djogja fights back djogja fights back djogja fights back Pertumbuhan, Perkembangan dan Kejatuhan Lekra di Indonesia djogja fights back djogja fights back . Pertumbuhan, Perkembangan dan · Kejatuhan Lekra di Indonesia (satu tinjauan dari aspek sosio-budaya) oleh Yahaya Ismail DEWAN BAHASA DAN PUSTAKA KEMENTERIAN PELAJARAN MALAYSIA KUALA LUMPUR 1972 djogja fights back djogja fights back Halaman Para/baris xi 7 16 16 19 21 24 30 44 95 113 para 2 baris 14 para 1 baris 10 para 1 baris 6 para 1 baris 10 para 3 baris 8 para 1 baris 2 para 1 baris 11 para 2 baris 7· para 1 baris 1-2 para 1 baris 4-5 par;t 2 baris 9-11 113 114 141 para 3 baris 3 para 2 baris 6 para 4 baris 7 baris 9 142 . 142 para 1 baris 1 para 4 baris 7 143 para 1 baris 4 145 haris 9 126 senapan senapang organisasi-organisasi organisasi-oranisasi yeaajurit perajurit perajurit perjaurit ml'nyebabkan menyebebkan karangannya kara:nganya _penulis-penulis penuls-penulis propaf_;anda propanda Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta Toe menyemarakkan menyemarakan Jassin masukan heberapa Jassin · masukkan bebekarangan pengarang-pe- rapa karangan pengarangngar~ yang · jelas men- pengarang yang jelas dukung . Bung Karno menclukung Bung Karno. Jassin herkata: Jassin ia berkata: ;!' keluaran keluargan anggota anggtoa prinsipil prinsipiil Toer, Pramoerly Ananata. - - - "Korps pengarang dikuras "Korps pengarang dikuras 30 April 1940 30 April 1960 harian .dan juga da!am harian dan juga dalam bentuk buku. buku. "' Bimhingan Sastra Melayu. Rimhingan SaSira Melayu Lama. Kuala Lumpur. Lama Kuala Lumpur: AJOEB, JOEBAAR, AJDER, JOEBAAR, djogja fights back djogja fights back Bagi kami kebudajaan adalah perdjoangan untuk menjempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudajaan di atas sektor kebudajaan jang lain. Setiap sektor berdjoang bersama-sama untuk kebudajaan itu sesuai dengan kodratnja. Dalam melaksanakan -keb1,1dajaan Nasional kami berusaha mentjipta dengan kesungguhan jang sedjudjur· djudjurnja sebagai perdjoangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri kami sebagai hangsa Indonesia ditengah-tengah masjarakat bangsa-hangsa. PANTJASILA adalah falsafah kehudajaan kami. Manifes Kebudajaan Kaum Komunis mendjundjung kemanusiaan, jaitu kemanusiaan proletariat, kemanusiaan massa Rakjat, sedangkan kaum imperialis dan tuantanah mendjundjung kemanusiaan burdjuis dan kemanusi"aan feo. dal. Dan hila diteliti lebih djauh, kemanusiaan jang di djadjazkan kaum reaksioner itu tidaklah lain daripada akal busuk untuk memper- , pandjang umur sist,im penghisapannja. Oleh karena itu, humanisme } ~ kita harus mendidik Rakjat tidak hanja untuk mentjintai, tapi djuga sekaligus untuk membentji, jaitu mentjintai sesama massa Rakjat dan~ sebaliknja membentji kaum imperialis, . kaum tuantanah dan kaum reaksioner lainnja, mentjintai perdjuangan revolusioner untuk mera~ pungkan tugasz Revolusi Agustus 1945 sampai ke akarznja dalam per ~ djuangan menudju ke Sosialisme dan sebaliknja membentji kaum ~v kotra-revolusioner jang menghalang-halangi terlaksananja tugas tersebut serta berkehehdak mempertahankan sistim penghisapan imperialis dan feodal jang ada. D_;N. AIDIT djogja fights back .. / ,r _, ~ v~ 11#1 • •. t ~ ( djogja fights back KATA PENGANTAR Tatkala pada permulaan tahun 1968 Saudara Yahaya Ismail dalam rangka studinya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia menyatakan kein~ay untuk menulis sebuah skripsi. tentang Lekra atau Lembaga Kedudayaan Rakyat, saya menyambut gembira maksudnya itu. Sebab satu studi khusus mengenai organisasi itu belum ada, pada hal ia penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Didirikan tahun 1950 Lembaga Kebudayaan Raky~t dari tahun ke · tahun tumbuh jadi satu organisasi kebudayaan yang agresif sebagai alat Partai K ~ munis Indonesia, di samping organisasi-organisasi lainnya yang herafiliasi dengan partai itu. Ini lah alat PKI urituk menguasai lapangan kebudayaan dan kesusastraan dalam usahanya-merebut kekuasaan di Indohesia. Semboyannya "Politik adaiah Panglima" dirasakan oleh seniman dan cendekiawan merdeka sebagai ancaman terhadap kebehasan mencipta dan kebebasan berpikir dan ini lah salah satu sebab yang penting maka dicetuskan Manifes Kebudayaan dalam tahun 1963. Di dalam skripsinya ini Saudara Yahaya Ismail dengan jelas menggambarkan pertumbuhan Lekra dalam hubungannya dengan taktik dan strategi PKI, serta dengan pengaruh pikiran-pikiran pemimpin-pemimpin Komunis RRC dan Soviet Rusia. Ia secara historis membicarakan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh Lekra dalam kebudayaan dan kesusastraan, mulai dari tuduhan-tuduhan terhadap seniman-seniman merdeka, melalui berbagai issue plagiat dan heboh-heboh hadiah Sastra, sampai'kepada serangan frontal terhadap Manifes Kebudayaan. · Telah beberapa buku terbit mengenai komunisme di Indonesia, antara lain karangan Brackman,. Hindley, Kahin, tapi mereka s;tma sekali tidak menyinggung peranannya di lapangan kebudayaao. Syukurlah skripsi ini sekararig sudah ·dapat terbit di Malaysia. Mudah-mqdahan menjadi cermin, jangan sampai apa yang pernah dialami di Indonesia berulang pula di Malaysia. H.B. JASSIN Jakarta, 17 Agustus 1970 I~ lX ·• djogja fights back ,. . djogja fights back PRAKATA Kesusastraan Indonesia bukanlah kesusastraan yang asing bagi ke. _t ~ .)-o~v banyakan orang di Malaysia. Ia pernah mempengaruhi kesusastraan ~. ,;e , Melayu sejak tahun tigapuluhan, dan banyak majalah-majalah seprti ~ \fJA _\..v1, ~ .1 Pandji Pustaka dan roman-roman yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dibaca oleh siswa-siswa di Maktab Perguruan Sultan Idris, Tanjung ~ Malim, Perak. Dapat dikatakan bahwa perkembangan puisi Melayu sedikit banyak dipengaruhi oleh puisi puisi Indonesia dewasa itu. Perjuangan politik bangsa Indonesia diikuti juga oleh pemuda-pemuda Melayu dari Malaya. Bahan-bahan bacaan dari Indonesia yang mengalir ke Malaya memberi semangat yang bukan sedikit kepada setengah dari mereka. Tidak kurang pula kekaguman mereka terhadap perjuangan kemerdekaan yang gigih dan bei:ani dari Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta hingga ada antara para siswa dari Maktab tersebut dan juga dari Maktab Teknik di Kuala Lumpur yang menjadi anggota . ~ ' Partai Nasional Indonesia. Malah waktu pihak Belanda melancarkan :1) ~ 'ryv). aksi-aksi militernya terhadap Republik Indonesia yang baru berdiri 'Krv~ pada tahun 1945-1949 beberapa orang sastrawan Melayu rnencipta · Y{~ drama, puisi dan cerpen yang menunjukkan perhubungan persaudaraan .wv~ \~ yang erat dan akrab dan rasa simpati terhadap perjuangan yang suci itu. . .-A~ Ada pula yang dibakar semangat perjuangan itu hingga menyeberang 'f' \ _~q'\ Selat Melaka untuk memanggul senapan berjuang bersama-sama patriot \<:\~ bangsa Indonesia. Skripsi ini hanya sebagai penyambung minat dari seorang anak Melayu terhadap kesusastraan Indonesia. Pada kami kesusastraan Indonesia dan kesusastraan Melayu adalah sama dan tidak harus dipisahkan. Nasib politik, keadaan geografis dan nasib ekonomi kedua bangsa Indonesia dan Melayu mernbuat kita lehih erat dan sa ling bantu membantu karena semangat yang terkandung dalam sanubari kita adalab tetap sama, dan kita merasakan tali persaudaraan kebangsaan itu. Sudah pasti banyak golongan yang membantu kami untuk menyelesaikan penelitian ini dan studi kami di sini. Pertama-tama kami ingin mengucapkan rasa terimakasih kami yang besar kapada Bapak Drs. H.B. Jassin yang sudi menjadi pembimbing kami hingga dapat kami menyelesaikan studi ini. Di samping itu beliau memberi kepada karni kebebasan yang sepenuhnya dan seluas-luasnya menggunakan dGkumentasi kesusastraannya yang sangat berharga itu hingga kami dapat menyelesaikan studi kami. Kami juga berterimakasih kepada Bapak Anton Muljono, S.S. M.A., yang sebagai Ketua Biro Mahasiswa Asing, ? xi djogja fights back ' ,. '• . ' Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, banyak memberi nasihat dan petunjtik tentang studi kami di sini. Terimakasih juga kami ucapkan kepada Lembaga Pengelola, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, khasnya kepada Tuan Syed Nasir Ismail, yang telah memberikan kepada kami kesempatan untuk mendalami kesusastraan Indonesia moden di Univc;rsitas Indonesia. Kepada Asia Foundation kami tidak lupa untuk menyatakan terimakasih kami karena memberikan "fello'Yship" untuk studi kami. Kepada Kepala Lembaga Bahasa Nasional, Dra Nj. S.W. Rudjiati Muljadi, kami mengucapkan berbariyak terimakasih atas kesudian beliau memberikan fasilitas-fasilitas perpustakaan dan lain-lain di Lembaga tersebut. Kepada Heart Sudarmadji kami ucapkan terima kasih dan penghargaan kami kerana minatnya terhadap penyelidikan ini. Banyak lagi orang perseorangan yang memberikan pikiran dan bantuan dalam berbagai rupa dan bentuk kepada kami. Kami tidak dapat menyebut nama mereka satu demi satu. Kepada mereka itu kami mengucapkan juga terimakasih kami. Wassalam. YAHAYA !$MAIL Jakarta, 14 Februari 1970. xii djogja fights back Singkatan-singkatan yang digunakan dalam Skripsi ini AMPAI BTl BMKI BAKOKSI CGMI GMD Germindo GMNI GMM Gema '45 HSI HSBI HIMPI IKAT KSSR KKPI KK-PSI KPAA Lekra Lekkrind'o LKN Manipol Nasakom NU OPI PKI PNI Perhimi PSI PSII PKPI PTIP American Motion Pictures Association Barisan Tani Indonesia Badan Musjawarah Kebudajaan Islam Badan Ko-ordinator Ketoprak Seluruh Indonesia Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia Gerakan Mahasiswa Djakarta Gerakan Mahasiswa Indonesia Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Gerakim Mahasiswa Murba Gerakan Mahasiswa '45 Himpunan Sardjana Indonesia Himpunan Seni Budaja Indonesia Himpunan Pengarang Indonesia lkatan Kekeluargaan Anggauta Tentera Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner Konferensi Karyawan Pengarangz selndonesia Konferensi Karyawan Partai Sosialis Indonesia (kon<rtasi politis yang digunakan oleh PKI /Lekra terhadap KKPI) Konferensi Pengarangz Asia-Afrika Lembaga Kebudajaan Rakjat Lembaga Kebudajaan Kristen Indonesia Lembaga Kebudajaan Nasional Manifesto Politik Nasionalis, Agama dan Komunis Nahdatul Ulania Organisasi Pengarang Indonesia Partai Komunis Indonesia Partai Nasional Indonesia Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Partai Sosialis Indonesia Partai Serikat Islam Indonesia Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan xiii djogja fights back .. . djogja fights back DAFTAR lSI Muka surat . KATA PENGANTAR IX PRAKATA XI SINGKATAN xiii PENDAHULUAN 1 I. PIG SETELAH PERISTIWA MADIUN, 1948 3 II. TIMBULNYA LEMBAGA KEBUDA YAAN RAKYAT (LEKRA) 8 LEKRA DENGAN PERSOALAN POLITIK DAN SENI 26 IV. LEKRA: GERAKAN KEBUDAYAAN DAN AGITASINYA 35 V. PEMBAHASAN TERHADAP ALIRAN REALISME SOSIALIS 49 REALISME SOSIALIS SEBAGAI SIKAP SASTRA LEKRA 64 . VII. SITOR SITUMORANG, LKN DAN MANIPOL 73 VIII. LAHIRNYA MANIFES KEBUDAYAAN ... 79 III. VI. IX. DEKRIT PRESIDEN: 8 MEl 1954 DAN KESANNYA DALAM BIDANG KEBUDAYAAN 95 X. EPILOOG 110 LAMP IRAN " KEPUST AKAAN 119 134 RIWAYAT HIDUP PENULIS 142 PENUNJUK 145 XV djogja fights back djogja fights back PENDAHULUAN Tulisan ini cuba membicarakan beberapa penstlwa penting dalam perkembangan kebudayaan dan kesusastraan Indonesia moden. Gejala-gejala jang ditimbulkan oleh Lekra dalam sejarah kebuda'yaan dan kesusastraan Indonesia tidak bisa kita abaikan begitu saja. Sepanjang pengetahuan kami belum ada lagi suatu penelitian yang mendalam tentang peranan Lekra dalam perkembangan kebudayaan dan kesusastraan Indonesia. Mengingatkan itulah maka kami cuba membuat suatu penelitian permulaan terhadap organisasi tersebut. Oleh karena aktivitas Lekra banyak berpusat pada kegiatan politik di mana konsep yang ditrapkan oleh pemimpin-pemimpin dan para pengarang dan pengikutnya ialah "Politik adalah Panglima", maka dalam penelitian ini perkembangan politik Indonesia sejak tahun 1945 akan clisinggung di sana sini, di mana dianggap "relevant" dalam pertumbuhan, perkembangan dan kegiatan politik PKI. Hal ini akan kami ikuti hingga meletusnya Gestapu 30 September 1965 yang lalu. Di samping itu akan dibicarakan secara mendalam pertumbuhan Lekra sebagai organisasi kebudayaan, dan aktivitas-aktivitas organisasi ini di tengah-tengah perkembangan dan kepesatan kebudayaan dan · kesusastraan Indonesia dalam periode itu. Karena Lekra menganut konsep "Politik adalah Panglima" dalam aktivitas budaya dan sastra, maka faktor-faktor politik itulah yang di tekankan dalam penelitian ini. Karangan-karangan kreatif hanya akan dibicarakan sekiranya ia bisa dijaclikan contoh untuk lebih mempetjelaskan konsep tersebut. Niat kami yang pertama ialah untuk mengadakan wawancara dengai1 tokoh-tokoh PKI, Lekra dan LKN agar supaya kami bisa menclapat gambaran-gambaran kulturil dan politik yang mendalam dari kacamata mereka. Sayang sekali niat kami itu terpaksa kami pendamkan saja mengingatkan situasi politik clewasa ini yang tidak memungkinkan kami meneliti tulisanbertemu dengan mereka. Dengan demikian kami hany~ tulisan mereka yang pernah dimuat dalam harian- harian, majalahmajalah dan juga referat- referat mereka yang diterbitkan secara stensilan ataupun dalam bentuk buku. Karangan ini merupakan skripsi yang diajukan sebagai pelengkap syarat untuk mernperoleh "Diploma in Indonesian Studies" (yang disarnakan dengan ijazah Sarjana Sastra) pada Fakultas Sastra Univer sitas Indonesia. Karni bagi skripsi ini kepacla sepuluh bab. Bab pertama tentang sejarah timbulnja PKI sebagai sebuah partai politik yang sah setelah 1. djogja fights back Peristiwa lVIadiun (I<J48). MJb\;.til/~g lahirnya organisasi kebudayaan Lekra. Bab ketiga, ten tang sikap Lekra dalam bidang kulturi I yang cj:ihitbttQj!gkmilJdaugamrlWvdh.111;i ,.i.Sqlt£mairlgt%umalnunie iun;~er.Sl"' daru l~ H$errii;untill<t l:akyatj 2J ~wag.il melij adiap:dhi rlan~ n ltm i lf~U h aq tarn; I to!IHJ.~ixkW ili.JeWia;-. derlganf;·t8asirafwb:n .rw!tv:W.r:a.Oti IJ cWw•i miQ . a~fil· ) burlayw.spf~ngh!&ti<$ BliP! ke~i lwmldh¥amn #'Ul{)nsi.t>M~J &b$n!Hha inlab Ja.gitw,L cthra B €hd~.SWbi&ang l, ( $t.ia~m ~. . i. :~ ta~lumf.pberisISdWhnq\k;!w ll cltmg:lm·1p-entrilpnitt::ualisw4'l<sosiM!su i:>h!rn~eg pengararlgt!Leiwm J • dalam kesusastr.lUIOlvehm lwlairdeymq!i@Wrostrlml:ktrm.ilapm>dirilfcirj pll'rf.l« sauul.ivml <aq ootiuru k6m~ J looLtupl>daf-i; \llliS:tufaJWan,..Sfwli·Sitfulmovaag ,rma.Ra ~ ~ Jlh' ' ~mjbl li q.ihCD~ke Snoh$it.GarPg;d kawmd.:b~ • p:itw<Jr;mse~ i~ H Mpnlfu>~ry.{g lchBs;muir'D ' afim :~ ariltphun ; b~l4itpaq it dibk~ ,.- , · ktrlwtilt cbl~rtimun-.hfqakde 1 I noou-e34t tnclmchi f1 k.Qn!kp h ~ {jli'fJW$bsa:rL¢k . ri1a ,rdnrt dM:pn1 tmlJtini/; dileak.cu;r~n klnHus .kiOhatpl kq.knatil.i!fltlraka yaqg l dikenlm c ~tf '! na rna M anifes. Msb~alf\:'iu;.IDk>t{ :J Br~d.e'p;8:Mci · .MiAI~anrl i-1 I ruyru ldai!JamJ·b!-qlang; lkbkrudn y«!lru':Xiiilriaamkaitl {Lldai1bt4s~qf ~ b k~Jlih J ru:l1&pak ; $U'<itl .b epiJ!QOg ~>n'I;!Jt t r l ~; ;l i ~H%irtl;,'o it;gt;d'Ji: 1mb. l ru. rt Oleh i kanm:-i!·~qr»g;hejwldtvfJ l swma-o~ng bnhrug~ , n doklu~i bij:aklml:uub ~ ~ mEi:t~.Oakls'u tl.:lni::riJ>itlig,mRemktaittdkanitmAMiib!M'a'l. 1IUH.alpi\*:¢g nmna tflraml!l£'dyacAnaiitrE:Jf<.dib:' rt::km j~ar.:telmg nulis men~<LilH j ejuanfdi J aislurJ.tqkxfdh<P!~geb; - u ~:lr b'e!rln'll£a.p; demJg"at J p~nwidmaru S"tcluia;hsov~ ktnl~IJDard i {baifn"l;tujs y, ' r jel.us J di&u yarig :xbnelitrij, m.alub p@:lwm ~at lt ~rgpl-N ~ ~!.tih l .fl:n~i <t.lahrL w i <: k~ J ~>a1il i lufg' A ro¥wmv;i l. ~jtrBiha I - 13o<t.~ ; £afu!1 J tfle,tl .• Ii J;j_i l; geqnurtinyah:g;i:errmJm.behkhn!Sdaltulg:in:thir;1ln 1 Han - ~fatyrg!OQ ngtf!W !; kmiLekflmt'bJ.J.:>(j liJUd !;<::ii.Grp:JJ IJIJ 1f1WA JJ;Ifl tfJ;ib?. grrJ;vt;('; .Ji/I :>T H fl llfl'J;iln!.,lni.th.?liUni'.> !ll flLLiJ -~ IJ;/ ifl i B~h·N:> l ; Ai Jil uq i~LJI ?. IILJJJ;gnigll:>rJt -nu:i lut iri hri'Jrll •;'.r tLr! IIIJJd t• J:i;liw':lb rt~;gn:AJ .d· n:.~r n nr;gr!')L uw:.J·I!Jcl -tf!Jr;jiW I ,llhi'll;r/ ·floi·u.:d nu./:;!.1 Jt;II II IiiJ ;/I;f!'l ' >fj )_lflli'( t;A-J I'){fl llt;r. tful r: ~>li;,w '" t:lf n ~ 11 r;;l rt• ! ;·J li/J ;J If!:' d~JT!i rt 1~Ld·n-l ~: · 61-J ·r I>).Il l i ra;/J rl Gi1:jw 11 .uAud Atilfi :..HI uw l .~;u fi!JfJtJI;Ir, ndup:ih :(Il; ' ~ i ; qi· , ,J~ ru;ilt:q tn 'Jfft ini nt:)o(riJ;·H:il ru;i;nuo lHt l ni r:r ttu lqiU'' tb luv;rpr i'J rtl il u lrw lt;'tf;tr. r.t;Jit!ilr;··J Jda;q (Jn 1;r~ t;n ;j~J ;i': rlc xr;j_i m:w t:Jb ndJ:m~;><i J . qdwl:li '> 'i i~.; ~p;rl· ;.\! II; 't) · ·~:Jib. -·t·J 1ini J rn!~1: • r. .l>i~:rtubn -·Jr. ~ru; l rt·>l l i f!lJ;·t d;;/·; J·J'- rlh ?. ~tw:r ~ J'j rlJ;(I .rltHi duh_~rp. J>bGq:;;[ ini i«q·t il~ ;litiioq i~.;t·l!' dt: t: rh r. iJ:gt;(bi: l./1. '1 ~:jnlurfwit zr djogja fights back i!l;J~ ig~d iniJ:.il rk11:j ll d h·(llCrh ;.l ri i;tr;grri r; br.q q d-JI>rr·)m Jansl ;!J; IJiJtJ Ji ;.l tn ud ~nr:v . i:Jmi iqr;'l' r;git i·rs b i·rib·r::JJ ,rdJurn grrn·( DJ~ I n r. nirpn irJ ;.lu:mq ludm i1 r: lid 11nAr: 1 ti biA .!II.CI .olu i./11 nr.!J rrnrroluJ ,t ibiA rn r.Jn J:wliJ oq iCl ·--lr;n•j JITJJ ri(J ;IoJ r 1dr. Jn m~dr nq rudr;-gr:g:> ;.{ rl f d~t ~; i · r :>g~n ·Jr.u b;.l i·r ib rrt:;.li·rr;brn :;.11rr;•t i1:gr.rbe llitwdi b I ?.(J I rr ur! r.J ll si.:>e nc b ·ri;!~ nr :1 511 ilr; dm·J;.l ,nuibJ: II' 1ibiA .Vt .Q in i ur; ~ n u r! Ji l o ' l nJ;;IuW:.>dm::Jq m clcCI .DI'[ k r:Hr')i.-?.ilr:J::n ;.l·J;: rrt:rnAu,J rb lo II nr:b l rwl'Jilli ;.lr;w rb lo ituJiiib nr;b ,E UJ:.>il ingr.rl::Je ilu Lub -·r •) (l i1'r:>rp2 nrwu?. ur. Jr;qHIYt:.> J 1/I'I l r n1~O :J1irm0 rr mlr.CI .oJo i.V1 n::!J · i·rr:iJ j·,ifrr':JJ nir: l r:Joi:jgrrr.-ctoggriJ: rr sb ,GIJJ5;.l ir;gr:rh;, Jiil iA .Y: .Ci :Ju)i 'Jlirrro') B Jog~nr: irqr.d•);; gniqmw~ iG .nr.r mi bu2 nt:b oJoi.Yi ,rrr:rmlu, I -rnr1 uetr; "qo·rrp igi;" gn~:bid rns lnb fi!J 1'1'l iiJ1:i,w):n r;g11i. ow i .~" lc·u n:.>') ;lr:bi t r;j ,r; ;~ r. tBjn:.>wr•)(l mdr : tn u 1~ d m ~ q s•fulr:d i·lf;br;'{rr5rn Jibi/\ 1:.dmr;gr;q - ib gnr:-t, m r:d il it!l r;T .DI W.rt\:la q l?£~f,\Ji& n~r l r:r!l;drrrcJfft ni>lgnr:rrr ~." r ;r.Hm iam:i'l idorn nr; b ir.s?.irr r:g·ro ,i?.B Jigr/' rlrdr;i cy nlid rtt r: . tn "d ' gnr lfiR I Hb ; ~ P~I r&EiJ!Hu{\ n il}~'D1<fr.WIA ~) IlM'kD i liJ h lt9JI. ~> )h 3H r;·(rrdmr;grnq Hd·H;di'{Il9rrr m; !J r.r:ubrrr H;qr;b 1urh2·r9:t ir>1'rr;q u1 i ltehm-34i ; 'Yat<£ \. ~etk{hf.Rjnibl A $)~,taiol1k!mn a>r.qbhmi intj~:uwm · r rlip~cUam.k:o ndib ~{a!lign ~ta rak:ynt; mieoopEiJPbng.alfili.h g W.alouJ1Bq£:0dirf'Ejpn~sm r: ~ir.tl!m2kna:e1 parrmi) ' tnhc?eka~ml gf.W~n ~ 1fan~ r h!lrmJkeia~jug f ~a .j torwile- tidakpuasan di kalanga.ri.ii6liiU,ruJ:;-:lplobitwllillkihirwpeiiciatrm;i.(n&jiitituddin rr yang tiDCfldlJilt{Ji\ ilfn'bntJ ( Bdmo~rkj atl )S~uilpm<ahn udari'J Nhrtai rr Sooia li$J rltrp.di!OO;sifi f ya~ r dip r$ifuolth>cS titri nr;SijJrhri nr:@afu1tl frrtaaa; lller : ~rtgan r aliht l t!Htp1TIIlilikgllhcllruii!:l$iirtyan grrrin a~ rm utlii 1J tu t dC'!rrgnJnJ 1~-e r r nieMt~h c ~lMif() - $' k~a O B~ r r i ~ ~dfutignya :dlivJI%6o* tu : · ,.s ~ak'ng> il'rch J tc:fli~ riaf.dh r li»km Vk d. lf!o~ romulis fSMnt~ Aomilliis ldtib.IDpW Ike - '¥Ung t lH~ l he'r~ r (iu ; Mounwa g reUnuit ~ iUhurrl r JliDr~ Indonesia ia dengan segera diterima sebagai tok~i<rlan.qehsJm!dj, 1i Bets~R$am dengap rAnm.i:mf»ja«jifuoillih llilW pfi~'l1!-engdu - ·~ ~iaog awn lJIL:~ rb£li\gmalaah ~ pn~om a'MJadil~.ktgUI:8fu!Wr Lbe.uallani!vrdi t5 firlam:p~onGJg - iga8hnj~.se n~W1ith{Tb ' r bil~wrt:@kdP.nME ~ng dalm<ei l ~g r ~($jfulia.:Wbrngs :< telraHgkp : mah~ncltg tliiliulmnf.Jirwti:lob J .d~n r l:iarJn1.Myoh · ~upntlq ~kr n Ngf:ilhrn, ,. 2r.: Ii2' B n rm1 i I) Peristiwa Madiun itu meninggalkan imej yang_hur.uk-terbadap-EKI. s r .rr, .hH\\ .r. : ;[·uJ'f .:{ '"Y. \rt.m ! : ; , · ~I.l\ 7.1\ ) I., .J Il ~·" uona <tttmd ey, Ute t.omu?¥I 1. ~\l ~·r ~ ~ $.~ , \l ~ l(Ff W '" .,l;~'sig1 h ~pt(Jfu1i.'"Al4 l "'· J~ lf.X , Bt l f ,~ lij~I(P 2. Lihat Lt. Col..:SUnaJtdi lr J I;x.:M 11 , ·Tl'> ")'. .! LUtri!e'()J; ~ S ~ - ~!Ytv , (/zi\~jw.nqt '\" W,- R f>~ ~r ,W J Phidl'Jp~mu t,J " ~ b"J8 1.~ s, , · ~ . ~M nesza. DJakarta: Departmen Penerangan R. I,.r ~p l fl,tz .;)p\'lW6~ j.\3 djogja fights back 3f 9!¥ .:) blo1n./, 1 ~:di ~CW >7 1 ~ley .• I . ~ ~ fP,.ri·I '-'H ,,"'''1 .<. e.;~ C~mfish :.S o>14avlmift, & The u li,t lin.Wt1 l im IW'Jo- .f h . 15. s? Tapi imej yang buruk itu tidak lama mendekap pada ingatan kebanyakan rakyat ,bila timbul pucuk pimpinan PKI yang muda, terdiri dari tiga tokoh terkenal-Dipo Nusantara Aidit, Lukman dan Njoto. D.N. Aidit yang melarikan diri keluar negeri setelah kegagalan pemberontakan Madiun, kembali ke tanahair dan sejak tahun 1951 dilantik sebagai sekretaris-jeneral PKI. Dalani pembentukan Politbureau ini D.N. Aidit duduk sebagai ketua, dan diikuti oleh wakil ketua I dan II oleh Lukman dan Njoto. Dalam Comite Central PKI terdapat susunan seperti be~ ikut: D.N. Aidit sebagai ketua, dan anggota-anggota lain terdiri dari Lukman, Njoto dan Sudirman. Di samping sebagai anggota Comite Central Njoto juga menj;di ketua dalam bidang "agitprop!' atau propaganda. a Aidit menyadari bahwa pemberontakan bersenjata saja tidak mungkin membawa kemenangan kepada PKI. Taktik baru yang diambilnya ialah "agitasi, organisasi dan mobilisasi massa".4 Berkat ketekunan dan dedikasi dari pucuk pimpinan PIG yang baru, partai tersebut dapat meluas dan menyibarkan pengaruhnya dalam masa kabinet Ali Sastroamidjojo (Juli 1953-Juli 1955). Pada waktu itu PKI dapat pula menguasai BTl yang mempunyai anggota sebanyak 200,000 orang di samping mendapat dukungan dari Pemuda Rakyat dan Gerwani. SOBSI yang di bawah pim~an Njoto dengan sendirinya menjadi organisasi buruh yang kuat bagi PKI. Menurut statistik PKI anggotanya berjumlah 7,910 pada bulan Maret 1952, dan angka ini bertambah menjadi 100,000 pada bulan September 1952. Angka ini meningkat lagi dari bulan Maret hingga bulan November 1954 yaitu dari 165,206 menjadi 500,000 orang. Waktu D.N. Aidit menghadhiri Kongres Partai Komunis Uni-Soviet yang keduapuluh pada tahun 1956, ia dengan bangga berucap "atas nama sejuta anggota komunis". 5 Sebagfli taktik politik PKI dalam percaturan pclitik Indonesia Aidit ingin menunjukkan kepada rakyat bahwa PKI berjuang atas garis perlembagaan negara, dan "menggunakan djalan2 damai dandemokratis"6 dalarn tindaktanduk politiknya. Dengan dernikian PKI sanggup menerima Undang-undang Dasar 45 dan Pancasila sebagai falsafah negara, di mana 'sila' yang pertamanya adalah ketuhanan yang maha esa. 3. Ibid., h. 17. 4. Lihat Arnold C. Brackman, Indonesian Communism. A History. New York: Frederick A. Praeger, 1965, h. 207-214. ' 5. Lihat Herbert Feith, The Decline of Constitutionai Democracy in Indonesia. New York: Cornell University Press. 1962, h. 407-408. 6. Lihat Almanak Lembaga2 Negara dan Kepartaian. Djakarta: Departemen Penerangan, 1961, h. 461. 4 djogja fights back Kabinet Ali Sastroamidjojo lebih menekankan aspek-aspek politik dari aspek-aspek ekonomi dan administrasi seperti mana yang menjadi dasar kabinet Hatta. Ini disebabkan karena PNI berorientasi kepada politik Soekarno.7 PKI mempergunakan kesempatan dalam periode kabinet Ali Sastroatnidjojo untuk mengeksploitirkan gagasan-gagasan politik Soekarno bagi kepentingan PKI · sendiri. Tambahan pula PNI melanjutkan ajaran-ajaran "marhaenisme" dari Soekarno itu. Justru itu segala usaha pemerintah seperti meningkatkan aksi-aksi politiknya untuk membebaskan Irian Barat, menasionalisasikan perusahaan-perusahaan asing, mengambil garis politik kiri anti-Amerika dan imperialisme dan kolonialisme disokong dan didukung dengan penuh semangat oleh PKI. PKI menyokong segala usaha-usaha demikian karena aksi-aksi itu bersesuaian dengan: konsep perjuangannya seperti yang ditegaskan di sini. , ." Seluruh pekerdjaan PKI didasarkan atas teori MarxismeLeninisme dan bertudjuan dalam tingkat sekarang mentjapai Sistim Demokrasi Rakjat di Indonesia. Sedangkan tudjuannja jang lebih landjut ialah mengudjudkan rnasjarakat Sosialis dan masjarakat Kornunis di Indonesia. Sistim Demokrasi Rakjat ialah sistim Pemerintahan gotong-rojong dari Rakjat, oleh Rakjat dan untuk Rakjat, sedangkan masjarakat Sosialis ialah masjarakat tanpa penghisapan atas manusia oleh manusia jang .disesuaikan dengan kondisiz Indonesia dan masjarakat Komunis ialah masjarakat adil dan makmur sebagai tingkatan jang lebih tinggi daripada masjarakat Sosialis". s Melalui "agitasi, organisasi dan rnobilisasi massa" pengaruh PKI dalarn arena politik Indonesia menjadi scmakin menanjak. Pembero·ntakan PRRI/Permcsta di Sumatera dan di Sulawesi serta pemberontakan Darul Islam di Jawa Barat dan di Aceh rnemberi "issue-issue" baru pada PKI untuk tampil kemuka scbagai partai politik yang radikal, dan secara licik menyingkirkan saingannya yaitu PSI dan Masjumi yang dituduh sebagai pendalang-pendalang pemberontakan-pcrnberontakan tersebut. Kegagalan pemberontakan PRRI /Permesta dan Darul Islam melenyapkan PSI dan Partai Masjumi dari gelanggang politik nasional. Demikianlah PKI menjadi partai politik yang terkemuka dan revolusioner selepas . pembubaran PSI dan Masjumi. .. 7. Lihat Gerald S. Maryanov, Politics in Indonesia, An Interpretation. (Papers on South East Asian Subjects, no. 7). Kuala Lumpur: University of Malaya, 1966, h. 17. 8. Lihat Almanak Lembaga2 Negara dan Kepartaian, h. 461. 5 • djogja fights back • 'I:. •• Ai:i! Mefhartg~ i til( - PK!f. t }aw~ J .aduhib r ~ng!ilr J: pal't1i r r l:ia~!f}e : <Q~a·i ( P.K!I VS pgfi~ : tf>a!ri :pa:rmai. < SIC~h:a.t eikdnomi l ai c lin41~esa 1r rilttsll.<<if$. ttthunJ®a;tiJ< 1I94$r:hinggaodeng!lm rt9 1\kl:ti , ~tly ~ AI 11 u fi>ld-aw.kAtn~ r pit<!F a; ·) QaJgi; -·pdl ~ Ulisdek;..lil.- ' l{ortse'i~ ng{ l?~ : e-sfdcinr Il:Oiakr.s-J !:1 J;tigu$tl\s il959·J i Pida'tJ <! bhru . i did ~ku ?. ptih H ®'an . I RiemMkar~jth ; politknc~sm l i"lmahQJI ~ !l~ i l P}{lJ . bt:Jpirlgduh. .l 'li~ pmi.g:¥ahg rb2llii Jdisipl.inllyn:Ji';Kl r pciatlY, eloommlni>!.druhi 1 sh>~al rl pdlit maQ%bmt1ind~r Aip\trtu hla:nahil1ii!:uQiifldt:.J~ r;tittlmnn{!(i dr:tl! l r Mdu!Qsanhlit~ ~-' .d:ilt b aimgot:IM~ J tuj~!Wlrn I j { eitdrw~ i tr~£besm ir tienf3p{l l:ba~ ·) fbt$·1t1<1!ntlttrltttrk!iri r: ~f.!gal rt lifn;wkma~bJpth J prlld:ik. ~aqg sekali ;·, kift:<m;aJ ~J ; ~ng '~ F ; JVI r paJ1im ' St9 ~· lbiJ;m~ J ~ qili n b:l~ r : sbrli U IDlr1!f JIIDftgJ:i:lm:b>ir18 :Spai<rirmi·urom:j:mdhcmka:iv;goot.eqni:mpinl-! 1serp0etid ydrrg>rdi> ~eGJ1 ]~ l ~$tlB t LS\ill:<ini fyawg>brni4i:mniiki rMillnil b:crdl~-w n ~elth' ! Aiwahl<L16:u ;r tidak tBek~i t:J .Ii' . niSlt r iOOscnitpat:rn- -·kesemp!ttari·lbagif.IJili:unt~k 1 :mt nldoiriMl.sitl r;pi:JlittiM·)qaSiibnaJib 8ejak 19 59 r rhlwg'gn:fw¢letu£Htylli:G€istatlui ; ~ 0 Bepfembe!Lf ilfiliiY>P.Kiil.menip:ikarl pa rta i r! pblhij{t~ng l terkila r d~ l ilt\.~e , sia ..r:ir-·JrJo!)r; l ib i~:j,;}f i ~ r ni1r·JCI J r: > I:(f)J@j • kart~fi: iM•itle'iJolit:iJkly~ng tid~lk\f ' oilcth r :l] ;J! ei;d( ; Soekarn -·dhlaril · ~dio•pt1lH yttlmtJI'fj:rd!i Jbuhan indOltll!ri!ius[ liillgrirnpmnita PKI ;Imep-tlMak~h; .1ton!S1'!p Ma1lipbl ~ Usd,-. n B~aktRil o i,w r wnrlu~ iablruksana-1,;!a'n 1t.arbiitletr: > :N · ~um J r: Bl!~ta i <:ya:nw :· l b~tiJmnor, il:padla::.:b.mi_tl ~; lthasn ya - r Adu!t~ r· .dan r.:Behttrehii®ngglif'li 1unsmJl!n>sur di'J imptras~ r;rlah ncort l< b ltiMas~ r: karul:).JU 1! i;: Dtila!n1 n k~pd r hid1lgtke}u:yaU { fuek r;: ke~btlA I- .rt~iona!J I: ~i iml il.~ mn~esirk l supay b<y angt oleh Soekarno. Dalam bidang ekonomi terpimpin PIN' ' m~!WdtiSak l _f:l.ank : la-nd ~ re&Ttwttait m. ~ trlbaui -fut:t'Ptlaka\1 Miu.m>ltafti ya # g l tW!ailb nkl:(utfi•tl'~ r c!t.KJl i i4a H\it.-'h:I~ ~ndimg.ru®;at r b_et1!:Mh. ~J &0kogui1G ) lnilah:rg~tfs l utaifm up:'ei:ljudag«n ' ~IDJYiRg J lbim : apkn dijlaht-ili'engo RKI!i r iltUh r ti:I~- l tf ~ >k ' angt~.i: e~l kJ1~ t i·tkfl_,!i r·.artggmil-tinggbtlfn d:ht 'n sblframiJSB>l sim~b J:tilmt¥rf)l11i ,ldiLr.·r·gnr;·{ ili;iloq ir;J1r:q Jr;-gt;(b?. d11fWd liqmsJ .lluJniJ 1/I'l 1: til>a r!J :>Selams .niddalrurn .ipbltnf? r ~hun rj ~9S Boek drJT h:r. Hotl:rih,.p r l!J~ c ktrlm t ~nrlfuim ~.-W (:..JAfdi:t;::.dlmlup.WJ sdhim ~JwralIOFig ~ tmkxah - rjh~l5 h fl rn~;Jd ltnJ;ll ru:b J;~:trn.,Cl \ IH5J<! ru;:-lr;JrJo·J·xJrw>q rrslsgr.:g"l/f ~ -g n r; ·gnnh:!.l i1sb imu j2s:lf ir;JH:<l nr.L J ~'-1 nd ··flti:.li rr•·JG .! J;nor<:r;n ~mior 9. Lihat John Hughes, In onesuifz Upheavals. New. York : David M.;Kav Cq., ~;q:.l 1 fid. 71 19!7 ! h' .' S'. r!J, c;; um ·JWI·)J grwt )Jrrilorj u:J"ff;q ibs1n')rrt l A '-! rlr:l 10. Lihat S.M. Amin, Indonesia di bawah R<imn~Wokh T#J?if11tlindDjl!lkrrJtfi: Bulan Bintang, 1967, h. 53 . . 11. Literatur tentang Manipol-Usdek banyak seka!Lclit.eiliitkan,_baik.alelLD.epartemen Penepngan Repl}blik Indor;J.esia maupun oleh penerbit-penerbit 1/>Jtjl'diiPrffld9i.1C ~ ta 1 Re'tral)if ~ - D Untli'f ' i \ h'ij~t bli_'eltl.a1i.\ BlD!in ~ 1 P/Jkd ."''Ill "i&rl'ke 1 2: 1 EYj\lka'rt! ' Jli1Sah ' Frap\u ( tJa ~ 1 1 9lP, ') )f .f• ~ -' t l !l5 ( - l%Jd 10 ~ no · 12. Lihat D.N. Aidit, Revolusi Indonesia: Latarbelakang SeJ;jr-h · 'tl~ [ Haridepannja. Djakartra : , Jajs f1C\ 1 :Rembar~ : U1J: \ ' 1, \ 1~ cl h , , o , \," 1 - . Jraii , l .i'. ,.., ,,q"' ~<1 c6 djogja fights back PKI yang terkemuka diajak masuk ke dalam kabinet sebagai menteri. PKI menyokong penuh indoktrinasi ajaran-ajaran Soekarno dibidang pendidikan dan lain-lain bidang kehidupan bangsa seperti yang pernah diucapkan Soekarno dalam pidatonya "Djalannja Revolusi Kita" (Djarek) yang berbunyi: " ... Saja komandokan kepada semua sekolahsekolah dan Universitas-universitas, supaja semua muriel mahasiswa diUSDEK-kan dan di Manipolkan!"l 3 Menurut Lt. Col Sunardi sejak talmn 1951 hingga dengan 1965, PKI telah sukses membuat infiltrasi dan penetrasi ke dalam 133 institusi- institusi resmi dan tidak resmi, dan eli dalam organisasi- oranisasi pemerintah maupun organisasi-organisasi non-pemerintah.l4 Periode ini memperlihatkan Indonesia sebagai negara yang mcnjurus ke dalarn kamp komunis. Klimak dari tindakan politik Soekarno ialah dlreMffiidbtUiyH gagasan politik kiri JakartaHanoi-Peking-PyongYang. Udara mendung dan terror menguasai suasana alamAAdoftMiJt:Jfl (f )l A\)118 1'0. 1 AYZ.F HT lffT (All /Li.. l ) T/., Y } I Ml ;Jiri loq ir.J·~:q dJ;Irl~2 rblo igrrd rd;ib grc·~ i Rn:< inr; ~p o r iJ: ud ~ ;, i e;Jnrb?. rp?.n< >jl tnn tJ2 ix ilirn"Jm <: tn r.: d wd·;P. ·t :~ l i P.r~in>}t o d.r: m ,r.:aq ir ·t') r i5~ i·1i>l -rn:Hn cgui. rn>h J .ir;Ju;q tn i:>-r.ri·; nrrg rr5b r.l uq unsh:< gr1;·~ nt:gnJ;t Jj_"t5(] Jr:mil c"/f ."rl r: rni b be:;luNi " r;cnrm i1':Hfib }lfi W( nr;g nr. u i: r"Jq fj'J~m>A ir.vr tlJf! i~rt·;:.l 5 Lw?;.II;rn n fDI2f: l5jn 5m rub ~· 15 1 ' ' dr;mi l;b r;;lu N!. " mtiJ: IJ r:mJ:·r·t·Jrf J;lqi jJ n·;q I:jns:urr;?. dnlcbr: rci_;.lrJ I " ~;wried md2shin"Jifl Jd .IJJi rn>h , l ~;jnrl tnJ:• 1-ciwmubrd n r:s iidm<h;l w:r11rgnsdrrr:;q 1: N I~.: d nr:b ,nr.J:j ~> I JICh;( nd i·1ibi b 0?.\.1 1 wJ ~ ug l \ \1 r:br:q d J;rn ,H;j_;l r:11 rh lo ni:Au ;.l rdi!J IJ:rp;iJ -ibbdtil/" 'gf i GJfi'J I fl.. rrt;'Iif!rnr.IH;rli. l) ."JJ:jAr:} l nr;sjrd.> tr th/[ Li}'l!lrlrn 'J." ( .(ini "rlr:rrr gnrno 21di rh l gncw;.l rl cl:l1 'J2 nr;;.l i·,iiJib r.·Db J. , rn>l':l, ] ·r"ld m JJ2 111'1/Hr'J l/! ,[ir:d Mni·t';n:}rn r. J·tdr; l iL r !l ~f : ' ( Bb u rh> l ci:t':l X5f( n cb Jr.n irn•Jq .. lf:nim:>q J;wd r:fl '.JG '(;In}l r iJ; e •~ sb ur h )f r:g!i d!tn J iq :~n rrr.:b " rlr:m ibbdu iVi" mb il!r;m i v~i<: J:J.nilr;q grl:'~ li-HJ1 1uil Jl i1iloq ~;nro w n i n , ~ n uq r wm t 1){ '1 rrr.iJ Jibi/', ./. .G i2r.:qiaihr;q i·rdJ rrd i!J!udib ;r;qr:b ;.ljJ;(! ·I i2 J ; 2in ~: ;<.J ·r n· I 'Jj il:gt: d::;?. d5oi.A 'JI;I'>(ho{ Ju·wn':IJI: .~o;· til • J ndl1Jrr':ldm5q eb r:r] 01ulli munw r11;·wqcl nu;lr;b t"!il5J mum iJ ?-i"l.': ' tX':l~ m :;I ::;J J £ 21fq ernug~)<J (\.'?.I! I i·llwnr;f. 3S>-S5:: iTch) olo?. ib JnJI':l,I l 5ii! Gnoi?.cZ ?.518HIJ A r:bnq·J ;.I .fJ. .A ; tr: ri;;A .?.JL ,! ibiA .V .U snr;w:>l1iJc~ i ni es!.c" ndi·ribib n-t;.l')J 1/lq 'llicl:b J; riTllDl r:Ji.A fl!;/ftt J:·r ir;dgn:Hrr rl.i.:L·ftdJil irr J ~ " .owi.Vl m; b r;!·t.r: rf(J '\ ')~ \'i ' l l. \ \ 0 ,'.l.'''\\),'\1'*\ \\f'I\)\_1-...,\))H\ '))-\ ' t.)WH, ~ A . \H (~\ \t ~ - ' } ~ i ' . '\ '''n\\)\) \n; j\'\:.\ 1J;rf i. J . J b[q n :r.q d HJrl~C: ) .·1 (.\>' 13. L1hat Bahan-bahan Polwh !tffdm.Y'r!tiii·Cilt-. ~ ~ ~J:S 14 . .:liilinalrd<n ll;. ,ait ; ~ '> bl. Si3r<dRiC! .(\) 1 <~ \ _ slr.~ \ ""r.inllll<l·•/\ nr.·n"\1,.\ -rr:rli. l djogja fights back .s: BAB . KEDUA TIMBULNYA LEMBAGA KEBUDAYAAN RAKYAT (LEKRA) Sebagai sebuah organisasi yang didalangi oleh sebuah partai politik kiri seperti PIG, maka organisasi tersebut harus memiliki suatu konsep perjuangan yang selaras pula dengan cita-cita partai. Lekra juga mempunyai konsep petjuangan yang diberi nama "Mukaddimah". Kalimat pertama dalam "Mukaddimah" tersebut menjelaskan maksud eksistensi Lekra itu. Ia menjelaskan bahwa " ... Rakjat adalah satuznja pentjipta kebudajaan, dan bahwa pembangunan kebudajaan Indonesia-bam hanja dapat dilakukan oleh Rakjat, maka pada 17 Agustus 1950 didirikan Lembaga Kebudajaan Rakjat". (Lihat lampiran A tentang "Mukaddimah" ini). Menurut sumber Lekra, Lekra didirikan setelah kurang lebih 15 orang peminat-peminat dan pekerja kebudayaan di Jakarta menerima baik "Mukaddimah" dan konsepi Lembaga Kebudayaan Rakyat.l Bahwa PKI mempunyai rencana politik kulturil yang paling sistimatis dan terorganisasir baik dapat dibuktikan dari partisipasi D .N. Aidit dan Njoto pada pembentukan Lekra. Menurut Joebaar Ajoeb sebagai Sekretaris Umum Lekra dalam lapuran umum Pengurus Pusat Lekra kepada Kongres Nasional ke I Lekra di Solo (dari 22-28 Januari 1959) Lekra didirikan "atas inisiatif kawanz D.N. Aidit, M.S . Ashar, A.S . Dharta dan Njoto."2 lni tidaklah menghairankan kita karena dasar PKI 1. Lihat Lekra dalam menjambut Kongres Kebudajaan Bandung, 6- II Oktober I95I. (Sebuah pamplet kecil), 48 halaman. 2. Lihat Laporan Kebudajaan Rakjat (I). Djakarta: Lekra, 1959, h. 13. 8 djogja fights back di bawah pimpinan Aidit ialah melaksanakan "agitasi, organisasi dan mobilisasi massa' '. Aktivitasnya sebagai o_rganisasi politik kulturil dapat kita lihat dari pesatnya kader-kader kebudayaan Lekra mendirikan cabang-cabang Lekra. Pada tahun 1951 saja cabang-cabang Lekra dapat didirikan di Surabaja, Medan, Jogjakarta, Solo, Bogor, Subang, Bandung, Tjiribon, Semarang, Klaten, Pati, Pekalongan, Tuban, Malang, Purwokerto, Bukittinggi, Palembang, Menado, Tjomal dan Balik Papan. Pusat adalah di Djakarta.3 Pada permulaannya Sekretaris Pusat Lekra terdiri dari A.S. Dharta, M.S. Ashar, dan Herman Arjuno (masing-masingsekretaris I, II dan III). Henk Ngantung, Njoto dan Joebaar Ajoeb menjadi anggota pada Sekretariat Pusat ini. Aktivitas-aktivitas kebudayaannya terdiri dari seksiseksi sastra, senirupa, senisuara, senidrama, filem, filsafat dan olahraga. Untuk memperlicinkan perjalanan organisasi setiap cabang Lekra mempunyai seorang wakil duduk dalam Pimpinan Pusat. Majalah Lekra diterbitkan tiap minggu sebagai lampiran pada Zaman Baru dan Republill (keduanya diterbitkan di Surabaja) dalamHarian Ral?jat (Djakarta), Sunday Courier (Djakarta) dan Rakjat (Medan). Sebagai redaksi pada ruangan Lekra ini ialah Iramani, Klara Akustia dan M.S. Ashar.4 Adalah mcnjadi cita-cita PKI untuk menarik sebanyak-banyak kaum seniman, pengarailg dan ccndekiawan ke dalam kelompolmya. Sekiranya PKI bisa mempengaruhi banyak seniman-seniman dan budayawanbudayawan yang terkenal kemungkinan besar propagandanya dapat diperkembangkan dengan lebih baik lagi. Pada waktu peh1bentukan Lekra seniman-seniman yang non-Lekra seperti H.B. Jassin dan Ac.hdiat Kartamihardja juga diundang sebagai pemerhati. 5 Memang kalau dipandang sepintas lalu orang tidak akan menyangka bahwa Lekra aclalah organisasi kulturil di bawah arahan PKI. Beberapa tahun setelah pembentukan Leh·a para pendukungannya tidak pernah mengungkapkan bahwa Lekra di bawah PIG, walaupun nada dan konsep perjuangan kulturilnya mirip dengan konsep perjuangan PKI. Tapi bila PKI menjadi partai politik yang terkuat dan berpeng2ruh selepas tahun 1959, Aidit, dalam pidatonya pada malam resepsi pembukaan 3. Lekra dalam menjambut Kongres Kebudajaan, op., cit. 4. Ibid. 5. Keterangan ini didapati dari Ajip Rosidi yang memberikan perasarannya dalam sebuah foram berjudul "Catatan2 mengenai · perkembangan sastra moderen Indonesia selama 40 tahun" yang diadakan di Taman Ismail Marzuki, Djakarta, pada tanggal 14 November 1968. 9 djogja fights back rr ~Sl. i ~I!HJ .iuga rH.J:eaitlJm Sobkarilt~ >qlhgd~i:t t. me-.b,uka l keduk JPKI ."r:~ dengan berkata: i 11:b 1 [;fiU&S~ 1 bi'lrhp~tkam iJm: gr1 r: :1 r; ~giahdn i b n ~; "'!>liM.dja8f1 , Jti.l:~ J ka~nj" ~rjJ(l .,'n 'J:.i< P.Q~1:qij6 Jr:2u' ! .i>~ng ! L r kl~An! a~t: ; ~) ~ - - ~an , ~i)W. znjn ,~ j S~lfti r f}i$ga l;)~msPrKL , rh>flllil rti r.l!>~hwarRK l .di-btJl~ , r1od i·r ~ r fs~1h ~gith J: if ~l l. I;MJ!gli:ba~kj1 / tS~k :j3l!J~ -·J?. :Qi;}pftrk ~ g:j;Il)b!