldeira
; Christian H. Reick; Martin Claussen (20 Januari 2011). "Coupled climate–carbon simulations indicate minor global effects of wars and epidemics on atmospheric CO2 between ad 800 and 1850".
The Holocene
(dalam bahasa Inggris).
21
(5):
843–
851.
doi
10.1177/0959683610386981
ISSN
0959-6836
Wikidata
Q106515792
Groenewoudt, Bert; van Haaster, Henk; van Beek, Roy; Brinkkemper, Otto (2007-01-01). "Towards a reverse image. Botanical research into the landscape history of the eastern Netherlands (1100 B.C.—A.D. 1500)".
Landscape History
29
(1):
17–
33.
doi
10.1080/01433768.2007.10594587
ISSN
0143-3768
S2CID
130658356
Knapp, Hannes; Nelle, Oliver; Kirleis, Wiebke (2015-04-24).
"Charcoal usage in medieval and modern times in the Harz Mountains Area, Central Germany: Wood selection and fast overexploitation of the woodlands"
Quaternary International
366
51–
69.
Bibcode
2015QuInt.366...51K
doi
10.1016/j.quaint.2015.01.053
ISSN
1040-6182
"Make Wine Not War: The Story of Napoleon and France's Oak Forests"
Cluster Crush
(dalam bahasa American English). 2015-05-19
. Diakses tanggal
2024-07-08
Diamond, Jared
Collapse: How Societies Choose To Fail or Succeed
; Viking Press 2004, pp. 301–302
ISBN
0-14-311700-9
Diamond, Jared
Collapse: How Societies Choose To Fail or Succeed
; Viking Press 2004, pp. 320–331
ISBN
0-14-311700-9
Norris, F. Terry (1997)
"Where Did the Villages Go? Steamboats, Deforestation, and Archaeological Loss in the Mississippi Valley"
, in
Common Fields: an environmental history of St. Louis
, Andrew Hurley, ed., St. Louis, MO: Missouri Historical Society Press, pp. 73–89.
ISBN
978-1-883982-15-7
Singh, Ch Manihar (1996).
A History of Manipuri Literature
(dalam bahasa Inggris and Manipuri).
Sahitya Akademi
. hlm.
16, 17.
ISBN
978-81-260-0086-9
Datta, Bīrendranātha; Śarmā, Nabīnacandra (1994).
A Handbook of Folklore Material of North-East India
(dalam bahasa Inggris). India: Anundoram Borooah Institute of Language, Art & Culture, Assam. hlm.
356.
Barua, Lalit Kumar (1999).
Oral Tradition and Folk Heritage of North East India
(dalam bahasa Inggris). India: Spectrum Publications. hlm.
71.
ISBN
978-81-87502-02-9
Sumber
Artikel ini mengandung teks dari karya
konten bebas
Licensed under CC BY-SA 3.0
License statement
Global Forest Resources Assessment 2020 Key findings
, FAO, FAO. Untuk mengetahui cara menambahkan teks
berlisensi terbuka
ke artikel Wikipedia, baca
Wikipedia:Menambahkan teks berlisensi terbuka ke Wikipedia
. Untuk informasi tentang
mendaur ulang teks dari Wikipedia
, baca
ketentuan penggunaan
Artikel ini mengandung teks dari karya
konten bebas
Licensed under CC BY-SA 3.0 IGO
License statement
The State of the World’s Forests 2020. Forests, biodiversity and people – In brief
, FAO & UNEP, FAO & UNEP. Untuk mengetahui cara menambahkan teks
berlisensi terbuka
ke artikel Wikipedia, baca
Wikipedia:Menambahkan teks berlisensi terbuka ke Wikipedia
. Untuk informasi tentang
mendaur ulang teks dari Wikipedia
, baca
ketentuan penggunaan
Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki media mengenai
Deforestation
Global map of deforestation based on Landsat data
Old-growth forest zones within the remaining world forests
OneWorld Tropical Forests Guide
Diarsipkan
22 July 2011 di
Wayback Machine
General info on deforestation effects
Diarsipkan
18 April 2021 di
Wayback Machine
Deforestation and Climate Change
Ritchie, Hannah; Roser, Max (9 February 2021).
"Drivers of Deforestation"
Our World in Data
Portal Lingkungan
Portal Biologi
Basis data pengawasan otoritas
Internasional
GND
Nasional
Amerika Serikat
Prancis
Data BnF
Republik Ceko
Latvia
Israel
Lain-lain
NARA
Yale LUX
Diperoleh dari "
Kategori
Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan June 2024
Artikel dengan pranala luar nonaktif November 2018
Artikel dengan pranala luar nonaktif September 2023
Artikel dengan pranala luar nonaktif August 2019
Artikel yang mungkin berisi pernyataan yang sudah kedaluwarsa dari tahun 2015
Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025
Artikel yang membutuhkan pemastian fakta June 2018
Artikel yang membutuhkan klarifikasi
Artikel dengan kutipan otomatis rusak
Accuracy disputes February 2020
Artikel yang perlu pemutakhiran
Artikel dengan pranala luar nonaktif March 2018
Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan October 2023
CS1 sumber berbahasa asing (ISO 639-2)
Atribusi konten bebas
Konten bebas dari FAO
Konten bebas dari FAO & UNEP
Deforestasi
Kehutanan dunia
Masalah lingkungan hutan
Patologi hutan
Kategori tersembunyi:
Templat webarchive tautan wayback
CS1 sumber berbahasa Inggris (en)
Pages using multiple image with auto scaled images
Semua artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan
Artikel dengan paramater tanggal tidak valid pada templat
Artikel dengan pranala luar nonaktif
Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen
Galat CS1: karakter tidak terlihat
Galat CS1: tanggal
Articles with hatnote templates targeting a nonexistent page
Artikel dengan parameter tanggal yang tidak valid pada templat
CS1 sumber berbahasa American English (en-us)
CS1 sumber berbahasa Inggris (Britania) (en-gb)
Semua halaman yang memerlukan pemastian fakta
Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui
Semua artikel yang perlu pemutakhiran
Pranala Commons dari Wikidata
Templat portal dengan seluruh portal berpranala merah
Deforestasi
Bagian baru