~*r@ f :l~M r beJ;.~(ro <J {~;i r Ktir~. .r J~i.!l r ft~lrWJ1k;!:a - ; d~fu kflr~m Iwr\th rdll1iJfci-tlllr i{J.t~ .hl-X1~ -<Mbtlh~giw,W ~ k~lteJ1f;'\"qrni -· Jilfu<!j~} J RI}\'o!w~u , 1ci-U ~ ;i}<1!Jfurt: m 11 d !)1~<; Mlh~nr ~ n1n i~(},tj!l 1: i.n~ltJ" : ;§1:b ~ iNa)'1g UJ ; i:Je. r~ l. 9,8Q : d~J4t.rn ., rftad · n i*,tl~Qa ?f.iAJ!f ~tn:-i_,$me rl il t iPFmk~ · rlif1!~tJq , ~l,t!HIJ ?. ~i!)f _ !l~&ni-SJe.t c adnlih t~la ~ mentj~l\ai n s>ul)~ez J J! t:Vi)1J~j,l ~ r; dit~n fmf1trpe.rdjJ.iangnjlrlmrufd\-:bitlang ; ;pe~rl'jti.nga ;, sjAr r ati J :mt~hnl!i · r i~:JYta, rl.!:Atuils. ; il li~!nhW:}I h rLekr;(-1-i/h:\fritGl.ak. J bi~ _ Jtl1{! n ki~a r !mt~\1ioaJl . g4>1M~{il;:kfOtJUa ~ r~ ,~ r · .kflb\daji' .~ <S ~gJ:flkti o njl;~ ~ioarkM I ak , ~i juga itlu~jpo!k ; vi«te.r2kNfbJI ·t 12arbs !rim:¢n.l;d~Aaf$1 l Ji:ahnuq)(Tjmg- k-1 hnc;ltlynaO; :<k!a-u~ i ~Uibl$ ./ ~WliU¢m.pefg;Jh '-l jtuga n mtfl I M.e$qp~jgan t ' ~ ¥.kad!il~ ~ !yapg a~m. r rdan 'Y /I ' I i;:PJ!Nli ig rRtilgap. u ~etfgan l im~ l parta i ~ rMift!iftS<J,(), E;Ki®J{tnisJrktS!JntiandMgan WJlJ ~ngr ~ MQ~:¥it rguga swdti rhsailbh r: ;nGrJb:.> ll) \ ~ -1\l 1<\. J bdr~kitJ!. ; Jd_t,l;g~ \'lt1gka ; >J.'lt~fM!ga,Ii rH;/I dianggw.:merlfllMia ilg idf.l~IUJ ) #q:ihUd~l.!tj; ~ til1!PJfnb~ ~l! o P.i t m!loi~ ,~ f~§t.jolWi ') f:~ i! kl't~ih ~, ·~b\la(' meman carkan p'Qit\ik, i:4~9lpj r ; ~l)f!J y. l\<!. 1 , rKt~nai t Mifkr;n r; ~jflr.pa J 'k.eh;tida:yln L ~mjan:\l!h ~ t:m .. 6 r .dil}-mtj:·IWJ' ' in1~rua\J'x udA i<Lb~ml!an -r rJ:'IIrJAf)J."Iq-lism¢.1 UtM~j r,;q r/J¢e~lpgi t li~ns r t{al1 r t;614~nl<fijpsr#J.IkW-! - ~'§}.Pfmil r ~ln1mur:kbdja yr:1ng1~i d!lk p , ef1Ji>Or~'ln:tkm!. r ~{lq \ f~ l;¢rp1n1J:ihi l>stlhiJjgga J ~budya:inF[{I i d!~ f! k~lm.;it:)1jJ n S~tiJlp. t· H s.optftti ,J fclj')~ f: Pci<.flj;raT) b k(>~Jl;f:!Un.i · ~\l.'6naij;g i ~ ;l r>b·/ r' f~tijla I' .·1B f ~:!X. ~grtl!Jifpy , ~a ! Jtiog 'lin tuk kcbudajaan Rakjat dilantjarkan dengan lebi~ ., r :J t r : t! Uil~k:t;\ . hm!} imaJ.jn r: b,tl:;~r JtljM!Inb.h,Jkub.ll' p~r .(Ill rr nltJ..l!s!Ll)) ~ Ja~g, , Q.~)i : d~ r lid : <Jt r j~ng rJ ~U'tilb!r-Ih -i mt;\<l~k , l4 rbfltdi~Leka . Gd~ }I n!Mk !Ra,kjll.:f r\ , a!RW l fiap oo¢1e11akhll>l dasaoz:;bagi jr !i}~rm g d.t!ng~s i ~ndjrti iaJ;ail idorrr ': ~he!>Ja;,nk i rliHt~)\n! ) g~r.itaJs > pCijtk IDO.j'!l}!IHJtO;:, /litilorr ir;;·rJ:rf ihr:jfl:>lrt l >1'1 r. lirl > ~gl!'it\1 1 bahwa, ptihlaw:;~ r 45r;tne~b.ukia r r®alm peristiwa bersedjarah ini, seperti halnja di dalam seluruh sedjarah bangsa kita, tiada lain adalah rakjat. Rakjat Indonesia oewasa ini . \\\ , . (\\' ,'1\) \ \_~)Hh/ 'l.'ff',!\HI/\ \q\\H\\\ \.H'H\\ \~) "·r1e li~m-. r ;· J ?rlH ~ n a ~ R R~ fl)i ~ t rl?itf ~r \)\(\\ i ~W , k.iP_\~ ,!lfH\YJ!ffif b1~Wt'"fi\ j~ ~Yr J ';/{1} i 10 i_ '? . er,w~Wfi WifJ r:T _if , mddJm_·h ll'' "'f. ." flurkJ IJ ~ "rm 7. Ltha t Teszs 45 Tilh~ . f. .J.. \Y\)\'}.,_\ - -- -- - -- P~ b .J)g;lita:r f rJ:mt~lan 81 0 djogja fights back ui ~A"W7h£fl i tPmw d · J~ t : P~mhlar-Jij(' , ~Jri1!f'Ml p ~t!l)i_ ni -.·mobrd n~·, 9!Jor b 9 ~)a t , ,l§lg,Si rlit 12. • A:Jt; atiHh ; :.~tlW; ; ilDun~ : d 1 t: I:Ma!n r ti1asj l ak h {( l j alfg l ~tu e r 1e nut:~g l p«l - -Jd hQ_jadF\hunt Re v dltis i! A~ ' stu l a¢1lh t hslta r, pemb¢asl" dit:~ 'n1wjttt'l Jf d<~th r i~n,ljad§ - Hl'n r li!t'{Jep iLl angw, ,Penr&i<j'3djal1an; $~t · l M J. ri i;I Lhcl.o~ia penindasan feodalif?;h ;d ' '1:ruilgw:'l rlrJJ.IJJ, ;l iJilc•'l'' iJ -I J; I'[J·;~gr.\:U "' & ~v®-ah A j <elas;;Ha:lll--w.a as¢ekc.aS-pt1kl;pt)l!litik!: ittlla:h ,:~ ahg ·whl ;i dit ~ k : hikan dalocrri l ~d \! ti\!:rls4v s > !Jultu d _ H . w k~a l l li ~.tikdcl-mah l ' ile'l>tlfrK.Ousep KdHuaynif i, JKalc;y MJ : yarig'menjtl r pb dam~ d~ba ; m : k :t gia:t al t v kulh ilr. id itu mtl . IJUp':iro!1 < »tli1fks! : (!i;a,yj J jd_eolbf.JImU1~ l 1'tl t .pebui! UI I II i!l q I; II Jbetjudul<r:-ReJtoh.16ii1A!dillah ~i' K~batig' h brpen:da~ ; brahi'<Va 1branya ! l!d~<I.Uar pel.-ti~ang:m 1a>htara du w r ~su ;J . bes.r· ..fi kttbucliajaMJ ~> lia l kjla{ l ' ( :hiJlf :l kebud~j:ta.h r ljuikar1 J ; !{~kj ~ t. Djaia'Iilihtig!li ·titHrk ada!l:lll L'~b l; l _ a ~ j L t ' ~g i k tin ~ at u k Wn ' b~h ~ >;l rJJ;'I'' r 1 --I'J'!''!f;iruikr• l5isan pundji rrli!dbud!iijaanl IRiikjarn cbtirli!1btrJ1 1d ~ IVlg~ ) l mt?gJih I ,r >ludj i.kadtida.M i- t~Uebih J J d:~i'l ~ ~ 1 cltrl:lh_ clkil pand:jPZJ rlrolht4t.tj:!..«tv, buktatii I rt ~t(f); 1 t:'li~fn i :pik;la,rto , samhui.tJy~ Ra-kjat.Airil • h;lq.r .J 1 11 r ;y~ng: s: JSerhint:lasm rel n~jadi ~'kimw < k i 1la : -(fa f\;~ ~J4ilaW I jang mentulangsumsum. Laginja kebudajaaft!l;.l b\!}k_aii'IIJ Riiwja;tl :,lttf, ~ebnrja I1bukQ'nl !1kelnu:H-ijialmlr rlliJebihz w l~g b <: kebl!ida j a : a )J!}I ., ~ikan . grJ: i 11 i Rakj~ ~ ti J sl!ka~im i ~\ ' l ~ ja-n iJ ; Hl n tikbag i ~Jti ~ ko-urtalj<i.1 · l6\Jti Ji:rhd d 11H c ;:or . ltrhf·,:~ J · ;s poiahg ~ ; ~!ilgtQ f R~ji:Hl _ ~l1 h a ~ ~i*t&bad- A11 lri!J rJJ;w 11, d·Jil ~.rlbJI;g'! i ' Com.i >tfJ I .\Centi:41~ 5l PiW;I !I : i{M r • 1 cifdak r l :han ~ 1 1 fl;b f i:J;< wxlfj'agrt~ -fl bt W1lpa.tnji ; ry ang di~<.jrtlan ; ~ltv - I I ;I 'Iltll!:sidttl !Mrsb i qij~ -·,A k t:l g~a>tln r sam~j'!n J po~ftli_ di~ : setrl t itfl_jQ Lapdrn I iJ~edjQat1g_qn ·; kelD.\!£QajJB rt!i l ~ing ('J hi t • Sang r l!Jriu~ ~ biah" ~ l f;qla1! 1 "'J.RI1li~k C fd:ij(!tnk},> i 4;[i)ta u har~s'lt r t Pdlitk:-cu f' Otl!r l ~tahg l l:tinnp,aukelDJI!Id'ajl!Wl' n J:dmngli- 1 , ' l;. r -_ d .i 'I · 8nr,LJ.ba•t/\' Mb)_l<addimuh \'" )\l.ela'Jl- ~Iui'\.1 ':/> «Ji<l l<. a , ~ b ilVh.!tli(l'j:._d.tifi:JRahjat/( J~1 i h J '6 L l fl.: 1l(#d[1 Ju;1li4u u, I '"": ,,mw /I · r11:m;d1; ~' /I "'-'" 1:.> 1ll;lp ( I . I;J r """lU .'''"ll><l>·/, 10. Ibid., h. 55. .!: I .r! ,8oi! l .r\IJ. ,im:l J 11. Ibid., h. 56. .\'•) .d .. 1·-,, '\" ( i ) 11>\·'-11\ 1\hi>\1\IHII\-\.1\ \1\l'l"'\"·' .i. l djogja fights back ~ k J p a efa f /W"i.J : vanpru fl?litPkt tida:kl.' Dah\tn: Slegi!l:l'J , r ' ta~lhbujU1 1" 'FJk. - sekiran1 ya Nj~to mepu h nyaisk~ kult~-i yang dem~kian. Raliybt;,·1fada ~ge ·titm1· k~muni w · ia~ - r g>GlU~J-rat()n ·l mlnusia c Jter · i~dJs' J dan t~fui. J.y aitnl , kaum ;l btin : J)h r dain J tuni. , ; NitJ: ~ :.~ ni.a!ht: l p~Hm ,: kutril ~ ~ia cla'!-.il:!rspeklM'<lrKism€ y,ar\g, b(ltdl1sar,-Wadah ioi"i t,''Ptlt,tentabgan kedm'lll I Jli'S'/.lltWWu sehag r ~ ; sew. i ~g komunis l)fang,kioolmkw-e.w iartJi.ela!IY-lbisa meruit'ima;struktntJ!tulmrilJ yatng l , fidw~An(l\g il mb;utkr. {c.'f !kamlnug:' ktl~U1i l !l'gu6ni-.(1k)hat ; ty ~l}g r w ~ his~p d:mlJtw ttipd!ilSbitut; ,! f lI 6! ')(!I NJ 6i6nld»w>41:lnjt.i!l ltigtll tiu i ~IM4ab l I p:¢I~-gertian :£ kebu.da y.uwn1lJ;ak ya t ck·{Ylii4ialm"-JiJ J.;;;id AJ:iJ rl ,1./t'l iu ~ i!J ,«iliJ J!ll'> , l JJ:Jtr,'l r·rt,i; gm·lr.J-;J,IiJ.;'tU i J;;_;I;'rlSoai.1jang1:slll!'llga!t ,m't!~gebi rlt akilt l dari ~. lwmgrt¢B i $ith lnl11 ad~ t liu 1bah~ l fnt .< salw~bungrh untar: ' - i:Jolt~ n da~ :lt!.iud~jan AahtnM' ~- ~ Konsep "Politik adalah Panglima" dilaksanakan dalam segala aspek penciptaan dan persoalan kebudayaan. Politik adalah induk segalagalanya. Nugroho Notosusanto, seorang ahli sejarah Indonesia, dalam mc~ arti "Politik adalah Panglima" berkata: · 11 1 angpi · .. .,YI; "Kiranja kita tahu, bahwa jang dimaksudkan oleh kaum komunis ~ .l ~ ~ ~ ~ (termasuk LEKRA) dengan sembojan "Politik adalah Panglima" ialah, bahwa kegiatan tjipta dibidang seni, sastra, falsafah, dll., barus tunduk kepada petundjub, ketentuanz dan laranganz Partai, jakni Partai Komunis. Apa jang tidak sesuai, apalagi bertentangan "" dengan gar is Partai, dengan serta merta dilarang dan ditumpas. "12 Sebagai suatu komando dari PIG kita melihat perkembangan pentrapan konsep "Politik adalah Panglima" d:1lam aktivitas-aktivitas Lekra. Resolusi-resolusi yang diluluskan dalam Kongres Nasional Pertama, Lembaga Kebudajaan Rakjat yang bersidang di Sriwedari, Solo, pada tanggal 28 Januari 1959, menjelaskan lagi konsep politik Lekra itu. An tara lain dinyatakan: "Pengalamanz selama ini membuktikan, bahwa arah kegiatan jang satuznja azas jang tcpat dan bahwa mendjundjung tinggi azas ini mcngandung keharusan untuk senantiasa lebih hebat memerangi kebudajaan bukan-Rakjat, terutama "kebuclajaan" imperialis dan feodal.. .. Kongres membenarkan bahwa pekerdjaz kesenian Lekra harus terus-menerus meningkatkan mutu ideologi dan mutu artistiknja, clan bahwa perkerdjaz ilmu Lekra harus terus-menerus meningkatkan mutu icleologi dan mutu kedjuruannja .... Kongres membenarkan bahwa politik dan kebudajaan tidak mungkin dipisahkan, rnelainkan diperpadukan, dan babwa patriutisme dan internasionalisme tidak harus dipisabkan, melainkan diperpadukan".l 3 Orang-orang dari partai komunis, di sini PKI, tidak bisa semuanya mcngambil bagian yang aktif dalam bidang kebudayaan. Sebagai wadah komunis Lekra dipergiatkan untuk merangkum l:aum intclektuil Indonesia yang bersimpati dengan perjuangan PKI. Dalam organisasi Lekra terdapat satjana-sarjana, sastrawan-sastrawan dan wartawanwartawan yang bisa dianggap scbagai "promoters" gagaoan pikirar" dan cita-cita PIG. Tapi 'mempunyai kaum cendekiawan saja tidak mencukupi. Ide-ide komunis harus pula meresap sampai keclaerah-d.terah, ke12. Lihat N ugroho Notosusanto, Bidang Sosial-Budjaa dalam rangka Ketalzanan Nasional. Djakarta: Departemen Pertahanan-Keamanan Lembaga Sedjarah Hankam, 1968, h. 12. 13. Laporan Kebudajaan Rahfat (I) op. cit., h. 69. 12 djogja fights back desa-desa lewat drama-drama tradisionil dan perwayangan. Justru itu Lekra rnenampungjug<t anggota-anggota pewayangan dan p~alng. Di samping itu Lekra juga menampung kaum seniman dan pelukis karena golongan ini pun bisa memancarkan cita-cita kornunisme dalam lukisan-lukisan dan poster-poster rnereka. Dengan lain perkataan, PKI melalui front kebudayaannya, Lekra, rnemberi penampungan kepada segcnap golongan pencipta kebudayaan dan golongan intelektuil dari perninat drama tradisionil sampailah kepada golongan sarjana. Apa yang diidam· idarnkan PKI ialah anggota-anggota Lekra dan simpatisankebudayaar. mereka sirnpatisannya bisa rnenggerakkan lewat kegiat~n ide-ide yang dapat memperdekatkan lagi komunisme kepada rakyat . Taktik politik yang sama lehih dahulu dilakukan oleh pemirnpin kornunis Republik Rakyat Tiongkok, Mao Tsc-tung dalam pidatonya di Forum Yenan atas Hal Seni dan Kesusastraan pada tahun 1942. Di situ Mao menegaskan bahwa seni dan sastra harus mencerminkan p~r juangan kaum buruh, tani dan' prajurit. Dengan panjang Iebar Mao menjelaskan bahwa empat golongan masyarakat harus diungkapkan dalam penciptaan seni dan sastra- pertama-tama kaum buruh, kedua kaum tani, ketiga kaum prajurit dan keempat kaum inteligensia kecil yang menyokong perjuangan komunis.14 Pen yair dan politikus Mao Tse· tung bukan hanya memberikan konsep penciptaan seni dan sastra yang berlandaskan filsafat komunisme tapi ia juga memberikan instruksi kepada pekerja-pekerja kebudayaan Cina tentang pentrapan konsep itu supaya dipahami, dipelajari oleh golongan buruh, tani dan prajurit. Menycdari bahwa tingkat penciptaan dan apresiasi golongan buruh, tani dan perajurit itu tidak begitu tinggi, maka Mao menggesa kaum seniman dan sastrawan turun ke bawah (turba) menghayati segala unsur· unsur penciptaan agar kreasi-kreasi mereka itu berfaedah dan dapat dipahami oleh golongan proletar tersebut. Yang penting, Mao menegaskan, setiap seniman harus mempunyai ideologi yang betul, dan melihat segala-galanya dari kepentingan kaum proletar dalam karva-karya mereka. Mereka harus mendcdahkan watak-watak yang buruk dalam penciptaan mereka, dan menurut peng ertian Mao, watak-watak yang buruk itu adalah terdiri dari kaum penghisap, agresor-agresor dan bukan dari golongan pi·oletar. Seterusnya Mao berkata, "Segala gejala buruk yang membahayakan massa rakyat hendaklah didedahkan, dan segala perjuangan revolusioner dari massa 14. Lihat Anne Fremantle, lvlao Tse-tung: An Anthology of His Writings. 2nd print. A Mentor Book, 1963 p . 242-263. 13 djogja fights back • \ ral ~ yat \ ran~pcgmq ~ ~tla - d~J 1 dipuj : i1 r ~ - Jli~1 u> )hlng' \ 1 nl!mgu~ap l itruga:S b uU .J ilf6VOw~pn lW- J kro:suliat~n . nl _ lf - J b~t J X>~ fi - Degun u hil:!WJtpnyru i - hu~n , J~tin : ~rtlu : IF t d!iro ; prlng.a ~-1 ) MA0- l u ~ui i I g per~:atuw ' POliHk., l d:irt!af~lkqn "cla$s ~ politrn tamlt ua39 - p~hti' l -tlirn; bukratwutl tu~ ' pib iH r a.t~ o~ ~fl ,f \rg ~; nTri;A JI:lfQ! kuLtulih'}(;tmgli$eiJtlf'l.hrAlbllg'.m 'J l\daw fl\ sq-u~ r jug a J pt,.rialh !d.i ii!Ing!-u i kapkttn./lore!l;-g il?i•d;t;:l t([ustni!!'JlJC<lldllna tMootel1i.- ~a bat LD.a!hcl mo i uig~ f; s€mi:g r 1 l ~fionel\ i' GlagrO J ~ntam · '- htrn rhcl-kaitrf.i:.>lnq III;gnol )>\ q Gr·;gJ~ ;_tiJ . r t.J; •.~oJfa:ng · t r.evul~sidngtq':IMw i ~Uwlif r,J8,i$111_iaif' stmlan~g I; A:J d>frat~ ~-e:nlmgat ~ i-.ug - fl b 'l! ~l!ISiot mootjjptahjw sendi!? : l~t,.a:iw ' n'u:; I JQ!i~<tngka !i oltw -·r Jr f' ~'lait t g~ranLtidum (I J; I jakail ·};!awu; ~¢SC'jO!IliJfg rt i-; A t~n!bcsai r clript b nlru>SQ . ~ewp;k!i ~ rl ra:k~ntjdihI ' UWtl~a J ra~jng l bclnia ur sepertirltucti'dflk in!lmpoj~k:Jrg liYJ i~tl'!odnw PI ~ u d Jr;qrfl'nA niiiJ Ji-w i-'nq rrwd Ggi J:;J>[ ,irli;J Tokoh komunis Indonesia, IY:l'*.i r AidtJ1ug~ ; tli>W,~ · :k~pngt'a](rme b'~vikun ?- :.ta ntu k.J dl<.j av,i~ abaw ber{)indwkrub trWo sagolopg;o i i. ) tim(lalflgt rfaUj ~ w &l.Q~ l ti~k w bki!ta : ~alwtdmn ; i ;/i;ilurj Airfir;T rbr:J-ill\lra;,rakyav ;I (l;:HtroJberkatxi(: rriiJ ru ! i/, tl jmgknr: b~Wikv q r ~re.ngto!hqkawp_il 1\.fiao; Qasi-o,Jut¥'1fgl"~khpm S. IH 1 segaftur$cl• :;HWc gm; r rrr q !Stmrilfl}ll riubmkrrR;bvll>Lm i.'lffi HifdJ r!triJf 1: Septu\dqvJI~w -l :lt!a$ tkaHl stsililtubbahkllii 1.. 0ang:.smgrati ~ i St!A~eL-fian . JJ; '- re;vohlsiqmlr :itrlah rseoiuln~jgt jcifat l il ,:\ m.endpa mukfal eJIl~ l pedom!~;qan r tabl riJn~uks lhsmMk.W hli~ar ( dffitwn: I•eluispc.~;tJ lmini111IIr1iSildaiflpm!Q"hjaJp1dtief~kbu:lyahg.n' y-~.tg J ditukvUaM d ~l!ehi t Miw1-du : ro ;O!JStNb !-i c pl.Iam l pMuiom b rwJJ:.if 1 t kilocer4fa.d l]iana•r #i pa-.!l: , CJKS;!V i_ aUt$ in1,Jr~t f $a t rPf{!Ji h '[b~d ) t~ q iltli;J.\g,llitlills rl f 16-4 w di o 0~klar.t, :,; ;Dl l'l•b I A:idlit btlt:krai;arn q l!;Agni J J;v!d J;ri ;-, I>h(.fulf. .llwiJ;·rq rw !J i!IJ; I ,il :n wi . 'gd ff Kaliitpltoinlti-ti s J tneiuj~dpg; lkeilwm l.USimw:J jnitl;r r l~a:iu. : vol V ' fl Nt prbl~tiJ, u k.etnmliU~u rm!ls!fllP fuik_j.ut ,rsaffilhgkaBiJflUlm alllrip\eiia!hisri at;:nWtri<:Jt\foo · w;t:ah l mtrpd_j~ng , J\:etrnusigv ?. bli b dj~ l iltn ~6ma ~J ) 1 c J J nwsirtm q fa~ub [ ~arl ~ bil n ~ietjJ h!fui_tiJ djauh j e k>etiamb.fu , ~mg ~t tiJ: dkljar~tn li kratuw rtakis(:)nef;.~ ~ tidakrh tr q urtoRjnicwp0ak!l:~-g1. t n; A ~W p d ihm humasd E kitu ':l hl.iru;s l ltfu , guipacj~fb.s!lo ~ r ptlngh~su-aJ:. · ;mrodi ig ~ik.W·el!a t lv i - R~I!jlt r J ti&l.k r · h>:J.!l~a Iq urtk ,: i-\ t 1 J 'J)l1ti:!«r~ txbllapi; tiljm~J sukultgus up_tuk Jnkmoontj jlr:iai.1;wl1rl6!r\tjibuai.n -g r i' 1'itSJH A ril~adz 1 ltlakjatltdtlbt; sel:ia>likan1u ~61H a 1~ - Ratun .imf*riulis JJ r ; ' trJ<.n•:i~ .·u;J:J1 tnq flliljllolo!l i·rdJ llt;>lud ru;iJ 'l l'WJ I ). p ; - -I O ~ ' J<)f ; ,rp;.:,:d rut·-.!c ·t.t;duJun. u b <J (! ti '{ Au-w d iiii-;1 -.J'!'-1 r :!n~.>?" ,I;JJ;;h ·;d or;l /: uu )r:t L?. F ~r;m t -'· · An~ "' reman _ Ie, tbza., p . LO . ' - ~. · · · ') . . ~t'uarflR ' . % :9JHrath ,r q:w1PUJjl[izt ' f'ilht ~ Hi .l; 1!J·MliJ r f,< k4l u~. Qhtl l p l o~H tl.' i . lt; '!6 'Elh~r New York: Frederick A. Praeger, 1964, p. 212. 17. Lihat Fidel Castro, Revolusi dan Masalah Kebudajaan. Terdjernahan Saini i.J!t ~ K,J\<1 •\ dtli T'l\o \ !'· ' ~ , ubhtia - . IMucl\,J.g~ 18. Fidel Castro, ibid., h. 15. ~ l l t\h~liA 1;' J ~IHh9f) ;)n h l ~3 "rli .J .[d£- S:H -'I f••wI ,;looH ·rolrn lll l . .Jui ·1q djogja fights back _ ~ I II kaum tuantanah dan kaum reaksioner lainnja, mentjintai perdjuangan revolusioner untuk merampungkan tugas2 Revolusi Agustus 1945 sampai keakarznja dalam perdjuangan menudju ke Sosialisme dan sebaliknja membentji kaum kotra-revolusioner jang menghalang-halangi terlaksananja tugas tersebut serta berkehendak mempertahankan sistim penghisapan imperialis dan feodal jang ada."19 Sebagai usaha untuk inenyelaraskan perjuangan kaum komunis dengan Manipol-Usdek Presiden Soekarno yang rnenggesa kembali kepada "kepribadian nasional dalam kebudajaan", Aidit menegaskan dalam pidatonya bahwa: "Sastra dan seni jang berkepribadian pada hakekatnja adalah perwudjudan patriotisme di bidang sastra dan seni. Dan patriotisme kita adalah patriotisme proletar, patriotisme sosialis atau patriotistanahair dan di atas me progresif, jaitu patriotisme jang mentji~a segala-galanja mentjintai Rakjat Indonesia serta membela ~epntig an2 mereka terhadap kaum penghisap."20 Sejiwa dengan Mao Tse-tung, Aidit tidak melupai satu golongan rakyat lagi yang menurut pendapatnya adalah dari golongan terhisap juga. Golongan ini ialah golongan perajurit. Tentang peranan perajurit ini, Aidit berkata: " .. .selama ini masih ada segolongan Rakjat jang bel urn di perhatikan dan belum kita djadikan objek karjaz sastra dan seni, jaitu massa pradjurit. Pada hal setjara politik bagi kita sudah tidak ada soallagi, mereka pada umumnja adalah Rakjat pekcrdja jang memanggul senapan, sebab mereka pada umumnja berasal dari buruh, tani dan Rakjat pekerdja lainnja."21 Dengan dimasukkan golongan perajurit sebagai tambahan pada sokoguru PKI yaitu tani dan buruh, kita melihat suatu perkembangan dalam "approach" politik PKI untuk "memikat" .rerajurit bagi kepentingan politik PKI. Ini mengingatkan kita kepada pidato Mao Tsetung di Yenan pada tahun 1942 yang lalu di mana Mao menjadikan perajurit sebagai salah satu sokoguru perjuangan komunisme. Aidit menyedari bahwa suatu revolusi sosial dan politik tidak bisa sukses tanpa diikutsertakan golongan perajurit di dalamnya. Mengingatkan bahwa 19. Lihat D.N. Aidit, Dengan Sastra dan Seni jang Berkepribadian Nasional mengabdi Buruh, Tani dan Pradjurit. Djakarta: Yayasan "Pembaruan", 1964, h. 17. 20. D.N. Aidit, ibid., h. 27 21. D.N. Aidit, ibid., h. 30 15 djogja fights back saingan politik yang hebat terhadap PKI diwaktu rejim Soekarno itu ialah dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, khasnya Angkatan Darat, maka PKI secara diam-diam menyusup masuk ke dalam tubuh ABRI, membina perwira-perwira tinggi untuk bersimpati dengan perjuangan PKI. Pidato Aidit pada KSSR dapat dikatakan sebagai suatu "umpan" untuk memancing simpati dari yeaajurit untuk menyebelahi perjuangan PKI. Keadaan ekonomi yang gawat, suasana politik t<lng menjurus kepada blok komunisme, dan berbagai macam penyelewengan yang berlaku dewasa itu membantu PKI untuk menjadi "juruselamat" bagi rakyat kecil yang juga termasuk golongan perjaurit. Sebagai catatan dapat dikatakan bahwa taktik-taktik PKI dewasa ini menjadi lebih agresif lantaran ia mengetahui bahwa pengaruhnya mudah menjalar luas diberbagai pelosok kcpulauan Indonesia. Sebagai partai komunis yang ketiga besarnya di dunia di samping Uni-Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok, PKI mendapat perhatian yang istimewa dari kedua "gergasi" itu. Melihat bahwa keadaan sudah matang untuk meningkatkan aksi-aksi yang militan, maka PKI mehgambiljalan politik Mao Tse-tung yang agresif itu, dan menolak konsep "co existence" komunis Uni-Soviet. Referat D.N. Aidit pada KSSR merupakan sebagai petunjuk jalan ~ rjapekerja kebudayaan dalam kepada kader-kader komunis dan pek • Lekra untuk mempengaruhi rakyat dan menyibarkan konsep komunis- · me ditengah-tengah rakyat. Aidit menganggap Lekra sebagai organisasi kebudayaan "di bawah pimpinan partai telah berdiri dibarisan paling depan dalam menegakkan prinsip mulia ini (jaitu "berkepribadian dalam kcbudajaan") dan dalam mengganjang kebudajaan dekaden imperialis dan feodal."22 Sekarang terserahlah kepada para cendekiawan dan sastrawansastrawan dan pekerja-pekerja kebudayaan dalam Lekra untuk melaksanakan cita-cita "suci" partai itu. Segala-galanya telah diarah, ditunjuk, · diajar oleh ketua partai :Jgar para anggota Lekra tidak tergelincir dari perjuangan PKI tersebut. Kaum intelek dan pengarang dalam Lekra-V.I. Lenin dalam karang- · annya What Is To Be D,one berpendapat bahwa pembentukan tiori dan · teknik pet:juangan komunisme bermula dari golongan intelektuil dan tidak dilaliirkan secara spontan di kalangan massa rakyat.23 Ini tidaklah 22. Lihat D.N. Aidit, "Kobarkan Ofensif Revolusioner di bidang Kebudajaan". Zaman Baru, no. 5, (Mei 1965), h. 1-3. 23 . V.I. Lenin, What Is To Be Done, Translated by V and Patricia Utechin. Edited, introduced with notes by S.V. ,Jtechin. London: O.U.P. 1963, p. 17 16 •· djogja fights back ·.' bermakna bahwa kaum buruh dan kaum proletar yang lain tidak bisa mengamqil bagian dalam perkembangan tiori sosialis. Mereka .bisa mengembangkan tiori-tiori tersebut bilamana tingkat pengetahuan mereka menyamai kaum intelektuil karena rata-rata kaum proletar sangat rendah pengetahuannya. Lebih jauh lagi Lenin menegaskan bahwa partai harus merupakan sebagai "pimpinan politik kaum proletar", dan juga sebagai "guiding force" dalam pergerakan yang menyatu dan mengarahkan perjuangan kaum proletar.24 Peranan kaum intelektuil ini juga dipandang penting dalarn perjuangan menyibar dan menanamkan pahaman komunisme oleh tokoh komunis Mao Tse-tung. Mao menggalakkan kaum intelektuil supaya turun dari "menara gading" mereka dan mengadakan pengintegrasian dengan kaum buruh, tani dan perajurit. Seorang intelektuil, menurut pendapat Mao, ialah seorang yang bukan saja menelaah buku-buku ilmu pengetahuan, tapi juga aktif dalam kerja-kerja yang praktis seperti yang dilakukan oleh pekerja-pekerja lain. Mereka yang membuat kerjakerja tiori harus pula aktif dalam penyelidikan-penyelidikan yang praktis. Dengan demikian seorang intelektuil rnenjadi seorang komunis dan pekerja kebudayaan yang berfaedah dan baik.25 Golongan intelektuil didaratan Cina Komunis telah diarah oleh Partai . untuk mematuhi cita-cita Partai dan sekaligus mengintergrasikan golongan tersebut dengan kaum buruh, tani, dan perajurit. Mereka diarah untuk mempelajari perkembangan masyarakat menurut metode "dialectical dan historical materialism", dan mempelajari konsep bahwa "sejarah adalah ciptaan buruh". Di samping itu kaum intelektuil disuruh mempelajari tiori-tiori pertentangan kelas, di samping ajarar{ untuk mengenali tiga musuh besar Partai, yaitu imperialisme, feodalisme dan berokratis imperialisme. Untuk ahli-ahli sejarah mereka diwajib pula mempelajari karangan-·karangan Mao seperti "Tentang Praktek" (On Practice), "Tentang Kontradiksi" (On Contradiction), dan "Lapuran tentang satu penelitian Pergerakan Kaum Tani di Hunan" (Report of an Investigation into the Peasant Novement in Hunan) dan lain-lain bahan klasik Marxisme.26 Apakah PKI tidak melakukan tindakan yang sama terhadap kaum intelektuil dan pengarang-pengarang serta sarjana-sarjana yang tergolong dalam Lekra, HSI dan CGMI dan sebagainya? lVIemang ada 24. V.I. Lenin, ibid., p. 2. 25. Stuart R. Scharm, ibid., p. 115-120 26. Lihat James P. Harrison, "The Ideological Training of Intellectuals in Communist China", Asian Survey, no. 10 (Oktober 1965), p. 491-502. 17 djogja fights back usaha-usaha PKI untuk menginstruksikan serta meminta kaum intelektilil yang bergabung dalam organisasi-oraganisasi di bawah PKI untuk melaksanakan cita-cita PKI itu. Namun demikian masih kelihatan satu sikap tolak ansur di kalangan Comite Central PKI tentang senimanseniman dan sastrawan-sastrawan PKI yang kena penyakit "ngeloni ideologi burdjuis ketjil" .27 Ten tang sastrawan-sastrawan dan senimanseniman yang bersikap demikian, Aidit berkata: "Mereka mentjintai kaum buruh dan kaum tani bukan kare'na mereka sudah sungguhz mendjadi bagian dari Rakjat pekerdja, tapi karena didorong oleh rasa belas kasihan intelektuil melihat penderitaan kaum buruh dan kaum tani. Titik-tolak merek2 dalam memandang sesuatu adalah titik-tolak burdjuis ketjil. Tjiptaan merekapun, sekalipun mereka menulis tentang kaum buruh, buruhtani atau tanimiskin, pada hakikatnja, ditudjukan untuk memenuhi selera burdjuis ketjil. Ketika sedang mentjipta mereka diliputi oleh kekuatiran kalauz si Anu dan si Pulan, maksudnja si Anu dan si Pulan burdjuis ketjil, tidak senang dengan buah tjiptaannja. Orientasi mereka belum orientasi proletariat. Kawanz yang demikian masihada dan dalam waktujang pandjang terus akan ada di dalam Partai kita, karena pintu _Partai kita akan terus terbuka bagi merekajang bukan berasal dari proletariat, termasuk sastrawan dan senimannja.' '28 Sungguhpun terdapat sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman dalam PKI /Lekra yang dianggap "burdjuis ketjil" namun Aidit tidak bisa memusuhi mereka. Hal ini bisa dimengerti bahwa Indonesia dalam kegawatan politik dan ekonomi masih belum dikuasai sepenuhnya oleh PKI. Tindakan-tindakan yang agresif dan militan terhadap kaum intelektuil, pengarang dan seniman seperti yang dilakukan di UniSoviet dan di Republik Rakyat Tiongkok itu bisa berlaku karena partai komunis telah berkuasa penuh di sana. Sebab itu PKI sangat hati-hati bila "mengkritik" tindak tanduk golongan intelektuil dan sastrawan di dalam PKI/Lekra. PKI tidak mampu pada waktu itu untuk memusuhi golongan tersebut karena peranan golongan intelektuil di dalam organisasi-organisasi PKI sangat diperlukan pada waktu itu. Sebab itu secara.diplomatis Aidit berkata, "Pada umumnja kader2 sastrawan dan seniman kita sudah melalui fase tjinta jang dangkal kepada kaum buruh, tani, pradjurit dan Rakjat pekerdja lainnja.''29 . ' 27. D.N. Aidit, Tentang Sastra dan Seni ... , h. 47. 28. D.N. Aidit, ibid., h. 47. 29. Aidit, Zoe. cit . " 18 .. djogja fights back .. t Tapi sebagai usaha untuk menunjukkan gari.s ideologi yang betul kepada kaum seniman dan sastrawan di dalam Lekra, PKI menempatkan Njoto, seorang tokoh komunis yang berstatus wakil ketua II dalam Politbureau PKI yang juga menjadi anggota dalam Comite Central di jawatan sebagai ketua propaganda (agitprop) samping m~egan PKI. didalam Lekra.ao Setiap aktivitas Lekra mendapat perhatian dan petunjuk dari pimpinan PKI dan tokoh-tokoh komunis yang terkemuka. Dengan jalan demikian kewaspadaan terhadap setiap "penyelewengan" dari ajaran-ajaran komunisme bisa dielakkan. Melihat dari jumlah para pengarang, sastrawan dan para cendekiawan yang menjadi anggota-anggota Lekra atau HSI, maka kami berpendapat bahwa PKI mendapat sukses dalam penggembelengan kaum pengarang, sastrawan dan cendekiawan. Misalnya nama-nama tokoh kesusastraan dan kebudayaan seperti Hr. Bandaharo, Bakri Siregar, Boejoeng Saleh, Utuy Tatang Sontani, Rivai Apin, Agam Wispi, Sobron Aidit, Pramoedya Ananta Toer, S. Rukiah adalah di antara beberapa nama yang terkenal dalam perkembangan kesusastraan Indonesia moden. Di samping itu terdapat Sitor Situmorang seorang penyair Indonesia yang terkemuka, yang pada waktu tersebut menjadi ketua LKN. Dalam HSI terdapat pula seorang tokoh linguistik Indonesia, T.W. Kamil, dan seorang sarjana Jawa Kuno yang kawakan yaitu Prof. Tjan Tjoe Siem. . · Memang banyak anggota-anggota Lekra yang terkemuka yang memberi "impact" kepada persoa~n-l kesusastraan dan kebudayaan diwaktu itu. Agak sukar bagi kita untuk membicarakan mengapakah setengah dari sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman Indonesia memasuki kamp Lekra.31 Sekiranya kita meninjau dari yang t~rkenal segi sosial-politik mungkin kita bisa membuat ramalan-ramalan tentang hal tersebut. Oleh karena keadaan sosio-ekonomik-politik yang parah menyebebkan setengah dari sastrawan dan seniman-seniman itv mencari "perlindungan" dalam organisasi-organisasi di bawah sayap partai politik yang revolusioner diwaktu itu. PKI melalui ormas-ormasnya memberi semangat dan bantuan yang diperlukan malah memberi ke30. Sunardi, op. cit., h . 17 .. 31. Untuk mengetahui nama-nama anggota Lekra yang duduk dalam Pimpinan Pusat Lekra dan dalam Sekretariat Pimpinan Pusat L ekra sila lihat lampiranlampiran diakhir penelitian ini. Juga lihat Laporan Kebudajaan Rakjat (I), h. 85. Juga lihat Mingguan A pi, th. I, no. 30, tgl. 14 No. 1965 yang memberikan nama-nama anggota Lekra yang hadir dalam KSSR. Juga lihat Sinar Harapan, th. VII, no. 2240, tgl. 2 Nov. 1967, yang memberikan nama-nama anggota Lekra yang masih belum diamankan diwaktu itu. 19 ·. djogja fights back " ... sempatan-kesempatan pada setengah dari mereka untuk naik ke atas. Apakah semua anggota Lekra itu menjadi anggota-anggota PKI juga? Agak sukar bagi kita untuk menentukannya karena keanggotaan dalam PKI sangat dirahsiakan sekali, apalagi bagi tokoh-tokoh yang terkemuka. Kita hanya bisa mengetahui bilamana sekali sekala timbul ~ tokh PKI masalah keanggotaan dalam PKI yang diucapkan oleh tokh sendiri ataupun oleh sastrawan-sastrawan yang berkepentingan. Tahir kerahsiaan ini adalah satu taktik komunis dalam perjuangannya diarena politik. Demikianlah rakyat Indonesia dikejutkan oleh hasil pengadilan M;ahmillub bahwa Jusuf Muda Dalam adalah anggota PKI.32 Menurut Njoto bahwa Joebar Ajoeb, Sekretaris Umum Lekra pada tahun 1959, Henk Ngantung dan Sudharsono bukan anggota PKJ.33 Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu tulisannya berkata bahwa dia bukan anggota PKJ.34 Walaupun bukti· bukti yang nyata tidak bisa kita perolehi, namun dari tulisan-tulisan dan pidato-pidato yang pernah dibuat oleh tokoh-tokoh Lekra, dapat memberi kesan kepada kita tentang masalah keanggotaan dalam PKI itu. Sekiranya mereka bukan ' namun dari tindak tanduk mereka kita bisa mengi!nggap anggota PKI bahwa mereka bersimpati dengan PKI dan perjuangannya. Sloganismesloganisme politik yang digunakan PKI dan aksi-aksi politik yang digunakan PKI sering mendapat dukungan dari Lekra. Sekiranya PKI menyebut-nyebut ten tang "revolusi' ', ten tang "nasakom' ', ten tang "manipol", tentang "land-reform" dan sebagainya, maka tokoh-tokoh Lekra juga membuat imitasi yang sama yang disalurkan lewat tulisantulisan, pidato-pidato dan juga karya-karya mereka. Demikianlah jurubicara Lekra, Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah tulisannya berjudul "Jang harus dibabat dan harus dibangun" (bagian ketiga) dalam menanggapi Manipol antara lain ditulisnya: "Di dalam alam Manipol, sastra Indonesia harus berani untuk membebaskan matjam kritik jang menilai sastra dari perspektif ketukangannja. Kritik sastra Indonesia dalam alam Manipol harus bisa memaafkan kekuranganz jang terdapat didalam ketukangan, bahkan harus mengisi kelemahannja, tapi basis politik, basis ideologi sama sekali tidak boleh meleset , ... 35 32. Lihat Proses Peradilan ]usuf Muda Dalam. Djakarta: Penerbitan Kedjaksaan Agung Bidang Chusus, 1967 33. Lihat Laporan Kebudajaan Rakjat (II). Djakarta: Lekra, 1962 h. 52 34. Lihat Pr ~ moedya, "Djambatan Gantung dan Konsepsi Presiden". Harian Rakjat, th. VIII, no. 1684, tgl. 28 Februari 1957. ·~ 35. Lihat "Lentera" dalam Bintang Timur, th. XXXVI, no. 237, tgl. 7 Septm ber 1962 20 djogja fights back Seorang lagi tokoh Lekra yang terkemuka, Prof. Bakri Siregar, dalam sebuah karanganya berkata, "Kesusastraan kita (Indonesia) adalah mutlak t "A--"" dari revolusi Agustus. "36 Ini adalah pendapat yang populer dikalangan PKI yang mcnganggap bahwa revolusi Indonesia masih belum selesai. 4Vr Seorang lagi tokoh LKN yang juga seorang penyair terkenal, Sitor ~ Situmorang, tidak ketinggalan meniupkan sloganisme-sloganisme a la PKI /Lekra dalam tulisan-tulisannya. Ia menolak ciptasastra yang me. i) _: ~ nentang revolusi dan Manipol. Mengambil garis politik PNI/Asu pada t~· waktu itu, Sitor berpendapat, "Sikap nasionalis, seperti ~estinja setiap 'J(l.." V Manipolis dimana perlu dapat membelakang 'nilai artistik' apalagija. ng n Q)-.~ berasal dari alam kontra revolusi. Keperluan sosial politik harus dida- ¥" hulukan".37 ~ . Seperti mana yang pernah dinyatakan oleh D.N. Aidit bahwa Lekra didirikan atas inisiatif PKI dan, oleh karena itu, Lekra merupakan front kebudayaan PKI. Maka dapat kita nyatakan dengan hati terbuka bahwa anggota-anggota Lekra boleh jadi terdiri dari orang-orang komunis, atau kalau tidak sebagai komunis, adalah terdiri dari orang-orang yang bersimpati dengan perjuangan komunis. Resolusi-resolusi KSSR yang membahas pidato pemimpin PKI, D.N. Aidit, selain dari menyetujui garis-garis perjuangan Partai terhadap penumpasan kebudayaan imperialis, feodalis dan kapitalis, juga menerima dengan baik ide-ide garis politik dalam kebudayaan menurut arahan Partai. Antara lain resolusi itu menegaskan: "Pada umumnja, kaderz sastrawan dan seniman kita sudah melalui fase 'tjihta anak djawi' atau tjinta jang dangkal, dan ini harus ditingkatkan mendjadi 't_gnta merpati', jaitu tjinta jang membawa mati, tjinta jang mendalaru jang menimbulkan rindu dendam kepada kaum buruh, tani dan pradjurit, dan Rakjat pekerdja lainnja. , Rasa tjinta jang demikian ini harus terus menerus ditanamkan dan diperdjuangkim. Semuanja ini adalah soal ideologi. Menjatukan perasaan dan pikiran dengan Rakjat pekerdja hanja mungkin djika kita mengintergrasikan diri dengan mereka, jaitu djika kita membiasakan diri turun kebawah melakukan ri ~ et dengan metode 'tiga sama', dan dehgan sendjata ' Marxisme- Leninisme' untuk mengungkapkan kontradiksiz jang tidak mudah kelihatan, kontradiksiz jang ·,):.• f"' .. 36. Lihat Bakri Siregar, "Pendukungan Sastra pada Repolusi Agustus". Zaman • Baru, no. 19 (Oktober 1961), h. 3. 37. Lihat Situmorang, "Posisi Nasionalis ditengah-tengah M atjam Phobia Kebudajaan". Suluh Indonesia, no. 187, th. 10, tgl. 16 Mei 1963. 21 • djogja fights back - · ada dalam perasaan dan hati massa".38 Di samping mengkomandokan kaum komunis, para seniman dan intelektuil dalam melancarkan cita-cita PKI, resolusi KSSR itu juga menyentuh soal penyakit "ngeloni ideologi burdjuis ketjil" di kalangan kader· kader sastrawan dan seniman. Ini mungkin ditujukan kepada mereka yang masih belum bisa mengindentifikasikan perjuangan komunisme dengan golongan proletar. Sepanjang pengetahuan kami tidak pernah dilancarkan "pengganyangan" terhadap sastr:-twan, seniman dan cendekiawan Lekra maupun yang menjadi anggota PKI karena ketidakbecusan dalam ideoloji. Tidak pernah diadakan kritik diri da~ konfessi di kalangan kader-kader komunis sekiranya mereka melakukan kesalahan seperti mana yang lazim berlaku di Uni-Soviet dan di Republik Rakyat Tiongkok.39 Proses indoktrinasi ajaran komunisme itu berjalan terus walaupun di kalangan Lekra terdapat sebilangan anggota yang masih belum kuat keyakinan ajaran-ajaran "Marxisme· Leninisme"nya. Aidit sebenarnya menjalankan dasar yang pernah dipraktekkan dulu oleh Mao Tze-tung sebelum Mao berkuasa dalam politik tanahairnya. Ia membiarkn para cnedekiawan yang bersamanya untuk menjalahkan aktivitas-aktivitas kulturil menurut pengalaman mereka sendiri-sendiri, walaupun dasardasar itu kurang sesuai dengan cita-cita komunisme. Yang penting ialah kuasa, dan kuasa itu masih belum diperoleh PKI lagi. Yang penting ialah mempunyai suatu gelombang massa yang kuat, terdiri dari golongan intelektuil hingga kepada golongan proletar. Sekiranya kuasa sudah di tangan PKI maka soal "pembersihan" anggota-anggota yang tidak konsekwen dalam perjuangan komunis bisa dilaksanakan. Sebab itu PKI bisa "menerima" pengarang-pengarang yang punya "vested-interest" dalam Lekra. Yang penting bagi PKI yalah supaya ia bisa memperalatkan orang2 itu untuk melaksanakan cita-cita PKI sendiri. Misalnya Pramoedya Ananta Toer adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang terkemuka yang dikagumi orang baik ditanahair maupun di luar negeri J karena karya-karyanya yang bermutu tinggi. Bila Pramoedya menjadi anggota Lekra dan duduk pula dalam Pimpinan Pusat Lekra, PKI mem38. Lihat resolusi KSSR sebagai hasil dari pembahasan referat D.N. Aidit yang berjudul Dengan Sastra dan S£mi jang Berkepribadian Nasional mengabdi Buruh, Tani dan Pradjurit. 39. Untuk keterangan lebih lanjut bacalah Walter N. Vickery, The Cult of Optimism. Bloomington: ~ndia University Press, 1963. Lihat juga Max Hayward dan Leopold Labenz (ed.), Literature and Revolution in Soviet Russia 1917-1962. London: O.U.P., 1963. Juga lihat Cyri Birch, Chinese Communist Literature. New York: Frederick A. Praeger' 1963. 22 ... djogja fights back peralatkan prestasi Pramoedya itu untuk kerja-kerja politik-kulturil PKI. Waktu rakyat dan pemerintah mempunyai prasangka jelek terhadap bangsa Cina di Indonesia, Pramoedya menulis sebuah buku berj udul Hoa Kiau di Indonesia, di mana ia memperjuangkan golongan Cina di Indonesia. Karena jasa-jasanya itu Pramoedya diberikan sej:mah pabrik potlot.40 Penyair-penyair dan sastrawan-sastrawan yang lain diberikan kesempatan oleh PKI/Lekra untuk melawat kenegara-negara komunis/ sosialis atau menghadhiri konferensi-konferensi di negara-negara tersebut. Sastrawan-sastrawan seperti Hr. Bandaharo, Utuy Tatang Sontani, Agam Wispi, S. Anantaguna, Sobron Aidit, Pramoedya Ananta Toer, Bakri Siregar, Boejoeng Saleh, pelukis Basuki Resobowo, Samandjaja dan lain-lain lagi mendapat kesempatan yang baik keluar negeri atas inisiatif PKJ jLekra. Sitor Situmorang didekati orang-orang komunis dan diberi kesempatan untuk mengetuai delegasi pengarangpengarang Indonesia ke Peking. Bukan saja pengarang-pengarang Lekra yang diberi kesempatan melawat keJuar negeri tapi juga pengarangpengarang yang non-Lekra diberi juga kesempatan yang sama untuk "memancing" mereka supaya berpihak kepada PKIJLekra. Sastrawansastrawan M. Balfas, Trisno Sumardjo almarhum pernah diberi kesempatan melawat Peking dengan harapan mereka nanti bisa memberikan gambaran-gambaran yang muluk-muluk dan indah-indah tentang negara komunis di bawah rejim Mao Tze-tung. Secara hal us PKI menjalankan jarumnya untuk mendapatkan simpati dan kerjasama dari pengarang-pengarang dan seniman-seniman. Indonesia. Sekiranya seseorang sastrawan terkenallemah ekonomi-nya atau dalam bidang politik seperti Sitor mempunyai ambisi untuk b~rgiat Situmorang yang menurut pembicaraan ternan-ternan sastrawan lain ia sangat bernafsu sekali untuk menjadi menteri Pendidikan dan Kebudayaan, maka. PKI/Lekra menyokongnya dalam segala usaha-usahanya itu. Paling tidak Sitor menjadi anggota DPRGR mewakili karyawan/ seniman, Henk Ngantung, seorang pelukis yang juga menjadi anggota Lekra pernah menjabatjawatan sebagai Wakil Gubernur Kepala Daerah Djakarta Raya dan disamp.ing itu mewakili pekerja kebudayaan dalam Dewan Pertimbangan Agung.41 Kesempatan-kesempatan lain yang diberikan oleh Lekra kepada 40. Lihat Angkatan Baru, no. 8, th. I, tgl. 1 Agustus 1965 dengan judul karangan, "Waspadalah pada Gerpol di bidang Budaja". 4J. Lihat Laporan Kebudajaan Rakjat (II), ha. 22 23 . ... djogja fights back ' - . \ . kaum sastrawan, .seniman dan intelektuil di dalam organisasi tersebut cukup merangsangkan. Bagi mereka yang menginginkan popularitet, baik sebagai seniman maupun sebagai pengarang, Lekra membuka pintunya. Kebanyakan pelukis-pelukis, pengarang-pengarang muda mendapat kesempatan menunjukkan bakat mereka di dalam organisasi ini. Beberapa kali Lekra mengadakan pameran senirupa, senilukis dan karikatur di samping mengintensifkan lagi minat dengan ide-ide baru dalam kesenian-kesenian rakyat seperti ludruk, wayang orang, seni tari dan sebagainya. Dalam harian-harian di bawah pengaruh PKI diterbitkan pula lampiran-lampiran khas untuk membicarakan soal-soal kulturil dan kesusastraan. Pada lampiran-lampiran inilah penuls-penulis muda yang kurang terkenal atau yang tidak terkenal memperkenalkan karya-karya mereka. Beberapa orang penyair yang bergabung dalam Lekra diberi kesempatan oleh Lekra untuk diterbitkan kumpulankumpulan puisi mereka. Seringkali kumpulan-kumpulan puisi itu merupakan suatu sikap politik tertentu yang sesuai dengan cita-cita PKI. Seringkali hasillawatan para penyair ke negara-negara komunis membuahk:fn "ilham" kepada mereka untuk mencipta puisi-puisi seperti yang kelihatan dalam kumpulan puisi Dari Bumi Merah karangan Hr. Bandaharo, dan Sahabat oleh Agam Wispi. Selain dari kumpulan tersebut terdapat pula kumpulan-kumpulan puisi seperti Bukit 1211 dari buahtangan F.l. Risakdtta, Sudisman dan Rumambi, dan Zaman Baru dari karangan Sitor Situmorang. Sitor menulis puisi-puisi ini hasil "ilham" yang diperolehnya setelah melawat ke Tiongkok Komunis. Sokoguru perjuangan PKI/Lekra ialah kaum tani, buruh dan perajurit. Persoalan-persoalan dan problim-problim yang menyangkut golongan-golongan tersebut khasnya mengenai kaum tani sering "d!puisikan" oleh penyair-penyair Lekra. Dua di antarl} beberapa buah kumpulan puisi yang memperjuangkan kaum tani ialahJang Bertanahair Tapi Tak Bertanah, kumpulan S. Anantaguna, dan sebuah lagi Matinja Seorang Petani yang merupakan kumpulan puisi bersama dari berbagai penyair. Dalam kumpulan di atas terdapat pula puisi-puisi ciptaan D.N. Aidit dan Njoto. Sebagai suatu sumbangan penghargaan dan dedikasi terha<.fup Partai maka diterbitkan pu1a sebuah kumpulan puisi khusus memuatkan puisi-puisi bertemakan PKI yang diberi nama Partai Dalam Puisi. Dalam kumpulan ini D.N. Aidit dan Stidisman menyumbangkan sebuah puisi tiap-tiap seorang. Dalam bidang senitari dan dalam bidang drama tradisionil seperti ludruk, ketoprak, wayang kulit dan sebagainya, PKI tidak ketinggalan membuat infiltrasi ke dalam unsur-unsur kulturil tersebut untuk men- .. 24 djogja fights back jadikan drama-drama tradisionil, senitari dan perwayangan sebagai alat yang ampuh bagi perjuangan dan penyibaran komunisme. Di Bali umpamanya kader-kader PKI melacurkan tarian-tarian Bali yang erat hubungannya dengan keagamaan Hindu-Bali untuk disesuaikan dengan cita-cita Partai, ~enghia dan membuat distorsi terhadap segala macam aktivitas-aktivitas keagamaan Hindu-Bali agar rakyat Bali menjadi benci pada kehidupan agama mereka yang bersipat tradisionil itu.42 Dalam segala bidang kulturil PKI/Lekra mencuba mempengaruhi rakyat agar rakyat menerima ideoloji komunis, dan ber:juang di sam ping ~ organis PKI. Aksi-aksi dan aktivitasataupun dalam organis aktivitas kulturil itu diperhebatkan dari kota-kota besar hingga ke desadesa guna menanamkan pengaruh komunisme di kalangan rakyat jelata. Dengan lain perkataan PKI/Lekra melancarkan suatu indohrinasi massa di kalangan rakyat sebagai suatu kondisi sebelum ia merebut kekuasaan. ~j I. I ~- 42. Lihat Ronald Mckie dan Beryl Bernay, Bali. Australia: Angus & Robertson Ltd., 1969, h. 95-96. 25 .. .· djogja fights back .. - BAB KETIGA LEKRA DENGAN PERSOALAN POLITIK DAN SENI Surat Kepercayaan "Gelanggang" yang ditandatangani di Djakarta pada tanggal18 Februari 1950 membawa satu fase kemajuan lagi dalam persoalan kulturil dan kesusastraan di Indonesia. Ma'nifes terse but memberikan suatu identitas kepada suatu angkatan sastrawan dan seniman yang dikenali sebagai Angkatan '45.1 Pernyataan sikap dalam pembentukan. kebudayaan baru Indonesia ini sangat penting. Olen karena itu kami kemukakan sepenuhnya dalam tulisan ini. "Kami adalah ahli waris jang sah dari kebudajaan dunia dan kebudajaan ini kami teruskan dengan tjara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang-banjak dan pengertian rakjat b::tgi kami adalah kumpulan tjampur-baur dari mana duniaz baru jang sehat dapat dilahirkan. Ke-indonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami jang sawo-matang, rambut kami jang hitam atau tulang pelipis kami jang mendjorok ke depan, tetapi lebih banjak oleh apa jang diutarakan oleh udjud pernjataan hati dan pikiran kami. Kami tidak akan mernberikan suatu kata-ikatan untuk kebudajaan Indonesia. Kalau kami berbitjara tentang kebudajaan Indonesia, kami tidak ingat pada melaplap hasil kebudajaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudajaan barujang sihat. Kebudajaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai rangsang suara jang disebabkan suara2 jang dilontarkan 1. Lihat H.B. Jassin, Angkatan 45. Djakarta: Jajasan Dharma 1951. " 26 • " djogja fights back . dari segala sudut dunia jaug kemudian dilontarkan kern bali dalam bentuk suara sendiri. r Kami akan menentang segala usahaz jang mempersempit dan ~ menghalangi tidak betulnja pemeriksaan ukuran-nilai. Revolusi bagi kami ialah menempatan nilaiz baru atas nilaiz usang jang harus dihantjurkan. Demikian kami berpendapat bahwa revolusi di tanahair kami sendiri belum selesai. Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli; jang pokok ditemui ialah manusia. Dalam tjara kami memberi, membahas dan menelaahlah kami membawa sifat sendiri. • Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masjarakat) adalah penghargaan orangz jang mengetahui adanja saling pengaruh antara masjarakat dan seniman".2 Pendapat bahwa "Revolusi di tanahair kami sendiri belum selesai" tidak ditentang oleh Lekra karena Lekra sendiri berpendapat bahwa . 1\, (.r·· ~ Revolusi Indonesia memang bel urn selesai. Yang dikecam oleh Lekra ~ \.i' lewat tokohnya, Klara Akustia, ialal_k,onsep humanisme universil dari 1.:-. ,. ~ \ ~j.v pernyataan Sur at Kepercayaan "Gelanggang" terse but. Klara Akustia d . ,1;..,..., ~ membuat garis Revolusi '45 sebagai revolusi nasional dan justru itu L, . ;,.~i -+ 1 harus memancarkan segala perjuangan nasional yang berporoskan kerak, ,·..,..1. , •.-t yatan. Lebihjauh lagi ia menuduh bahwa sastrawan-sastrawan Angkat- . ,, .. ,, . .,\..;,.lan '45 "berbalik menentang perubahan masjarakat bekas koloni Belanda ""'"""'...\/ .' .~; 1 kemasjarakatan kerakjatan". Klara Akustia rr.enjelaskan bahwa "Per- .,,,\"' f\,-)1.. kembangan kesusastnian adalah pertarungan klasz jang bertentangan kepentingan, jang satu mempertahankan kekolotan, jang lain mengusahakan kemadjuan".3 Dengan menggunakan nama lain, Jogaswara, Klara Akustia memberi cap· bahwa "Angkatan '45 sudah mampus".4 Polemik antara Lekra dan penganut-penganut humanisme universil bukan saja berlaku di Djakarta tapi juga di Medan. Tokoh Lekra di Medan pada waktu itu, Bakri Siregar mengadakan polemik dengan Aoh K. Hadimadja dan hasil dari polemik itu dapat dilihat dalam buku 'j,. J . 2. Lihat H.B. Jassin·, Gema Tanah Air Prosa dan Puisi 1942-1948 Cetakan ke 4. Djakarta: Balai Pustaka, 1959,. h . 12. Juga lihat A. Teeuw, Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru. Djakarta: Yayasan Pembangunan, 1952, h.t7_o. 3. Lihat Klara Akustia, "Kepada Seniman Universil" dalam Beberapa Pa.ham Angkataf( '45 susunan Aoh. K. Hadimadja. Djakarta: Tintamas, 1952, h. 82-91. 4. Bakri Siregar menjelaskan bahwa Klara Akustia, Jogaswara, A.S. Dharta adalah nama pena seorang pengarang sahaja. Lihat Bakri Siregar, "Prof. Dr. A. Teeuw tentang Lekra". Zaman Baru, no. 3, (Juni 1956), h. 39. Menurut keterangan Ajip Rosidi namanya yang sebenar ialah Rodji. 27 •• djogja fights back .karangan Aoh. ~- Hadimadja Beberapa Paham Angkatan '45. Bakri berpendapat bahwa kesusastraan Indonesia hams memenuhi tuntutan masyarakat dan bangsa Indonesia dan bukan menjadikan hasil-hasil sastra sebagai barang luks untuk kepentingan satu golongan kecil semata-mata. Dalam sebuah tulisannya mengenai penyair Chairil Anwar, Bakri mengecam penyair Angkatan '45 terse but dan menganggap ia mati ,\7>. . ) . \,..1. "sebagai orang jang tidak bertuhan". 5 Agak anih juga bagi orang Lekra -y,r>l.i 1 ~ masih mengingatkan soal ketuhanan karena perkembangan dialog se.Qanjutnya antara tokoh-tokoh Lekra dengan sastrawan-sastrawan dan )\ . ~ cen,dekiawan-cendekiawan yang non-Lekra, persoalan ketuhanan tidak ~ · pernah ditimbulkan oleh orang-orang Lekra. Bila Bakri Siregar berhijrah ke Djakarta ia banyak sekali menulis dalam harian-harian dan majalah Zaman Baru kepunyaan PKifLekra. Sebagai tokoh intelektuil Lekra dan dosen pada Akademi Bahasa dan Sastra Multatuli, Bakri menulis sebuah buku yang membicarakan pembabakan dan perkembangan kesusastraan Indonesia yang ditinjaunya dari aspek Marxisme. Rumusannya tentang Lekra sangat menarik sekali di mana iaberkata: "Sastrawanz jang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA), jang didirikan tanggal 17 Agustus 1950, tegas berpihak kepada rakjat dan mengabdi kepada rakjat, dan dengan demikian atas dasar paham "Seni untuk Rakjat", menolak aliran "Seni untuk Seni" seperti jang dinjatakan dalam "Mukaddimah Lekra" serta · "Konsepsi Kebudajaan Rakjat" (1950). Idez, pikiran serta karya2 Maxim Gorki, bapak realisme sosialis di Uni-Sovietdan Lu Shun, pclopor sastra Tiongkok modern dan revolusioner, serta tokoh2 serta dunia lain memberikan bahan dan repolusioner dan p~ogresi merupakan pegangan bagi kalangan sastra progresip dan repolusioner di Indonesia, jang menerima pula metode realisme sosialis dengan pegangan politik adalah panglima, mengabdi pada rakjat. pekerja" . 6 Seorang penyair dan intelektuil Lekra yang terkemuka, Boejoeng Saleh, juga mengecam humanisme universil. Secara historis, ia berkata: "Kaum bordjuis mentjoba mengemukakan andjuran pemisahan kaum seniman dari masjarakat dengan mengandjurkan "seni tak berpihak", "seni tanpa klas", "seni universil dan kosmopolitan" y..;Jr "---- 5. Lihat Bakri Siregar, "Dan pengertian tetap katjau", dalam Beberapa Paham Angkatan '45, h. 78. 6. Lihat Bakri Siregar, Sedjarah Sastra Indonesia Modern (I) Djakarta: Akademi Sastra dan Bahasa "Multatuli", 1964, h. 12. 28 ·~ .. djogja fights back l jang berudjud formalisme. Dengan sembojan "seni untuk seni" bordjuis hendak mementjilkan dan mengutjilkan kaum seniman dari rakjat banjak". 7 Di sini kelihatan aliran pemikiran dua orang tokoh sosialis itu, dan kedua-duanya menolak konsep humanisme universil, dan secara tidak langsung me:~gidntfkas konsep terse but dengan golongan borjuis. Konsep yang "benar" menurut Boejoeng Saleh ialah seni itu harus ber· isi, mempunyai "tendens". Tapi ia juga mengakui bahwa harus ada . paduan yang baik dan erat antara isi dengan bentuk supaya karya seni itu mempunyai mutu artistik. Namun demikian ia menganjurkan juga seni yang berpihak yang menurutnya adalah seperti di bawah ini: "Disini terhadap formalisme kita kemukakan seni jang berisi, seni jang berpihak, berpihak kepada kebenaran dan keadilan, pada jang lemah dan jang tertindas, pada Manusia dan Rakjat. Disini seni mendjadi pendukung tjitaz jang besar, tjitaz kemanusiaan untuk pembaharuan dan kemadjuan, untuk pembebasan semua bangsa dan manusia, dan kasih besar antara sesama manusia."S Suatu hal yang tidak bisa terlepas dari peninjauan kita bila menilai konsep kulturil Lekra dan sikap budaya dari mereka yang non-Lekra ialah situasi masyarakat Indonesia setelah penyerahan kedaulatan bagi Indonesia. Pengorbanan darah, tenaga, hartabenda dari bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan tidaklah sedikit. Sipat revolusi yang · memberikan cita-cita nasional tapi gaga! untuk memberikan kemajuan sosial dalam masyarakat, meninggalkan kesan juga dalam bidang spirituil. 9 Lukisan-lukisan zaman revolusi dan sesudah revolusi yang digambarkan oleh sastrawan-sastrawan Indonesia pada umumnya menjalari napas-napas penderitaan, kesukaran, pesimisme, konflik jiwa dan kemiskinan. Tidak kurang pula yang mengejek dengan pahit melihat ke.bobrokan dalam masyarakat sendiri. Demikianlah sikap Pramoedya dalam kebanyakan karya-karyanya seperti Keluarga Gerilja, Bukan Pasar Malam dan Korupsi. Ada juga sastrawan yang melihat kelakuan manusia dizaman revolusi seperti "cowboys" dalam filem dan mengejek golongan tersebut seperti mana yang dilukiskan Idrus dalam Surabaja nya. Suasana yang serba sukar itu adalah lanjutan dari revolusi yang bel urn selesai. Hal ini tampakjelas dari sikap yang diambil oleh golongan Lekra 7. Lihat Boejoeng Saleh, "Kearah Seni Berisi, sekitar soal 'tendens' dalam Indonesia, no. 6/7, (Juni/Juli 1953), h. 337-344. 8. Boejoeng Saleh, ibid., h. 339 · 9. Lihat W.F. Wertheim. Indonesian Society in Transition. 2nd. edition. The Hague dan Bandung: W. Van Hoeve, 1959, p. 308. 29 . .. • djogja fights back ., I I dan juga pendudung-pendukung Surat Kepercayaan "Gelanggang" yang menganggap "revolusi Indonesia masih belum selesai". Tapi Lekra lebih optimistis dalam menanggapi "essence" revolusi yang belum selesai itu. Untuk menyelesaikan revolusi orang bisa berbuat apa saja, dan hams berkorban segala-galanya demi kepentingan revolusi dan rakyat. Orang tidak hams berputusasa, berasa keciwa dalam tindakan physikal dan spirituil. Segala pengorbanan manusia hams didasarkan pada revolusi. Demikianlah Joebaar Ajoeb waktu membuat sorotan atas karangan Idrus Suraba:fa mengecam penulis Surabaja yang dianggapnya "tidak mempunjai pengertian tentang perasaanz kebangsaan dan tentang revolusi .. .. "10 Pramoedya Ananta Toer pada permulaan tahun-tahun SOan masih sangsi untuk mempolitikan kesusastraan. Dengan bijak ia menegaskan bahwa bukan kesusastraan itu yang diperalatkan tapi pengarangnya, karena tanpa pengarang maka tidak akan lahir kesusastraan. Mungkin diwa~tu itu Pramoedya masih belum menjadi anggota Lekra maka sikap sastrany,a sangat berlainan sekali dari sikap politiknya setelah ia menjadi tokoh Lekra. Tentang problim sastra dan propanda, Pramoedya menulis demikian: ~ aerhz dimana faktorz politik menentukan tak djarang apa jang dinamakan kesusastraan itu tjampuraduk dan niempakan bahan J.w\f"gubal antara sastra propaganda, antipati terhadap politik tertentu dengan melupakan kemungkinanz lain. Dalam hal ini kesusastraan jang sesungguhnja, dikorbankan oleh dan untuk politik. Kesusastraan demikian adalah kesusastraan propaganda jang belum patut mendapat nama kesusastraan."ll front kebudayaan Seperti yang ditegaskan sebelumnya Lekra seb~gai PKI tidak bisa menyeleweng dari "Mukaddimmah" dan "Konsepsi Kebudayaan Rakjat" yang telah pun disetujuioleh PKI. Dalam masyarakat Indonesia yang bobrok, moral yang becat, kompsi, petualangan · ik serta situasi ekonomi yang tidak stabil dan lebih-lebih lagi dalam poli~ kehidupan kaum proletar yang menderita, merangsang bagi PKI dan ormas-ormasnya untuk meningkatkan lagi · aksi-aksinya dalam segala sektor kehidupan masyarakat Indonesia. Demonstrasi-demonstrasi massa terhadap kedutaan-kedutaan Amerika, Inggeris dan Malaysia diwaktu itu dengan sendirinya menunjukkan sokongan rakyat terhadap "'--- 10. LihatJoebaar Ajoeb, "Idrus dan Surabaja", dalam Indonesia, no. 8/9, th. IV, (Agustus/September 1953), h. 516-519. 11. Lihat Pramoedya Ananta Toer, "Kesusastraan sebagai Alat", dim Indonesia, no. 8., th. III (Agustus"1952), h. 7-12. 30 •• ,( djogja fights back gagasan-gagasan politik yang dorninan. PKI menjadi gergasi yang ditakuti, baik oleh pihak ABRI maupun oleh partai-partai politik yang I ain yang tidak bersetuju dengan gagasan politik PKI itu. Partai-partai politik yang non-komunis kehabisan daya untuk mencegah merebaknya pengaruh PIU. Lagi pula partai-partai tersebut tidak tcrorganisir dengan baik seperti PKI. Kekuatan politik mereka l'angat terbatas. PKI sudah lama menyusun strategi politiknya sejak ·D.N. Aidit memegang teraju kekuasaan dalam PKI. Sejak 1945 hingga lahirnya Manipol-Usdek pada tahun 1959 Indonesia tidak pernah mengalami kestabilan politik. Ini menyebabkan rakyat menjadi keciwa dengan sistim pemerintahan "liberal" hingga akhirnya secara langsung atau tidak langsung rakyat terjebak dalam sistim pemerintahan totaliter Soekarno. PKI, sebagai partai politik yang terbesar, mendesak terus terhadap pemerintahan Soekarno hingga akhirnya timbul kultus peribadi terhadap diri manusia Soekarno. Di sinilah letaknya fase akhir bagi per- . juangan PKI, suatu klimak dalam taktik PKI sebelum menggulingkan rejim Soekarno. Tambahan pula PKI menganut pahaman MarxismeLeninisme yang bersesuaian pula dengan perjuangan yang militan dan agresif itu.12 Menurut ajaran Marxisme-Leninisme setiap alat harus dipergunakan sepenuhnya bagi kepentingan cita-cita partai. Sekiranya kesusastraan dijadikan propaganda, maka itu adalah keharusan dari perjuangan partai. Definisi propaganda dalam kamus dan ensaikelopedia UniSoviet yang standard ialah "penafsiran ide, pengajaran, pikiran-pikiran politik dan pengetahuan, bagian-bagian pekerjaan partai komunis dan buruh dalam bimbingan ideoloji massa, partai dan pekerja-pekerja" ,13 Dengan lain perkataan, propaganda adalah penting dalam sistim komunis. D.N. Aidit menanggapi peranan Marxisme-Leninisme dalam karya-karya kreatif sastra dan seni, berkata: "Mempersoalkan tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik", inipun harus djuga ditjapai dengan djalan beladjar MarxismeLeninisme dan pengintegrasian diri dengan massa, karena bahan baku untuk kerdja kreatif sastra dan seni tcrdapat pada massa; 12. Sekembalinya D.N. Aidit dari lawatannya ke negara-negara komunis pada tanggal 29 September 1963, PKI menyebelahi komunis Cina dalam perselisihan ideoloji komunis an tara Uni-Soviet dengan Cina komunis. Keterangan lanjut bacalah Arnold C . Brackman, South East Asia's Second Front. The Power Struggle in the Malay Archipelago. 2nd. print. New York: Frederick A. Praeger, 1966, p. 250. · 13. Lihat John C. Clews, Communist Propaganda Techniques. London: Methuen )964, p. 4. 31 .. • • djogja fights back ., , 1 djuga keartistikan jang harus diolah oleh para seniman dan sastrawan terdapat pada massa. Pendeknja para sastrawan dan seniman harus mentjari sumber kreasinja pada massa, dan terus-menerus membadjakan diri dan mendidik diri. Mutu ideologi ke1ja tidak mungkin tinggi kalau man usia jang mengkreasinja sendiri tidak menempa ide.ologinja sendiri, tidak membadjakan diri di dalam kehangatan perdjuangan revolusioner. Dan mutu artistik karja djuka djuga tidak akan meninggi djika sastrawan dan seniman tidak terus-menerus mendidik diri, beladjar Marxisme-Leninisme serta giat beladjar dan giat berlatih dilapangan artistik".l4 Umum mengetahui bahwa komunisme menitikberatkan pengawalan jalan pikiran manusia dan berusaha untuk mengawal pikiran individu maupun massa untuk bekerdja bagi kepentingan partai. Tujuan yang akhir sudah tentu iaitu mengawal jalim pikiran massa, tapi dalam tingkat-tingkat permulaannya komunisme berusaha untuk menetralisasikan segala tentangan terhadapnya, dasar-dasarnya yang berlaku pada satusatu masa tertentu.l5 Mengingatkan sikap komunisme yang demikian, ·maka tidak mengherankan sekiranya A.S. Dhartal6 d<m Boejoeng Salehl7 mengungkapkan konsep "pertentangan klas", perjuangan untuk rakyat tertindas dan kesusastraan harus berpihak kepada rakyat. Alangkah anihnya bila orang terlalu dipengaruhi dengan revolusi '45 hingga berbuat penilaianpenilaian yang mengejutkan tentang kelahiran angkatan· sastrawan. t. .. Benny Tjung pernah berkata bahwa angkatan seniman lahir adalah __ ~ - ~ "ditandai watakz perdjuangan masjarakat dalam suatu periode dja~ ~ man."l8 Lebih lanjut lagi ia menegaskan watak perjuangan masyarakat "~asih dalam suatu peroide revolusi, melawan imperialisme, feodalisme -; ;:, 'l.._.rv" , ~ il memperdjuangkan nilaiz kemerdekaan jang murni; dari rakjat, oleh ~ "VJJ' I rakjat dan untuk rakjat".l9 Justru itu menurut Benny Tjung lagi: vv-:: JJ' t ·n 14. D .N. Aidit, op. cit., h. 57. 15. John C. Clews, op. cit., p. 21-22. 16. Lihat A.S . Dharta, "Djalan Perkembangan Kesusastraan" (preadvisnya dalam Kongres Kebudayaan Indonesia ke 2 di Bandung, 1951). Indonesia, nomor Kongres Kebudayaan ke 2, (Januari /Februari /Maret 1952), no. 1/2/3, th. III, h. 76- 79. 17. Lihat pendapat-pendapat Boejoeng Saleh yang menanggapi pendapat-pendapat M. Nasroen seperti dalam catatan kaki (16), h. 179-185. 18. Lihat Benny Tjung, "Sastra Indonesia punja Tradisi Revolusioner", (prasarannya dalam Simposium Pertama Lembaga Sastra Indonesia yang disponsori Lekra yang diadakan di Balai Budaya, DjaH:arta tang~ 29 April 1960). 19. Benny Tjung, ibid. 32 djogja fights back "Sampai sekarang belum ada satu angkatan jang baru. Angkatan jang ada masih satu, iaitu angkatan revolusi. Garis kesimpulan ini sesuai dengan garis sosiologi, politik dan kulturil umumnja. Di sini pula saja menarik garis logika, bahwa Chairil Anwar cs sampai pada Pram, Sobron, Agam, Rumambi, S.M. Ardan, Sukaris, Eka Rahendra, W. Sontani adalah satu angkatanjang sah" .20 Di sini jelas kelihatan pengertian "angkatan sastra" yang berdasarkan faktor-faktor ekstrinsik seperti faktor-faktor politik yang dikemukakan i' uleh anggota Lekra Benny Tjung itu. Kita agak sangsi bilamana ia memasukkan Chairil Anwar sebagai sastrawan "angkatan revolusi". Apakah karena Chairil melahirkan puisi-puisinya yang penuh vitalisme dan individualistisme, dan hidup dalam periode perjuangan-merebut kemerclekaan maka ia, Chairil Anwar, digolongkan sebagai penyair "angkatan revolusi"? Apakah Sitor Situmorang dengan kumpulan puisinya Surat Kertas Hidjau bisa digolongkan sebagai sastrawan "angkatan revolusi"? Bagaimana dengan ldrus yang menulis Surabaja dan dikecam oleh Joebaar Ajoeb karena sikapnya yang "tidak revolusioner" bisa digolongkan sebagai pengarang "angkatan revolusi"? Bisakah Mochtar Lubis yang tergolong dalam Angkatan '45 menurut H.B. Jassin bisa dimasukkan ke dalam angkatan sastra kreasi Benny Tjung? Bagaimana pula dengan cerpen-cerpen dan drama-drama Usmar Ismail dan puisi-puisi Asrul Sani? Sastrawan-sastrawan yang kami kemukakan di sini adalah mereka yang seangkatan dengan Chairil Anwar dalam periode penciptaan dan di samping itu mempunyai visi dan sikap hidup yang sama dengan Chairil Anwar seperti mana yang dapat kita baca dalam Surat Kepercayaan Seniman "Gelanggang' '. Memang Pramoedya Ananta Toer banyak menggali ilham dari kisahkisah revolusi seperti dalam Keluarga Gerilja, Ditepi Kali Bekasi, Mereka jang Dilumpuhkan, Perburuan dan Bukan Pasar Malam. Karya-karyanya yang di atas adalah ciptaan-ciptaannya sebelum Pramoedya menjadi anggota Lekra, dan karya- karya itulah yang memperkenalkan Pramoedya sebagai pengarang prosa Indonesia yang terkemuka. Tapi nama-nama seperti Sukaris, Ika Rahendra, W. Sontani dan Rumambi hanya dikebudayaan dalam harian-harian PKI kenali dalam lampirn~ atau yang dipengaruhi PKI saja. Oleh sebab mereka ban yak menulis · puisi ataupun cerpen ten tang orang-orang yang tertindas yang seiringan dengan instruksi PKI, maka nama-nama mereka dimasukkan sebagai sastrawan-sastrawan "angkatan revolusi". Dan yang paling meragukan 20. penny Tjung, ibid. 33 • djogja fights back • kita kapankah' revolusi itu bisa selesai kalau ditinjau dari pengertian PKIJLekra? Perubahan sosial. Orang PKIJLekra sudah pasti tidak bersetuju dengan pendapat demikian lantaran mereka sudah diindoktrinir dengan ajaran komunisme untuk memperjuangkan masyarakat tanpa kl<Js, dan mereka yakin dengan pendapat-pendapat seperti itu. Di sinilah kita menghadapi suatu problim dalam memberi ukuran nilai pada hasilhasil seni dan kesusastra<Jn. Lekra bertolak dari konsep rcvolusi yang ideoloji-sentris dalam penilaiannya, dan kita pula bertolak dari scgi basil itu sendiri dari segi intrinsiknya dan kita tidak pula melupai unsur-unsur ekstrinsik yang mempengaruhi sesebuah ciptaan seni dan sastra itu. Kita melihat ada usaha-usaha dari pihak PKIJLekra untuk mempropagandakan perjuangan komunisme lewat tokoh-tokoh mereka, lewat pidato-pidato ten tang kebudayaan dan ·kesusastraan dan lewat tulisantulisan dalam harian-harian dan majalah-majalah.21 Di samping itu kongres-kongres, simposium-simposium yang dianjurkan oleh PKI/ Lekra merupakan media-media indoktrinasi komunisme untuk para seniman, sastrawan, cendikiawan dan para simpatisan PKI/Lekra r Wj.t.ru;:_ l~um~ ~\- . t.7&-'J- . . ~. 4. .E ' 14 (__ -vr~ c d .J- ~(1 i1 ."\,_"'1d d/r ,/ ~ ~ · . '. r L ~ M'ww <>-1 (. ~- ". '01. u-.a"o(l!~ ' ~c ~ ~'\A-io" - J . I( ~ u~4 31- ~ _!,L; ,, ~ ?j'' ,_ "1{ - Oo 0 ~· ~ fMi~. ·4~ 21. Lekra menerbitkan majalah Zaman Baru di mana banyak basil sastra dan kritik diterbitkan. Harian Bintang Timur pula mempunyai lampiran kebudayaan bernama "Lentera". Redaksinya terdiri dari Pramoedya dan S. Rukiah. Redaksi Harian Rakjat terdiri dari Piet Santoso Isnanto B.A., Abdullah Said Patmadji dan Zainal Abdi. Harian-harian lain yang menyuarakan pikiran PIG dan mempunyai lampiran-lampiran kebudayaan termasuklah Terompet Masjarakat, Djawa Pos (kedua-duanya dari Surabaja), Harian Tempo dan Sinar Indonesia (dari Semarang), Nasional (Djogdjakarta), Patriot (Medan), Perdamaian (Surabaja) dan Harian Penerangan (Padang). "'-. 34 djogja fights back 4\ BAB KEEMPAT LEKRA: GERAKAN KEBUDAYAAN DAN AGITASINYA Dalam Konsepsi Kebudayaan Rakyat, fasal III yang rnembicarakan tentang fungsi kebudayaan, antara lain dijelaskan seperti di bawah 1m: "Perdjuangan Kebudajaan Rakjat adalah bagian jang tidak dapat dipisahkan dari perdjuangan Rakjat umumnja. Ia merupabn bagian jang tidak d:-tpat dipisahkan terutama dari perdjuangan klas Buruh dan Tani jaitu klas jang mendjadi pemimpin dan tenaga terpenting dan pokok dalam perdjuangan Rakjat. Fungsi dari Kebudajaan Rakjat (Kultur Rakj.at) sekarang ialah mendjadi sendjata ~d perdjuangan untok menghantjurkan imperialisme dan feodalisme. Ia harus mendjadi stimulator dari Massa, mendjadi sumber jang se- . na~tis ~engalirk ~egstrin (kesegaran dji:Wa~.n Api Rev.o- \f~ luswner Jang tak kundJung padam. I a harus menJanJikan, memudp, p~ mentjatat perdjuangan kerakjatan, dan menghantam, membongkar, >1 menggulingkan dan mengalahkan imperialisme dan feodalisme. Kebudajaan Rakjat berkewadjiban mengadjar dan mendidik Rakjat untuk medjadi pahlawan dalam perdjuangan".l Lekra berpendapat bahwa perjuangan Revolusi '45 itu mempunyai gejala-gejala kegagalan karena kelihatan gejala-gejala kebobrokan setelah kemerdekaan. Alasan-alasan yang diberikan oleh Sekretdriat Lekra tentang kegagalan tersebut berupa adanya posisi seniman yang lantaran "restorasi kekuasaan imperialisme dalam lapangan ekonomi sudah men- J. Lihat Konsep Kebudajaan Rakjat yang diterbitkan dalam Menjambut Kongres Kebudajaan Kedua di Bandung (6 sjd Oktober 1951), h. 45-47. 35 . • djogja fights back . ~ 0 • • jadi semakin tidak bebas dan terdesak sehingga terpaksa melayani kepentingan klas yang berkuasa dilapangan ekonomi".2 Di samping itu kelihatan kebanjiran infiltrasi kebudayaan imperialis lewat buku- buku, film-film yang menunjukkan "kebentjian bangsa, anti-resionalisme, anti-realisme, napsu untuk bunuh membunuh dan sebagainja".3 Menurut logika Lekra "infiltrasi tersebut menjebabkan kesulitan2 dalam usaha mentjerdaskan rakjat, ·kemahalan harga buku, pengongkosan asrama dan sekolah bagi peladjar dan mahasiswa. "4 Yang memungkinkan PKI menggerakkan massa rakyat dan melancarkan aksi-aksi penyerangan terhadap segala "benteng-benteng" "imperialis dan kapitalis Amerika" dan lain-lain negara barat ialah kekuatan yang terbendung dalam PKI sendiri. Kemajuan PKI di bidang politik kelihatan dari statistik undian yang diperolehnya. Dalam pilihan umum nasional 1955 - PKI mendapat 2,326,108 undian di Jawa Tengah, dim pada tahun 1957 PKI mendapat 3,005,150 undian di daerah yang sama, dan jumlah ini menjadikan PKI sebagai partai yang utama di situ. Di Jawa Timur PKI menjadi partai politik yang kedua besarnya dengan undian sebanyak 2,299,602 (1955), dan pada tahun 1957 mendapat 2, 704,523 undian. Di Jawa Barat PKI menjadi partai politik yang kedua besarnya dengan undian sebanyak 1,087,269 (1957) dan sebelumnya cuma memperoleh 755,634 pada tahun 1955. Pada pemilihan umum 1957 PKI merupakan partai politik yang terbesar sekali di Indonesia. 5 Pengaruh PKI ini meluas karena PKI mempunyai 272 cabang, dan tiap· tiap pulau yang penting mempunyai "Komite Pulau" yang mempunyai sel-sel berbagai macam untuk menyibarkan propaganda komunis, baik bagi keluarga, ternan-ternan maupun pada musuh-musuh PKI sendiri. Tambahan pula kader-kader PKJ telah men_guasai organisasi-organisasi buruh, tani dan sebagainya hingga ia menjadi partai komunis yang terbesar sekali di dunia di luar Republik Rakyat Tiongkok dan Uni-Soviet. 6 Dalam dunia mass media PKI mempunyai suara yang . garang dalam korannya Bintang Timur dan Harian Rakjat dan di samping itu cita-cita PKI mendapat dukungan pula dalam harian-harian t\ I , 2. Lihat Sikap dan Pendirian Lembaga Kebudajaan Rakjat terhadap Keadaan Dewasa ini (stensilan). Djakarta : Sekretariat Lekra, tanggal 28 Disember 1950. 3. Sekretariat Lekra, ibid. 4. Sekretariat Lekra, ibid. 5. Lihat Soe Hok Gie, "The Future of the Indonesian Communist Movement", Solidarity, no. 9, vol. III (September 1968). Manila: Solidaridad Publishing House, p . 13-18 6. Lihat Arnold Brackman, Indonesian Communist: A History, p. 301 PK_LJ ~.k ~ djogja fights back ~ ~j k-~ . seperti Pendorong, Sin Po (edisi Tionghoa dan Indonesia), Terompet Masjarakat dan beberapa harian yang' lain. 7 Di sam ping itu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan kantor berita nasional Antara dapat dikuasai oleh PKI. Sejak tahun 1959 hingga dengan 1965 sebelum tercetusnya Gestapu 30 September 1965 terdapat tiga kumpulan "pelakun" yang berkua;;a- PresidenfPerdana Menteri Soekarno, pucuk pimpinan Angkatan Darat Republik Indonesia dan PKI. 8 Mengingatkan pengaruhnya yang besar dalam bidang politik, mass media dan kebudayaan maka agitasi PKijLekra terhadap imperialisme, kolonialisme, nekolim dan feodalisme menjadi bertambah hebat. Pidato-pidato Soekarno tentang Manipol-Usdek diolah oleh pimpinan PKI/Lekra untuk pentrapan bagi konsumsi rakyat. Dalam pidato Manipol Usdek tanggal 17 Agustus 1959 Soekarno mengecam kebudayaan barat yang memperkenalkan tarian "rock 'n roll", dansa a Ia chacha-cha, musikan a Ia ngak-ngik-ngok gila-gilaan yang diassosiasikan dengan cita-cita imperialisme barat. Soekarno menggesa rakyat supaya dalam kebudayaan rakyat Indonesia harus "kembali kepada kebudayaan nasional dan harus berkeperibadian nasional dalam kebudajaan". Selain dari itu iajuga melarang rakyat Indonesia membaca tulisan-tulisan dan buku-buku dari barat yang dianggapnya sebagai racun kebudayaan imperialisme. 9 ...-; Dekrit Presiden seperti inilah yang sangat disenangi oleh PKI/Lekra. {) n . Lantaran komando terse but datangnya dari Presiden Soekarno, Pemi~ ~ ~ pin Besar Revolusi, maka dengan gentar dan penuh akur rakyat akan , . ~ mematuhi segala komandonya. Sekiranya rakyat tidak memaharni segala \1--"'l _ II ajaran-ajaran Soekarno maka .telah diangkat secara resmi oleh rejim ~ .; Soekarno, Dr. Haji Roeslan Abdulgani, sebagai "pentafsir" ajaran- ~ · ~ . ajaran Soekarno. Kesempatan untuk "mentafsir" ajaran-ajaran dan ~r: ....-..> cita-cita Soekarno juga dilakukan oleh tokoh- tokoh PKI/Lekra. Aksi- ~ uP'/ aksi militan dari PKI/Lekra terhadap Amerika, Belanda, Malaysia dan ~ , ~ lain-lain lagi adalah sebagai "memenuhi" komando Soekarno. Demi~) kianlah Joebaar Ajoeb mengatakan, "rakjat dengan kesadarannja telah ...v-\'1 Jl 'V 7. Ten tang beberapa harian yang terkemuka di Indonesia bacalah Thorn Kerstiens, The New. Elite in Asia and Africa. 2nd. printing. New York: Frederick A. Praeger, 1966, p. 253 8. Lihat Donald Hindley, "The October Coup in Indonesia". The American Review (Oktober 1967), p . 59. 9. Bacalah pidato Soekarno, "Manifes .P olitik R.I.: Penemuan Kembali Revolusi Kita", yang akhirnya menjadi konsep "haluan negara". Inilah babak pertama dalam pemerintahan yang dikenali dengan nama "Demokrasi Terpimpin". 37 djogja fights back . I ; .! menghantjur Sticusa dan pemerintah achirnja menutup Asia Foundation."lO Lekra juga mendesak supaya film-film asing khasnya buatan Amerika dilarang untuk diputar pada bioskop-bioskop di seluruh Indonesia. Pihak PKI/Lekra menuduh film-film Amerika dan negaranegara barat yang lain lebih ban yak menonjolkan sadisme, pembunuhan, peperangan dan keruntuhan akhlak. Juga didesak supaya "pocket books" yang banyak membanjiri toko-toko buku diberhentibn ke~ n kebudayaan masukannya karena buku-buku tersebut mencrik barat dan unsur-unsur kekuatan inperialisme dan kolon"ialisme. Di samping melancarkan aksi-aksi anti-imperialisme, anti-kolonialisme dan anti-neblim dalam harian-harian serta dala:n demonstrasidemonstrasi terhadap kedutaan-kedutaan asing khasnya Amerika, Inggeris, pihak PKifLekra menjalankan aksi "diplomasi politik" yang licik dengan mengundang Presiden Soekarno menghadhiri resepsi penutupan Kongres Nasional Lekra di Solo. Kesempatan yang baik itu digunakan oleh PKI/Lekra dengan menyodorkan pidato dari Joebaar Ajoeb, sekt;etaris jenera! Lekra, yang antara lain meminta Presiden Soekarno: " ... mengambil sikap dan tindakan frontal dari pemerintah dan Rakjat dengan seluruh gerakan massa dan kebudajaannja, untuk mengachiri intervensi kebudajaan jang meratjun perkcmbangan revoslusi dan kebudajaan nasional" _11 Kelihaian Soekarno dalam politik tidak mengkagetkan PKI. PKI / Lekra dalam bidang kulturil, ekonomi dan politik memainkan lagu-lagu yang disenangi Soekarno. Lagu-lagu yang dimainkan itu adalah juga lagu-lagu politik PKI. PKI harus mencari hero dalam politik dewasa itu, dan hero yang tidak ada tandingannya ialah Pemimpin Besar Revolusi yang juga menjadi Presiden Indonesia. Unsur "bapakisme" dalam politik dikuasai sepenuhnya oleh Soekarno. Demikianlah setiap partai politik yang hidup diwaktu itu berusaha untuk mendapatkan perlindungan dan "restu" dari Soekarno. Tapi kekuatan partai-partai politik yang lain tidak bisa mengatasi pengaruh PKI terhadap rejim Soekarno. Setiap kali diadakan rapat pihak Lekra tidak lupa menggerakkan massa rakyat untuk menumpas segala sisa-sisa kebudayaan barat. Lagu-lagu barat dari penyanyi-penyanyi Amerika dan Inggeris khususnyajarang sekali berkumandang di udara pada waktu itu. Yang banyak kedengaran 10. Lihat Joebaar Ajoeb, Laporan Kebudajaan Rakjat (I), h. 26-28. 11. Joebaar Ajoeb, ibid., h . 91 ., 38 djogja fights back , ialah lagu-lagu "perang" yang penuh semangat yang diperdengarkan lewat Radio Republik Indonesia. Sebagai suatu usaha untuk "kembali kepada kebudayaan nasional", Lekra dalam Sidang Plena pada bulan Julai 1961 , membuat resolusi meminta pemerintah melarang AMPAI yang punya monopoli terhadap pemasukan film-film Amerika dan Eropah dan juga punya moncpoli terhadap bioskop- bioskop di Indonesia. Alasan yang sering dikemukakan PKI/Lekra ialah film-film dari Amerika dan Eropah Barat itu anti-Manipol, bersipat sadistis dan merusakkan akhlak bangsa Indonesia. Oleh karena posisi PIG dalam arena politik nasional sangat kuat dan berpengaruh, maka demonstrasi- . demonstrasi dan aksi-aksi kebudayaan dan politik dari PKI/Lekra ber~ hasil. AMPAI, Sticusa_l2 USIS, Asia Foundation dan Peace Corps, semuanya menamatkan kegiatan masing-masing. D.N. Aidit waktu menanggapi ofensif kulturil ini dengan bangga berkata bahwa ofensif kulturil di kalangan rakyat sangat he bat hingga AMPAI terpaksa menghentikan kegiatannya_13 Sudah pasti rakyat yang dimaksudkan Aidit ad~ lah mereka yang menjadi anggota-anggota dan pengikut-pengikut PKI dan lain-lain ormas yang di bawah naungan PKI. Penyibaran ideoloji komunisme diperhebatkan Lekra lewat lembagalembaga di bawahnya. Lembaga-lembaga itu ialah Lembaga Sastra Indonesia, Lembaga Senirupa Indoe ~ ia, Lembaga Musik Indonesia, Lembaga Film Indonesia, Lembaga SeQidram<J Indonesia dan Lembaga Ilmu Indonesia. Dalam Lembaga Senidrama Indonesia dimasukkan juga drama-drama tradisionil seperti ludruk, lenong, ketoprak, wayang orang dan sebagainya. Tjak Bowo dari sandiwara ludruk "Marhain" dan Sudjadi dari Sandiwara "Kridomardi" menjadi tokoh Lekra terpenting dalam kedua buah cabang ,kesenian tradisionil ini.14 Tokoh-tokoh Lekra yang menjadi pengurus sementara dalam Lembaga Sastra Indonesia selepas Konferensi Nasional Pertama Lekra di Solo (1959) ialah Bakri Siregar (ketua) Pramoedya Ananta Toer (wakil ketua), M.S. Ashar (sekretaris) dan anggota-anggotanya terdiri dari Samandjaja, Njoto, Joebaar Ajoeb, S. Rukiah Kartapati, S. Anantaguna dan Agam Wispi. 12. Sticusa sebuah yayasan yang ditubuh di negara Belanda oleh orang-orang Belanda yang berminat untuk mengadakan hubungan kulturil antara Indonesia-Belanda. Pernah mengadakan diskusi kesusastraan Indonesia pada t ahun 1952, dan juga menjemput sastrawan-sastrawan Indonesia melawat dan belajar di negara Belanda. An tara mereka termasuklah Pramoedya, Sitar Situmorang, Takdir Alisjahbana dan Asrul Sani . 13. Lihat D.N. Aidit, "Hajo bersama-sama Bung Karno kita bina kebudajaan jang berkepribadian Nasional". Zaman Baru, (Disember 1964), h . 1-3 > 14. Laporan Kebudajaan Rakjat (I), h . 89. 39 djogja fights back ·' I Benteng keyakinan agama merupakan suatu halangan terbesar untuk PKI meluaskan ideoloji komunisme. Sikap permusuhan terhadap agama itu pernah dikemukakan V.I. Lenin dalam tulisan-tulisannya di mana ia mengganggap agama sebagai alat borjuis mempertahankan eksploitasinya terhadap rakyat, dan mengkhayalkan kelas peketja untuk membangun merebut hak-haknya.l5 Guna mempengaruhi rakyat terhadap pahaman komunisme itu harus dijalankan aksi-aksi pembasmian keyakinan beragama, atau sekurang-kurangnya menganggap soal agama sebagai soal yang remeh saja. Karena di Indonesia sebilangan besar dari ·warganegaranya beragama Islam, maka PKI meningkatkan aksi-aksinya untuk menentang ulama-ulama dan agama Islam dengan berbagai cara. James L. Peacock,l6 dalam penyelidikannya tentang ludruk di Surabaya menceritakan bahwa ludruk itu sangat diminati oleh kaum buruh di sana, dan dalam kebanyakan pementasannya tema-tema anti-kolonial ') /\.,<. 'Belanda dan anti-Muslim yang diketengahkan. Hal ini disebabkan ke~ \<. ~ ~ banyk dari pemain-pemain ludruk terdiri dari Muslim abangan yang _,,.-"'"'"'( lebih banyak menaruh perhatian pada rituil-rituil dan kepercayaany V ~ k~percayn Jawa tradi~onl dari me~ang_ prinsip-prinsip _dan aj~rn tv;. ~ - ~ 'diaran Islam yang murm. Dengan ~emtkan ~1hak ab~ng senngkah ber~ushan dengan_ golongan santn yang lebth murm tanggapan_agama. - . ~ .~ <\D- - ~ 1ya.7 Menyedan bahwa kebanyakan penduduk-penduduk Bah sangat ~ ,<JV"' kuat sekali berpegang pada agama Hindu-Bali, pihak PKI/Lekra mencuba membuat ~istor tentang tarian-tarian dan lain-lain aspek kehidupan beragama suku-bangsa Bali_18 Menurut keterangan dari beberapa orang ternan penulis, pemain-pemain ludruk dari Lekra pernah mementaskan cerita-cerita tentang Tuhan telah mati di Jawa Tengah. Dalam bidang kesusastraan pengarang-pengarang Lekra membawakan tema-tema anti-ulama-ulama Islam yang dilukiskan sebagai tuantanah yang kejam, pemeras rakyat dan menjadi simpatisan pada gerakan Darul Islam. Tokoh haji seringkali dijadikan bahan ejekan dan bahan hinaan, dan haji-haji yang mencuba mempertahankan nilai-nilai agama 1. ... 15. Lihat V.I. Lenin, "Attitute of the Workers' Party towards Religion," dalam V.I. Lenin, Marx, Engels Marxis1J1 . 5th English edition. Moscow: Foreign Language Publishing House, 1953, p. 302. 16. James L. Peacock, "Anti-Dutch, Anti-Muslim Drama Among Surabaja Proletarians: A Description of Performances and Responses", Indonesia, no. 4, (Oktober 1967), Modern Indonesian Project, Cornell University, Ithaca, New York, p. 44-73. 17. Keterangan lanjut sila baca Cliffd{d Geertz, The Religion of java. Paperback edition, London: The Free Press'of Glencoe, 1964, 392 pp. 18. Ronald McKie dan Beryl Bernay, Zoe. cit. 40 djogja fights back dan moral dianggap bodoh, picik dan ketinggalan zaman.l9 Demikianlah berbagai watak haji yang buruk diketengahkan dalam Sajang ada Orang l!!:fE_, Si Kampeng dan Si Sapar tiga buah karya Utuy Tatang Sontani. Pramoedya Ananta Toer pula mengarang 8_ekali Peri£tiwa di Banten, Selatan yang memperkenalkan watak Musa, seorang yang bersipat sebagmpemeras kekayaan rakyat dan simpatisan Darul Islam. Karya Pramoedya ini dijadikan drama oleh Dhalia dan diberi judul OJ:tmgg. Baru dari Banten. Dalam Midah si Manis Bergigi MP.s Pramoedya melukiskan watak haji yang mela-;ang anak gadisnya dari memainkan platplat lagu keroncong. S. Rukiah, seorang anggota Lekra juga, membawa , tema anti-agama dalam Kj!_djatuhan dan Hqti. Puncak penyerangan PKI/Lekra terhadap ulama-ulama Islam ialah .D _ L penyerangan PKI/Lekra terhadap ulama Hamka. Seorang penulis bernama Abdullah Sp. seorang anggota staf Bintang Timur, menulis da-n / lam harian tersebut pada tanggal 7 September 1962 mengatakan bahwa ~ _q y karya Hamka Tenggelamnja Kapal van der Wijck sebagai basil plagiaris- ~ ,((vrv• ~· me dari karya pengarang Mesir Manfaluti.20 Polemik tentang karya ~ ~-· , '' Hamka itu berlanjutan sekian lama hingga akhirnya mendapat tanggap- V~ an pula dari orang lain. H.B. Jassin, kritikus Indonesia terkenal, dalam , menanggapi persoalan ini an tara lain menulis: . ._ "Memang ada kemiripan dalam plot, ada pikiranz dan gagasanz jang mengingatkan pada 'Magdalena' Manfaluti, tapi kepandaiannja melukiskan lingkungan masjarakat dan menggambarkan alam serta menusianja, kemahiran melukiskan selok belok adat istiadat, serta keahliannja jang membentangkan latarbelakang sedjarah dan masjarakat Islam di Minangkabau, mengangkat tjeritakannja itu djadi tjiptaan Hamka sendiri."21 Sebenarnya persoalan plagiarisme itu menjadi helah belaka untuk menghina Hamka di kalangan pemeluk-pemeluk agama Islam di Indonesia, Tokoh-tokoh PKI/Lekra mengetahui bahwa Hamka seorang ulama modenis terkenal dan berpengaruh di kalangan masyarakat Indonesia. Dalam bidang agama mereka tidak bisa menggugat Hamka. Maka Y V, 19. Lihat H . B. Jassin, "Ketjendemngan Negatif dalam Kesusastraan Indonesia," dalam Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (IV). Djakarta: Gunung Agung, 1971, h . 110-114. 20. Keterangan lanjut sila baca Junus Amir Hamzah dan H. B. Jassin, Tenggelamja Kapal van der Wijck dalam Polemik. Djakarta: Mega Book Store, 1963, 198 halaman. 21. Lihat juga H.B. Jassin, "Apakah Tenggelamnja Kapal van Der Wijck Plagiat?" dalam Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (I). Cetakan ke 4, Djakarta: Gunung Agung, 1967, h. 165 41 djogja fights back dicarilah als ~ -alsn untuk menunjukkan "kepalsuan" dan "ketidakjujuran" Hamka. Lebih-lebih lagi mengingatkan Hamka seorang ulama yang radikal dan juga seorang novelis- satu kombinasi yang sukar didapati dalam masyarakat pemeluk agama Islam di Indonesia/Malaysia. Cita-cita PKI/Lekra untuk menjatuhkan Hamka gaga! dan persoalannya tidak diungkit-ungkit lagi. Namun itu tidak bermakna PKI mendiamkan diri . Bilamana Hamka membuat kecaman-kecaman yang pedas terhadap rejim Soekarno, maka kesempatan itu dipergunakan oleh PKI untuk menjatuhkan Hamka. Oleh sebab Hamka tidak mempunyai massa yang kuat untuk mendukungnya, maka Hamka dengan gampang dijebloskan ke dalam tahanan oleh rejim Soekarno. Dengan jalan itu Hamka tidak bisa lagi mempengaruhi rakyat Islam, dan ini adalah suatu kemenangan juga bagi PKI/Lekra. "Politik adalah Panglima", konsep budaya dan sastra Lekra itu, terusmenerus meningkat kegiatannya. Dengan slogan-slogan "kembali kepada kebudajaan jang berkeperibadian nasional", serta melemparkan tuduhan-tuduhan "anti-Manipol", "kontra-revolusi" dan lainlain panggilan nama yang bersipat permusuhan terhadap penentang! penentang PKI, Lekra menjadi suatu organisasi yang sangat ditakuti ~ .A S o / ~), oleh . budaywn-~ s.ert~ sastrawan-sastrawan y~ng no-~c 9 1\1"" p l · mums. Rupanya taktik PKI d1 b1dang kebudayaan rnenank perhat1an ~ tAT\ ; partai-partai politik lain untuk me!ldirikan pula organisasi-organisasi · 0 • ~ultri di bawah naungan partai. Kira-kira sekitar akhir tahun SOan rr"' n - ~ Vv ' PNJ mendirikan ~ sebagai organisasi kebudayaannya yang diketuai • oleh sastrawan Sitor Situmorang. Nahdatul Ulama pula mendirikan v-' esbumi yang.antara tokoh-tokohnya termasuklah sastrawan- sutradara aji Asrul Sani dan sastrawan-sutradara Usmar Ismail almarhum. Bernaung di bawah partai politik seolah- olah memberi jaminan "keamanan" kepada budayawan dan sastrawan dari pengganyangan PKI/ Lekra. Sikap akomodasi diri dan kreativitas menurut suasana politik dewasa itu dilakukan oleh sebilangan besar kaum budayawan dan sastrawan juga cendekiawan. Mereka yang bernaung di bawah organisasi kulturil partai harus menerirna dasar dan sikap partai yang berlaku diwaktu itu. Kepada seniman, budayawan dan intelektuil yang tidak bernaung di organisasi kebudayawan partai, kedudukan mereka bawah man~ sangatlah sulit." Mereka sering menjadi sasaran kecaman dari ora·ngorang politik, khasnya dari golongan Lekra. Posisi mereka sebagai intelektuil bebas menjadi kritirium yang baik dan terhormat di kalangan masyarakat terpelajar Indonesia. Mereka mencuba sedaya upaya mene42 djogja fights back gakkan konsep-konsep intelektuilsme yang objektif tanpa menghiraukan konsep-konsep budaya yang bersumber pada politik kiri orang-orang Lekra dan LKN itu. Oleh karena posisi mereka sebagai intelektuil be bas, niaka Lekramencuba menjatuhkan posisi mereka yang penting itu dengan menggunakan slogan-slogan serta tuduhan-tuduhan yang berbau politis. Tokoh kesusastraan yang penti-:1g yang hendak dijatuhkan PKi jLekra ialah Drs. H.B. Jassin yang pernah dibcri gelaran "Paus kesusastraan Indonesia modern" oleh sastrawan-budayawan Gajus Siagian. Sejak awal SOan H.B. Jassin telah dikec . ~m oleh pengarang-pengarang Lekra karena beliau menganut pahaman!J humanisme universil yang diidentifikasikan oleh Lekra sebagai "reaksioner", penganut "art for art's sake", "kosmopolitan", "individualistis", "anti-rakyat" dan lain-lain tuduhan yang punya konotasi politik yang jelek. Serangan kedua terhadap ketokohan H.B. Jassin berlaku bila majalah Sastra di bawah redaksi H.B. Jassin memberikan hadiah kepada pemenang-pemenang dalam bidang cerpen, puisi, cerita bersambung dan seorang anggota LKN, menolak hadiah tersebut, esei. V~n, begitu juga Motinggo ~esj, kedua-duanya pemenang dalam bidang cerpen. Poppy Butagahmg yang memenangi hadiah dalam bidang puisi, juga menOiak. Alasan mengapa Virga Belan menolak hadiah tersebut bisa dipahami karena sebagai anggota LKN yang bernaung di bawah partai PNI ia diseret untuk memasuki kamp PKI oleh partainya. Motinggo Boesje menolak dengan rnembuat alasan bahwa panitia Sastra kurang hati-hati dalam penilaian cerpen, karena cerpen yang memenangi hadiah Sastra itu pernah ditolak oleh redaksi Sastra sendiri sebelumnya. Tapi umum berpendapat bahwa Motinggo telah dipengaruhi suasana politik diwaktu itu, di mana seorang seniman harus berani mcmbuat perhitungan untuk berani ujud sebagai seniman yang bebas ataupun sebaliknya menggantungkan harapan pada suatu pendapat umum yang bersipat politis diwaktu itu. Poppy Hutagalung, seorang penyair yang baru muncul "terpaksa" menolak hadiah Sastra setelah '.'diinterview" oleh orang-orang Lekra dan mengingatkan pula bahwa kekasihnya diwaktu itu seorang anggota Lekra.22 Issue penolakan Hadiah Sastra23 tahun 1962 digunakan oleh PKI / 22. Interview dengan H. B. Jassin. 23. Daftar pemenang-pemenang Hadiah Sastra adalah seperti di bawah 1111: Bidang cerpen: Bur Rasuanto, Motinggo Boesje dan Virga Belan. Bidang puisi : Saribi Afn, Piet Ardijanto Suprijadi dan Poppy Hutagalung. Bidang cerita bersambung: B. Sularto, Djamil Suherman dan Usamah. Bidang esei: Goenawan Mohammad, D.A. Peransi dan Hartojo Andangdjaja. 43 .. djogja fights back • Lekra untuk m ~ nghacurk kekuatan H.B. Jassin. Pramoedya Ananta Toe dan Sitar Situmorang banyak sekali membuat kecaman terhadap H.B. Jassin. Bukan saja penyerangan-penyerangan dari orang-orang Lekra dan LKN bersipat peribadi, tapi juga Lekra sanggup memalsukan taligram Us2.mah, seorang pemenang dalam bagian cerita bersambung, seolah-olah Usamah juga turut menolak hadiahnya. Ini ketahuan bila Usamah 5endiri mengirimkan taligram menyatakan penerimaan hadiah Sastra tidak lama selepas itu.24 Dengan demikian kepalsuan PKI/Lekra terdedah. Serangan PKI/Lekra lwli inipun tidak meninggalkan bekas. 01 Menggunakan §lnah, pemalsuan dan melemparkan tuduhan yang l erhahaya untuk menakutkan orang-orang y~ng menentang PKI/Lekra, bukan suatu taktik PKI yang luar biasa. Segala macam hasutan, fitnahan dan segala macam kelihaian untuk "membunuh" penentangan dari rang-orang lain dilakukan, karena PKIJLekra memperjuangkan satu ikap kulturil, iaitu "Politik adalah Panglima" yang tidak mengenal kompromi apa pun asalkan tujuan mereka yang akhir tercapai. Saudara Arief Budiman, sem·ang budayawan juga seorang saikoloog, telah membuat suatu studi tentang pengaruh politik dalam kesusastraan Indonesia, an tara lain berkata: "Periode 1961-63 meskipun terdjadi polemik jang sengit jang sipatnja sudah berbentuk tuduhanz kasar dari pihak komunis, tidak melahirkan satu tindakan jang kongkrit dalam bentuk disingkirkannja H.B. Jassin dari posisi kekuasaannja dalam dunia kesusastraan. Tapi periode ini merupakan periode pematangan bagi periode berikutnja dengan muntjulnja Manifes Kebudajaan".25 Soeb.rno sebagai hero dengan gigih diperjuangkan oleh PKI/Lekra dan partai-partai fOlitik yang lain. Karena cita-cita politik Soekarno mempunyai garis yang sama dengan cita-cita komunis, maka PKI mendesak supaya cita-cita Soekarno dilaksanakan sepenuhnya di Indonesia. Pembelaan Bung Karno terhadap PKI dalam pidato-pidatonya sejak 1960 (Jarek), dan pelaksanaan kabinet Nasakom pada tahun 1961 dan pelaksanaan indoktrinasi ajaran-ajaran Soekarno, yang pada dasarnya mempunyai kesanwan dengan ajaran-ajaran komunis, disambut baik oleh PKI dan ormas-ormasnya. Lebih-lebih lagi bilamana Soekarno dalam pidatonya pada tahun 1963 antara lain ~ berkat bahwa "buruh 9. ,ri; 1 , ~ ll'l ;w- Q. rJ ~ ,. 24. Taligram asli dari Usamah dan juga surat penerimaan hadiah Sastra masih disimpan oleh H.B. Jassin hingga sekarang. 25. Lihat Arief Budiman, "Kekuatan Politik dalam Kesusastraan Indonesia: Sebuah Tindjauan Sedjarah," tulisan tangan dalam simpanan arsip H.B. J ass in yang bertanggal 26 September 1968. - . ~ 44 djogja fights back dan tani adaJah sokoguru Revolusi".26 Sesuai dengan ajaran PKI dan ajaran-ajaran Soekarno, maka Menteri PTIP pada tanggal 5 April 1962 "menetapkan bahwa Pantjasila dan Manipol, begitu djuga agama mendjadi mata peladjaranjang diharuskan diperguruan-perguruan tinggi terhitung mulai tahun peladjaran 1962/ 1963. " 2'1 Bukan saja di bidang pendidikan nasional sudah dimasukkan indoktrinasi ajaran-ajaran Soekarno, tapi juga dalam bidang kulturil. Menyentuh tentang segolongan para pengarang dan cendekiawan yang mau menghirup udara bebas dalam penciptaan mereka, pihak pemerintah diwaktu itu an tara lain menegaskan: "Kaum tjendekiawan banjak jang tidak bertjermin kepada rakjat terbanjak jang mendjadikan sokoguru dar:pada Revolusi kita. Banjak dikalangan mereka jang lebih suka mempeladjari segala sesuatu jang bersumber kepada kalangan mereka sendiri. Mereka mengadji rasa dan pikiran mereka sendiri, serta memberi maaf kepada tjatjatz mereka sendiri sambil membelanja. Sebaliknja mereka tidak setjara sungguhz mendekati rakjat djelata jang terdiri dari berbagai golongan: buruh, tani dan tentera dan lainz. Mereka tidak berusaha untuk mendidik dan memberi bantuan kepada rakjat, terutama jang masih buta huruf, untuk ikut serta berdjuang serta menikmati hasilz kemerdekaan, terutama dibidang seni dan sastra ... . Kita harus berani membongkar alat-alat jang lama dan membangunkan jang baru untuk meneruskan perdjuangan diatas rei revolusi .... Para seniman dan sastrawan kita harus dapat menundukkan dan menelandjangi ketjenderungan kaum tjendekiawan jang terlalu bersipat kosmopolitan. Kritik jang tadjam dan sindiranz jang berarti dalam bentuk serbaneka harus dilantjarkan terutama untuk memutarbalik pandangan mereka terhadap rakjat banjak. Terhadap rakjat jang hakekatnja mendjadi pentjipta sedjarah, para seniman dan sastrawan kita harus dapat memberikan pudjian dan ... "28 penghargaan jang s~metinja 26. Baca pidato Bung Karno, "Genta Suara Revolusi Indonesia", tanggal 17 Agustus 1963 dalam Bahan-bahan Pokok lndoktrinasi, h. 579 27. Lihat, "lchtisar Tahunan Tertulis tentang pelaksanaan Ketetapan MPRS, No . 11, tahun 1960 mengenai Pembangunan Nasional Semesta Berentjana, Tahapan Pertama 1961-1969" dalam Bahan-bahan Pokok lndoktrinasi, h. 861. 28. Lihat Kebudajaan dan Pendidikan Nasional: Pola Pembangunan Nasional Berentjana. Djakarta: Balai Pustaka, 1964, h. 21 45 ...' . djogja fights back Ketetapan-ketetapan yang dilaksanakan dalam bidang pendidikan ~ nesia mengakibatkan pelarangan penerbitan dan penyitinggi di Ind baran karangan- karangan yang pernah ditulis oleh pengarang· pengarang dan sarjana-sarjana Indonesia yang meninggalkan Indonesia sewaktu konfrantasi Indonesia-Malaysia dulu. Buku-buku karangan M. Balfas, Sutan Takdir Alisjahbana dan Idrus dilarang untuk pemakaian di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi diwaktu itu.29 Karangan-karangan dari pencetus dan pendukung Manifes Kebudayaan juga dilarang, khasnya buku-buku karangan H.B. Jassin. Karangan-karangan orangorang Lekra yang pernah dilarang penerbitan dan penyibarannya seperti karangan Pramoedya Ananta Toer Hoa Kiau di Indonesia (Maret 1960), dan JI!Jatinya Seorang Petani karangan Agam Wispi dan kawankawannya, kini dicabut pelarangannya.30 Ini disebabkan kedua pengarang tersebut rnenjadi tokoh Lekra dan pada waktu itu PKI menjadi partai politik yang terkuat. H.B. Jassin yang menanggapi masalah di atas bertanya bagaimanakah kumpulan sajak Sural Kertas Hidjau dan Dalam Sadjak, dua buah kumpulan puisi Sitar Situmorang yang pernah dianggap iseng dan dekaden oleh orang-orang Lekra, tiba-tiba saja dianggap sebagai puisi-puisi yang representatif revolusioner? Apakah karena pengarangnya menjadi tokoh LKN yang sejiwa pikiran politiknya dengan PKIJLekra? Memang dctsar politiklah yang menjadi ukuran orang-orang Lekra dan LKN. Sebab itu dalam Pameran Buku Nasional yang diadakan pada tahun 1965, buln~-k yang terbit sebelum 1965 yang dikarang oleh pengarang-pengarang yang non-Lekra dan non-LKN tidak dimasukkan ke dalam daftar buku-buku terbitan sebelumnya dan tidak dipamerkan dalam pameran tersebut.31 Sikap yang sama juga dilakukan oleh panitia . Pameran Dokumentasi Kesusastraan Indonesia Modern yang juga tidak mempamerkan buku-buku karangan pengarang-pengarang Lekra.3 2 Kritirium politik ini nampaknya tidak saja dilakukan oleh orang-orang 29. Ketiga orang pengarang Indonesia ini berada di Malaysia sewaktu konfrontasi:· Takdir menjadi ketua Jurusan Melayu ci Universiti Malaya, M. Balfas bekerja di Suara Malaysia, Radio Malaysia. Idrus bekerja sendiri sebagai penerbit tetapi mempunyai hubungan rapat dengan Suara Malaysia . 30. Diterbitkan oleh Lekra. Mulai 22 November 1962 dilarang diedarkan oleh Peperda Djakarta Raya, S.P. rio. 130/62. 31. Lihat H.B. Jassin, "Ketjenderungan Negatif dalam Kesusastraan Indonesia", h. 113. 32. Pameran ini disponsor oleh Dewan Kesenian Djakarta, Direktorat Bahasa dan Kesusastraan dan Ikatan Penerbit Indonesia yang diadakan dari 11 s/d 17 November 1968 di Djakarta. 46 djogja fights back Lekra tapi juga dilanjutkan lagi selepas kemenangan Orde Baru. Tidak mengherankan kita sekiranya Prof. Dr. Prijono yang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan diwaktu itu dalam salah satu pidatonya menganggap pengarang-pengarang dan seniman Indonesia yang terkemuka adalah Pramoedya Ananta Toer, Rivai Apin, Asr ~ l Sani, Trisnojuwono, Sitar Situmorang, Utuy Tatang Sontani, Rukiah Kertapati, Nh. Dini, Ajip Rosidi dan Dodong Djiwapradja".33 Kecuali Nh. Dini,.A;'y.> R.s Asrul Sani dan Trisnojuwono, semuanya adalah anggota-anggota Lekra dan LKN. Apakah akibat dari penyerangan-penyerangan dari pihak Lekra dan LKN dalam bidang kulturil di Indonesia? Pertama-pertama, timbul semacam ketakutan di kalangan budayawan-budayawan dan senimanseniman serta kaum intelektuil Indonesia dalam dunia mereka sendiri. Mereka takut untuk mencipta sesuatu yang bisa menggugat posisi mereka sebagai seniman dan intelektuil sekiranya mereka menulis karangan-karangan, dan mencipta kreasi-kreasi kesenian yang dianggap "kontra-revolusi", "anti-Manipol", ataupun "anti~rky. Sikap pemerintah diwaktu itu sudah mengambil garis perjuangan PKI dalam bidang kebudayaan di mana sokoguru mereka adalah terdiri dari kaum tani, buruh dan perajurit .seperti mana yang pernah dipidatokan D.N. Aidit pada KSSR. Kebanyakan dari para sastrawan yang kami temui berkata, m~reka terpaksa menyimpan karangan-karangan mereka dalam almari dan menunggu saja saat yang baik untuk diterbitkan. Ada juga pengarang-pengarang yang non-komunis, non-Lekra dan rion-LKN yang meneruskan kegiatan mencipta dan menjaga kepentingan sosial mereka dengan secara sedar memaksakan diri untuk menerima ManipolUsdek Soekarno dan sebagainya. Menurut S. Tasrif: "Dizaman rejim Soekarno peranan kaum intelektuil Indonesia tidak dapat dibanggakan, oleh karena sebaliknja daripada mengeluarkan suara untuk menentang berbagai kezaliman dan penjelewangan Soekarno, mereka kebanjakannja mendjadi "clique and claqeurs" dari Soekarno".34 Pengarang-pengarang harian yang berani menentang suasana .politik yang ditunggangi PKI' dimasa itu seperti Rosihan Anwar dari Pedoman dan Mochtar Lubis dari Indonesia Raya, melihat harian-harian mereka dilarang oleh pemerintah Soekarno. Mochtar Lubi~ yang terlalu lantang 33. Lihat Prijono, Glimpses of Indonesian Education and Culture. Djakarta: Balai Pustaka, 1964, h. 14. 34. Lihat S. Tasrif, "Situasi Kaum Intelektuil di Indonesia", Budaja Djaja, no. • 4 th. 1 (September 1968), h. 201 47 djogja fights back •~ · ~- mengecam rejim Soekarno dimasukkan ke dalam tahanan. Harianharian yang pro-Masjumi- dan PSI seperti Abadi, juga harian Merdeka, dilarang penerbitannya. Dengan demikian mass media untuk kaum sastrawan dan intelektuil bersuara dan menyatakan pendapat-pendapat mereka secara bebas tersekat sudah. Suasana politik diwaktu itu tidak memungkinkan dialog dan hanya slogan-slogan politik "progresif revolusioner" saja yang memenuhi kolong langit Indonesia. t . (,7e.f- _e .q({ 48 djogja fights back BAB KELIMA PEMBAHASAN TERHADAP ALIRAN REALISME SOSIALIS ~ Ilium yang mencetuskan realisme sosialis sebagai satu aliran dalam kesusastraan bersumber dari ajaran Karl Marx dan Friedrich Engles yang antara lain mengatakan, "§.ejarah eksistensi masyarakat sejak mula ~"' hingga kini adalah sejarah pertentangan klas."l Bersamaan dengan per-(.; tentangan kelas tersebut diajukan pula konsep historical materialism yang mengatakan bahwa institusi politik dan kehidupan intelektuil cialam masyarakat ditentukan oleh anasir-anasir ekonomi y3ng menjadi basisnya.'2' Dalam masyarakat timbul dua "forces" yang bertentangan, yang apabila bertentangan antara keduanya itu nanti akan melahirkan force ketiga yang mempunyai warisan dari kedua forces yang ber. tentangan tadi. Konsep ini diberi nama dialectical materialism yang pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli filsuf Jerman, Hegel. 3 Marx mengemukakan satu tiori lagi yang diberi nama Theory of surplus value yang menyatakan bahwa labour (kerja) adalah satusatunya pencipta nilai (value). Gaji yang diterima oleh kerja adalah kurang ddrijumlah nilai (total value) yang didapatinya. Nilai yang lebih 1. Karl Marx dan Friedrich Engels, "Sosial Reality as Class Struggle," dalam The Modem Tradition: Background of Modern Literature. Richard Ellman and Charles Feidelson, Jr. (ed). New York O.U.P., p. 329 2. Lihat Moshe Deeter, The Profile of Communism. A Fact by Fact Primer. 2nd. print. New York: Collier Books, 1966, p. 22. 3. Lihat Siegfried Marek, "Dialectical Materialism" dalam History of Philosophical Systems. Vergillus Ferm (ed.) New Jersey: Littlefield, Adams, 1961, p. 306-314. 49 • djogja fights back ~ <1.) ~ 1 y· ..) ..~Nienal · }V (the surplus value) itu direbut oleh kapitalis yang mengeksploitasikan kerja itu. Inilah yang diartikan Marxisme sebagai ketidakseimbangan ~ .4 Dengan demikian tiori Marpersamaan dalam masyarakat kapitl xisme mencakupi empat prinsip doktrin tersebut. Atas dasar Marxisme itulah nilai dan metode kesusastraan yang didengan nama realisme sosialis timbul. Kesusastraan pada kaum Marxis bukan menjadi barang luks, tapi alat yang ampuh untuk memperjuangkan kelas pekerja, buruh dan tani guna mencapai tujuan dan cita-cita Partai. Realisme sosialis yang demikian rupa tumbuh di UniSoviet pada tahun 1932 yang lebih terkenal dengan nama Dzadanov Line. Rene Wellek yang menanggapi realisme sosialis berkata: "The term covers a theory which asks the writer, on the one hand, to reproduce reality accurately, to be a realist in the sense of depicting contemporary society with an insight into its structure, and, on the other hand, asks the writer to be a socialist realist, which in practice means that he is not to reproduce reality objectively but must use his art to spread socialism: that is, communism, the party spirit, and the party line." 5 Terjemahannya kira-kira demikian. Istilah itu mencakupi satu tiori yang meminta pihak penulis mereprodusir realitas setepat-tepatnya untuk menjadi seorang realis dalam pengertian menggambarkan masyarakat kontemporer dengan mempunyai 'insight' pada strukturnya. Dipihak lain pula realisme sosialis meminta penulis menjadi realis sosialis, yang dalam prakteknya membawa pengertian bahwa ia tidak mereprodusirkan realistas secara objektif tetapi menggunakan scninya untuk menyebarkan sosialisme, iaitu komunisme, semangat partai dan garis partai. Oleh karena aliran realisme sosialis ini pertama-tama bcrkembang dan berpusat pada kesusastraan Uni-Soviet, maka kita dapati setelah diletakkan garis politik partai pada kesusastraan, maka kesusastraan UniSoviet dijadikan alat dalam pembentukan ideoloji . massa pekerja menurut serr,angat sdsialisme. Dengan demikian kesusastraan menjadi didaktik yang sangat menjolok, dan bersipat idealistis dalam pengertian bahwa kehidupan yang dipancarkan itu bukanlah kehidupan yang kontemporer, tapi kchidupan apa yang scharusnya menjadi idealisasi me4. Moshe Deeter, op. cit., p. 23 5. Lihat Rene Wellek, Concepts of Criticism. Edited with an introduction by Stephen G. Nichols, Jr. New Haven dan London: Yale University Press, 1964,p. 346 50 " djogja fights back nurut Marxisme. 6 Menurut Rene Wellek lagi kritikus-kritikus Marxis yang baik memahami bahwa seni memerlukan watak, imagi, aksi dan perasaan. Sorotan atas konsep "type" merupakan sebagai jambatan antara realisme dan idealisme. "Type" tidak bermakna sesuatu yang umum atau yang representatif, tapi sesuatu "type" yang ideal, sesuatu ''model" atau sesuatu hero yang harus dicontohi pembaca-pembaca dalam kehidupan yang aktull. 7 _ ~ e,. "' Nilai-nilai dan sikap individualisme tidak bisa dipraktikkan dalam ~ . j.Jv' · kesusastraan realisme sosialis. Watak buruh, tani dan perajurit harus ~ ~ di~nagk dalam ciptaan-ciptaan atau kreasi-kreasi realisme sosialis '7 ~ tanpa keraguan apapun. Golongan penghisap seperti tuantanah, kapitalis, . rJ' .., golongan agama, feodal harus digambarkan sejelek-jeleknya, karen ~ menurut realisme sosia!is, golongan-golongan tersebut tidak mempunyai ~ '\1\ . / nilai-nilai kebaikan langsung. Demikianlah Prof. Bakri Siregar yang y• 1 ~ menyorot dari kacamata Marxisme menganggap watak Sjamsulbahri ~Ji. dalam Sitti Nurbaja karangan Marah Rusli bukan sebagai watak hero .-\' karena ia memperjuangkan kepentingan politik Belanda, tapi sebaliknya v ) Datuk Meringgihlah yang dianggap hero karena ia menentang pemerintah Belanda walaupun sebenarnya Datuk Meringgih seorang kaya yang memeras. Di sini kelihatan bahwa anti-kolonialisme itulah yang menjadi perhitungan Bakri Siregar dalam bukunya Sedjarah Sastra Indonesia Modern (l).B adalah pokok konsep sosialisme dan komunisme. ~ Pertentangan kel~s Gejala- gejala naluri dalam diri seorang individu yang sering bertentang- ) 11 A I an tidak menjadi perkiraan. Kepada komunis perjuangannya terletak • ·.£...) V kepada keseluruhan man usia yang tertindas, daJlbpkan man usia sebagai ~ ~ 1 individu. Disinilah kelihatan ~etap tidak wajarnya konsep realisme., · ¥Y"' sosialis · ai manusia dan kemanusiaan itu. Sastra sebagai alat propaganda untuk "membangun" kesedaran rakyat dan politik massa adalah wajar bagi kaum komunis dan sosialis. Menurut Lenin masyarakat proletar harus didorong, digodok u~tk menyertai perjuangan kaum tidak dilakukan dem\kian, kaum proletar akan komunis karena, ~ekirany kern bali tinggal dalam dunia mereka yang beku. 9 Dengan lain perkataan l) penciptaan sastra dan seni yang be bas, hasil dari pengalaman individu dan intuisi sendiri yang memberikan jalur-jalur indv . ualisme , da~m :o ::- . l 6. Rene Wellek, Zoe. cit., p. 346 7. Rene Wellek, ibid., p . 347 8. Lihat Prof. Bakri Siregar, Sedjarah Sastra Indonesia Modern (I) h. 52. A. Praeger, 1965, 9. Lihat Alfred G. Meyer. Leninism. New York: Fred~ick > p. 37-65 51 djogja fights back " ~ i' ~ _;.r: .- Y ~ ~ ~ 1 ~ ~ . penciptaan sastra, tidak bisa diketengahk!ln. Setiap kreasi sastra dan seni harus disesuaikan dengan perintah dan tujuan komunis. Kebebasan untuk mengkritik secara jujur terhadap programa Partai atau ajarana]aran komuni1>me tidak bisa berlaku, dan kaum pengarang dan seniman hanya diperintah untuk memuja, memuji dan menggerakkan massa bagi kepentingan Partai dan komunisme. Pengekangan intelektuilisme inilah yang menyebabkan ban yak pengarang yang menjadi komunis atau bersimpati dengan komunisme menarik diri dari organisasi tersebut atau ideoloji tersebut seperti Ignazio Silone, Andre Gide, Arthur Koestler, Stephen Spender, Richard Wright dan Louis Fischer.lO Realisme sosialis memperlihatkan karya-karya sastra yang menent:utg, melawan dan menyr~g golongan-golongan penghisap, dan memujsl serta menyok~: kaum terhisap dan tertindas dalam perjuangan mereka, serta meningkatkan konftik-kooftik tersebut hingga tercapai revolusi.U Di sini kelihatan betapa sempitnya daerah p"enceritaan aliran realisme sosialis. Bagaimanakah sikap aliran realisme sosialis tentang konftikkonftik dalam percintaan pemuda pemudi dari kelas terhisap? Apakah konftik ya ng dihadapi mereka itu harus dihapuskan begitu saja? Atau apakah percintaan antara dua makhluk itu .harus diarah supaya mereka meninggalkan cinta yang bersipat peribadi untuk mencintai pabrikpabrik besi, pertanian dan Partai cuma? Menurut N .G. Tjernisevski cinta demikian adalah cinta anak muda yang hanya dihasilkan untuk mengisi ruang-waktu, "terlalu penuh sentimen yang tak sihat bagi orang dewasa."l2 Soal-soal peribadi yang paling inti.m, lambang-lambang individualisme dari lirik-lirik puisi yang individualistis dan yang bersipat kontemplatif ditolak oleb Marxisme_l3 Pada Marxisme masyarakat itu sendiri "menjadi sebuah karya seni."l4 Metode penilaian sastra dari aliran realisme sosialis adalah penilaian kstrinsik yang tidak bisa memberi asas yang rasional tentang estetik s~lanjuty kritik dan penilaian sastra. Menurut pendapat Rene Wellek, ~10. Lihat Richard Crossman, The God That Failed. 2nd print New York: Bantam Books, 1954. 1 L Lihat Pramoedya, "Realisme-sosialis dan Sastra Indonesia", satu prasaran pada Seminar Fakultas Sastra, Universitas Indonesia yang diadakan pada 26 Januari 1962. (stensilan sahaja). Lihat juga Donald W. Heiney, Contemporary Literature. New York: Barrio's Educational Series, 1954, p. 496-497 12. Lihat N.G. Tjernisevski, Hubungan Estetik Seni dengan Realitet. Terjemahan Samandjaja. Djakarta: Lekra, 1961, h. 154. 13. Lihat William K. Wimsatt, Jr. dan Cleanth Brooks, Literary Criticism. A Short History. Calcutta : Oxford & IBH Publishing Co. 1967, p. 479 14. Wimsatt dan Brooks, ibid., p. 479. Petikan dari Edmund Wilson. 52 djogja fights back "Penilaian dari segi sebab dan akibat (causal study) tentang kesusastraan tidaklah cocok pada penganalisaan, penguraian dan penilaian sesebuah cipta sastra."l5 Pramoedya Ananta Toer dalam tanggapannya tentang realisme sosialis pernah berkata, "Sesuai dengan logika, dan sesuai pula dengan kenjataan hidup, estetika mengambil tern pat jang terachir dalam kehidupan sosial. Perut jang lapar lebih banjak membutuhkan nasi dari keindahan .... "16 Realisme sosialis mementingkan watak-watak yang digambarkan cialam sesebuah karya sastra. Perlakuan terhadap watak-watak itu, jalan sejarah dan aksinya dalam sesebuah ciptasastra menjadi ukuran dalam kritik realisme sosialis. Apakah watak A itu memenangkan kaum penghisap atau bersipat reaksioner atau tidak? Apakah watak B itu pejuang ~ ~.A, yang gagah memenangkan kaum buruh, tani atau perajurit ataupun tidak? ~pakh si c watak yang ragu-ragu dalam lukisa~ pencipta ~a ~ a. sebagamya. Satu hal yang nyata, sebuah karya yang batk dan bermlat · dari segi Marxisme adalah gambaran optimisme dan kemenangan bagi kaum proletar dan rakyat tertindas diakhir cerita itu.. · Seorang haji adalah sama darjah kejahatannya dengan kapitalis, dengan imperialis dan borjuis karena manusia-manusia itu digolongkan ,....y kepada satu kelas- kelas penghisap. Pendapat-pendapat seumpama ini L/ ~ ,Q.adalah bertentangan dengan kelakuan manusia pada umumnya. ~ ~ · ,Jc..v-- . ~esuat ~asyrkt terdapat ju?a indvu-~ yang baik da~ yang ~ ~ · .,P' Jahat batk dan golongan penmdas maupun dan golongan tertmdas. ~ · Gejala-gejala baik dan buruk ini tetap ada dan tetap hidup. Dalam ke- ~ · hidupan biasa terdapat petani yang jahat, yang mal as; ada buruh yang jahat dan begitu juga golongan borjuis. Justru itu, untuk menyelaraskan ~ , A.. A ·. realisme sosialis dalam kreasi·sastra ia memperlihatkan secaramenjolok perkembangan watak yang dibentuk-bentuk, jalan cerita yang sengaja ~. D b). diolah-olah agar supaya sesuai dengan cita-cita komunisme, atau garis / yang telah ditetapkan Partai. Kepada kritikus Marxis tujuan akhir dalam persajakan ialah untuk mengajar dan mempengaruhi pembaca, dan bukan melihat ciri-ciri penilaian komposisi persajakan itu, dan kebenaran 'truth' yang diungkapkan ialah Marxisme.l7 Oleh karena yang diungkapkan penyair sosialis atau komunis ialah kebenaran M;trxisme, maka pengalaman-penga- P· ",ft .. I 15. Rene Wellek dan Austin W arren, Theory of Literature. Penguin, 1963, p. 108 16. Pramoedya, "Realisme-sosialis ... ", op. cit., p. 56. 17. Lihat Cleanth Brooks, Modern Poetry and the Traditions, New York: 0 . U.P. > A Galaxy Book, 1965, p. 47. 53 () djogja fights back r-! lamannya serta cita-cita yang terbendung dalam jiwanya terpaksa dihindari, dania cuma melahirkan sajak-sajak yang bersipat "exclusion", dan dengan demikian ia seolah-olah memudahkan pengalaman-penga:laman itu.l8 Bersesuaian dengan realisme sosialis maka tidak heranlah mengapa penyair-penyair yang berbakat seperti Hr. Bandaharo, Agam Wispi, Sobron Aidit, S. Anantaguna, dan Sitor Situmorang banyak sekali menghasilkan puisi-puisi pemujaan terhadap kemajuan Republik Rakyat Tiongkok, dan sipat-sipat kepahlawanan rakyat-rakyat dari negara-negara komunis yang lain. Kebanyakan puisi-puisi yang dihasilkan mereka terlalu dipengaruhi oleh hasrat yang meluap untuk memuja dan memuji kemajuan negara-negara komunis itu hingga puisi-puisi itu merupakan sebagai propaganda. Drs. M.S. Hutagalung, seorang kriti 7 kus dan sarjana sastra, sewaktu menilai kumpulan puisi Zaman Baru karangan Sitor Situmorang menganggap kebanyakan dari puisi-puisi itu bukan lagi puisi.l9 Sebagai contoh puisi-puisi yang populer di kalangan penyair-penyair Lekra, kami berikan di bawah ini. Sobron Aidit, adik kepada D.N. Aidit, sewaktu memperingati hari ulangtahun PKI antara lain menulis dalam puisinya "kawan separtai bekerdja" demikian: Orangz terus bekerdja bagaikan kuda Aku bersandar terpaku lesu Mataku kuju menembus djeradjak djendela Betapa orangz menerus madju. Kali ini keputuskan, tidak: Aku djuga ikut berlumba Biar sakit, asal dapat, tak usah terelak Masih bangga mati sedang bekerdja.2o Hr. Bandaharo yang juga menyanyikan lagu pekerja dalam puisinya an tara lain meninggalkan kata-kata puisi seperti ini: Kau, massa pekerdja Indonesia kau mati dilaut menangkap ikan kau mati menebang kaju di tengah hutan kau mati di tambangz 18. Cleanth Brooks, ibid., p. 49 , 19. Dimuat dalam Mimbar Indonesia, no. 12, th. XVIII, (Disember 1963). 20. Lihat puisinya, "kawan separtai· bekerdja" (23 Mei 1961 pada ulangtahun Partai) dalam Partai dalam Puisi. Djakarta: Yayasan "Pembaruan", 1962, h. 21 54 .. djogja fights back • kau mati dipabrik digilas mesin kau mati menjadap karet kau mati mengangkut beban kau mati di ladangz kau mati dikolong djembatan kau mati lapar di tepi pasir dimana sadja kau mati sebagai kuli dimana sadja kau terkapar menambah lapar disetiap tapa.ktanah peluh dan darah. kau tjurahkan sebag::>i pahlawan.21 Sitor Situmorang yang juga menanggapi soal pekerdja, dalam puisinya "makan roti komune" antara lain menyair: Pergaulan, setiakawan dan harapan adalah nasi, adalah roti serta bunga-buah Jang mengisi kehidupan pekerdja Djika bebas dari kebohongan, penindasan dan penipmm pendjadjahan, feodalisme dan banditisme: Pergaulan, setiakawan dan harapan kudjumpai dan kurasakan dalam komune ini. Oleh kllrena itu: Aku ingin minum dari kehangatan harapan saudaraz. Aku ingin mendjabat tangan saudaraz jang sibuk bekerdja. Aku ingin makan roti ini, roti komune, sebagai tanda pulihnja pergaulan, setiakawan dan harapan antara manusia, buat selama-lamanja dalam tjinta, tjitaz dan kenjataan dunia sosialis.22 Cinta kasih terhadap kaum tertindas dan terhisap mendapat tempat utama dalam puisi-puisi penyair-penyair Lekra dan simpatisan-nya. Petani-petani yang tidak punya tanah dan hidup menderita, kisah-kisah tragis mengenai kaum tani seringkali diungkapkan dalam puisi-puisi mereka. Dua buah kumpulan puisi masing-masing berjudul fang Ber21. Hr. Bandaharo dalam puisinya "Bangkit dan berjanjilah," dalam Dari Bumi Merah. Djakarta: Yayasan "Pembaruan", 1963, h. 49 22. Sitor Situmorang, Zaman Baru. Djakarta: Penerbitan Zaman Bam, 1961, • h. 18 55 djogja fights back . tanahair tapi Tidak Bertanah dan Matinja Seorang Petani bisa dijadikan contoh tentang tema-tema kaum tani yang kami sebutkan itu. Di antara puisi yang dicipta S. Anantaguna, penyair kumpulan fang Bertanahair tapi Tidak Bertanah yang sangat menarik adalah seperti di bawah ini: Suatu kali aku akan datang dalam mimpi aku bukan petani tak bertanah Iagi Mimpi tanah itu indah djuga kau Suminah. Suminah, o, Suminah-sama tjinta bagi bapamu miskin hanja dosa aku diusir lari kekota. Bila malam Suminah, hitungkan bintang djumlah kerdjaku di tanah bapamu tidak terbilang sebanjak tjinta kuutjapkan dikebun pisang. Bila bulan bulat Suminah peluklah tanah dari 'lembah pernah kugarap, njenjaklah tidur tanpa resah ... 23 Sebuah kisah kematian seorang petani, L. Darman Tambunan, karena ditembak oleh pihak berwadjib akibat tanah garapan, memberi dorongan kepada penyair-penyair Lekra untuk menghasilkan puisi-puisi prates sepetani tersebut. Sebanyak sebelas bagai pembelaan terhadap kemati~ orang penyair Lekra mengumpulkan puisi-puisi mereka dalam sebuah kumpulan yang diberi nama Matinja Seorang Petani. Oleh karena kumpulan puisi ini dianggap berbahaya kepada masarakat, maka pihak pemerintah nielarang penyibarannya pada tahun 1962. Di sini kami turun'kan petikan dari puisi Agam Wispi yang berjudul "Matinja seorang Petani": depan kantor tuan bupati • tersungkur seorang petani karena tanah karena tanah dalam kantor barisan tani silapar marah karena darah karena darah tanah dan darah 23. Lihat puisi S. Anantaguna " Tjinta dan Tanah" dalam kumpulan puisinja fang Bertanahair tapi Tidak Bertanah. Djakarta: Lekra, (1962), h. 34 56 djogja fights back m~utar sedjarah dari sini njala api dari sini damai abadi .. . 24 Di samping tema-tema pokok yang berkisar dalam daerah tani dan buruh penyair-penyair Lekra juga mengungkapkan puisi-puisi perjuangan seperti puisi-puisi melawan neo-kolonialisme, feodalisme dan imperialisme, dan juga mencipta puisi-puisi yang mendewa-dewakan revolusi. Sebagai taktik politik komunisme pihak Lekra juga mengh3silkan kumpulan puisi-puisi yang bertemakan perdamaian . Tidak jarang pula pihak penyair Lekra menyerang pihak lawan politik yang lain, misalnya memburuk-burukkan Darul Islam. Suatu hal. yang menarik perhatian kita bila membaca kumpulan puisi penyair-penyair Lekra ialah perasaan kekaguman para penyair terhadap pembangunan dan lain-lain aspek kehidupan bangsa-bangsa di negaranegara komunis seolah-olah meninggalkan kesan-kesan: "seni" yang mendalam hingga mereka bisa mencipta puisi tentang lawatan-lawatan mereka itu. Kumpulan-kumpulan puisi itu adalah sumbangan konkrit penyair-penyair tersebut terhadap PKI /Lekra sebagai pernyataan rasa "terimakasih" mereka terhadap bantuan yang diberikan PKI/Lekra dari segi materi dan posisi sosial mereka sebagai seniman. Sebagai pernyat~ an "terimakasih" para penyair menyumbangkan puisi-puisi yang bisa diterima oleh Partai, dan yang dikehendaki oleh Partai. Oleh.sebab negara-negara yang dilawati mereka adalah negara-negara komunis, maka nyanyian-nyanyian sang penyair haruslah bernadakan optimisfne, rasa kekaguman dan pemujaan terhadap kemenangan-kemenangan tersebut. Antara kumpulan puisi yang mempunyai latarbelakang negara-negara komtmis di luar Indonesia termasuklah kumpulan Hr. Bandaharo Dari Bumi Merah; Sahabat kumpulan Agam Wispi; Bukit 1211 kumpulan bersama Rumambi, Sudisman, F .L. Risakotta (Lekra, 1959), Dinasti 650 Djuta kumpulan bersama . Klara Akustia, Agam Wispi, S. Anantaguna, F.L. Risakotta, Njoto, Boejoeng Saleh,, Hr. Bandaharo, Sobron Aidit, T. Iskandar A.S., Subronto K. Atmodjo, Asmara Hadi dan Sjarifuddin Tandjung (Lekra, 1961). Di samping itu Sitor Situmorang menghasilkan pula kumpulan puisi Zaman Baru yang melukiskan kekagumannya tentang pembangunan di Republik Rakyat Tiongkok. 24. Kumpulan puisi ini diterbitkan oleh Lekra, 1961. Penyair-penyair yang termasuk dalam kumpulan ini ialah Agam Wispi, Amarsan Ismail Hamid, Benny Tjung, Chalik Hamid, F.L. Risakotta, Hr. Bandaharo, Klara Aku• stia, Ratini, Rumambi, Sobron Aidit, S. Anantaguna dan T. Iskandar A.S. 57 djogja fights back Sudah pasti: kita tidak bisa mengatakan bahwa semua puisi yang dihasilkan penyair-penyair Lekra bersipat propaganda, dan tidak bernilai seni. Oleh karena penyair-penyair itu menjadi anggota-anggota Lekra tidak bermakna seluruh ciptaan mereka dihancurkan oleh propaganda komunis . Masih terdapat puisi-puisi yang baik dari pena Agam Wispi, S. Anantaguna dan Hr. Bandaharo. Tapi puisi-puisi yang bernilai itu memang kurang sekali dihasilkan mereka lantaran jiwa mereka sudah dibelenggui oleh godokan ajaran-ajaran komunisme. Tema-tema puisi Lekra adalah populer bukan saja di kalangan mereka tapi juga di kalangap penyair-penyair lain yang non-Lekra. Penyair-penyair dan pengarang-pengarang yang non-Lekra juga banyak mencurahkan pikiran dan menghasilkan karya-karya tentang manusia-manusia yang melarat, kaum tani, kaum buruh yang miskin dan seribu macam kemelaratan yang lain lagi. Yang menjadi persoalan dalam ciptaan-ciptaan sastrawan-sastrawan yang menganut realisme sosialis ialah penyerahan diri danjiwa sastrawan kepada tuntutan Partai Komunis, yang memperjuangkan "Politikadalah Panglim; ". Bilamana tujuan politik mengatasi segala-segalanya maka kita merasakan sipat individualisme sang sastrawan atau seniman menjadi semakin kabur. Oleh karena realisme sosialis yang tunduk kepada kehendak-kehandak Partai itu terlalu mengongkong, maka pendukungpendukung Mamfes Kebudayaan menolak realisme sosialis yang demikian, karena "djiwa objektif jang berpangkal pada budi· nurani universil tidak selaras dengan realisme sosialis". 2 5 Acapkali para penyair dan • sastrawan digerakan oleh hal-hal yang di luar dari dirinya hingga persoalan-persoalan yang hendak dikemukakan itu kurang mendapat "kematangan" dalam jiwa penyair dan sastrawan itu sendiri. Oleh karena cita-cita Partai yang hendak diketengahkan maka dalam bidang puisi Lekra kita bersua pula puisi-puisi ciptaan D.N. Aidit, Njoto dan Sudis.).vA man yang peranan mereka lebih terkenal dalam dunia politik PKI dari ..LJ. y · dunia penyair. ~ ·~ ·. Puisi p~erti yang banyak dihasilkan oleh penyair-~ y air J_~ -\]\ Lekra seringkali membawa nada pengucapan yang sama hingga men,_,., : ~ ,. jadikan bacaan puisi-puisi demikian sangat "monotQDOU!l.". Penyair ~A seolah-olah dipaksa menyempitkan segala temanya kepada peristiwa 0 yang menitikberatkan penderitaan rakyat tertindas dan hubungan • QL ~ r • ~ / peristiwa itu dengan revolusi serta cita cita Partai. Bagi pihak Lekra ko11sep bahwa suatu pengalaman puisi adalah bersipat individuil yang • 'f - 25. Lihat lampiran ten tang Manifes Kebudayaan pada bagian akhir tulisan ini. 58 djogja fights back .. diwarnai oleh "mood" (suasana) dan persediaan seseorang seperti misalnya pendidikan seseorang, personalitet pembaca dan suasana kulturil pada waktu itu, pengaruh-pengaruh agama dan lain-lain ali ran filsafat, 26 tidak bisa diterimanya. Di sinilab. kelihatan bentrukan pendapat dan sikap antara penikmat-penikmat puisi dari mereka yang non-kornunis dengan orang-orang komunis. Sebuah puisi atau hasil seni yang baik akan me!llberikan perasaan yang tidak bercerai ,antara dunia objektif dengan objektif, dan kita merasakan bukan hidup dalam dunia yang konkrit, atau hidup daiam kebulatan individu kita, tapi lahir dari dua pertembungan subjektif dan objektif itu, suatu perasaan atau dunia baru yang sangat-sangat puitis dan indah, demikian pendapat Ernst Cassirer.27 Kontek sebuah melodinya puisi tidak bisa dipisahkan dari bentukya~prsj, dan ritmenya. Anasir-anasir formil ini adalah bagian daripada intuisi kesenian itu sendiri.28 R.G. Collingwood menganggap sebuah ciptaseni itu imitatif bila ia dihubungkan dengan sebuah ciptaseni yang dianggap sebagai contoh yang memenuhi syarat keunggulan sipat seninya; ianya dianggap representatif bila ia dihubungkan dengan sesuatu dalam "nature", iaitu sesuatu yang bukan karya seni. 29 Hal ini, kami berpendapat, ada kebenarannya bila diteliti lebih men- . dalam karya-karya sastra yang ditinjau dari kacamata realisme sosialis. Konsep realisme sosialis atau Marxisme hanya melihat dua golongan masyarakat yang sering berkonflik, masyarakat tertindas di satu pihak dan masyarakat meninda3 dipihak yang lain. Justru itu kemanusiaan yang bertendensi sosial ·sering mengemukakan imitasi realitet dalam "nature", atau masyarakat yang terdapat dalam realitet itu sendiri. Tendensi politik komunisme ditonjolkan dalam pelukisan karya sastra realisme sosialis, dan atas dasar politik inilah sebuah karya itu dinilai rnutu keseniannya. Dengan demikian sebuah karya sastra seperti Dr. Zivago karangan Boris Pasternak tidak mendapat kritikan yang baik dari kritikus-kritikus realisme sosialis di Uni-Soviet, karena karya itu dianggap pertentangan dengan cita-cita politik komunisme dan · cita-cita revolusi Uni-Soviet. Karya Sholokov yang memenangi Hadiah Nobel terpaksa dirobah empat kali untuk And Quiet Flows The Don mendapat .:• . 26. Rene Wellek dan Austin Warren, op. cit., h. 146 27. Lihat Ernst Cassirer, An Essay on Man, 12th print. New H aven: Yale University Press, 1964, p. 145 28. Ernst Cassirer, ibid., p. 155. 29. Lihat R.G. Collingwood, The Principles of Art. London: Oxford University • Press, 1963, p. 42 59 ,. . ., djogja fights back ~ .. "restu" dari partai komunis dan kritikus-kritikus sastra Uni-Sov\et. Kita mengakui pendapat Marxisme bahwa kesusastraan ialah "social enterprise". Tapi kita tidak membicarakan kesusastraan itu sebagai refleksi yang berdasarkan sosio-ekonomis, tapi sebaliknya kita menyatakan bahwa kesusastraan itu ditujukan kepada suatu grup sosial, dan pada peringkat itu ia niempunyai pengertian sosial apakah disedari atau Tidak perlu kita mendifi_nisikan grup tidak disedari oleh pengar~y. itu scbagai kelas dalam pengertian Marxisme- "a functional economic class". Memang kesusastraan itu ditujukan untuk sesuatu grup sosial atau kelas dalam pengertian M arxisme itu, tapi dalam grup yang besar itu masih ada grup-grup yang lebih kecil yang mempunyai keistimewaan-keistimewaan yang tertentu pula. Grup-grup yang lebih kecil inilah seringkali mendapat perhatian kesusastraan.30 Beberapa buah karya sastra yang dihasilkan sastrawan-sastrawan Lekra bukan memancarkan grup-grup kecil yang dimaksudkan di atas, tapi sebagai dua kelas manusia yang bertentangan. Utuy Tatang Sontani dalam sebuah karyanya yang kernama Si Kampeng31 memperlihatkan realisme s osialis seperti mana yang dikehendaki PKI/Lekra. Si Kampeng uilukiskan sebagai anak haram seorang haji yang bernama Haji Gopur. Karena didesak oleh sang anak yang hendak mengetahui siapakah ayahnya, sang ibu menceritakan rahsia yang terpendam itu. Terjadi pertengkaran antara Si Kampeng dengan ibunya. Haji Gopur mencampuri perkelahian itu, tapi dia dinasihati oleh seorang dukun supaya memberi tanahnya yang lebih kepada Si Kampeng, dan anggaplah Si Kampeng sebagai analmya sendiri: Tapi kedua-dua orang itu, tidak mau mengakui sebagai anak dan ayah antara keduanya. Terjadi pergaduhan dan dalam pergaduhan ini H aji Gopur terbunuh. Di sini jelas kelihatan pentrapan realisme sosialis di dalam sastra. Persoalan besar antara Si Kampeng dan Haji Gopur ialah soal "perdamaian" antara kedua yang tidak bisa dilaksanakan. Bukankah Haji Gopur itu seorang haji dan tuantanah? Musuh besar PKI ialah tuantanah (salah satu setan desa menurut istilah PKI), di samping imperialisme, kolonialisme dan kapitalisme. Si Kampeng dalam lukisan Utuy merupakan seorang manusia dari golongan tertindas dan teriniaya, dan ia merupakan sebagai mangsa dari kebuasan tuantanah itu. Tuantanah dalam Si Kampeng ialah seorang haji, dan haji pada interpretasi PKI/ Lekra adalah golongan agama yang -harus dibasmi. Utuy paling kon30. Lihat Graham Hough, An Essay on Criticism. London : Gerald Duckworth & Co., 1966, p. 33 31. Diterbitkan oleh Yayasan K ebudayaan Sedar, 1964, 36 halaman 60 djogja fights back -~ sekwen mengemukakan tiori pertentangan kelas dalam karyanya ini. Haji Gopur, tuantanah, tewas di tangan Si Kampeng, lambang golongan tertindas di Indonesia. Sobron Aidit juga mengungkapkan karangan-karangan yang bertemakan cita-cita politik PKI dalam sebuah kumpulan novelet dan ceritapendeknya, yang diberi nama Derap Revolusi.32 Dalam sebuah noveletnya yang bernama "Kisah Pak Kapten", Sobron melukiskan bagaimana seorang perwira tentera pada rnulanya sangat doyan memainkan plat-plat luar negeri di sebuah hotel tempat ia dan keluarganya tinggal hingga mengganggu ketenteraman orang lain. Bila ia berpindah pada sebuah rumah yang lain pak Kapten mengganggu lagi ketenteraman orang sekitar rumahnya dengan memutarkan film di tempat lalulintas orang ramai, dan mengadakan pula acara dansa a la barat dengan lagu-lagu dari plat-plat luar negeri. Bila Presiden Soekarno mengistiharkan Manipol Usdek dan seluruh rakyat Indonesia dipaksa mengunyahnya, pak kapten juga turut mempelajari Manipol. Lama kelamaan ia menjadi seda; dan menjadi manipolis yang baik. Pada mulanya pak kapten menentang anak lelakinya yang hendak belajar pada universitas di Uni-Soviet, tapi selepas menjadi manipolis yang baik ia membanggabanggakan kemajuan anaknya di negara komunis itu. Dalam perkembangan watak pak kapten, Sobron mencuba memperlihatkan "kesalahan-kesalahan dan penyelewengan-penyelewangan" yang dilakukan oleh pak kapten, karena ia masih belum mengetahui ajaran-ajaran Manipol- Usdek Soekarno yang dianggap revolusioner itu. Bukankah Soekarno dalam Manipolnya mengecam kebudayaan barat, tarian-tarian dan musik-musikan barat? Bukankah Soekarno yang menyuruh bangsa lndonesia.kembali kepada kepribadian kebudayaan nasional? Bukankah Manipol-Usdek itu ·sebagai ajaran resmi negara untuk ditrapkan dan dicamkan oleh bangsa Indonesia? Kesimpulan dari moral yang hendak ditonjolkan Sobron Aidit dalam ceritanya ialah seorang warganegara Indonesia yang baik adalah seorang manipolis yang baik, dan konsep Manipol, kepada orang-orang PKI/Lekra, adalah sebagian dari pancaran ideoloji komunisme juga. Di sinilah letaknya "nilai" karya Sobron dari aspek politik PKI/Lekra dalam kesusastraan Pramoedya menganggap karyanya Perburuan memenuhi syarat realisme sosialis karena "sjpedjuang itu achirnja menang. jang ragu2 disadarkan dan simnsnh Q.ikalal:!l<an."33 Bila dibandingkan Perburuan 32. Diterbitkan oleh Lekra, 1963, 188 halaman. J3. Pramoedya, "Realisme sosialis ... ", h. 52 61 c djogja fights back .•' yang memenangi hadiah pertama Balai Pustaka pada tahun 1949,34 dengan karya-karya Sobron Aidit Derap Revolusi dan Utuy Tatang Sontani Si Kampeng, sudah pasti kita melihat jarak perpisahan estetis yang besar antara karya-karya itu. Unsur-unsur propaganda dalam Perburuan tidak begitu ketara kalau dibandingkan denga!!_Si Kampeng atau Derap Revolusi. Ini tidak mengherankan kita sebab Perburuan dicipta sebelum Pramoedya menjadi aktivis Lekra. Tapi kalau kita bandingkan Perburuan dengan karyanya Sekali Peristiwa di Banten Selatan yang diciptanya setelah ia menjadi anggota Lekra, maka kita dapati mutu seninya menjadi sangat merosot. Sungguhpun Lekra menjadikan salah satu metode ketjanya "meluas dan meninggi", iaitu meluas dengan arti mencakupi massa rakyat dan meninggi diartikan menghasilkan rnutu karya yang baik,35 maka di sini sebenarnya sudah ada perpaduan yang baik antara hentuk dan isi dalam penciptaan realisme sosialis. Tapi yang sering terjadi ialah mutu artistik itu sering di kebelakangkan, hingga kebanyakan karangankarangan yang terbit lebih banyak mernuatkan nada-nada perlawanan, dan pe?tentangan yang bersipat propaganda sosilisme dan komunisrne murah. Sebagai contoh kami kemukakan sebuah puisi ciptaan S . Anantaguna yang berjudul "tjerita tja tje tung". Tja Tje Tung kebenaran ditembaki bagaimana bisa mati ... Pendjara penuh darah tidak bisa kalah dihati Tentera Merah. Api api, .bakarlah! setapak tanah menjala aku djadi bara. .. Api, api, bakarlah! tidak bisa rnati dunia dalam hati. 34. Lihat H.B. Jassin, Kesusastraan Indonesia Moden dalam Kritik dan Esei (II). Cetakan ke 2. Djakarta: Gunung Agung, 1967, h. 109 35. Lihat Lapuran Kebudajaan Rakjat (I) h. 37-43 . 62 djogja fights back .. ' Tja 1je Tung kembang pahlawan sekar didaratan. Dalam pendjara penuh abu dalam hati tanda seru! bakarlah, bakarlah kebenaran tak bisa kalahf36 Simplifikasi pengalaman manusia yang dituangkan dalam karya sastra inilah yang sukar diterima oleh orang yang ingin melihat karyasastra sebagai paduan isi dan bentuk yang indah dan menarik. Ciri-ciri estetis adalah satu keharusan dalam karyasastra dan seni lainnya, dan ini tidak bisa ditolak dengan gampang. Walaupun sikap seniman dan sastrawan itu "committed" terhadap sesuatu filsafat hidup, namun kesedaran bahwa ia adalah seorang pencipta seni, mutlak tidak bisa diabaikan. Seperti mana yang dinyatakan oleh Wiratmo Sukito: "Sesuatu karja seni atau sastra jang ditjiptakan dengan kesungguhan maka karja tadi dengan sendirinja akan mengandung engagement, karena manusia adalah a priori machluk bermasjarakat ... Di dalam karjanja sudah terkandung nilai-nilai, jaitu nilai-nilai sosial, atau nilai-nilai patriotik, dsb., akan tetapi nilai demi nilai itu telah impliceren didalamnja. Dirumuskan dengan sederhana, tudjuan sang seniman ialah kebenaran. "37 36. Lihat kumpulan puisi Dinasti 6.50 Djuta. Djakarta Lekra, 1961, h . 20 37. Lihat Wiratmo Sukito, "Manusia, Sastra dan Politik," dalam Antologi Esei • tentang Persoalan2 Sastra. Dipilih dan disusun oleh Satyagraha Hoerip. Djakarta: PT Sinar Kasih, 1969, h. 37 djogja fights back BAB KEENAM REALISME SOSIALIS SEBAGAI SIKAP SASTRA LEKRA Setelah' kita meninjau Jatar belakang perkembangan dan sikap ofensif Lekra di bidang kebudayaan, pendidikan dan politik secara umum, dan mengetahui pula aliran realisme sosialis yang bermula dalam kesusastraan Uni-Soviet, maka sekarang kita meninjau pula kegiatannya yang khas yaitu dalam bidang kesusastraan . Dari "Mukaddimah" Lekra, pidato- ·• pidato D .N. Aidit dan Njoto, dan lapuran-Iapuran umum yang dikemukakan dalam kongres, sidang pleno Lekra, dan juga dari• karangankarangan yang pernah disiarkan dalam majalah Zaman Baru ataupun dalam tulisan orang-orang Lekra yang terkemuka, sikap sastra mereka ·adalah jelas. Lekra adalah sebuah organisasi kebudayaan yang revolusioner yang berpandukan pada hu.kum-hukum Revolusi dan ajaran-ajaran Marxisme Leninisme. Konsep sastra dan budaya Lekra "Politik adalah Panglima" mendorong semangat anggota-anggotanya untuk melawan, menghancur musuh-musuh rakyat iaitu imperialisme, kolonialisme dan feodalisme, dan menghidupkan cita-cita sosialisme yang akhir nanti menuju kepada masyarakat komunis tanpa kelas. Menurut PKI/Lekra Revolusi Indonesia masih belum selesai karena kemenangan-kemenangan yang kelihatan adalah kemenangan kaum ~ · k ~ pitals dan feodalis yang tidak menguntungkan golongan terbesar. di lndonesia-tani dan buruh. Sistim demokrasi liberal yang dianuti pemerintah sebelum 1959, sebelum lahirnya Manipol-Usdek, lebih banyak membawa kehancuran cita-cita untuk mensosialiskan Indonesia. jr 64 djogja fights back Soekarno sendiri menganggap Revolusi Indonesia belum selesai,l dan dalam suasana demokrasi terpimpin PKI mengambil kesempatan untuk memperkembang dan meluaskan pengaruhnya di kalangan rakyat untuk tujuan politiknya sendiri. Penonjolan konsep realisme sosialis sebagai kritirium penilaian kesusastraan pada Lekra bukan suatu hal yang mengherankan sekiranya orang memahami cita-cita komunis. Ajaran komunis berkehendakan kesatuan aksi dengan daya pemikiran. Setiap anggota komunis yang tulen diajar atau membentuk diri sendiri dan juga orang-orang lain untuk mempercayai bahwa fraksi-fraksi dan pertentangan dalam Partai adalah kesalahan yang paling besar, karena dengan perpecahan demikian sukarlah bagi komunis untuk berkuasa.2 Justru itu realisme sosialis se-· bagai konsep sastra Lekra adalah sealiran dengan cita-cita komunis, di mana terlahir dalam acuan konsep tersebut "kesatuan aksi dengan dayapikir" komunisme sejati. Dalam h1l ini Lekra mendapat seorang "panglima" sastra yang ter. kemuka untuk menjadi jurubicaranya dalam kesusastraan. Tokoh tersebut ialah Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan Indonesia yang menghasilkan novel-novel bermutu seperti Keluarga Gerilja, Perburuan dan Bukan Pasar Malam. Sejarah hidup dan kreativitet Pramoedya sejak ia terkenal sebagai sastraw.m sangat menarik hati. Ia pernah melawat ke negeri Belanda atas pengongkosan Sticusa bersama keluarganya selama satu tahun (Jun 1953 .hingga Januari 1954), dan pada bulan Oktober 1956 ia mendapat undangan dari Lembaga Sastrawan Tiongkok Pusat untuk melawat Republik Rakyat Tiongkok bagi menghadhiri hari peringatan ke 20 meninggalnya Lu Shun.3 Menurut Drs Baharum Rangkuti yang didapatinya dari Pramoedya sendiri, "Di Tiongkoklah diperolehnja pengertian jang agak meluas tentang pentingnja faktor rakjat djelata dalam pembinaan bangsa jang kuat padu bersama dengan pembangunan menjeluruh". 4 Sekemb.tlinya dari menghadiri Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Tashkent, Uni-Soviet dan melawat Republik Rakyat Tiongkok kali keduanya, Pramoedya telah dilantik menjadi anggota pimpinan Lekra 1. Baca pidato-pidato Presiden Soekarno sej ak 1959 hingga 1964. 2. Lihat Milovan Djilas, The New Class , An Analysis of the Communist System. 6th. printing. New York : Frederick A. Praeger, 1962, p. 157 3. Lihat B. Rangkuti, Pramoedya Ananta Toer. Djakarta: Gunung Agung, 1963, h . 20. 4.> B. Rangkuti, ibid., h. 21. 65 djogja fights back . I ?~ y f , ~ ~ ~ . JV"' ·f "v-Y"" !~ _ · · dalam KongreS' Nasional (I) Lekra di Solo. 5 Dalam pidato sambutannya di Kongres tersebut Pramoedya antara lain mendedahkan sikapnya bahwa: · . "Lekra telah banjak membantu saja dalam membangunkan alam ~ ~ pikiranjang berpihak ke~ad <t ra~jt . ~ampi ta~un 1_9.~ saja masih ·~ 1 beranggapan bahwa has II sem hanp mungkm ditjlptakan oleh individu bahkan beranggapan, bahwa hasil seni modern djustru tjiri daripada individualisme kreatif. Pada waktu itu saja belum mengerti bahwa individu hanja satu produk atau basil sadja dari • keseluruhan kehidupan jang ada". 6 Konfesi yang dibuat oleh Pramoedya jelas menunjukkan betapa . "betulnya" sikap budaya dan sastra Lekra itu, dan betapa besar "hutang I . ·. budi"nya terhadap organisasi tersebut . Mungkin Pramoedya merasakan 'V,_ahwa dalam organisasi Lekral~h yang sebenarnya mendapat sanjungan ""' dan penghormatan dari tokoh-tokoh politik dan kebudayaan, dan ....v-''f .l \o'\ \ · Cvl)"" baik dari ~ egi posisi sosialnya, ekonomi maupun kesempatan melawat keluar negeri sebagai anggota delegasi d.;ri ·Indonesia. Sebelum itu Pramoedya telah juga mendedahkan isi hatinya bila ia dengan bangga menyambut baik Konsepsi Bunga Karno. Dalam sebuah tulisannya di H arian Rakjat Pramoedya pernah berkata: "Manakah Partai di Indonesia ini jang tidak pcrnah berchianat? Semua. Tetapi soalnja adalah apakah pengchianatan itu dibkukan karena kehilapan ataukah karena sengadja. Bagiku sendiri hanja ada satu Partai jang selama ini tidak berchianat. Dan partai ini adalah PKI. Memang, utjapan ini pasti akan menjebabkan orang mengatakan karena aku orang PKI. Kawan, aku bukan anggauta PKI. Bagiku, kalau PKI pernah bersalah, mungkin kesalahannja adalah karena adanja affair Madiun. Tetapi djuga affair ini, hingga sekarang tidak ada perumusan resmi, jang dilahirkan atas dasar penjelidikan hukum revolusi sehingga sebenarnja orang belum lagi punja hak untuk mengatakan itu sebagai pengchianatan". 7 Dalam tulisannya yang sama Pramoedya juga pernah menyentuh soal kepercayaan agama yang menurutnya adalah demikian: "Mereka (orangz r.gama) lebih suka terdjadinja kekatjauan daripada 5. Kongres ini diadakan dari 22 hingga dengan 28 Januari 1959. 6. Pramoedya Ananta Toer, "Korps pengarang dikuras sampai tandas" . Waspada , no. XIII /3386, tgl. 6 Februari 1959. 7. Lihat Pramoedya Ananta Toer, "Djerribatan Gantung dan Konsepsi Presiden", Harian Rakjat, th. VII /1684, tgl. 28 Februari 1957. • r 66 djogja fights back perdamaian nasional. Ah, kawan,. agama adalah untuk man usia dan bukan manusia untuk agama. Pada suatu masa tertentu dia merupakan hukum jang mengatur kehidupan kemasjarakatan. Sekarang tugasnja digantikan oleh hukum2 jang lahir dari alasanz jang lebih riil. Ini bukan berarti bahwa agama lantas ditinggalkan mentahz, tetapi dia mendapat tempatnja sendiri dalam hidup manusia. Kawan, sungguh berbahaja mendakwa bahwa tiada beragama adalab memusuhi Tuhan. Tidak ada seorangpun jang djadi atheis, sekalipun dalam dunia jang ultra-modern, karena bagi setiap orang menilai pengertiannja tentang Tuhan berlain-lainan, lebih banjak tergantung pada alasan2 individuil. Tidak semuanja orang mendapat Tuhannja melalui adjaran dari luar. Dalam hal jang chusus individuil ini penemuan sendiri djauh lebih berharga."S Eukankah tulisan demikian membela PKI? Eukankah dengan jalan demikian Pramoedya dengan sendirinya melibatkan diri dalam kancah politik PKI? Problim yang dihadapi PKI/Lekra ialah problim mencari sastrawan-sastrawan dan intelektuil-intelektuil yang bisa menjadi propagandis PKI. Pada Pramoedya PKIJLekra merremui syarat-syarat yang dikehendaki, iaitu seorang sastrawan terkemuka dan seorang propagandis Partai yang baik. Dari segi keyakinan agama Pramoedya masih "kabur". Malah menurut Drs Eaharum Rangkuti haji bagi. Pram "adalah lambang feodalisme di Indonesia". 9 Dunia baru yang didapatinya dari kunjungan ke mengingatkan pula latarbelakang yang Republik Rakyat Tiongkok, d~n penuh ~ n penderitaan di daerah gersang Elora, me ~ abkn Pramoe.slJ'a menjadi jumbicara yang_gigih memenangkan konsep Lekra "Politik adalah Panglima" dal.ftm lapangan kebudayaan dan kesu.sastraan. Elora, kota kelahirannya, adalah daerah yang tandus dan miskin. Kegemaran penduduk-penduduk di sana ialah menonton wayang purwa, wayang kerucil dan wayang golek. Di sam ping itu orang juga gemar pada joget dan gamelan "jang menerbitkan perselisihan dengan kaum ulama"JO Tapi sayang tidak dije_laskan oleh Eaharum Rangkuti apakah Pramoedya dididik dalam keluarga abangan atau santri. Hanya dari karangan-karangan Pramoedya saja kita dapat membuat dugaan bahwa dia tidak memandang berat tentang hal agama Islam. Rupa-rupanya Republik RakyatTiongkok memberikan banyak ilham kepada Pramoed8. Pramoedya, ibid. 9. B. Rangkuti, op. cit., h. 9 10, B. Rangkuti, ibid., h. 11 67 (j djogja fights back 5 ya dalam sejarah hidupnya setelah lawatannya ke negara komunis itu. Ia menterjemahkan karya Ting Ling yang berjudul M asyarakat dan Penulisan Kreatif di mana pengarang Ting Ling menekankan pemahaman yang mendalam terhadap ajaran Marxisme-Leninisme, dan hidup dengan pekerja-pekerja supaya bisa merasakan seluruh aspirasi dan cita-cita mereka.ll Apa yang menarik perhatian Pramoedya dalam masyarakat Indonesia dewasa itu ialah semangat revolusioner dim kegiatan PKI memperjuangkan nasib rakyat jelata yang rata-rata miskin. Undang-undang tanah dan agraria yang didesakkan oleh PKI pada rejim diwaktu itu memungkinkan petani-petani yang tidak bertanah mendapat tanah walaupun dalam hal ini orang-orang PKI atau BTl yang diutamakan. Dalam hidang kulturil Lekra menampakkan kesungguhan untuk menampung cita-cita para seniman dan sastrawan dan memberi kesempatan yang sebaik-baiknya kepada para pengarang yang bergabung dalam organisasi tersebut. Penghormatan yang seperti itu sudah pasti tidak bisa diperoleh Pramoed.ta di luar Lekra. PKI/Lekra melihat pada ketokohan Pramoedy~ sebagai seniman Indonesia yang terkenal dan mempenilatkannya untuk kepentingan Partai walaupun Pramoedya dalam beberapa buah cerita-pendeknya dalam Tjerita Dari Elora menampakkan bahwa ia antimerah, tapi PKI/Lekra seolah-olah melupakan saja peristiwa itu lantara:n penulisannya dilakukan sebelum Pramoedya bergiat secara aktif dalam Lekra. Demikianlah kita lihat Pramoedya banyak sekali menulis dan sering memberikan pidato-pidato politik dan kebudayaan diberbagai tempat di Sumatera, Jawa dan Bali. Ia juga membuat serangan-serangan terhadap orang-orang yang menentang PKI/Lekra dalam Zaman Baru. Ia menempatkan dirinya sebagai algojo yang "membunuh" segala suara dan bisikan orang-orang lain yang tidak sealiran dengan perjuangan revolusioner PKifLekra. Dalam kedudukannya sebagai sastrawan yang juga menjadi jurubicara PKifLekra, beliau terpaksa melakukan "blackmail" politik, memfitnah, menyerang peribadi orang-orang yang menentang PKifLekra, dan dengan gampang ni.emberi gelaran anti-manipol, kontra-revolusi, antek imperialis dan sebagainya, hingga nilainilai kesusastraan dalam rencana kesusastraan menjadi kabur. Bagaimanakah pentrapan realisme sosialis yang dikemukakan oleh 11. Lihat Prof. A. H. Johns, "Pramoedya Ananta Toer, The Writer as Outsider -an Indonesian Example", Meanjin (Melbourne), Maret-April 1963. 68 djogja fights back Pramoedya? Seperti juga dengan pendapat-pendapat ten tang fungsi kestisastraan yang pernah ditimbulkan oleh pengarang-pengarang di UniSoviet dan Republik Rakyat Tiongkok untuk menegakkari perjuangan proletar, maka Pramoedya antar:1 lain berkata, "Pertama-tama kondisi2 politik sipengarang mendjadi sjarat terutama, karena kondisi politikjang busuk sudah pasti tidak akan melahirkan karya sastra jang tidak busuk",12 Demikianlah ia menulis. sebuah prasarannya tentang soal-soal kesusastraan dalam suatu seminar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia yang berjudul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, sebuah tinjauan sosial, yang mencerminkan perjuangan politik kulturil Pramoedya secara peribadi dan juga sebagai propagandis PKI /Lekra di bidang kebudayaan.l3 Lebih lanjut lagi Pram menjelaskan bahwa realisme sosialis menitikberatkan perjuangan kaum yang tertindas, dan dalam konteks Indonesia sokogurunya terdiri dari kaum tani dan buruh. "Persoalan2 jang sangat peribadi dalam kritik realisme sosialis tidaklah perlu diadpertensikan lewat karyasastra jang djustru harus mendukung perdjuangan sebahagian besar umat manusia. Dengan demikian ukuran moral adalah pada nilai sosialnja, pada nilai objektifnja, pada keuntungan bagi sebahagian besar umat manusia."l4 Jelas sudah bahwa tema-tema dan watak-watak yang dianggap heroik harus datangnya dari golongan terbesar rakyat yang tertindas. Kaum imperialis, kaum kapitalis dan feodalis diwarnakan sebagai agen yang busuk dan dianggap sebagai golongan penghisap. Menurut konsep realisme sosialis kemenangan akhir terletak pada perjuangan kaum proletar jua. . .Pram pernah berkata, "Revolusi tidak bisa dipisahkan dari sedjarah sastra Indonesia moden", yang dapat ditafsirkan sebagai pelaksanaan dasar sosialisme di Indonesia secara konsekwen serta perkembangan sosialisme kaerah komunisme. Istilah "revolusi" kepada kaum komunis · merupakan sebagai suatu azimat yang dapat merangsang mereka untuk bertindak lebih keras terhadap segala penghalang-penghalang cita- cita komunisme, dan juga sebagai azimat yang membuka jalan bagi keteguhan cita-citakomunisme itu. Pengertian dan pentrapan revolusi itu bukan 12. Lihat Pramoedya Ananta Toer, "Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, Sebuah tinjauan sosial", (stensilan), h. 55 13. Prasaran ini diberikan pada tanggal 26 Januari 1962. 1,4. Pramoedya, ibid., h. 56 69 djogja fights back saja di bidang politik, tapi juga dalam bidang kulturil oleh orang-orang to . komunis,15 Dengan mengulang-ngulangi bahwa "Revolusi Indonesia bel urn selesai", PKifLekra meningkatkan aksi-aksinya dengan lebih hebat lagi guna mendapatkan sokongan dari rakyat yang nantinya aka!J. menghasilkan kemenangan-kemenangan gemilang bagi PKI sendiri. Revolusi belum selesai mengingatkan PKI bahwa masih ada bentengbenteng dan problim-problim yang harus didobrak untuk mencapai kegemilangan bagi PKI. ' Kita juga harus mengingatkan bahwa Revolusi 45 di Indonesia sudah menjadi satu metos kepada rakyat Indonesia karena revolusi itu menge'nangkan pertumpahan darah dan pengorbanan dari putera puteri Indonesia dalam merebut kemerdekaan bagi- bangsa Indonesia. Sebagai metos ia mempunyai dayatarik dari segi psychologis, karena revolusi itu melukiskan semangat menentang, berko~an dari putera puterinya dalam menghadapi penjajahan Belanda untuk mencapai cita-cita nasional yang suci. Bertolak dari keyakinan inilah maka PKI/Lekra sering mengembalikan kenangan massa rakyat kepada perjuangan yang heroik tersebut. Propaganda metos ini bukan saja dikemukakan oleh tokoh-tokoh PKI tapi juga oleh Pramoedya, Bakri Siregar dan lain-lain sastrawan dan intelektuil Lekra. Dalam sebuah prasarannya yang lain, berjudul "Ide, Garis dan Aparat dalam Hubungan dengan Generasi Muda", Pramoedya menampakan . kesalannya bahwa "Generasi sekarang di lapangan sastra kurang me~ mahami persoalan politik, bahkan adakalanja menjerah dengan mudah pada mitos, bahwa seni harus membebaskan diri dari politik" 16 Mungkin Pram menyatakan pendapat demikian sebagai sorotannya terhadap sikap sastrawan-sastrawan yang non-Lekra yang menentang untuk mengabdi kepada Partai dalam sikap kulturil mereka. Re~lism sosialis menurut Pramoedya harus memadukan cita-cita Partai dengan karya seni, dan memegang dengan megah konsep "Politik adalah Panglima". Kalau Pramoedya mengemukakan ide-ide dari konsep realisme sosialis dalam prasaran-prasarannya, Bakri Siregar pula mentrapkan realisme sosialis itu dalam studi sejarah sastra Indonesia moden dalam bukunya 15. Keterangan lanjut tentang cita-cita komunisme dan sastra bacalah Herbert McClosky dan John E . Turner, The Communist Dictatorship. New York: McGraw-Hill, 1960, p . 560. Juga lihat Klaus Mehnert, Peking and Moscow. New York: A Mentor Book, 1964, p. 189-234 · 16. Prasaran ini diberikan dalam Simposium Generasi Muda, di Balai Budaya, Djakarta, pada tanggal 29 April1960. 70 djogja fights back yang berjudul Sedjarah Sastra Indonesia Modern (I).l7 Titiktolak dari konsep realisme sosialis itu digunakan oleh Bakri Siregar dalam pembicaraannya tentang sejarah perkembangan kesusastraan Indonesia moden. Tentang kapankah dimulai sastra Indonesia moden itu, Bakri menulis: "~ersoaln, ~ila dimulai sa~r Indonesia modern, tidak. bisa di.p ~ t' . : ~ ,. p1sahkan dan masalah masJarakat dan bangsa Indonesia dalam ~"' perkembangan sedjarahnja dan dengan alat sastranja: kesadaran ~ . sosial dan politik nasion Indonesia da ~ bahasa Indonesia (modern) se·· .....~ O .,J.bagai hasil produk kesadaran nasional. Dengan d ~ mikan sastra ~ ~ Indonesia moden bermula dengan lahirnja kesadaran nasional ter- ~ · sebut, jang tertjermin dalam hasil2 sastrawan dalam tingkatan dan tarap jang berbeda sesuai dengan masa dan lingkungannja sebagai ternjata dalam kritik sosial dan tjita2 politik jang dikemukakannja, serta alat bahasa jang dipergunakan." l8 Bertolak dari konsep reaiisme sosialis inilah maka Bakri Siregar ber.pendapat bahwa : "Tidak be~ar djadinja untuk memulai sastra Indonesia moden baru pada PUDJANGGA BARU, dengan alasan, bahwa PU- • D JAN GG A BAR U mengadakan pembaruan dalam sastra Indonesi Kesadaran nasional dalam hasilz sastra Indonesia bukan baru pad PUDJANGGA BARU, sekitar 1920, malah sebelumnja, sepert ternjata dalam hasilz Mas Marco K artodikromo, jang baik dalam bahasa daerah Djawa maupun dalam .bahasa persatuan Indonesi kritik terhadap p€!Hl@riata ../'/ setjara tegas pertama kali ~elmparkn dj~an serta kalangan feodalisme."l9 ,~ Secara tegas kita melihat bahwa tokoh Lekra, Bakri Siregar, menn ~ dasarkan penilaian sastranya m'enurut konsep realisme sosialis di mana ~ ukuran-ukuran ekstrinsik sastra menurut garis perjuangan r~vo i usioner yang anti-kolonialisme, anti-kapitalisme dan anti-feodalisme djtrapkan. Dengan lain perkataan bentuk yang indah tapi tidak mengandungi isi yang revolusioner menurut pahaman Marxisme tidak dinilai sebagai hasil sastra yang baik. Berdasarkan kritik sosial terhadap kolonial Belanda dan feodalisme, maka kedua tokoh Lekra, Pramoedya Ananta Toer dan Bakri Siregar memulakan sejarah kesusastraan Indonesia moden 17. Bakri Siregar, S edjarah Sastra Indonesia Moden. Jilid (1). Djakarta: Akademi Sastra dan Bahasa " Multatuli" , 1964. 18. Bakri Siregar, ibid., h. 10 19. , Bakri Siregar, Zoe. cit. 71 djogja fights back v dari Mas Marco Kartodikromo yang mengi!asilkan Student Hidjo (1919) dan Rasa Merdeka (1924) dan Semaun yang menghasilkan Hikajat Kadirun (1924), dan tidak ketinggalan disebut juga nama sastrawan Rustam E.ffendi yang menerbitkan Bebasari (1926).20 Dan sebagai tambahannya Bakri berkata, "Baik Semaun, maupun Rustam Effendi, pada waktu itu adalah komunis, dan buku2 mereka, sebagai djuga buku Marco dilarang. "21 .. Bakri Siregar, op. cit., h. 25-27 21. Bakri Siregar, ibid., h. 28 djogja fights back BAB KETUJUH SITOR SITUMORANG, LKN DAN MANIPOL Walaupun Sitor Situmorang bukan anggota Lekra, ietapi peranannya dalam bidang kulturil dibicarakan secara kusus dalam tulisan ini karena konsep dan aksi-aksi kulturil dari LKN, yang mana ia menjadi ketuanya, mempunyai jiwa dan arah perkembangan yang sama dengan konsep kulturil Lekra. Sebagai sastrawan dan penyair Sitor Situmorang mempunyai kedudukan yang terhormat dalam sejarah keusastraan Indonesia moden. Penyair kelahiran Sibolga, Tanah Batak, pada tanggal 2 Oktober 1923, telah menghasilkan tiga buah kumpulan puisi dan sebuah kumpulan cerita pendek yang diberi judul Pertemuan dan Saldju di Paris. Sum bangan karya sastra ini dihasilkal)nya sebelum ia turut aktif dalam bidang · politik nasional. Juga ia terkenal sebagai kritikus film, seorang eseis yang baik, penulis drama dan penterjemah.l Ia pernah ke Holland atas ongkos Sticusa dan tinggal beberapa lama di'Eropah, khasnya di Paris, dan per-nah pula ke Amerika Syarikat atas biayai Rockefeller Foundation. Pada tahun 1956 ia menceburkan diri dalam PNI, dan meletakkan dasar bagi kebudayaan marhaenis. Pada tahun 1958 ia diangkat menjadi anggota Dewan Nasional mewakili golongan seniman.2 Prof. A~H. Johns berpendapat bahwa Sitor Situmorang "seorang 1. Lihat J. U. Nasution, Sitor Situmorang sebagai Penjair dan Pengarang Tjerita pendek. Djakarta: Gunung Agung, 1963. :i. Lihat Pramoedya Ananta Toer, "Mas Sitor Situmorang: Panglima Ke• budajaan Marhaenisme," Republik, no. 1050, th. IV, tgl. 15 Juli 1959 .. djogja fights back ~ manusia yang berkonflik antara dua dunia" dalam karya-karyanya, di mana ciptaan·-ciptaannya itu memperlihatkan dunia peribadinya yang tragis yang berkonfrontir dengan suasana alam Indonesia yang masih kacau, hingga akhirnya secara langsung atau tidak langsung, mempengaruhi sejarah perkembangannya sebagai sastrawan dan sebagai politikus.a Menurut setengah kalangan sastrawan dan intelektuil yang mengenali .Sitor, ia adalah seorang seniman yang baik, tetapi situasi politik dan ekonomi Indonesia menyebabkan ia terjerumus untuk menjacli seorang politikus. Sejarah "politik" penciptaan Sitor nampak jelas sekembali-nya dari mehghadari konferensi tergempar Pengarang-pengarang Asia-Afrika di Tokyo selepas melawat Republik Rakyat Tiongkok. Dalam delegasi pengarang-pengarang Indonesia yang bersama Sitor itu termasuklah Joebaar Ajoeb, Dodong Djiwapradja, Rivai Apin dan Utuy Tatang Sontani, kesemuannya ada-lah anggota-anggota Lekra yang penting. Rupa-rupanya lawatan Sitor ke Republik Rakyat Tiongkok berkesan sekali pada jiwanya hingga ia dapat menghasilkan seberkas puisi yang temanya memuja dan memuji Cina Komunis. Kumpulan puisinya, Zaman Baru diterbitkan oleh penerbitan majalah Zaman Baru kepunyaan PKI/Lekra pada tahun 1961. Keistimewaan yang diberikan oleh penerbitan majalah Lekra Zaman Baru terhadap kumpulan puisi Sitor Situmorang ini adalah bersipat politik karena tema-tema puisipuisinya adalah seirama dengan nyanyian-nyanyian pmst pemujaan seperti dalam Dinasti 650 juta, kumpulan bersama penyair-penyair Lekra. Pada kata pengantarnya untuk Zaman Baru, Sitor berkata: "Saja bersimpati dengan kebangunan nasional Repablik Rakjat Tiongkok. Penerimaan saja atas segala hal jang dapat saja lihat dan alami dalam kundjungan singkat, tersimpul dalam sadjak-sadjak yang dimuat dalam buku ketjil ini. Nilai sastranya terserah pada pertimbangan zaman. Sebagai dokumen ketjil tentang perkembangan kerohanian, buku ketjil ini mengandung hal-hal jang bagi saja sendiri sebagai penjair, menggugah konsep-konsep tertentu endap/ an pengalaman lama. "4 / Di sini kelihatan ada persamaan antara watak pen yair Sh-or Situmo~ rang dengan Pramoedya Ananta Toer yang sama-sama mengalami per3. Lihat Prof. A.H. Johns, "A Poet between two Worlds: The Works of Sitor Situmorang", Westerly (Australia), Nobe.mber 1966. 4. Lihat Sitor Situmorang, Zaman Baru. Djakarta: Penerbitan Zaman Baru, 1961,35 halaman. 74 .. CJ djogja fights back ubahan sikap setelah melawat ke Repablik Rakyat Tiongkok. Keduaduanya telah melawat ke Barat, dan kedua-duanya menolak liberalisme barat dan berpihak pada perjuangan sosialis kiri. Secara kebetulan pula kedua-duanya adalah sastrawan-sastrawan terkemuka dalam dunia kesusastraan Indonesia. Kalau Pramoedya lebih banyak menimba inspirasi politik dari tokohtokoh lwmunis Uni-Soviet, Cina Komunis dan Ho Chin Minh, Sitar lebih banyak mereguk inspirasi dari ajaran-aj iuan Bung Karno sendiri. Baik dari inspirasi komunis ataupun dari ajaran-ajaran Soekarno arus pemikiran kedua orang sastrawan itu adalah sama sekiranya ditinjau dari aspek ideoloji. Mungkin karena sipatnya sebagai ketua LKN dari PNI, maka ia harus berjiwa nasionalis dan harus patuh kepada Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno yang mendirikan PNI pada tahun 1927 dulu.5 Sebagai menanggapi ajaran Bung Karno dengan pentrapan Manipol Usdeknya, Sitar antara lain menjelaskan posisi yang diambil LKN. Ia berkata: " ... bahwa posisi nasionalis (berdasarkan Marhaenisme) dalam alam persatuan Manipol menghormati tiap teori sastra jang kerak· jatan, djadijang lahir dari djiwa Revolusi Nasional kita sendiri, dan jang berguna buat pendjelasaiannja, apakah itu dinamakan Pantjasila, realisme sosial atau 'memuliakan agama'. Nasionalis djuga menolak sastra dan seni jang walaupun 'baik' setjara artistik, kalau berupa pengrongrongan terhadap djalannja Revolusi. lni berarti sikap nasionalis, seperti mestinja setiap Manipolis di mana perlu da ~ at membelakan kan 'nilai artistik' apalagijang berasal dari alam kontra-revo usi. Keperluan sosial politik didulukan."6 Menurut Sitar lagi "sikap -politik pengarang adalah penting karena langsung berpengaruh kepada golongan antara kekuatan pro dan anti secara politik."7 Sikap politik yang betul, menurut Sitor, ialah pengabdian kepada kerakyatan dan Revolusi. Dalam pengertian ini sudah pasti 5. Suatu musyawarah tentang "Kebudayaan Nasional" telah dianjlirkan oleh PNI di Salatiga, Jawa Tengah dari 15 s /d 16 Agustus 1960. Antara resolusi yang diterima ialah menyokong konsep Soekarno Manipol-Usdek. Keterangan !an jut sila baca K epribadian Nasional. Djogdjakarta: Madjelis Luhur Taman Siswa, 1961. 6. Lihat · Sitor Situmorang, "Posisi Nasionalis di tengah-tengah Matjam Phobia Kebudajaan," Suluh Indonesia, th. 10, no. 187, tgl. 16 Mei 1963. 7. "Diperlukan selfkritik oleh sastrawan: Hasil wawancara dengan Ketua LKN Sitor Situmorang", Suluh Indonesia, th. X, no. 136, tgl. 13 Maret, 1963. 75 djogja fights back r~ ~ ,. I -· \ _~ ·• }/"'/~ V / tidak ada perbedaan pokok antara konsep LKN dan Lekra tentang soal kulturil dan kesusastraan khasnya. Dalam satu ceramahnya di hadapan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Sitor menerangkan: "Bahwa sedjarah itu menundjukkan kemadjuan jang diperdjuangkan, iaitu kemadjuan jang makin meningkat setjara obdjektif. Itulah kejakinan revolusi Indonesia dan semua pendukungnja. Atas dasar kejakinan itulah dan dengan katjamata kejakinan itulah dia djuga menilai dan harus mengembangkan kesusastraan dan sedjarah kesusastraan. Itulah jang mendasari Manipol- Usdek, sebagai prinsip dinamis Pantjasila, prinsip sosialis dalam pandangan sedjarah, dan dengan sendirinja pandangan sedjarah kesusastraan Indonesia. ltulah prinsip Marxis jang telah ditrapkan dalam adjaran-adjaran dan aksi-aksi Bung Karno, jang sekarang ini mendjiwai keseluruh gerak sedjarah Indonesia di tengah-tengah bangsabangsa ...... Manipol Usdek sebagai garis merahnja dinamika sedjarah jang anti-statika, iaitu statika feodalisme dan kontradina~kj nekolim .... Kaum dan pandangan feodal, kaum dan pandangan imperialis, adalah statika dan kontra-dinamika, adalah kontra-revolusi.' '8 Hubungan intim yang padu antara konsep kulturil LKN dan Lekra yang sama-sama bersandar pada Marxisme itu dijelaskan oleh Sitor seperti di atas. Di sini Sitor lebih banyak bermain dengan klise-klise politik yang bombastis. Sedikit demi sedikit persoalan kesusastraan mendapat bajunya yang baru, yaitu baju bersalut sloganisme politik Marxis. Secara tidak langsung sikap sastra yang dikemukakan Sitor ..-sudah menjelajah ke dal ~ m dunia indoktrinasi politik Marxisme ser.erti mana yang dilakukan oleh partai-partai komunis internasional. i' Apakah pengertian sastta revolusioner bagi Sitor? Sastra revolusioner harus memperjuangkan kaum melarat dan terhisap- tani dan buruh. Lebih lanjut ia berkata: "Dizaman memperdjuangkan sosialisme sastra diminta ikut memperdjuangkannja, dengan mengabdi kepada politik perdjuangan itu. Dizaman pembangunan nanti, kalau kekuasaan Sosialisme sudah berdiri, maka sastra revolusioner meneruskan pengabdiannja dalam bentuk pengabdian kepada pembangunan sosialis." 9 8. Sitor Situmorang, "Situasi Kesusastraan Indonesia", dalam Sastra Revolusioner. LKN, Jawa Barat, 1965, h. 7-8. 9. Sitor Situmorang, "Sastra 'Revolusioner" dalam Sastra Revolusioner, h. 15 76 " djogja fights back lnilah cara yang dilakukan oleh partai-partai komunis Uni-Soviet dan Repablik Rakyat Tiongkok dan lain-lain partai komunis internasional, yaitu menjadikan kesusastraan sebagai satu bagian integral dengan partai. Sebagai suatu penyelarasan dengan konsep politik PNI yang ekstrim kiri diwaktu itu, maka Sitor sebagai ketua LKN menggerakkan konsep politik Manipol dengan sebaik-haiknya dalam bidang kebudayaan dan kesusastraan. Memang ia tidak pernah menghasilkan sebuah studi sastra seperti Bakri Siregar ataupun suatu penelitian yang mendalam tentang konsep sastra seperti Pramoedya Ananta Toer, namun demikian sumbangannya dalam bidang kritik sastra dan konsep sastra memang ada. Karena Manipol menjadi "jiwa dan tubuh" PNI dan LKN, maka Sitor memulakan titiktolak penilaian sastra dari konsep Manipol. Demikianlah ia membuat suatu 'studi' ten tang Chairil Anwar yang berdasarkan konsep Manipol. Karena pada apggapan Sitor, Chairil tidak cocok deugan konsep Manipol, maka ia mengecam Chairil sebagai "individualis tak bertanahair, kosmopolitan, versi Indonesia," yang tidak punya arti buat revolusi. Oleh karena Chairil menetap di Djakarta diwaktu revolusi fisik 1945- 1949, maka ia harus menerima "segala konsekwensinja, termasuk segala pertimbangan politik dan artistiknja."lO Pertimbangan Sitor terhadap Chairil Anwar adalah pertimbangan dari aspek ekstrinsik sastra juga. Ia menggunakan kritirium konsep politik Manipol ciptaan Soekarno untuk meletakan karya-karya Chairil dalam wadah revolusi Indonesia. Di sinilah letaknya kekaburan dalam penilaian sastra dari Sitor. Manipol hanya ujud pada tahun 1959 setelah sepuluh tahun wafatnya Chairil Anwar. Bagaimanakah ia bisa menggunakan konsep Manipol untuk menilai puisi-puisi Chairil? Penilaiannya berbeda sekali dengan metode kritik yang dilakukan oleh H. B. Jassin yang menyorot puisi-puisi Chairil Anwar lebih banyak dari segi instrinsiknya.ll Esei-esei Sitor selepas tahun 1959 menampakan pengaruh politik yang amat tebal. Manipol menjadi pegangan tokoh-tokoh kebudayaan LKN dan juga satrwn-~ lain yang berlin dung di bawah panji-panji partai politik. Konsep Marhaenisme yang dicetuskan Soekarno pada tahun 1933 dulu dikembangkan Soekarno hi-ngga terlaksana ManipolUsdek pada tahun 1959, yang sebagai haluan negara, diterima oleh 10. Sitor Situmorang, "Chairil Anwar dalam Alam Manipol," dalam Sastra Revolusioner, h. 28-31. 11,. Lihat H.B. Jassin, Chairz"l Anwar Pelopor Angkatan '45. cetakan ke 3. Djakarta: Gunung Agung, 1968. 77 0 djogja fights back partai-partai politik dewasa itu seperti PKI, PNI, NU dan lain-lain. Konsep. Marhaenismel2 yang berdasarkan pada Marxisme menggodok rakyat Indonesia untuk membenci kebudayaan barat yang diasosiasikan dengan imperialisme, kolonialisme dan feodalisme. Rakyat Indonesia dibius mata hati mereka untuk melupai bahwa rejim Soekarno diwaktu itu sudah ditunggangi oleh PKI dan dasar politik agresif Repablik Rakyat Tiongkok. Seperti juga dengan Mao Tze-tung, ajaran-ajaran Manippl- Usdek ditrapkan pada seluruh lapisan rakyat, diajar diperguruan tinggi dan universitas sebagai indoktrinasi nasional. Berbagai organisasi tumbuh dan berkembang untuk meningkatkan dan meluaskan ' ajrn-~ itu. Soekarnoisme adalah suatu konsep politik yang pelaksanaannya mirip dengan programa Lenin dalam taktik untuk menyesuaikan ideologi p~rti atau ajaran-ajaran tokoh bagi menimbulkan kesadaran rakyat yang nantinya akan memenangkan revolusi.13 Ditinjau dari konsep sastra, kritiksastra Sitor yang bertolak dari Manipol itu tidak ada bedanya dengan konsep realisme sosialis yang menjadi metode kritiksastra Lekra. Hanya dalam penggunaan istilah-istilah terdapat pe rbedaan, yang satu bersumber pada ajaran-ajaran Soekarno, dan yang lagi satu bersumber pada ideologi komunisme, tetapi keduaduanya bersumber dari satu mataair-Marxisme. 12. Lihat Ir. Soekarno, Di bawah Bendera Revolusi. Jil (I). Cetakan ke 2, Djakarta: Panitya Penerbit Di bawah Bendera Revolusi, 1963, h. 253. 13 . Alfred G. Meyer, op. cit., h . 52. 78 djogja fights back BAB KEDELAP AN LAHIRNYA MANIFES KEBUDAYAAN Udara politik Indonesia antara 1963-1965 sebelum meletusnya Gerakan September 30 diseliputi oleh sloganisme-sloganisme Soekarno dan PKI. Setiap kehidupan rakyat seolah-olah diarah, dibentuk oleh iklim politik yang tegang pada waktu itu hingga kebebasan untuk mencari dasar-dasar kehidupan yang terkeluar dari Manipol-Usdek Soekarno dan sloganisme-sloganisme PKI berasa sukar dan paling· ·berbahaya. Di dalam suasana politik yang ditunggangi PKI itulah lahirnya sebuah pernyataan kebudayaan dari suatu golongan cendekiawan, pengarang. 0. ~ pengarangdan seniman-seniman Indonesia yang secara berani dan men-~ AD . dadak menyuarakan hasrat "budi nurani man usia". ./"";, '(" " . .¢1 Pernyataan tersebut dikenali sebagai Manifes Kebudayaan di~lahrkn (\u disebuah tempat di Jalan Raden Saleh, 19, dan pertama kali disiarkan untuk pengetahuan umum dalam harian Berita Republik dalam ruangan ~ ""' "Forum Sastra/Budaya" (no. I, th. I, tanggal 19 Oktober 1963) di bawah redaksi Drs H.B. Jassin. Manifes Kebudayaan mendapat siaran '(J) keduanya dalam majalah Sastra (no. 9/10, th, III, 1963).1 Selepas itu I' ~ Manifes Kebudayaan dikutip oleh harian-harian, radio, dan organisasiorganisasi kebudayaan yang lain, hingga akhirnya ia menjadi suatu pernyataan kulturil yang mendapat perhatian nmai. Sebelum Manifes Kebudayaan disiarkan dalam harian, risahlh-risalah Manifes Kebudayaan telah pun dikirim kepada sastrawan-sastrawan, organisasi-organisasi ,Y \U- _, ;P' .\ 1. Keterangan lanjut sila baca D.S. Moeljanto, "Lahirnja Manifes Kebudajaan", dan Arief Budiman, "Tjatatan Harian Manikebuis," dalam Horison · • no. 5, th. II (Mei 1967). 79 djogja fights back kebudayaan di 'seluruh tanahair guna mendapatkan sokongan dan dukungan mereka. 2 Naskah Manifes Kebudayaan itu disusun oleh seorang budayawan intelektuil yang terkenal yaitu Wiratmo Sukito. Tambahan-tambahan serta diskusi-diskusi selanjutnya telah diadakan di antara para peserta 1 ang lain untuk membicarakan Manifes Kebudayaan tersebut hingga akhirnya mendapat rumusan yang diterima baik oleh 20 orang penandatangani Manifes Kebudayaan tersebut. (Naskah Manifes Kebudayaan yang lengkap lihat lampiran B). Tokoh-tokoh cendekiawan, sastrawan dan seniman yang terkemuka yang menandatangani Manifes Kebudayaan itu termasuklah H.B. Jassin, Wiratmo Sukito, dan almarhum Trisno Sumardjo, seorang sastrawan, pelukis dan juga penterjemah. · Tenaga penggerak yang lain termasuklah Zaini (pelukis), Goenawan Mohamad (penyair dan eseis), Bur Rasuanto (sastrawan), Soe Hok Djin kini hernama Arief Budiman (budayawan dan eseis), Bokor Hutasuhut (novelis), Taufiq A.G. Ismail (doktor haiwan dan pcnyair) dan D.S. Moeljanto (wartawaQ.. dan sastrawan). Satu-satunya penandatangan dari golongan wanita ialah Dra. Boen S. Oemarjati (dosen di Fakultas Sastra, Universitas Indon.esia). Manifes Kebudayaan bukanlah sebenarnya tidak berbau politik. Wiratmo Sukito menganggap Ma1!lfes berbau "politik pragmatise jang dapat diibaratkan seperti domba berbadan lemah jang tidak berdosa, tetapi jang dengan segala naivitasnja menjuarakan tatangannja ditengah-tengah algodjo-algodjo politik jan~ zalim serta tidak mengenaj hati· nurani."3 Satu pernyataan sikap kulturil tanpa menyangkut sikap politik adalah tidak wajar dan tidak mungkin diwaktu itu. Dengan demikian pendukung-pendukung Manifes terpaksa mengunyah landasanlandasan pikiran Bung Karno dari pidato-pidatonya berkenaan dengan kebudayaan dan politik supaya Manifes Kebudayaan dan pendukungpendukungnya tidak dianggap oleh rakyat mencoba "menyisihkan" diri dari pergolakan dan aspirasi-aspirasi politik dewasa itu. Mereka menggunakan falsafah Pancasila sebagai titiktolak dari penghidupan kebudayaan Indonesia dan mereka mencoba menjernihkan falsafah Pancasila itu yang telah diselewengkan oleh PKI/Lekra, LKN, dan golongan PNI Ali/Surahman demi kcpentingan partai-partai politik dan organisasi-organisasi kulturil tersebut. Dalam suasana politik yang hi tam itu, Manifes Kebudayaan mencoba menegakkan "hati nurani manu2. Wawancara dengan H.B. Jassin, tgl. 13 Januari 1968. 3. Lihat Wiratmo Sukito, "Manifes dan Masalah-Masalah Sekarang," Horison, no. S,th. II(Mei 1967),h. 132-133. djogja fights back sia" yang murni dan mengungkapkan konsep humanisme universil sebagai wadah dari kebebasan manusia serta kebebasan berkarya. Karena yang diperlihatkan oleh golongan-golongan berkuasa diwaktu itu ialah politik kulturil PKI/Lekra dan LKN yang bersikap "tudjuan menghalalkan tjara'' dan "Politik adalah Panglima", maka Manifes Kebudayaan menentang pendapat dem1kian dengan '?engemukakan bahwa unsur estetis dalam seni tidak bisa diabajkan, karena kreativitet seni tidak bisa mengesampingkan ciri estetis tersebut. Realisme sosialis yang dianuti Lekra ditentang oleh pendukung-pendukung Manifes Kebudayaan karena konsep terse but "dehumanise" man usia untuk mengabdi kepada politik, dan JUStru ltu melahirkan karya-karya yang bersifat propaganda semata-mata. Dukungan-dukungan dari masyarakat dan organisasi-organisasi sangat banyak. Manifes Kebudayaan disiarkan kembali oleh berbagai harian seperti Semesta dan Duta Masjarakat (keduanya dari Djakarta), mingguan Gelora (Surabaja), Pos Minggu (Semarang), Mingguan Suralwrta (Solo,) majalah Basis (Djogdjakarta), mingguan Waspada Teruna dan harian Indonesia Baru (kedua-duanya dari Medan). Disarriping itu organisasi-organisasi yang mula-mula sekali menyokong Manifes Kebudayaan termasuklah Ikatan Sarjana Pancasila, Badan Pembina Teater Nasional · Indonesia Sumatera Selatan, Lesbumi, Teater Muslimin Wilayah Pal em bang dan Lembaga Kebudayaan Kr.isten Indonesia. 4 Majalah Sastra pula sering memuatkan penyokong-penyokong Manifes Kebudayaan di dalam keluarannya hingga ia merupakan sebagai satu wadah bagi mereka yang anti-PKI, dan dengan demikain membuktikan bahwa masih ada golongan tertentu yang tidak mau menerima perkosaan pribadi, juga indoktrinasi Manipol dari rejim yang condong kepada komunisme. Pencetus-pencetus Manifes Kebudayaan merupakan sebagai hero diwaktu itu. Keberanian dan kejujuran intelektualisme yang meledak di tengah-tengah pusaran indoktrinasi Manipol dan kejayaan PKI adalah keberanian dan kejujuran intelektualisme yang sungguh-sungguh mengkagumkan. Para pendukung dan pencetus Manifes Kebudayaan mungkin menyedari bahwa mereka berhadapan dengan gergasi-gergasi politik PKI dan Soekarno yang sangat besar pengaruhnya terhadap rakyat. Mereka menyedari risiko berat yang mereka ambil. Memang ada orang-orang perorangan yang berani menentang rejim Soekarno seperti Prof. Mochtar dari Bandung dan sebagainya, tapi suara penen- 1· Lihat Sastra, no. 9/10, th. III, 1963. Juga lihat Lef)tera (Bintang Timur), no. 12, th. III, tgl. 7 Juni 1964. 81 () djogja fights back tangan itu adalah suara individu tanpa diabadikan dalam suatu pernyataan protes dan keyakinan seperti Manifes Kebudayaan. Inilah sebilangan kecil kaum seniman, sastrawan dan cendekiawan Indonesia yang tidak mau menjadi "clique dan cliquers" dari rejim Soekarno (memakai istilah S. Tasrif). 5 Sunghp~ pencetus-pencetus Manifes Kebudayaan mengambil sikap bahwa "Manifes Kebudajaan a priori melahirkan organisasi kebudajaan"6 namun ia tetap menjadi pendorong yang kuat dalam pelaksanaan pentrapan serta penyibaran konsep Manifes Kebudayaan di kalangan masyarakat umum. Suatu konsep yang dicetus oleh tigabelas or~ng cendekiawan dan seniman tidak mencukupi untuk melancarkan ide-ide mereka ke dalam masyarakat yang berpulau-pulau seperti Indonesia. Justru itu suatu konferensi besar-besaran perlu di-adakan guna membahas persoalan-persoalan kulturil dan peranan karyawan. _____-;;; • karyawan kreatif diwaktu itu. ·~ · . L Karena pencetus-pencetus Manifes Kebudayaan seperti H.B. Jassin, p·· Wiratmo Sukito, Zaini, Goenawan Mohamad dan lain-lain adalah ' , orang-orang yang dekat dengan Sastra maka Sastra menjadi sponsor I/-<(\ yang terkuat dalam penyelenggaraan KKPl, karena ia (Sastra) merupa: ~ kan "konsekwensi dari kelahiran Manifes Kebudajaan".7 J. . Bila KKPI diadakan dari 1 sampai dengan 7 Maret 1964 digedung ·I Lembaga Administrasi N egara, J alan Veteran, Jakarta, sponsor-sponsornya adalah terdiri dari BMKN, OPI, HSBI dan Lekkrindo. Tema konc ferensi tersebut ialah "Peranan Pengarang Indonesia". Tema konferensi ini pun jelas membuktikan bahwa bukan soal kulturil saja yang dipentingkan, tetapi juga tujuan-tujuan politik untuk mengekang ataupun menolak gagasan-gagasan politik kiri diwaktu itu. · Oleh sebab pendukung-pendukung KKPI terdiri dari golongan yang kebanyakannya non-partai, maka undangan-undangan .KKPI · dikirim kepada organisasi-organisasi dan orang-orang perorangan tanpa mengira paham politik mereka. 8 Para undangan yang hadir datangnya dari ber5. H arian Indonesia Raya sekitar bulan April1969 menyiarkan beberapa tulisan dari Wira yang menyorot perartan beberapa orang intelektuil Indonesia yang bersekongkong dengan rejim Soekarno. Artikel-artikel itu diberi judul yang sama iaitu "Contoh-contoh Pelatjuran Intelektuil Dizaman Rejini Soekarno". 6. Lihat D.S. Moeljanto, op. cit., h . 159 7. Lihat Sastra, no. I, th. IV, 1964, h. 3 8. H.B. Jassin menjelaskan bahwa ia pribadi mau semua pengarang dari berbagai partai politik dan organisasi kebudayaan dijemput terma&uk Lekra dan LKN (Ali/Surachinan). Tapi pihak panitia jemputan tidak meneruskan undangan KKPI kepada pengarang-pengarang Lekra. Dengan demikian daftar peserta tidak termasuk seorang pun dari Lekra. 82 • f djogja fights back bagai daerah kepulauan Indonesia, dari Aceh hingga Irian Barat. Melihat dari jumlah delegasi-delegasi yang datang dari jauh orang akan hertanya-tanya bagaimanakah peserta-peserta dari Irian Barat, Aceh, Sulawesi dan sebagainya bisa menghadiri KKPI, karena ongkos perjalanan sangat besar, dan situasi ekonomi negara pincang. Ini tidak mengherankan karena Angkata Darat Republik Indonesia adalah di belakang KKPI. Se-bagai suatu wadah dari mereka yang non-komunis, maka kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh pihak Angkatan Darat Republik Indonesia untuk menunjukkan kekuatan politik diwatktu itu. Setiap kegiatan dari KKPI mendapat perhatian istimewa dari J eneral Abdul Haris Nasution, dan lapuran-lapuran kegiatan dikirimkan kepadanya dari penyelenggara konferensi tersebut. Karena ada-nya kerjasama dengan Angkatan Darat Republik Indonesia, maka berbagai fasilitas diberikan kepada KKPI dan peserta-pesertanya. 9 · Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, khasnya Angkatan D arat, tidak bisa secara terang-terangan menjadi sponsor KKPI. Pada waktu itu pihak PKI dan ormas-ormasnya sering mengecam sikap yang diambil oleh pihak Angkatan Bersenjata, terutani a Angkatan Darat. Cita-cita PKI untuk mempersenjatai Pemuda Rakyat mendapat tentangan hebat dari Angkatan Darat, dan dengan demikian PKI menganggap Angkatan Darat yang diketuai Jenera! Ahmad Yahi/Nasution merupakan penghalang besar bagi pelaksanaan cita-cita PKI untuk mendominasi politik nasional seluruhnya. PKI menyedari bahwa pengaruhnya di kalangan Angkatan Darat terutama.sekali masih belum mencukupi untuk melaksanakan cita-cita politiknya. Pihaktentera juga curiga untuk melaksanakan sesuatu tindakan drastis terhadap PKI, karena Presiden Soekarno masih menjadi tokoh politik yang berpengaruh dan kini sudah condong pada politik kiri a Ia PKI. Dengan demikian Angkatan Darat harus berhati-hati, supaya tidak timbul reaksi yang berbahaya bagi panglimapanglima . Angkatan Darat yang anti-komunis. Justru itu harus ada golongan-golongan lain yang tampil kemuka untuk mensponsori sesuafu konferensi yang bertujuan anti-komunis. Tugas yang berat ini dipikul oleh kaum cendekiawan, pengarang-pengarang dan seniman-seniman Indonesia dari golongan anti-komunis dan agama. Pihak sastrawan dan cendekiawan berani karena mengetahui bahwa mereka juga punya 9. Wawancara dengan.H.B. Jassin dalam bulan Februari 1968. Juga surat-surat yang dikirimkan novelis Bokor Hutasuhut, salah seorang pencetus Manifes Kebudayaan, kepada Jenera! Abdul Haris Nasutiori inenunjukkan kerjasarria , antara kedua belah pihak. Salinan surat-surat itu ada dalam simpanan H. B. Jassin. 83 . .. CJ . djogja fights back •. . , i : "backing'' yaitu'Angkatan Darat Republik Indonesia. Kalau dalam Mukaddimah Lekra dinyatakan kaum tani dan buruh sebagai massa rakyat yang harus diperjuangkan hingga timbulnya konsep kulturil "Politik adalah Panglima", maka golongan cendekiawan dan seniman yang non-komunis dalam KKPI juga menerbitkan semacam _J-"mukaddimah". Mukaddimah KKPI membawa kesimpulan bahwa ~ kaum karyawan pengarang Indonesia: ~ f 'Dalam revolusi Indonesia jang sedang memperdjuangkan setjara ~(I'\) ~ prinsipil budi nurani sosial manusia sekarang ini, mempunjai rasa {v " tanggungdjawab jang penuh, karena tidak ada suatu revolusi jang . 1/ berhasil apabila tidak mendjamin kelangsungan hidup sesuatu bangsa". Lebih !anjut lagi Mukaddimah KKPI menjelaskan: "Konferensi Karyqwan P ~ ngar se Indonesia itu akan merupakan djawaban blak-blakan terhadap semua tantangan jang telah dan sedang diarah kepada keinsafan jang sedalam-dalamnja, dengan Rikiran jang sesirius-siriusnja, dan dengan analisa yang seteliti-telitinja, karyawan pengarang Indonesia itu merupakan mutlaknja proporsi kepengarangan Indonesia dalam konstelasi masjarakat jang bersusun dan sebagai projek besar Revolusi Indonesia, sehingga dalam perdjuangan menjusun Dunia Baru jang berlandaskan pada kekuatan Asia-Afrika, maka karyawan pengarang Indonesia memperdjuangkan semilitan-militannja Pantjasila sebagai landasan idiilnja, dan terhadap setiap tendensi jang tidak sesuai dengan Pantjasila haruslah dilakukan pengaman dengan djalan apapun dibenarkan oleh_Revolusi Indonesia jang bersumber pada prinsip-prinsip jang universil itu."lO Mengapakah Mukaddimah KKPI sangat menyanjung tinggi filsafat Pancasila? Mengapakah filsafat Pancasila menjadi konsep Manifes Kebudayaan? Jawabannya sangat jelas. Filsafat Pancasila merupakan suatu filsafat universil di mana segala aspek kehidupan manusia diabadikan. Dan yang paling penting 'sila' pertamanya yang mengakui keesaan Tuhan. PKI juga pada luarnya mengakui Pancasila, tetapi perkembangan PKI sejak 1959 menampakkan kecenderungan yang bisa menghanyutkan filsafat Pancasila tersebut. Boleh di-katakan PKI/Lekra ·sangat jarang sekali membicarakan konsep Pancasila, tetapi sebaliknya lebih banyak mencinjol-nonjolkan Manipol-Usdek dan Revolusi Indo- 1 .t y. - &-\ v,;v- 10. Lihat "Mukaddimah: Konferensi K aryawan Indonesia," Sastra, no. 1, th. IV, 1964. 84 djogja fights back Pengarang-pengarang se nesia yang masih belum selesai itu. Menggunakan nama Pancasila dalam dukungan dan perjuangan dewasa itu lebih selamat daripada mengemukakan ide-ide lain. Pancasila sudah menjadi filsafat negara Republik Indonesia. Oleh yang demikian Pancasila adalah sakral bagi bangsa Indonesia. Karyawan pengarang Indonesia menyeru, " ... setiap jang tidak sesuai dengan Pantjasila haruslah dilakukan pengamanan dengan djalan apa pun jang dibenarkan oleh Revolusi Indonesia ... '', sebenarnya suatu pernyataan yang tidak berterus terang untuk menentang konsep politik PKI yang anti-Pantjasila. Mereka berharap dengan jalan ini pihak rakyat akan menyokong perjuangan KKPI dan membantunya dengan apa jalan sekalipun guna menumpaskan pengaruh PKI yang sangat ditakuti dewasa itu. . \ ~Kepada kaum pengarang dan cendekiawan, Pancasila yang dicetus- t(.. '/p _ _, 1 kan dalam perjuangan politik kulturil merupakan pengambalian konsep '-, D~ humanisme universil Angkatan '45 seperti mana yang termaktub dalam ~ - , Sural Kepercayaan Seniman Gelanggang pada tahun 1950. H.B. Jassin, P. Wiratmo Sukito dan lain-lain mau membuktikan bahwa kemanusiaan dan manusia yang diperjuangkan Angkatan '45 itu masih laku dan ber. jalan terus, dan bahwa konsep tersebut adalah idiil dan sesuai bagi bang~ sa dan kebudayaan Indonesia. Dalam Sural Kepercayaan Seniman Gelanggang dinyatakan bahwa Revolusi Indonesia masih belum selesai karena mengingatkan situasi politik dewasa itu. Sebab itu Wiratmo Sukito, dalam menanggapi "sastra revolusioner" antara lain menjelaskan: "Dan sastra jang ditjipta dengan disertai oleh kedjudjuran jang sesungguhnja adalah kreatif, dan karena itu adalah revolusioner. Hanja sastra jang tertjipta dengan tidak disertai oleh kedjudjuran jang sesungguhnja jang non-revolusioner atau kontral-revolusioner. Walaupun demikian ini tidak berarti bahwa seorang revolusioner jang menulis dan berpretensi bahwa tulisannja itu adalah "sastra" tidak bisa revolusioner. Iapun bisa revolusioner, hanja sadja tulisannja itu bukanlah sastra, dan biasanja ia tidak bertolak dari kenjataan sastra, melainkan dari kenjataan politik semata-mata."ll Lebihjauh lagi Wiratmo Sukito menjelaskan nilai-nilai Revolu.si bagi sastrawan-sastrawan Indonesia adalah: ( 1) Pembentukan N egara Kesatuan Republik Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. V- /:rv<-f ;.v-? · .' 11 . Lihat Wiratmo Sukito, "Sastra Revolusioner", Sastra, no. 9/10, th . . III, ) 1963, h. 1 85 • djogja fights back !.~ I/ v· / ~1 . {. :2) Pembentukan M"janlut so,iali• Panti""'· .t/rn.n. tiada pemerasan atas manusia oleh manusia. Dan \ (3) Pembentukan Dunia Baru, di mana tiada pemerasan atas bang\. · sa oleh bangsa.12 Kalau diteliti tulisan "otak" (master-mind) Manifes Kebudayaan ini, akan terlihat sikap humanisme universil itu. walaupun ada "engagement" dengan pengertian politik. Nilai kejujuran dan estetik dalam karyaseni masih dipertahankan, disamping memberi penjelasan kepada filsafat Pancasila. Salah seorang pencetus Manifes Kebudayaan yang banyak menulis esei ialah Soe Hok Djin alias Arief Budiman. Dalam menanggapi suasana kulturil dan kesusastraan diwaktu itu yang ditunggangi oleh konsep PKIJLekra "Politik adalah Panglima", ia menulis demikian: "Tudjuan politik, dalam program djangka pendeknja ialah ~ f!:'!!J._ di mana dengan kekuasaan itu selandjutnja dia memperbaiki masjarakat. Tudjuan seni dalam program dj ~ P ~ '! < eknja ialah keindahan jestetika, di mana selandjutnja dia menjempurnakan ek ~ Tampak di sini perbedaan daerah perdjuangan. Seni dapat dipakai sebagai alat politik, tapi seni tersebut · sudah bukan seni lagi, karena sudah bermotifkan kekuasaan. Politik dapat djadi objek seni, politik itu sudah bukan politik lagi karena motifnja bukan kekuasaan"_l3 Memang benar musuh besar golongan-golongan yang non-komunis di Indonesia itu ialah kekuatan-kekuatan yang mengembang dan berpengaruh dari PKI dan ormas-ormasnya. Memang benar juga pihak sponsor KKPI juga bermain politik dan lebih banyak menyuarakan ha,s rat "budi nurani manusia" dari segi politiknya, Hal ini tidak bisa dielakkan oleh mana-mana golongan sekalipun. Timbulnya organisasiorganisasi:kulturil diwaktu itu seperti Lesbumi dan LKN sebagai wadah dari partai-partai politik Nahdatul Ulama dan Partai Nasionallndonesia, adalah untuk mengimbangi kekuatan PKI tersebut. Dalam hal ini LKN yang dipimpin Sitor Situmorang lebih banyak mengambil garis politik PNI AliJSurachman yang pro-PKI, hingga akhirnya LKN merupakan suatu front kebudayaan yang sama dengan Lekra dalam cita-cita kebudayaan dan politiknya. Pihak Lesbumi dan masyarakat Islam merasakan PKI lew::tt Lekra menghina umat Islam dengan mementaskan 12. Wiratmo Sukito, ibid., h. 2 13. Lihat Soe Hok Djin, "Manusia dan Seni; Suatu renungan tentang fungsi dan pengertian seni", Sastra, no. 6, th. III, 1963, h. 31 86 djogja fights back drama- drama anti-Islam di Pekalongan dan ditempat-tempat lain hingga · menyebabkan Lesbumi melancarkan pula aktivitas-aktivitas budaya yang bercorak menentang kaum komunis.l4 Massa dalam ormas-ormas partai politik itulah yang sesungguhnya menggerakan partai untuk menjalankan aksi lebih lanjut, baik dibidang politik, ekonomi maupun kebudayaan. Mengapakah kira-kira empat bulan setelah diterbitnya Manifes Kebudayaan PKI/Lekra tidak melancarkan kecaman-kecaman mereka? Mengapakah PKifLekra melancarka:h kecaman habis-habisan terhadap Manifes Kebudayaan bila selesai saja KKPI pada bulan Maret 1964 itu? Mungkin pada mulanya pihak PKI/Lekra menganggap bahwa Manifes Kebudayaan tidak akan didukung oleh masyarakat yang sudah diindoktrinir dengan konsep Manipol- Usdek, dan menganggap Manifes Kebudayaan tidak bisa menarik perhatian masyarakat ramai di Indonesia. Oleh karena pihak yang mencetuskan Manifes Kebudayaan kesemuanya terdiri dari orang-orang yang non-partai, maka pengaruhnya dalam masyarakat mungkin kurang, dan dengan sendirinya Manifes Kebudayaan akan "mati". Orang-orang yang mencetuskan konsep tersebut tidak punya massa rakyat untuk melancarkan aktivitasnya di luar Djakarta seperti mana yang dilakukan oleh Lekra diberbagai kota dalam Indonesia. Dengan demikian Manifes Kebudayaan akan mati. dalam Sastra, Basis dan lain-lain harianfmingguan yang memuatkan pernyataan itu sahaja. Mungkin juga pihak PKifLekra terlalu "over-confident" bahwa mass-media yang dipengaruhi diwaktu itu bisa menghancurkan gerakan anti-Manipol dan anti-PKI apalagi mengingatkan kantor berita Antara dan PWI telahpun dikuasai oleh orang-orang komunis ataupun simpatisan-simpatisannya. Tetapi bila melihat bahwa penduktmg-pendukung Manifes Kebudayaan berhasil mengadakan KKPI dan mempengaruhi KKPI di mana turut hadir 1455 orang peserta perorangan dan 41 organisasi yang tersebar di seluruh tanahair,l5 maka PKI/Lekra melihat bahwa KKPI adalah suatu bahaya yang menkonftontir cita-cita Partai. Tambahan pula pihak PKI/Lekra sudah pasti mendapat rahasia bahwa pihak Angkatan Darat Republik Indonesia adalah pendalang KKPI, dan dengan demi14. Wawancara dengan Drs. Asrul Sani, penyair, eseis,sutradara film yang juga menjadi tokoh Lesbumi. Wawancara dibuat pada 24 Januari 1968· 15. Menurut surat H.B. Jassin pada Menteri P .D. danK., Prof. Dr. Prijono, tanggal6 Mei 1964 jumlah para peserta adalah seperti di atas- Menurut surat Bokor Hutasuhut kepada Jenera! A. H. Nasution tanggal 23 April1964 jumlah peserta ialah 2005 orang perorangan dan 67 organisasi kebudayaan fkesenian yang menyokong Manifes Kebudayaan. 87 • djogja fights back .- t .if '~ kian PKI/Lekra serta ormas-ormas PKI lainnya mengintensifkan aktivitas-aktivitas mereka untuk menghancurkan KKPI dan menindaskan pengaruhnya pada masyarakat. Sebagai tindakan pertama PKI/ Lekra memberikan konotasi politis yang buruk terhadap KKPI yang diberi "pengertian politis" sebagai "KK-PSI". Dengan menyebut "PSI" orang bisa mendapat peng~rtia bahwa PSI yang dilarang oleh Presiden Soekarno itulah yang mendalangi KKPI. Sekiranya rakyat termakan racuil fitn.ahan politik PKI itu, maka dengan gampang PKI bisa menunjukkan kepada Presiden Soekarno dan mendesaknya supaya m,elarang KKPI dan segala pernyataan-pernyataannya karena KKPI dianggap berbahaya atau mencoba merongrong Manipol. Untuk mengiatkan aksi-aksi penganyangannya dalam bidang perang psychologis ini dengan pihak Manifes Kebudayaan, pihak PKifLekra menggunakan penerbitan-penerbitannya seperti Bintang Timur, Harian RakJat, Warta Bhakti, Zaman Baru dan lain-lain lagi untuk meracuni pikiran rakyat untuk memusuhi Manifes Kebudayaan. Mengingatkan bahwa KKPI didalangi oleh Angkatan Darat yang mengongkosi konferensi tersebut, dan mengingatkan bahwa kaum in, ~ telektuil, sastrawan dan seniman yang mencetuskan Manifes Kebudaya....... l ~ ~ an juga mendapat simpati dari organisasi-organisasi ·kebudayaan dan 0 o , 6~ V ·i f 6rang-orang perorangan, maka·kecaman terhadap KKPI sudah dimulatq . kan siang-siang lagi. Sejak bulan Januari 1964 tokoh-tokoh Lekra/PKI ~ .~ dan LKN melancarkan aksi-aksi pengganyangan terhadap KKPI dan ~ Manifes Kebudayaan. Pihak PKifLekra mengetahui bahwa pencetusV pencetus Manifes Kebudayaan mencoba mempengaruhi KKPI untuk meminta sokongan moril dan kulturil agar menerima konsep yang ditrapkan dalam Manif;s Kebudayaan itu. Pramoedya Ananta Toer daiam menanggapi KKPI antara lain berkata bahwa Manifes Kebudayaan ~J "adalah berwatak kontra-revolusi dan patut sekali disinjalemenkan se~ bag~i sesuatu jang berwatak kontra-revolusi daripada gerakan ini (KKPI-penulis)."16 Lebih lanjut lagi ia mengatakan bahwa KKPI ditunggangi oleh orang-orang Manikebu, dan oleh sipatnya yang kontra~ revolusi, maka ia tidak dapat memasukan golongan komunis di dalamnya.l7 Istilah manikebu dicipta oleh orang-orang PKI/Lekra dan LKN untuk memberi "gelaran" kepada penyokong-penyokong Manifes Kebudayaan. Manikebu dianggap sebagai suatu yang kurang baik, ber- 7 r l . 16. Lihat Pos Minggu, th. V, no. 245, tgl. 12 Januari 1964. 17. Lihat Bintang Timur, th. ke-38, no. 4, tgl. 5 Januari 1964. 88 djogja fights back sipat kontra-revolusi menurut konotasi politik PKI/Lek(a dan LKN. Sungguhpun pada mulanya JY/anil<.ebu · dimaksudkan pencetus-pencetus dan penyokong-penyokong Manifes Kebudayaan, lama kelamaan istilah terse but mencakupi juga bagi mereka yang menentang gagasan-gagasan pikiran dan aktivitas-aktivitas PKI dalam bidang politik, kulturil dan sebagainya. dan keJelas sudah Pramoedya mencoba membuat garis pe~isahn lainan antara watak KKPI dengan watak golongan komunis. Oleh • yV karena KKPI dianggap sebagai "kontra-revolusi", maka ia tidak bisa diikutsertakan oleh golongan komunis yang dianggapnya revolusioner. JY Dalam alam Manipol setiap aktivitas yang kantra-revalusianer barns ~ dibasmikan. Tajuk rencana Trompet Masjarakat (Surabaja) dalam ruangan 'Tanahair' juga mengecam KKPI dan menganggap "hanya pengarangz jang pandangan kulturilnja sama dengan perantjang-perantjangnja itu sadjajang diundang ... ''dan " ... tidak ada kehendak .. .untuk setia kepada prinsip-prinsip ·manipolis," dan akhirnya membuat kesimpulan KKPI diilhamkan dari "para penandatangan Manifes Kebudajaan".18 Sloganslogan yang sering dikeluarkan oleh PKI/Lekra dan penyokong-penyokongnya ialah KKPI itu "anti Nasakom", "kontra revolusi" dan "antek imperialis". Sitor Situmorang dalam kecamannya terhadap KKPI menumpukan perhatian khusus pada H.B. Jassin dan Wiratmo Sukito yang dianggapnya, "Mereka mewakili grup 'akademis' jang perhatiannja @ kepada kebudajaan dan sastra dari sudut teori sadja ... bersikap 'text book thinking', rnenentang golongan progresif dan manipolis ... "19 Sitar sebagai ketua LKN dari PNI Ali/Surachman memainkan kliseklise Soekarno seperti "text book thinking", "manipolis" dan sebagainya. Menganggap H.B. Jassin dan Wiratmo Sukito sebagai "text book thinkers" akan memberikan suatu tuduhan yang sama nada dengan tuduhan Soekarno terhadap para sarjana Indonesia yang sangat patuh pada pengetahuan yang terdapat dalam buku-buku ilmiah Sematamata. Dengan demikian ilmu pengetahuan mereka itu tidak penting karena mereka tidak menghayati cita-cita revolusioner dari perjuangan bangsa Indonesia dewasa itu. Seperti yang telah dikemukakan lebih dulu dalam tulisan ini, KKPI juga bermain politik. Pihak sponsor KKPI yang terdiri dari BMKN, OPI, HSBI, Lekkrindo, pendukung-pendukung Manifes Kebudayaan 18. Lihat terbitannya pada tanggal 8 Januari 1964. 19. Lihat Bintang Timur, th. ke 37, no. 313, tgl. 14 Disember-1963. 89 • . djogja fights back 4 ~ang ~rang terdiri perseorangan dan 35 organisasi kebudayaan, BMKI yang terdiri dari HSBI, Lesbumi, Leski (badan kebudayaan Y" partai PSII), MASBI, tokoh-tokoh dan cendekiawan Islam dan Pusat Research Islam lndonesia,20 mencoba membawa suatu iklim kulturil yang segar dan sehat dari suasana kulturil dan politik yang ditunggangi oleh PKI dan partai-partai politik serta ormas-ormas yang sealiran mencoba untuk bicara soal kulturil yang sehat, dengannya. M~reka tetapi persoalan-persoalan kulturil yang "murni" itu disapu bersih oleh suasana konferensi yang dihadiri oleh delegasi-delegasi dari berbagai organisasi kebudayaan di tanahair dan juga orang-orang perseorangan yang diundang. Nampaknya para peserta yang hadir dalam konferensi itu tidak bisa melepaskan pembicaraan kulturil tanpa menyangkut persoalan politik yang dominan dewasa itu. Keputusan-keputusan yang diambil dalam konferensi tersebut dengan jelas menunjukan betapa kuatnya desakan politik populer pada waktu itu, hingga persoalan kulturil yang sehat sudah menjadi "tidak penting" lagi. Ikrar para delegasi yang berbunyi antara lain, "berdjuang beserta . ~ selurh Rakjat untuk mentjapai tudjuan Revolusi Indonesia dengan / berlandaskan Pantjasila dan herha)nan Manifesto Politik Republik ' / Indonesia 17 Ogos 1959," dan berikrar untuk "taat kepada garis Pemim;.tV ,;.v ' pin Besar Revolusi, Bung Ka.rno",21 dengan sendirinya menyebabkan n ·• / ~ , J KKPI melibatkan diri kepada persoalan politik yang dominan dewasa , ~ itu. Dengan membuat satu keputusan yaitu "P~rsatun Karyawan ¥ i)#' '{" _, "i(\ ~ Penga.r~ Indoesi~ m~nepatk diri .langsung di b~wah ko~and \~_, ~ / : dan btmbmgan Pemtmpm Besar Revolust, Bung Karna_'22 memmbul'yv; ' kan sikap politik· budaya ala komunis. ,) ~Dr u ');r Kalau di negara-negara komunis dan sosialis kaum cendekiawan, ~ )P ) sastrawan dan rakyat harus tunduk kepada kehendak-kehendak parti, 'C / dan di Repablik Rakyat Tiongkok har.us selaras pula dengan ajaran.\ ajaran Mao Tze-tung, di Indonesia pula, di mana posisi Soekarno ada1 . ~ lah sebagai diktator, maka ajaran-ajaran Soekarno dan pidato-pidato~ ~V nya menjadi sumber ilham dan pedoman untuk seluruh rakyat guna di~ . y" trapkan dalam pe?ghidupan budaya dan politik. Oleh karena terdapat P'\ anggapan umum bahwa "Revolusi Indonesia belum selesai", baik oleh Presiden Soekarno Il}aupun oleh partai-partai politik, maka setiap warganegara Indonesia ·harus bekerja keras untuk menyelesaikan revo\ - .- J.- 20. Lihat makalah acara KKPI. 21. Lihat "Ikrar Karyawan Pengarang Indonesia" pada acara KKPI. 22. Lihat keputusan sidang paripurna KKPI. 90 djogja fights back lusi, tidak kecuali kaum cendekiawan, sastrawan dan juga seniman. Justru itu aksi-aksi serta pikiran-pikiran yang berlawanan dengan citacita Manipol-Usdck Soekarno adalah dianggap kontra-rcvolusi satu "dosa" yang tidak bisa diampunkan. Secara psychologis kita dapat memahami bahwa para delcgasi KKPI berasa jiwa mereka tertekan olch suasana politik Indonesia yang gawat dewasa itu, dan risiko yang bcrat bisa terjadi sekiranya mcrcka mengambil suatu sikap kulturil yang bertentangan 100% dari Manipol- Usdek Soekarno. Mer:eka tcrpaksa melakukan tindakan sccara diplomatis dan hati-hati agar keputusan-keputusan yang diambil tidak bersipat menentang ajaran-ajaran Bung Karno. Di mana pcrlu mereka mengutip ajaran-ajaran Bung Karno untuk menyesuaikan cita-cita politikkulturil mereka.23 Kalau PKIJLekra juga menipulasikan ajaran-ajaran Bung Karno untuk disesuaikan dengan garis politik-kulturil mercka, maka pihak-pihak lain pun turut manipulasikan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi itu untuk memperjuangkan kepentingan mcreka. Walaupun d~lam Mukaddimah KKPI dinyatakan "djawaban blakblakan terhadap semua tantangan", namun dalam konferensi tersebut para pcserta lebih banyak di "bentuk" oleh suasana politik pada waktu itu. Mungkin tidak 100% dari hasil konferensi itu memuaskan pihak pencetus-pencctus Manifes Kebudayaan, tetapi mereka bisa berterima kasih karena cita-cita idiil Pancasila dipertahankan dalam konferensi tersebut. Apabila dalam salah satu resolusi KKPI dijelaskan "bahwa Agama adalah unsur pokok dalam nation dan character building", maka ini merupakan suatu jawaban yang berani dalam mengkonfrontir aksi-aksi PKIJLekra yang sering menghinakan agama. Dengan memasukkan peranan agama sebagai keputusan KKPI, para peserta merasai bahwa"sila" pertama dalam filsafat Pancasila itu diberi kedudukan yang mulia sekali lagi. · Para delegasi juga menyedari 'bahwa pemberitaan-pemberitaan dalam pers Indonesia diwaktu itu bersipat destruktif dan subjektif. lni disebabkan pers Indonesia pada sebagian besarnya dikontrol oleh PKI, termasuk juga kantor berita Antara dan PWI. Oleh karena Presiden Soekarno sendiri pernah menegur tentang pemberitaan yang diputarbelitkan itu, maka KKPI menghasilkan satu resolusi lagi, yaitu "mendukung 's epenuhnja andjuran Presiden Soekarno ·supaja pers Indonesia menuliskan bcrita-berita setjara objektif dan konstruktif." '• 23. Misalnya Wiratmo Sukito dalam membuat "Pendjelasan Manifes Kebudajaan" banyak mengutip literatur Pancasila antara lain tulisan-tulisan Bung • -Karno dan Dr. H. Roes! an Abdulgani. 91 djogja fights back Pada waktu ini banyak harian-harian yang menentang gagasan pikiran PKI. Atau dituduh oleh Presiden Soekarno menentang cita-cita politiknya ataupun dikatakan punya asosiasi dengan partai-partai politik yang terlarang yaitu PSI dan Masjumi. Dengan demikian harian-harian tersebut seperti Abadi, Pedoman dan Indonesia Raya dilarang terbit. Bahwa ada golongan pers yang tidak senang terhadap dominasi PKI dalam bidang politik-kulturil itu dapat dibuktikan dari polemik-polemik yang . tcrjadi diwaktu itu antara Harian Rakjat, harian PKI dengan Merdeka dan Api. Kedua harian yang akhir ini dilarang terbit.24 Antara harianharian yang dilarang oleh Soekarno termasuklah Angkatan Baru yang dilarang oleh Soekarno pada tahun 1961 (karena pro-Masjumi), Berita Indonesia dilarang oleh rejim lama pada bulan Januari 1965 karena kegiatan BPS, Indonesian Observer yang dipimpin oleh Herawati Diah, isteri B.lVI. Diah, dilarang pada bulan Februari 1965 bersama-sama dengan Merdeka di bawah pimpinan B.M. Diah.25 Oleh karena harian-harian yang berani mcngecam PKI dan politik Soekarno dilarang terbit, maka mass-media dan pers Indonesia merupakan pers yang bersipat "monologue". · Rupa-rupanya pihak Soekarno scndiri menyedari bahwa pers Indonesia juga tidak memberikan pemberitaan-pemberitaan yang konstruktif bagi kepentingan dirinya, hingga ia terpaksa menegur pers diwaktu itu . ./ . Melihat dari keputusan yang diambil dalam KKPI dapat meninggal·.r ~ \ k, kan kesan kepada kita bahwa seolah-olah KKPI hanya diadakan untuk ~ 'tv v~ ~ \ membuktikan solidaritet golongan-golongan yang anti-PKI dan simpatis' Jf"'. .A.\an-simpatisannya yang lain. KKPJ lahir sebagai satu "show of force" ~ "'~ · 0 yang masih belum tentu akan keutuh_an dan k~uat _ nya. Bagaimana~ pun, dengan adanya sokongan maten dan monl dan Angkatan Darat, dan tambahan pula terdarat beberapa orang perwira tinggi Angkatan Darat yang mengambil bagian yang aktif dalam KKPI, pihak sponsor KKPI berasa kuat dan optimistis terhadap kemenangan perjuangan mereka untuk menegakan iklim kulturil yang sehat, be bas dari fitnahan dan cemuhan PKI dan ormas-ormasnya yang lain. Bagaimampun masih bergayut rasa kecemasan dan tekananjiwa dari para cendekiawan, V l / }.;, V v· 24. Polemik an tara Nlerdeka dan Harian Rakjat diterbitkan dalam bentuk buku. Yang diterbitkan Merdeka diberi judul Polemik H .R. dan Merdeka (Merdeka Press, 1965). Yang diterbitkan Harian Rakjat diberi judul Polemik Merdeka Harian Rakjat (liar ian Rakjat, 1964). 25. Bacalah Roger K. Paget, "Indonesian Newspapers 1965- 1967" dan "Djakarta Newspapers, 1965-1967: Preliminary Comments", Indonesia, Modern Indonesian Project, Cornell University, Ithaca, no. 4 (Oktober 1967), pp. 170-226. 92 •• djogja fights back .. sastrawan dan seniman dalam KKPI terhadap tindakan-tindakan yang bisa berlaku, baik dari pemerintah maupun dari golongan-golongan revolusioner diwaktu itu, sekiranya mereka menyimpang dari Manip:>lUsdek Soekarno. Di sinilah kelihatan kaum cendekiawan Indonesia terpaksa tunduk kepada iklim kulturil yang suram dewasa itu, hingga pencarian unsur-unsur kulturil yang murni bisa di-tenggelamkan oleh persoalan-persoalan politik yang menyimpang jauh dari problim-problim kulturil dan kesusastraan umumnya. Untuk menyelaraskan konsep kulturil dengan milieu politik dikala itu, pihak sponsor KKPI menggunakan tema konferensi "Peranan Pengarang Indonesia dalam perdjuangan mentjapai tudjuan Revolusi Indonesia", yang mana memungkinkan para delegasi KKPI untuk lebih banyak menggali dan menyorot daerah dan konsepsi politik Soekarno dari membicarakan problim kulturil secara sirius, sistimatis dan berkesan. Wiratmo Sukito yang merumuskan konsepsi Manifes Kebudayaati dalam prasarannya masih belum berani mengemukakan pendapat-pendapat yang non-politis hingga ia secara bijaksana menyatakan: "Tidak ada persoalan tentang 'co~ent dengan sesuattt golongan, bahkan seorang karyawan pengarang tidak melakukan 'commitment' dengan golongannja sendiri, golongan karyawan pengarang, melainkan djiwa toh ada 'commitment' itu maka seorang .karyawan pengarang hanya melakukan 'commitment' dengan tudjuan Revolusi, bersama-sama dengan golonganz karyawan lainnja jang djuga harus mengadakan 'commitment' dengan tudjuan Revolusi". 26 Konferensi yang telah diadakan itu menelurkan Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia (PKPI): Dalam Anggaran Dasar PKPI inipun kelihatan pengaruh politik yang kuat. Pada fasal tiga dijelaskan bahwa "PKPI berasaskan Pantjasila dan berhaluan Manipol-Usdek," dan "bertudjuan menggalang persatuan pengarang Indonesia bagi perdjuangan mentjapai tiga kerangka tudjuan Revolusi lndonesia."27 Bukankah ini jalan tengah yang paling selamat untuk PKPI, yaitu dalam suatu nada memuja Pancasila dan dalam nada yang sama menyokong pula konsep Manipol- Usdek yang menjadi haluan negara Republik Indonesia diwaktu jayanya Soekarno dan PKI? lnilah konflik spirituil ya~g ·dihadapi oleh seniman-seniman dan cendekiawan Indonesia. 26. Lihat Wiratmo Sukito, "Prinsip Kepengarangan Kita", prasaran pad a KKPI (stensilan saja). 27. Lihat "Anggaran Dasar Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia" pad a • fasal tiga dan empat. 93 . djogja fights back .. Secara sedar mereka mengetahui bahwa Manipol- Usdek itu adalah ideide yang berbau komunisme, dan konsep itu diperalatkan oleh :PKI/ Lekra semau-maunya guna mensukseskan program Partai. Manipol - Usdek sejak tahun 1959 telah menjadi haluan negara yang akhirnya menelurkan gagasan politik "the new emerging forces" Djakarta-HanoiPeking-PyongYang. Bagi golongan seniman, sastrawan dan cendekiawan yang non-komunis, mereka terjerat antara kejujuran dan prinsip intelektualisme yang dimiliki mereka dengan problim-problim politik yang menj urus kepada "dictatorship". Dengan demikian dapat dikatakan KKPI yang menelurkan PKPI adalah refieksi dari dunia kulturil Indonesia yang ditunggangi politik. KKPI dan PKPI juga merupakan intelektuil-kulturil terhadap tuntutan-tuntutan politis satu ~ dewasa itu. ~ djogja fights back .. BAB KESEMBILAN DEKRIT PRESIDEN: 8 MEl 1964 DAN KESANNYA DALAM BIDANG KEBUDAYAAN Seperti yang telah dikemukakan dulu dalam tulisan ini, seranganserangan terhadap Manifes Kebudayaan dan KKPI di-lanca:rkan hebathebatan oleh tokoh-tokoh PKI/Lekra. Di-samping itu Sitar Situmorang dan lain-lain anggota LKN Ali/Surachman tidak ketinggalan menyemarakan kecaman-kecaman terhadap penentang-penentang konsep kulturil mereka. Oleh karena pers dikuasai oleh PKI, dan kalaupun ada yang dianggap "bebas" masihjuga menyuarakan sikap politik Soekarno, maka kecaman-kecaman terhadap penyokong-penyokong Mamfes Kebudayaan dan KKPI bertambah nyaring dalam Harian Rak.fat, Zaman Baru dan Bintang Timur. Tulisan-tulisan yang dimuat dalam harianharian dan majalah PKI/Lekra bukari hanya mengecam Manifes Kebudayaan dan KKPI, tetapi juga membuat serangan-serangan pribadi serta ancaman. Lukiskan·lukisan potret disiar dalam harian-harian untuk menunjukan kepada pembaca-pembaca kususnya orang-orang PKI / Lekra siapa-siapakah pendukung-pendukung Manik f!hu itu. Antara potret· potret yang dilukiskan termasuklah wajah J. U. Nasution, seorang dosen di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Boen Sri Oemarjati dan Bur Rasuanto, kedua-duanya penandatangan Manifes Kebudayaan. Sesuai dengan pengaruh PKI yang kuat terhadap rejim Soekarno yang akhirnya melahirkan kabinet Nasakom serta garis-garis politik nasional dan internasional yang bersesuaian dengan cita-cita PKI, maka PKI lewat Lekra mengintensifkan pengindoktrinasian jiwa Nasakom dan Manipol- Usdek dalam bidang kulturil. Kemunculan Manifes Ke95 djogja fights back ·• PKIJLekra harus menghancurkan Manifes Kebudayaan karena ia menolak "The end justifies the means" atau "Tudjuan menghalalkan tjara" yang menjadi metode kerja kulturil PKIJLekra. Apa saja metode bisa digunakan asalkan cita-cita akhir menjadikan Indonesia dan rakyatnya sebagai negera dan rakyat komunis berhasil. Justru itu PKI/Lekra mclancarkan pula konsep "Politik adalah Panglima" sebagai konsep politik-kulturilnya. Disamping itu pendukung Manifes Kebudayaan mcnganggap filsafat demokrasi Pantjasila sebagai humanisme kulturil yang diassosiasikan dengan konsep kulturil Angkatan 45 dulu- humanisme universal. Pihak Lekra melihat bahwa humanisme kulturil itu adalah lanjutan dari konsep kulturil humanisme universil yang pernah ditentangnya dulu.2 Oleh karena itu PKI /Lekra sekali lagi melancarkan aksi-aksi mereka. Tetapi kali ini mereka lebih seru dan militan karena PKI mempunyai posisi yang penting dan terkuat dalam politik nasional Indonesia. Seperti juga dengan serangan-serangan Lekra yang dibuat oleh Klara Akustia alias Jogaswara alias A.S. Dharta terhadap konsep Angkatan 45 yang dianggapnya "Angkatan 45 sudah mampus",3 rpaka kali ini lemperan-lemparan kecaman oleh Lekra lebih hebat dan agresif lagi. Kali ini seluruh kekuatan Lekra ditambah dengan kekuatan PKI digunakan untuk menghancurkan gagasan pikiran Manifes Kebudayaan. Kalau dulu H.B. Jassin yang mengemukakan konsep humanisme universil hanya menerima tentangan dari Klara Akustia dan Boejoeng Saleh saja, k!ni I-I.B. Jassin dan kawan-kawannya harus menghadapi suatu partai politik yang ekstrim dengan ormas-ormasnya sekaligus. l.-Sebagai serangan kulturil yang bersandar pada politik pihak PKI / \) .. Lekra menuduh Manifes Kebudayaan bersipat "kontra-revolusi", "~ "~' . fl: ~ k~t", "borju~s, "~osmplitan dan lain-lain tuduhan yang berbau OK, I ( ~ _),.... pohtls. · Lewat JUrubrcara Lekra, Pramoedya Ananta Toer, serangan- 1 /" serangan terhadap pendukung-pendukung Manifes Kebudayaan men~ l /' jadi lebih ekstrim. Disamping Pram, Bakri Siregar dan Sitor Situmoran l'~ .· ' j uga membuat kecaman- kecaman yang seru terhadap pendukung-pen- · dukung Manifes Kebudayaan. Prof. Dr. Prijono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang condong pada Marxisme, dalam kata sambutannya pada KKPI mengatakan Manifes Kebudayaan tidak menyebut langsung Manipol, tetapi hanya menyebut Pantjasila. Prijono menj elaskan: " Andaikata dian tara Pantjasila dan Manipol itu jang di.s ebut salah V 2. Pada awal tahun SOan pihak Lekra lewat Klara Akustia membuat kritik yang tajam terhadap konsep humanisme universil. Lihat H. B. Jassin, Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (II), h. 24-29. 3. H.B. Jassin, ibid., h. 27. 97 . djogja fights back budayaan pada waktu itu dianggap sebagai suatu penghalang besar cialam pentrapan indoktrinasi rakyat. Tambahan pula mereka melihat Manifes Kebudayaan didukung pula oleh KKPI walaupun tidak 100% . Apa yang membimbangkan PKI dan Lekra ialah sikap bantahan atau oposisi yang masih timbul dikalangan intelektuil, sastrawan dan seniman Indonesia terhadap gagasan politik-kulturil Soekarno yang dipengaruhi PKI itu. Sekiranya sikap oposisi dari para intelektuil dibiar begitu saja, besar kemungkinan cita· cita untuk menggembelingkan pikiran rakyat pada suatu ideoloji politik cap PKI tidak bisa dilaksana- kan. Simpati rakyat terhadap perjuangan PKI/Lekra dalam bidang kulturil harus dicari . Pikiran-pikiran Soekarno tentang "kebudayaan yang bcrkepribadian nasional" dicatut oleh PKI/Lekra untuk membuktikan bahwa PKI/Lekra sungguh-sungguh "mencintai" rakyat dan sungguhsungguh konsekwen dalam pentrapan ajaran-ajaran Soekarno. "Kebudayaan yang bcrkepribadian nasional" yang dimaksudkan Soekarno diberi tambahan oleh PKI/Lekra bahwa konsep kulturil itu harus mendasari sokoguru Indonesia yang terkuat dan banyak, yaitu kaum buruh, tani dan kemudiannya ditambah dengan prajurit. Sikap ini dengan jelas dikemukakan dalam keputusan KSSR yang antara lain berpendapat: "Disamping harus menjempurnakan pengabdian kita terhadap buruh dan tani dengan lebih menanamkan pendirian dan sikap klas jang tepat, Konfernas menggarisbawahi didjadikan djuga pradjurit sebagai objek karya sastra dan seni rcpolusioner, sebab diti"ndjau dari kelahirannja, asal-usul dan vitalitetnja, pradjurit-pradjurit kita pada hakikatnja adalah Rakjat pekerdja jang memanggul senap)- panjang setjara politik sudah lama tidak mendjadi soal bagi.kita".l ~Denga adanya Manifes Kebudayaan yang berlandaskan "hati nurani ma~si" di~ngap oleh PKI /Lekra se~agi pen~lwga dari R~vlust Indonesia yan ber oroskan sok am, buruh dan ra unt L itu. engr~ia "hati nurani ~anusi" tidak menjelaskan pertentangan tiTas sepert1 mana yang d1maksudkan PKifLekra. Kepada PKI/ Lekra manusia-manusia dari klas penghisap dan penindas seperti kaum feodal, kolonial, kapitalis dan imperialis adalah tetap jahat dan harus dihapuskan. Manusia-manusia dari klas tertindas seperti kaum tani, buruh dan prajurit inilah yang harus diperjuangkan, dipuja dan diberi pembalasan yang se~nguh-ya. Konsep "hati nurani manusia" kepada PKI/Lekra terlalu umum dan tidak revolusioner. 7./ "\'1(1- V ~ 1. Lihat resolusi KSSR (stensilan). Disimpan dalam arsip H.B. Jassin. djogja fights back karena dalam ide-ide itu terdapat persesuaian sikap politik-kulturil dalam perjuangan komunisme. Justru itu agumentasi Prijono merupakan sebagai suatu helah politis semata-mata. Sikap politis Prijono lebih ketara lagi bila ia menyatakan keraguannya · ~tentang pernyataan sikap dalam Manifes Kebudayaan yang antara lain '\¥V""~ ],~) mengatakan, "sedjahat-djahat manusia ia tetap memantjarkan tjahaja _ f'.r"'". Vr Ilahi .. ", yang oleh Prijono dikaitkan dengan persoalan kekejaman imperialisme Inggeris dan Belanda terhadap anak-anak negeri di bawah ~ - ~ penjajahan mereka. 7 Kelihatan sekali Prof. Prijono menilai kebaikan , _,/{' dan kejahatan man usia itu dari aspek politik Marxisme yang menganggap \A'. ' bahwa manusia tertindas dan terhisap itu adalah mangsa dai.-i kebuasan imperialisme, kolonialisme dan golongan-golongan penindas yang lain. Dengan lain perkataan Prijono tidak menganggap kaum penindas mempunyai cita-cita yang murni langsung. Serangan terhadap pendukung-pendukung Manifes Kebudayaan dan KKPI dilancarkan dengan sengitnya oleh redaktur Bintang Timur · ~ yang menuduh Manifes Kebudayaan hendak memisahkan politik dan kebudayaan. Mereka menganggap "m§ndjadikan Manikebu pegan.gan ~ dan pedo ~ an berarti mengesampingkan Manipol. Dan inilah tudjuan . 6) para konseptor Manikebu jang hakiki. "s Sitor dalam serangannya berf. kata Manifes Kebudayaan hendak "m~etjahbl pcr.>atuan Nasakom.':9 Tajuk rencara Warta Bhakti, sebuah harian yang dipengaruhi PKr,berkata: . "Gagasan 'Manikebu' lahir dari siasatnja orang-orang jang partainja sudah dilarang dengan mentjoba berfilsafat bahwa kemanusiaan tanpa pandang bulu harus mendjadi mahkota hidup kita. Manipol jang tidak bertoleransi terhadap kaum kontra-revolusi. Manipol jang tidak memberi ampun kepada imperialisme agaknja dianggap oleh kaum Manikebuis sebagai suatu jang tidak berperikemanusiaan ... Manikebuisme, meskipun sekedar bermerk 'kebudajaan' tetapi hakikatnja adalah suatu paham yang ditjiptakan setjara masak untuk membela liberalisme .. . "10 Sikap PKI/Lekra sangat jelas dalam mengisolasikan para penyokong dan pendukung Manifes Kebudayaan dan KKPI dari rakyat banyak. Secara licik PKI/Lekra menuduh bahwa Manifes Kebudayaan dan r· 0 p )1 7. Lihat Dll1iia Radio Televisi , th. 10, no. 21, tgl. 8 Maret 1964. Juga lihat Berita Indonesia, th. XII, no. 2284, tgl. 5 Maret 1964. 8. Lihat Bintang Timur, th. XXXVI, no. 35, tgl. 5 Februari 1964. 9. Lihat Warta Bhakti, th. LIV, no. 1398, tgl. 6 Maret1964. 1!1 Lihat Warta Bhakti, tgl. 11 Mei 1964. 99 . djogja fights back .. r::l KKPI didalangi oleh tokoh-tokoh politik PSI dan Masjumi yaitu dari partai-partai politik yang telah dipaksa untuk membubarkan dirinya - ,\?" , UV oleh Presiden Soekarno. Dengan taktik demikian PKI dan ormas~ . !.-. ~ \ - ormasnya mencoba untuk memancing simpati dari rakyat untuk meng0-'-'0 _ / ganyang pendukung-pendukung Manifes Kebudayaan dan KKPI. Pihak JV' \ Lekra dan LKN serta PKI memberatkan tuduhan mereka terhadap pendukung-pendukung Manifes Kebudayaan dengan menuduh mereka anti-Manipol. lni berarti pendukung-pendukung itu adalah anti-pemerintah dewasa itu. Prof. Prijono secara tidak langsung menuduhManifes Kebudayaan dan KKPI dengan sengaja tidak memasukkan Manipol ke dalamnya, .dan ia menganggap pendukung-pendukung Manifes mendalangi KKPI. Bagian, sekretaris-jeneral LKN, memberi instruksi kepada seluruh anggota LKN untuk "tidak duduk dan tidakikut serta dalam KK-PSI", karena LKN berpendapat "bahwa KK-PSI adalah saluran bagi penuangan apa jang disebut "Manifes Kebudajaan"_ll Gajus Siagian, seorang anggota LKN dan budayawan tidak menghiraukan instruksi ini, dan tetap mengikuti KKPI. Dia dipecat dari LKN. Saperti yang dinyatakan dalam " Lentera", ruangan kebudayaan Bintang Timur, ia telah "berhasil menjodorkan adanja gerakan anti, bahkan kontra-revolusi, dibidang kebudajaan ... " ,12 dan ia menyiarkan nama-nama peserta yang mengikuti KKPI serta penyokong-penyokong Manifes Kebudayaan lainnya. Inilah taktik PKI/Lekra yang . sangat ditakuti oleh pendukung-pendukung Manifes dan KKPI, dan juga orang-orang yang non-partai, ataupun yang mempunyai hubungan kepartaian yang lain dari PKI. Nama-nama itu dimuat dalam harianharian PKI dan penyokong-penyokongnya sebagai suatu jalan untuk memberi instruksi dan isyarat kepada anggota-anggota PKI/Lekra dan ormas-ormas PKI yang lain untuk menjalankan aksi-aksi selanjutnya terhadap mereka yang namanya disiarkan itu. Akibatnya beberapa orang peserta KKPI dan penyokong Manifes Kebudayaan di daerahdaerah luar Djakarta diberhentikan oleh pihak majikan atau kantor yang dikuasai orang-orang PKI.l3 Propaganda PKI yang hebat itu mempengaruhi massa bukan sedikit. Serangan-serangan terhadap penyokong-penyokong Manifes Kebudaya- 'f/,..,t ,. I j 11. Lihat Rakjat, th. IV, no. 3686, tgl. 3 Maret 1964. 12. Lihat tajuk rencana "Lentera" (Bintang Timur), th. XXXVIII, no. 75, tgl. 22 Maret 1964. 13.. Dari surat-surat yang disimpan H.B. Jassin diketahui bahwa ada pesertapeserta dan penyokong-penyokong Manifes Kebudayaan dan KKPI yang diberhentikan kerja di Medan. 100 djogja fights back an serta KKPI tidak berhenti-henti dalam harian-harian, pidato-pidato tokoh-tokoh PKI/Lekra dan juga dalam tindakan aksi politik. Polemik yang seru antara Merdeka dan Harian Rak;at yang berlangsung dalam tahun 1964 menunjukan betapa gairahnya pihak komunis untuk menghancurkan segala penentangan terhadap cita-cita PKI dalam segala bidang kehidupan di Indonesia. D.N. Aidit, sebagai Menteri Ko-ordinator merangkap Wakil Ketua MPRS, antara lain mengecam kaum Manikebu yang menentang Nasakom, dan menyeru rakyat untuk "mengungkapkan kemunafikan mereka" _14 Istilah Manikebu bukan lagi diartikan bagi penyokong-penyokong dan pencetus-pencetus Manij{!s Kebudayaan sahaja. Manikebu, menurut pengertjan PKI/Lekra, termasuklah penentang-penentarig dari segala bidang kulturil, ekonomi maupun politik yang tidak sehaluan dengan cita-cita PKI. Bukan saja PKI gesit dalam serangan-serangannya lewat mass-media, .......-" tetapi juga penyokong-penyokong PKI/Lekra turun ke jalan-jalan raya -~ berdemonstrasi. Demonstrasi-demonstrasi serta aksi-aksi PKI dan puvv ' ormas-ormasnya rupa-rupanya mempengaruhi Presiden Soekarno 1A ~ yfY' ~ . I IV.L hingga pada akhirnya Soekarno membuat pidato menyerang dunia per- NV"\"" ~ · l guruan tinggi Indonesia. Dalam pidato menyambut ulang-tahun ketiga 0 ~ PTIP, Soekarno mendesak mahasiswa-mahasiswa yang revolusioner ~ dan militan su.Q_aya menggeser gurubesar-gurubesar dan sarjana-sarjana ~ yang anti-Manipol.l5 Api yang dilontarkan oleh Presiden Soekarno disambut dengan gembira oleh gerakan-gerakan mahasiswa kiri dari PKI, PNI dan sebagainya. Tujuh buah gerakan mahasiswa kiri yang militan di Djakarta mengadakan demonstrasi dan aksi-aksi lainnya mendesak diritul sarjana-sarjana dan .gurubesar-gurubesar yang dianggap antiNasakom dan anti-Manipol. Tujuh buah organisasi mahasiswa kiri itu ialah CGMI, GMNI, GMM, GMD, Germindo, Perhimi dan Gema 45. Antara organisasi mahasiswa ini CGMI di bawah sayap PKI, GMNI di bawah PNI, GMM di bawah Partai Murba, Germindo di bawah Partindo, dan Perhimi di bawah naungan Baperki, sebuah parti politik bagi orang-orang keturunan Cina.l6 Lain-lain organisasi yang menentang Manifes Kebudayaan dan KKPI termasuklah Actor's Studio, Sumatera Utara, BAKOKSI, HIMPI Pusat, Djakarta, Comite Central KPAA, Djakarta di bawah Pramoedya y- v 14. Bintang Timur, th. 38, no. 75, tgl. 23 Maret 1964. 15. Bintang Timur, th. 38, no. 98, tgl. 15 April1964. :t6. Bintang Timur, (edisi minggu), th. III, no. 4, tgl. 12 Apri11964. 101 djogja fights back Ananta Toer, .Dewan Pimpinan Pusat LKN, 'Djakarta, Lekra, Front Nasional Sumatera Utara, HSBI, Surabaja, IKAT, Solo, Fakultas Sastra Universitas Res Publica, di Djakarta (sebuah universitas yang ditubuhkan oleh PKI), Lesbumi Sumatera Utara dan lain-lain lagi. Menurut "Lentera" terdapat 88 organisasi yang menolak Manifes Kebudayaan dan KKPJ.17 Kebanyakan organisasi yang menentang Manifes Kebudayaan d an KKPI itu sudahpun dipengaruhi oleh kader-kader PKI (Lekra ataupun dipimpin langsung oleh orang-orang yang berhaluan kiri ataupun menjadi penyokong-penyokong dan simpatisan-simpatisan PKI(Lekra. Untuk menunjukan bahwa " seluruh" rakyat menentang Manifes Kebudayaan dan KKPI pihak PKI(Lekra tidak segan-segan memasukkan nama-nama organisasi yang bukan organisasi kulturil agar supaya dapat memperlihatkan jumlah penyokong-penyokongnya. Dengan berbuat demikian PKI(Lekra berharap pemerintah akan mengambil perhatian yang sungguh-sungguh berat atas soal konflik kebudayaan yang berlaku, dan mengambil tindakan yang tegas terhadap "penyelewengpenyeleweng" Manipol dan Nasakom. Aksi-aksi PKI(Lekra memberi indikasi bahwa kebudayaan bukan hanya monopoli kaum cendekiawan, sastrawan dan budayawan, tetapi menjadi perhatian serta tanggungjawab seluruh rakyat . . Sejak lahirnya Manifes Kebudayaan pada tahun 1963, PKI(Lekra serta ormas-ormasnya yang lain menjadikan tahun-tahun berikutnya sebagai periode pengganyangan terhadap golongan-golongan "kontrarevolusi", "anti-Manipol" dari penyokong-penyokong Nlanifes Kebudayaan dan KKPI. Pembicara-pembicara kulturil dan dunia kesenimanan bukan hanya Trisno Sumardjo, H.B. Jassin atau Wiratmo Sukito, tetapi tokoh-tokoh PKI seperti D.N. Aidit, Njoto juga menaruh perhatian istimewa hingga akhirnya tercetus garis-garis politik-kulturil yang ditrapkan oleh pengikut-pengikut PKI(Lekra dalam bidang kebudayaan dan kesusastraan. Tidak seorang pun bisa mungkiri bahwa kekuatan politik PKI setelah tahun 1963 sangat kuat dan berpengaruh sekali. Program PKI yang sistimatis dan aktivitas-aktivitasnya yang menyeluruh, menyebabkan banyak kader-kader PKI atau orang-orang yang bersimpati dengan PKI menyusup ke dalam organisasi massa, instansi-instansi pemerintah, 17. Dalam Bintang Timur (edisi minggu), tgl. 8 Maret 1964, di-siarkan 36 organisasi-organisasi yang menentang Manijes Kebudajaan dan KKPI. Dalam "Lentera" (Bintang Timur), tgl. 7 Mei 1964 arigka penentang menjadi 88 buah. · 102 djogja fights back departemen-departemen, perguruan tinggi dan sebagainya, hingga dengan mudah Comite Central PKI menyalurkan segala instruksiinstruksinya lewat saluran-saluran yang telah dibina itu. PKI dapat mobilisir orang-orangnya dengan gampang untuk mengadakan rapat atau demonstrasi di mana-mana saja dipikirkan perlu. Inilah cara kerja PKI yang tidak bisa ditandingi oleh partai-partai politik lain di Indonesia pada waktu itu. Oleh karena PKI demikian kuat hingga terdapat tokoh-tokoh-nya masuk dan keluar dari Istana Merdeka. Presiden Soekarno akhirnya, , b V I I /d"'·l- I mengeluarkan Dekrit Presiden pada tanggal 8 Mei 1964 melarang ,1 v/ Manifes Kebudayaan, kira-kira dua bulan setelah selesainya KKPI. , ~"d Pernyataan larangan terhadap Manifes Kebudayaan itu berbunyi: ~ / ialah k~rea Manifesto ~olik R_epublik ·J ~ "Sebab-.sebab lar~ng.itu Indonesta sebagat pantpran Pantjastla telah mendjadt gans besar ~if J\ haluan Negara dan tidak mungkin didampingi dengan Manifesto 1 8 lain, apalagi kalau Manifesto lain itu menundjukkan sikap ragu- I ragu terhadap Revo ~ si dan memberi kesan berdiri disampingnja, I padahal demi suksesnja Revolusi maka segala usaha kita, djuga dalam lapangan kebudajaan, harus kita djalankan di atas rei RevoIlisi menurut petundjuk-petundjuk Manipol dan bahan indoktrinasi lainnja."l8 Pernyataan larangan Presiden Soekarno itu membawa kehancuran pada cita-cita untuk membebaskan alam kulturil Indonesia dari cengkaman regimentasi mental PKI. Pernyataan Presiden Republik Indonesia yang menganggap pendukung-pendukung Manifes Kebudayaan "ragu-ragu terhadap Revolusi", dan menganggap Manifes Kebudaayan bertentangan dengan Manipol adalah "tuduhan-tuduhan" yang sangat berbahaya diwaktu itu. Majalah Sastra yang menjadi wadah aktivitasaktivitas Manifes Kebudayaan tidak sampai dilarang tetapi kehabisan darah karena disabot di mana-mana: dipercetakan, di kantur pos dan di agen-agen. Karena larangan terhadap Manifes Kebudayaan orang ketakutan membeli dan membacanya.19 Pihak PKifLekra menyambut larangan tersebut dengan senang hati. Kini sampailah masanya bagi PKifLekra dan ormas-ormasnya meningkatkan lagi ak~i-s . terhadap pencetus-pencetus dan penyokong.:. penyokong Manifes Kebudayaan yang masih bekerja pada instansiinstansi dan departemen-departemen pemerintah. Mereka mendesak ~ JP 18. Pernyataan larangan Presiden ini disiarkan sepenuhnya dalam W arta Bhakti, th. 54, no. 1459, tgl. 10 Mei 1964 . . 1<f. Wawancara dengan H.B. Jassin, Disember 1969. 103 (j djogja fights back supaya pihak ,yang berkuasa meritul penyokong-penyokong Manifes Kebudayaan di mana saja mereka berada. Pencetus-pencetus Manifes Kebudayaan yang terkemuka seperti H.B. Jassin, Wiratmo Sukito dan Trisno Sumardjo merasai bahwa mereka harus membuat sesuatu pernyataan berkenaan dengan larangan Presiden itu untuk menjelaskan posisi Manifes Kebudayaan yang sebenar, dan juga membersihkan diri mereka dan lain-lain penyokong Manifes Kebudayaan dari aksi-aksi massa yang sudah dipengaruhi PKI. Pada tanggal 11 Mei 1964 ketiga orang tokoh Manifes Kebudayaan itu membuat pernyataan menanggapi larangan Presiden terse but demikian: ' " ... tidak ada maksud lain selain daripada membangkitkan swadaja massa untuk merealisasikan Manipol- Usdek dan ketetapan MPRS dibidang kebudajaan. Dan berhubung sesuai dengan larangan PJM PresidenjPanglima TertinggijPemimpin Besar Revolusi, BUNG KARNO, terhadap Manifes Kebudajaan jang tersebut demi keutuhan dan kelurusan djalannja Revolusi dan demi kesempurnaan ketahanan Bangsa, makii kami, para pendukung Manifes Kebudajaan di Djakarta mengandjurkan kepada saudara-saudara agar mematuhijmemenuhi maksud daripada larangan tersebut. Dengan demikian kita tetap setia di bawah pimpinan dan bimbingan Pemimpin Besar Revolusi, BUNG KARNO, djustru untuk kepentingan Nasional kita sebagai salah satu golongan jang tetap setia pada Revolusi harus menempatkan kepentingan Nasional di atas kepentingan lainnja."20 Pernyataan ini dibuat supaya jangan banyak korban jatuh akibat dukungan mereka terhadap Manifes Kebudayaan. Pernyataan "minta "maaf" dalam kawat yang dikirimkan oleh H.B. Jassin/Trisno Sumardjo kepada Presiden Soekarno menimbulkan reaksi kurang senang disetengah kalangan· orang yang menyokong Manifes Kebudayaan.21 Memang kalau ditinjau dari aspek kebebasan memilih sikap hidup dan kulturil pernyataan "minta maaf" H.B. Jassin dan kawan-kawan lainnya adalah pernyataan sikap yang "kurang berani". Tetapi mengingatkan 20. Pernyataan ini disebarkan kepada seluruh pendukung-p.,ndukung Manifes Kebudayaan, dan diberi tanggal 8 Mei 1964. 21. Ajip Rosidi dalam artikelnya, "Masalah Angkatan dan Periodisasi Sedjarah Sastra Indonesia", Budaja Djaja, no. 5, th. 1 (Oktober 1968) menulis: "Jang memperslogan 'Manipol' misalnja, bukan hanja orang-orang jang berkumpul dalam kubu LKN dan Lekra & Co. sadja, tetapi djuga lawanlawannja termasuk para tokoh Manifes Kebudajaan. (Misalnja telegram Jassin, Trisno Sumardjo dan Wiratmo .. . )", h. 310 104 djogja fights back ' . situasi politik Indonsia dewasa itu yang sudah tidak memungkinkan dialog kulturil yang bebas, maka mau tidak mau orang harus mencari jalan lain yang lebih selamat. Setiap kegiatan yang dianggap menyeleweng dari Manipol dan rejim Soekarno dengan gampang mendapat gelaran "kontra-revolusi", "antek imperialis" dan sebagainya, hingga bisa mengakibatkan seseorang dijebloskan ke dalam tahanan tanpa banyak usul periksa. Yang diutamakan dewasa itu ialah kemenangan Revolusi Indonesia yang berporoskan Nasakom, dan hukum-hukum Revolusi tidak mengenal cara-cara yang demokratis dan humanistis. Pada pendapat kami orang yang banyak sekali mendapat sorotan dan kecaman dari PKifLekra dan LKN dalam bidang kebudayaan, ialah H.B. Jassin dan Wiratmo Sukito. Pihak Lekra sudah lama ingin menjatuhkan H.B. Jassin sebagai kritikus dan tokoh kebudayaan Indonesia yang dianggap terlalu konsekwen dalam keyakinan kulturilnya. Inilah waktu yang ampuk buat PKI /Lekra melancarkan serangan-serangan terhadap H.B. Jassin, agar ia roboh dan berpihak kepada gagasan ide-ide komunisme ataupun menghilangkan saja ketokohannya sebagai sarjana dan kritikus sastra. Melenyapkan posisi H. B. Jassin sebagai tokoh kesusastraan merupakan juga suatu kemenangan PKifLekra dalam melawan golongan-golongan yang anti-PKI/Lekra. Dengan menggunakan aksi-aksi mahasiswa dari golongan kiri yang militan kedudukan H.B. J assin sebagai dosen di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, tidak bisa dipertahankan lagi akibat agitasi yang terus-menerus yang dilancarkan oleh mahasiswa-mahasiswa kiri tersebut. Walaupun para dosen di Jurusan Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia mencoba mempertahankan kedudukan H.B. Jassin dan Boen Sri Oemarjati seorang dosen yang juga menandatangani Manifes Kebudayaan, namun akhirnya kedua sarjana sastra terse but di-paksa melepaskan kedudukan mereka. Apakah PKI dan ormas-ormasnya berpuas hati dengan pernyataan I ~ larangan Presiden 8 Mei 1964 itu? Mereka masih belum puas hati. Manikebu, menurut interpretasi PKI, masih bercokol dalam instansi- , · instansi, departemen-departemen pemerintah yang terdiri dari para pegawai yang masih melindungi orang-orang Manifes Kebudayaan, atau u vA~ secara pasif b~rsimpat dengan golongan Manifes Kebudayaan. Karena ~/ Manifes Kebudayaan dicap sebagai anti-Manipol, maka para pegawai yang benci pada partisipasi komunis dalam kebinet Nasakom juga di- ~ anggap pendukung Manifes Kebudayaan atau Manikebu. Sebab itulah D.N. Aidit dalam pidatonya menyambut 44 tahun PKI mendesak rakjat dan mahasiswa-mahasiswa yang progresif menghancurkan kaum Mani- . ' . Irt ·¥/~ 1 _ ·r. "{11\- • 105 djogja fights back ~ kebu. Ia juga mengatakan masih ada pegawai-pegawai instansi pemerintah yang melindungi kaum Manikedu itu.22 Aksi-aksi ofensif makin memuncak bila Presiden Soekarno secara langsung memberi angin yang baik bagi peningkatan aksi-aksi massa dari mahasiswa kiri, buruh dan lain-lain ormas yang militan. Banyak sarjana-sarjana, gurubesar-gurubesar yang menentang PKI secara terbuka ataupun secara tidak langsung, diberhentikan . Pertenganganpertentangan terjadi di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, antara penyokong-penyokong H. B. Tassin dengan T.W. Kamil, seorang sarjana linguistik yang berhaluan kiri dan menjadi tokoh HSI. Sesuai dengan peningkatan aksi-aksi PKI dibidang politik dan Lekra dlbidang kulturil, maka BTl pun mencari mangsa-mangsanya dalam bidangnya pula. A.S. Ala.t.as, seorang lektor kepala bahasa Arab di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, dikaitkan dengan "KK-PSI" karena ia menterjemahkan Magdalena yang pernah dihubungkan dengan "plagiarisme" Hamka, dan dituduh pula memiliki beberapa buah bangalow di Puntjak. Drs. Bah rum Rangkuti, seorang mubaligh Islam dituduh sebagai tuan-tanah dan kedua-dua sarjana tersebut diganyang oleh kaum tani di Puntjak dan di Tjiputat!23 Dengan melemparkan tuduhan-tuduhan seperti itu pihak PKI menteror orang-orang yang dianggap menjadi musuhnya. Pihak PKI menyedari bahwa pengaruhnya sudah meluas dan mendalam dikalangan pemerintah dan juga rakyat, hingga pihak Comiti Central PKI berani mengadakan suatu Konferensi N asional Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) di Djakarta pada tanggal 27 Agustus s_ampai dengan 2 September 1964, di mana garis perjuangan "sastrawansastrawan dan seniman-seniman revolusioner" telah di-bentangkan oleh • tokoh Comiti Central PKI, D.N. Aidit dalam referatnya yang berjudul, "Dengan Sastra dan Seni jang berkepribadian Nasional mengabdi Buruh, Tani dan Pradjurit". Referat D.N. Aidit inilah yang menjadi pokok dalam aksi dan amalan para sastrawan, cendekiawan, seniman dan propaganda PKI di dalam Lekra dan lain-lain ormasnya bila menaggapi soal-soal kulturil dan kesusastraan. Mungkin juga PKI/Lekra mengadakan konfernas ini untuk menyaingi KKPI yang telah diadakan dalam bulan Maret 1964 itu juga. Mungkin juga PKI/Lekra berasa kwatir kalau ide-ide dari Manifes Kebudayaan 22. Lihat D.N. Aidit, "Manikebu bertugas lutjuti sendjata rakjat", dalam "Lentera" (Bintang TimU1:), th. III no. II, tgl. 31 Mei 1964. 23. "Lentera" (Bintang Timur), tgl. 31 Mei 1964. 106 .. djogja fights back dan KKPI itu masih diteruskan juga secara gelap untuk menghalang cita-cita politik-kulturil PKI. Sungguhpun telah terbit Dekrit Presiden 8 Mei 1964, namun PKI dan ormas-ormasnya masih bel urn puas dengan pelarangan tersebut. Peningkatan aksi terhadap sisa-sisa Manifes Kebudayaan pada instansi-instansi pemerintah, swasta, perguruan tinggi maupun dalam persuratkabaran dan seni, harus berjalan lebih berkesan dan lebih keras lagi. J adi, dengan lihai sekali PKI menggunakan pernyataan 8 Mei 1964 itu untuk mengeksploitasikan suasana politikkulturil dewasa itu bagi kepentingan PKI. Dengan mengadakan konfernas terse but PKI mencoba membuktikan kepada rakyat dan golongan-golongan yang menentangriya, bahwa suasana politik-kulturil dewasa itu sebenarnya berada di bawah kuasa PKI. Garis-garis perjaungan dalam sastra dan seni yang dikemukakan D.N. Aidit dan disahkan oleh konfernas, adalah garis petjuangan komunis yang berpandukan Marxisme-Leninisme yang "memperkuat sastra dan seni jang memihak dan membela Rakjat pekerdja, terus-menerus memperkuat pimpinan proletariat dibidang sastra dan seni". 24 Dengan demikian ia menganut konsep perjuangan "tudjuan menghalalkan tjara", suatu sikap budaya yang ditentang oleh pendukung-pendukung Manifes Kebudayaan. Kalau H.B. Jassin dan kawan-kawan lain mengemukakan satu Manifesto Kebudayaan yang dianggap oleh rejim pada waktu itu "menundjukkan sikap ragu-ragu terhadap Revolusi, dan memberi kesan berdiri disamping"25 Manipol- Usdak, maka PKI tidak secara terang-terangan mengemukakan sebuah manifesto kebudayaan, tetapi secara bijaksana menunggangi Manipol- Usdek untuk kepentingan perjuangan PKI. Tambahan pula kekuatan pol\tik yang dikuasainya memungkinkan PKI membuat "tafsiran dan garis-garis" kebudayaan yang cocok dengan susunan politik dewasa itu. Nasib yang menimpa H.B. Jassin dan lain-lain pendukung Man~fes Kebudayaan dan KKPI adalah nasib bagi golongan cendekiawan, seniman, sastrawan dan budayawan Indonesia yang tidak melibatkan diri serta jiwa kepada suatu organisasi politik yang revolusioner dewasa itu. Kaum cendekiawan yang bebas bukan saja menghadapi serangan dan perongrongan dari PKifLekra, tetapi juga harus menghadapi sebuah 24. Lihat resolusi KSSR. Salinan resolusi ini telah diketik dan disimpan dalam arsip H.B. Jassin. 25. Lihat pernyataan Presiden Soekarno dalam Warta Bhakti, th. 54, no. 1459, tgl. 10 Mei 1964. 107 .. djogja fights back .c. hati nurani rakjat dan hidup pikiran yang sehat, di sanalah mercka melihat momok jang mereka sebut 'Manikebu'."27 Bila Orde Baru muncul sekali lagi bangsa Indonesia menyedut udara kebebasan. PKI yang mendalangi G- 30-S dibubarkan pada tanggal 12 Maret 1966 dan penyebaran ajaran komunisme dilarang selamalamanva diseluruh wilayah Republik Indonesia.zs 27. Lihat H. B. Jassin, Angkatan '66 Pros a dan Puisi. Djakarta : Gunung Agung 1968, h. 8. 28. Jassin, ibid., h. 10. Juga lihat A.Z. Abidin dan Baharudd in Lopa SH. Bahaja Komunisme. Djakarta: Bulan Bintang, 1968, h. 79. 109 djogja fights back BAB KESEPULUH EPILOOG .. / , 1 ~ ~ • ~ 11 '1' ~ .V ( -y/'1 ~;).,"' Mungkin ada orang menganggap suatu peristiwa sejarah yang lucu bahwa Soekarno, Presiden Republik Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi/Panglima Tertinggi, dan pernah pula dilantik sebagai Presiden seumur hid up menurut keputusan M .P.R.S., yang menguasai politik Indonesia selama 22 tahun, kini dijatuhkan dari posisinya yang tinggi oleh anak-anak sekolah, para pelajar dan mahasiswa-mahasiswa Indonesia sendiri. Para pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam KAMI, KAPPI dan KAPI inilah yang menubrak sejarah politik Indonesia hingga akhirnya memancar sinar baru dalam bidang politik dan kehidupan bangsa Indonesia. Aksi-aksi demonstrasi yang dicetuskan KAMI /KAPPI pada bulan Januari 1966 itu sungguh-sungguh membawa satu fase baru dalam sejarah bangsa dan politik Indonesia. Pada waktu pergolakan politik terse but, dan pada waktu para demonstran muda membanjiri jalan-jalan raya, mengempiskan ban-ban mobil dan truk, pada waktu ternan-ternan mereka yang gugur karena mempertahankan hak yang sah dari kehidupan manusia demokratis, berkumandang diangkasa nyayian-nyanyian puisi dari penyair kenamaan, Chairil Anwar.l Dalain perjuangan menentukan nasib ini para penyair terlibat langsung dalam pergolakan demonstrasi-demonstrasi mahasiswa dan pelajar. Beberapa berkas puisi perlawanan seperti !]:ani_ dan B!!!te!!Ji dari penyair Nur Fadjar alias Taufiq A. G. Ismail di-terbitkan oleh Gema Psychologi, Universitas Indonesia, dalam bulan Maret 1. H.B. Jassin, op. cit., h. 9. 110 djogja fights back 1966. Selain dari penyair Taufiq Ismail terdapat pula berkas puisi Bur Rasuanto yang berjudul Mereka Sudah ·Bangkit (Sanggar lbu-kota, Djakarta, Maret 1966),2 Wahid Situmeang dengan Pembebasan (stensilan, Sanggar lbukota, 1966 ), Mansur Samin pula dengan ~Sangr lbukota) dan Kebangkimn, kumpulan puisi lima orang penyair muda dari Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Kritikus H. B. Jassin yang menanggapi kelahiran puisi-puisi perlawanan ini, antara !ian berkata: "Di sini para penjair setjara praktis menjumbangkan daja tjipta dalam memberikan perlawanan terhadap kezaliman dan kebatilan. Di sinilah sastra sungguh-sungguh mendjadi alat perdjuangan, seperti pamflet-pamflet jang sekian banjak beredar dan tjoretantjoretan di tembok-tembok seluruh kota. "3 Pada pendapat kami ''sastra sungguh-sungguh mendjadi alat perdjuangan," bukan dimulakan oleh penyair-penyair yang tergolong dalam Angkatan 66 ini.4 Puisi-puisi protes telah dikumandangkan oleh penyair-penyair grup Lekra seperti dalam Rangsang Detik kumpulan Klara Akustia, Matinja Seorang Petani, kumpulan Agam Wispi dan kawan-kawannya, dan yang banyak mengemukakan soal tanah dalam fang Bertanahair tapi Tidak Bertanah, sebuah kumpulan perseorangan dari penyair S. Anantaguna. Alasan yang diberikan oleh seorang sarjana sastra yang juga menjadi seorang penyair, Subagio Sastrowardojo, bahwa puisi-puisi Taufiq Ismail ti1ak ada perbedaan pengucapan dengan puisi-puisi protes Klara Akustia dapat diterima. 5 Prof. A. Teeuw pula menganggap puisi-puisi Angkatan 66 sebagai "battle poems" dan meragukan nilai estetisnya. 6 Walaupun dalam segi penilaian sastra orang mungkin tidak sependapat, namun kelahiran puisi-puisi perlawanan ini merupakan juga suatu detik sejarah dalam perkembangan kesusastraan khususnya, dan politik-kulturil Indonesia umumnya. Pernyataan-pernyataan sikap di 2. Edisi kedua diterbitkan oleh BADKO-HMI Sumatera Bagian Utara, Oktober 1967. 3. H.B. Jassin, op. cit., h. 11. . 4. Penamaan Angkatan 66 dalam kesusastraan masih menjadi polemik hebat hingga dewasa ini. Banyak tulisan-tulisao yang menentang penamaan seperti di atas termasuk tulisan-tulisan Ajip Rosidi, Arief Budiman, Satyagraha Hoerip dan lain-lain. 5. Lihat Subagio Sastrowardojo, "Sadjak Perlawanan Taufiq Ismail dah Angkatan '66." Budaja Djaja, no. 13, th. kedua (Juni 1969), h. 366-382. 6. Lihat A. Teeuw, Modern Indonesian Literature. The H ague: Martinus > Nijhoff, 1967, h. 225. 111 •. djogja fights back ,. _ D ~ ~ · ~ IG • - - .V v'r" ! /"Y" l~ ¥ ( dalamnya, sem'angat yang melahirkan puisi-puisi itu merupakan juga titik-titik sejarah dalam perjuangan politik-kulturil Indonesia. Penyairpenyair tersebut membenci tirani, korupsi, kebecatan moral yang dilahirkan oleh suatu rejim yang ditunggangi PKI. Baikpun ia dianggap bersipat kontemporer ataupun abadi dari aspek penilaian sastra, berkasberkas puisi tersebut tetap merupakan suatu dokumentasi sosial-politikliterer yang tidak bisa di-lupakan. Suatu hal yang nyata bahwa Angkatan Lekraisme dan Neo-Lekraisme di dalam kebudajaan, jaitu 66 "m~nolak dominasi politik atas karya-karya seni."7 karya-karya seni itulah yang ditentang oleh ,D2_minasi polit~s Angkatan 66. Kehidupan kulturil bagi bangsa Indonesia harus bebas dari segala kekuasaan politik, dan memberikan kebebasan sepenuhpenuhnya kepada tenaga-tenaga kreatif untuk mengembangkan bakat serta penghayatan seni dan hid up menurut kemampuan mereka sendirisendiri. Keputusan-keputusan yang diambil dalam suatu simposium yang disponsor oleh Universitas Indoneisa dengan kerjasama KAMI dan KASI yang membicarakan aspek-aspek kebudayaan sangat menarik hati sekali: Kesimpulan-kesimpulan yang dirumuskan itu adalah seperti di bawah ini: (1) "Falsafah Pantjasila harus diungkapkan dalam seni budaja .. .. " (2) "Dalam membina dan memperkembangkan seni budaja I nasional kita haruslah ditegah penggunaan untuk kepentingan satu golongan ... . '' (3) "Kekuatan suatu bangsa didukung oleh massa lapisan buruhpekerdja dan lapisan menengah, tapi kemadjuan suatu bangsa ditentukan oleh potensi kesadaran dan bertindak daripada lapisan universiter." (4) "Angkatan 66 merindukan kemerdekaan, bukan sadja kemerdekaan politis ... akan tetapi kemerdekaan sebagai nilai jang hakiki dari manusia .... '' (5) "Angkatan 66 menolak Lekraisme dan Neo-Lekraisme di dalam kebudajaan, jaitu dominasi politik atas karya-karya sem. .... ''8 Secara implisit dapat kita saksikan kemenangan konsep Manifes . \ / ~ ------- --........._ 7. Lihat Siniposium Kebangkita11 Semangat '66: Mendjeladjah Tracee Baru: (Simposium ini disc!lenggarakan olch Universitas Indonesia, KAMI dan KASI). Diadakan dari tanggal 6 s/d 9 Mei 1966 di Djakarta. Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, 1966. 8. Ibid., h. 8. Lihat kesimpulan umum tentang budaya yang berjudul, "Seni Budaja Indonesia dalam Kehidupan Baru". · 112 , djogja fights back 1\..ebudayaan yang herdasarkan humanisme universil itu. Sekali lagi para ·cndekiawan, hudayawan, sastrawan dan seniman Indonesia menyatakan "hati nurani manusia" itu sehagai inti penciptaan kreatif mereka. Yang paling penting dalam sikap kulturil selepas peristiwa G-30- S ialah timhulnya kesegaran haru dalam dialog. Orang sekali lagi tampil kc muka untuk memherikan pendapat dan ide-ide mereka, haik dalam bidang politik, ekonomi dan pemhangunan sosial maupun kehudayaan. Dalam hidang polemik kesusastraan orang mencoha sehisa-hisanya untuk tidak mengheret-heret soal ideoloji politik dalam menanggapi masalah-masalah kesusastraan. H.B. Jassin memherikan pertimhangan hila beberapa orang pengarang mengajukan keberatan yang sangat ~epat mereka hila dalam buku Angkatan 66 Pros a dan Puisi J assin masukan beherapa karangan pengarang-pengarang yang jelas mendukung Bung Karno J assin ia berkata: "Saja tetap mengharagai nilai-pelarangan buku Pram Keluarga Gerilja hagi saja satu kekeliruan. Dari pihak saja sendiri, sekalipun terhadap jang pernah berchianat, terbuka pintu tobat dan pekarjaan adalah djalan jang paling tepat untuk membuktikan ketobatan itu."9 Tapi sayang sekali H.B. Jassin tidak menemui puisi-puisi dan karangan-karangan prosa yang baik dari sastrawan-sastrawan dan penyairpenyair Lekra untuk dimuatkan ke dalam bukunya. Mungkin juga karena adanya pelarangan terhadap karya-karya orang-orang Lekra oleh pemerintah, dan keengganan dari pihak penerbit, menyebabkan karyakarya yang baik dari Agam Wispi, S. Anantaguna, Hr. Bandaharo dan sebagainya tidak dimuat oleh H.B. Jassin. Sekali lagi dominasi politik terhadap karya-karya sastra dari orang-orang yang pro PKI menjadi pertimbangan kesusastraan. Sesuai dengan cita-cita kehehasan berkarya dan falsafah Pancasila, ~ maka sekali lagi muncul majalah-majalah kesusastraan seperti Horison dan Sastra.lO Dalam keluargan sulung majalah Horison (no. 1, Juli ~ 1966) yang dipimpin oleh wartawan-sastrawanMochtar Lubis dinyata- V kan sikap Horison, yaitu: "Horison adalah sebuah madjalah bulanan sastra dalam pengertian jang seluas-luasnja. Tudjuan utamanja ialah merenggang pemikiran2 dan eksperimen-eksperimen baru dihidang kesusastraan rY 9. H.B. Jassin, op. cit. ; h. xv 10. Sastra sekali lagi berhenti terbitannya sebab kesulitan keuwagan, dan nomor • · yang paling akhir ialah nomor sepuluh, tahun 1969. 113 () djogja fights back ~ . y(" yV a ~ chususnja,,kebudajaan umumnja. Itulah salah satu alasanmengapa dipilih nama HORISON bagi madjalah ini karena HORISON mengandung arti sesuatu jang njata-riel, tapi tak pernah akan kita tjapai udjungnya." Majalah Sastra muncul kali keduanya pada bulan November 1967 (no. 1, th. IV). Majalah inilah yang banyak sekali dirongrong pihak PKI/ Lekra sejak tahun 1961 lagi. Ia juga merupakan sebagai wadah Manifes Kebudayaan. Sastra terbitan kali kedua inipun masih di bawah redaksi H.B. Jassin. Untuk mendapat gambaran yang jelas tentang tujuan majalah ini kami turunkan tulisan yang ditulis oleh H.B. Jassin di bawah . ' Int. "Majalah Sastra gaya baru ini mengikuti kebijaksanaan tradisi Sastra yang lama, yaitu · memberi kesempatan dan menampilkan bakat-bakat yang tersebar di seluruh tanahair, memberinya bimbingan, pengertian dan aspirasi sastra. Akan mendapat tempat pemuda-pemuda yang bergolak dalam masa Sturm und Drangnya dan mempunyai hak bersuara orang-orang tua yang inginkan kedamaian dan keimbangan batin. Majalah ini bukanlah majalah khusus bagi pemuda dan bukan pula majalah khusus bagi orang tua dan muda, masingtua. Dia adalah majalah yang didukung ol~h masing dengan alam dunianya. Kesempurnaan pengungkapan tidak menjadi syarat yang mutlak, meskipun syarat keindahan tidak dilepaskan. Yang penting ialah apa yang mau diutarakan dan dalam hal ini Sastra memberikan kebebasan seluas-luasnya." Sebenarnya kedua buah majalah ini merupakan wadah bagi pencetus-pencetus Manifes Kebudayaan juga. Peranan H.B. Jassin sejak tahun SOan di dalam redaksi majalah-majalah yang terkemuka dan pen- . ting hingga kini yang dengan konsekwen meneruskan konsep humanisme · universil kelihatan sekali dari posisi dan majalah sastra yang ia menjadi anggtoa redaksinya. Dalam Horison di samping Mochtar Lubis sebagai penanggungjawab terdapat anggota-anggota dewan redaksi seperti Mochtar Lubis sendiri, H.B. Jassin, Zaini, Taufiq Ismail, Soe Hok Djin alias Arief Budiman, D.S. Muljanto dan lain-lain lagi. Pada Sastra terdapat nama Darsjaf Rahman sebagai penanggungjawab danH.B. Jassin sebagai pemimpin redaksi. Kesemua mereka itu melainkan Mochtar Lubisll dan Darsjaf Rahman menjadi penandatangan dan pencetus Manifes Kebudayaan. 11. Mochtar Lubis diwaktu lahirnya Manifes Kebudayaan berada dalam ta~n an. 114 djogja fights back Di samping dua buah majalah di atas perlu juga dicatat di sini kemunculan sebuah majalah kebudayaan umum yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Djakarta. Dalam majalah Budaja Djaja (no. 1, th. I, Jun 1968) terdapat karya-karya sastra dan lain-lain artikel umum tentang politik, ekonomi, sejarah dan sebagainya. Penanggungjawabnya ialah lien Surianegara dan Ajip Rosidi serta Harijadi S. Hartowardojo menjadi anggota redaksi dan dibantu oleh banyak para cendikiawan dan pengarang-pengarang lainnya. Majalah Basis yang tua usianya itu tetap diterbitka ndi Djokdjakarta. Dalam bidang mass-media harian Indonesia Raya Mochtar Lubis diterbitkan sekali lagi, dan seperti biasa banyak kisah-kisah korupsi, penyelewengan serta kritik-kritik sosial yang pedas dimuatdi dalamnya. Haji Rosihan Anwar, salah seorang editor yangkawakan, menerbitkan semula harian Pedoman. Para mahasiswa di Djakarta menerbitkan harian mereka sendiri dengan nama Harian KAMI di samping Mingguan Mahasiswa dan Mahasiswa Indonesia yang juga dikelolakan oleh mahasiswa-mahasiswa sendiri. Majalah-majalah ringan untuk memberi bacaan umum kepada pembaca-pembaca muncul satu demi satu seperti Tjaraka, Moderna, Selecta, Majapada, Djaja, Keluarga dan lain-lain. Pada keseluruhannya memang terdapat kesegaran dan pengertian baru yang sehat dibidang kulturil dan kesusastraan. Namun demikian masih ada kecacatan dalam pelaksanaan pelarangan buku-buku yang di"berbahaya" "' larang oleh orang-orang Lekra dan lain-lain yang di~ngap pada rejim Orde Baru. Karangan-karangan Pramoedya, Utuy Tatang Sontani, Sitor Situmorang, S. Anantaguna, Agam Wispi dan sebagai~ nya masih menjadi mangsa sensor Orde Baru. Memang kita akui bahwa f-?x" ada karangan-karangan dari sastrawan-sastrawan PKIJLekra yang me- QU ""') mancarkan cita-cita dan perjuangan PKI seperti Partai dalam Puisi,l2 ~ Q ~ dan karangan D.N. Aidit seperti Dengan Sastra dan Senijang Berkepri- V~ ~ badian Nasional mengabdi Buruh, Tani dan Pradjurit harus dilarng. ~ Tetapi karangan-karangan lain seperti Keluarga Gerilja, Bukan Pasar L Malam, Awal dan Mira dan sebagainya tidak seharusnya dilarang oleh pemerintah karena karangaii-karangan seperti itu tidak berbau politik komunis.l3 Kecenderungan negatif dibidang kesusastraan inijuga diper- /v -lV:./ v· 12. Diterbitkan oleh Yayasan ·" Pembaruan", 1962. Di dalamnya dimuat puisipuisi D.N. Aidit, Sudisman, Sobron Aidit dan lain-lain. 13. Tentang buku-buku yang dilarang pemerintah hari ini sila baca Lukman Ali, "Buku-buku kesusastraan yang dilarang", Bahasa dan Kesusastraan, no . 1, th. I, 1967. Terbitan Direktorat Bahasa dan Kesusastraan, Djakarta. Juga baca Sinar Harapan, no. 1598, th. V. tgl. 16 Disember 1965. 115 () djogja fights back '. lihatkan dalam ' pameran dokumentasi kesusastraan Indonesia modern yang diadakan oleh Dewan Kesenian Djakarta dengan kerjasama Direktorat Bahasa dan Kesusastraan (kini dikenali sebagai Lembaga Bahasa Nasional) dan IKAPI yang diadakan di Djakarta dari 10 sampai 16 November 1968, di mana karya-karya sastrawan-sastrawan Lekra dan pro-Lekra tidak dipamirkan. Dari aspek ini rejim Orde Baru tidak memberi suatu pendekatan kulturil yang baik, malah sebaliknya melanjutkan lagi tradisi sebelum Gestapu. Suatu kronik kulturil yang sangat menarik dalam kegiatan kesusastraan,setelah Gestapu ialah tindakan Departemen Agama Republik Indonesia terhadap majalah Sastra yang memuatkan sebuah cerpen berjudul "Langit Makin Mendung" karangan Kipandjikusmin.14 Pihak Departemen Agama menganggap cerpen terse but "menghina" agama Islam, dan ole~ karena itu pemimpin redaksi Sastra, H. B. J assin telah dibawa kepengadilan untuk mempertanggungjawabkan perkara tersebut. Apakah benar "Langit Makin Mendung" menghina Islam? Pendapatpendapat ~ ang diutarakan dalam majalah-majalah dan harian-harian diDjakarta berbagai macam. Kita tidak bisa membuat spekulasi terhadap keputusan pengadilan ini. Walau bagaimanapun persoalan Sastra dan H.B. Jassin, seorang tokoh yang terkemuka dalam bidang kritik sastra dan kesusastraan Indonesia modern dan yang dihormati ramai karena pendirian kulturilnya yang non-politis, akan menarik perhatian yang besar dikalangan budayawan, sastrawan dan cendekiawan Indonesia. Persoalan Sastra ini nanti akan merupakan suatu "test-case" dalam hukum Indonesia untuk memperlihatkan ukuran-ukuran apakah yang dipakai oleh pihak pendakwa terhadap H.B. Jassin dan Sastra. Peristiwa SastraJH.B. Jassin merupakan suatu perkembangan baru dalam bidang kulturil Indonesia umumnya dan kesusastraan Indonesia khususnya. · Kekayaan kebudayaan Indonesia tidak bisa dinapikan. Dewasa ini kekayaan kebudayaan itu ditambah dan disuburi pula dengan eksperimen-eksperimen, baik dalam bidang kesusastraan, senilukis, drama dan lain-lain bentuk ·kesenian. W.S. Rendra, seorang dramawan, penyair dan sutradara, kini paling menonjol, namanya karena drama-drama eksperimennya seperti Bib Bob, dan puisi-puisi prates sosial seperti "Bersatulah Pelatjur-pelatjur Djakarta", "Njanjian Angsa" dan "Pesan Pentjopet pada Patjarnja". Dalam bidang penulisan nov~! pula Matinggo Boesje, Asbari Nurpatria Krisna, Klik Diono dan lain-lain pengarang muda banyak menggarap kisah-kisah yang berdegup ditengah-tengah 14. Lihat Sastra, no. 8, th. VI (Agustus 1968). 116 djogja fights back jantung kotaraya Djakarta. Mereka melihat kehancuran moral, cinta kasih, ketegangan-ketegangan mental dan kelesuan spirituil dalam anika macam peristiwa yang menghidupkan Djakarta. Anti-imperialisme alias anti-barat alias anti-Amerika di bidang kebudayaan tidak lagi kedengaran, atau kalaupun ada, terlalu sayup-sayup kedengaran untuk menarik perhatian orang. Penyanyi-penyanyi muda baik pria maupun wanitanya sering mengalunkan lagu-lagu barat, dan radio amatir berkompetisi memperdengarkan lagu-lagu barat yang paling terbaru. Mode-mode pakaian yang paling baru kelihatan di tengahtengah kota besar, khususnya di Djakarta dan Bandung, dan orang sudah mula mengadakan berbagai perlombaan untuk memilih ratu-ratu ya ng cakap, wajah yang aju dalam anika macam acara-acara kecantikan wanita. Korupsi bermaharajalela, penyelundupan menjadi-jadi, para seniman kreatif tetap mencipta dan terus mencari nilai-nilai baru dalam hasil kreasi mereka. Dalam tekanan ekonomi yang tidak pernah selesai, para sarjana dan cendekiawan tetap mengembara serupa Ahasveros mencari nilai-nilai baru dalam kehidupan dan pengetahuan. Atau setengahnya mungkin terbentur atau beku dalam pencarian nilai-nilai baru yang tidak pernah ketemu. Namun apapun risiko yang dihadapi mereka kini, tidak ada lagi Dekrit Presiden yang melarang mereka untuk mencari arti "hati nurani manusia" itu. / \ djogja fights back djogja fights back LAMP IRAN djogja fights back .• djogja fights back LEMBAGA KEBUDAJAAN RAKJAT MUKADDIMAH Menjedari, bahwa rakjat adalah satu-satunja pentjipta kebudajaan, dan bahwa pembangunan kebudajaan Indonesia baru hanja dapat dilaku- \ kan oleh rakjat, maka pada hari 17 Agustus 1950 didirikan Lembaga ~ Kebudajaan Rakjat, disingkat Lekra. Pendirian ini terdjadi di tengah- ~ :.) tengah proses perkembangan kebudajaanjang sebagai hasil keseluruhan ,..,.-"1' daja-upaja manusia setjara sadar untuk memenuhi, setinggi-tin'gginja kebut!!han hidup lahir dan ~atin, senantiasa madju dengan tiada putusputusnja. · Revolusi Agustus 1945 membuktikan, bahwa pahlawan di dalam peristiwa bersedjarah ini, seperti halnja di dalam seluruh sedjarah bangsa kita, tiada lain adalah rakjat. Rakjat Indonesia dewasa ini adalah .semua golon an di dalam mas'arakat jang menent!lng pendjadjahan. Revolusi Agustus adalah usaha pembebasan m i- Jat Indonesia dari pendjadj ahan dan peperangan, pendjadjahan serta penindasan feodal. Hanja djika panggil_ail sedjarah Revolusi Agustus terlaksana, djika tertjipta kemei-dekaal1 dan perdamaian serta demokrasi, kebudajaan rakjat bisa berkembang bebas. Kejakinan tentang kebenaran ini menjebabkan Lekra bekerdja membantu pergulatan untuk kemerdekaan tanahair dan untuk perdamaian diantara bangsa-bangsa, di mana terdapat kebebasan bagi "' :) perkmbang~ kepribadian berdjuta-djuta rakjat. ~ Lekra bekerdja chusus dilapangan kebudajaan, dan untuk masa ini ; 1 ~ ' c....... terutama dilapangan kesenian dan ilmu. Lekra menghimpun tenaga !J ;...v,yor · • dan kegiatan seniman-seniman, sardjana-sardjana pekerdja-pekt:; dja IY" .•~ kebudayaan lainnJa. Lekra membantah pendapat bahwa kesenian dan V O.-..:. \r ihhu bisa terlepas dari masjarakat. L ekra me!lgadjak pekerdja-pekerdja . 'l.ll!. ~ ~ • 1'f • \'+""" 121 djogja fights back A..t 1/" . kebudajaan untuk dengan sadar mengabdikan daja-tjipta, bakat serta keahlian mereka guna kemadjuan Indonesia, kemerdekaan Indonesia, pembaruan Indonesia. Zaman kita dilahirkan oleh sedjarah jang besar,, dan sedjarah bangsa kita telah .melahirkan putera-putera jang baik, dila pangan kesusastraan, senibentuk, musik, maupun dilapangan-lapangan kesenian lain dan ilmu. Kit:i wadjib bangga bahwa kita terdiri dari suku-sukujang masingmasingnja mempunjai kebudajaan jang bernilai. Keragaman ban gsa kita jang tiada terbatas untuk pentjiptaan ini menjediakan k~mungia jaqg sekaja-kajanja serta seindah-indahnja. Lekra tidak hanja menjambut setiap sesuatu jang baru; Lekra memo_.)- · berikan bantuan jang aktif untuk memenangkan setiap jang baru madju. V" Lekra membantu aktif perombakan sisa-sj_sa"kebudajaan" pendjadjah- ' t; \ fJ.-J. · ..t an jang mewariskan kebodohan, rasarendah serta watak lemah pada ~ . ~Y / bangsa kita. Lekra rr;_enerima dengan kritis peninggalan-peninggalan ~ nenek mojang kita, mempeladjari dengan saksama segala-gala segi peninggalan-peninggalan itu, seperti halnja mempeladjari dengan saksama pula hasil-hasil tjiptaan kelasik maupun baru dari bangsa lain ""'"'- ~ jang mana pun, dan dengan ini . berusaha meneruskan setjara kreatif tradisijang agung dari sedjarah dan bangsa kita, menudju kepentjiptaan kebudajaan jang nasional dan ilmiah. Lekra mengandjurkan kepada anggota-anggotanja, tetapi djuga kepada seniman-seniman sar_qjanasardjana dan pekerdja-pekerdja kebudajaan lainnja di luar Lekra ~ -b ntuk setjara dalam mempeladjari kenjataan, . mempeladjari kebenaran jang • hakiki dari kehidu pan, dan untuk bersikap setia kepada kenjataan dan .g1 kebenaran. Lekra mengandjurkan:.ltmtuk mempeladjari dan memahami pertentapgan-pertentangan jang berlaku di dalam masjarakat maupun di dalam hati manusiat mempeladjari dan memahami gerak perkembangannja serta hari depannja. Lekra mengandjurkan pemahaman jang tepat atas kenjataan-kenjataan di dalam pe~kmbangj jang madju, dan mengandjurkan hal itu, baik untuk tjara-kerdja dilapangan ilmu, maupun untuk pentjiptaan dilapangan kesenian. Dilapangan kesenian Lekra mendorong inisatif, mendorong keberanjan kreatif, dan Lekra menjetusb., selama ia setia kepada kebenaran dan sela- • djui setiap bentuk, ~ ; rna ia mengusahakan keindahan artistik jang setinggi-tingginja. Singkatnja, dengan menolak sifat anti-kemanusiaan dan anti-sosial ' , -~ ~\ ~ - dari kebudajaan bukan::"ni.kjat, dengan menolak perkosaan terhadap-ke11 benaran dan terhadap nilai-nilaj kejndah an-Lekra bekerdja untuk membantu pembentukan manusia baru jang memiliki segala kemampuan rr , """)Y"'Q j 122 djogja fights back Uf)tuk memadjukan dirinja dalam perkembangan kep~ibadn jang berdan harmonis. segi banj~ Di dalam kegiatan Lekra menggunakan tjara saling-bJ ntu, saling~ dan diskusi-diskusi persaudaraan di dalam masalah-masalah pen- ~ tjiptaan. Lekra berpendapat, bahwa s ~ ar tegas berpihak pada rakiat ~ dan mengabdi kepada rakjat, adalah satu-satunja djalan bagi"senimans~ , sardjana-sardjana maupun pekerdja-pekerdja kebudajaan lainnja untuk mentjapai hasil jang tahanudji dan tahanwakt Lekra mengulurkan tangan kepada organisasi-organisasi kebudajaa jang lain dari aliran atau kejakinan apapun, untuk bekerdjasama da m pengabdian ini. sj 123 c djogja fights back H ' . MANIFES KEBUDAJAAN Kami para seniman dan tjendekiawan Indonesia dengan m1 mengumumkan sebuah Manifes Kebudajaan, jang menjata'kan pendirian, tjita-tjita dan~olitk Kebudajaan Nasional kami. . Bagi kami ebuda'aan rd'uan an untuk men'em urnakan kondisi hidup manus~. Kam·•tidak mengutamakan salah satu sek.tor kebudajaan jang lain. Setiap sekt~r ~tydjuang bersama-sama untuk kebudajaan itu sesuai dengan kodratnjl/ Dalam melaksanakan kebpda:j.aan Nasional kami berusaha mentjipta den~a kesungguhan jan~ sedjudjurdjudjurnja sebagai perdjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri kami sebagai bangsa Indonesia ditengah-tengah masjarakat bangsa-bangsa. PANTJASILA adalah falsafah kebudajaan kami. Djakarta, 17 Agustus 1963 Drs. H.B. Jassin Trisno Sumardjo Wiratmo Sukito Zaini Bokor Hutasuhut Goenawan Mohamad A. Bastari Asnin Bur Rasuanto Soe Hok Djin D. S. Muljanto Ras Siregar Hartojo Andangdjaja Sjahwil Djufri Tanissan Binsar Sitompul Drs. Taufiq A.G. Ismail M. Saribi Afn . Poernawan Tjondronagoro Dra. Boen S. Oemarjati . 124 ,. djogja fights back PENDJELASAN MANIFES KEBUDAJAAN I. Pantjasila sebagai Falsafah Kebudajaan Dengan pengertian kami jang bersumber dalam hikmah Pantjasila kebudajaan bukanlah kondisi subjektif, apalagi hasil sebagai barang mati. Dalam pengertian kami kebudajaan adalah perdjuangan manusia sebagai totalitas dalam menjempurnakan kondisi-kondisi hidupnja. Kebudajaan N asional bukanlah semata-mata ditandai oleh "watak nasional'' melainkan merupakan perdjuangan Nasional dari suatu bangsa sebagai totalitas dalam menjempurnakan kondisi-kondisi hidup nasionalnja. Predikat kebudajaan adalah perdjuangan membawa konsekwensikonsekwensi jang mutlak dari sektor-sektornja. Sepenuhnja pengertian kami tentang kebudajaan seirama dengan Pantjasila karena Pantjasila adalah sumbernja, sebagai mana BUNG KARNO mengatakan: Maka dari itu djikalau· bangsa Indonesia ingin supaja Pantjasila jang saja usulkan itu mendjadi suatu realitet, jakni djika kami ingin t."i hidup mendjadi satu bangsa, satu nasionalitet jang merdeka, jang . . hidup diatas dasar permusja. penuh dengan perikemanustaan, mgin .._" { · ,,\ :.; .t .I waratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hid up sedjahtera dan aman dengan ketuhanan jang luas dan sempurna, djanganlah lupa akan sjarat untuk menjeleggarakannja, · ialah perdjuangan, perdjuangan dan sekali lagi perdjuangan." (lih. Bagian III: Literatur Pantjasila). · MM a pengertiao Kehudajaan Nasional adalah t?erdjnaugan nntuk memperkembangkan dan mempertahankan martabat k::j.mi sebagai bangsa Indonesia di tengah masjarakat bangsa-bangsa. Djika kepribadia\1 Nasional jang merupakan implikasi dari Kebudajaan Nasional kita 125 djogja fights back .; Y ~ , ~ ty" · ~ ~ .4 0 adalah apa jan,g oleh Presiden Soekarno dirumuskan sebagai "Freedom to be free", maka Kebudajaan Nasional kita digerakkan oleh suatu Kepribadian Nasional jang membebaskan diri dari penguasaan (tjampur tangan) asing, tetapi bukan untuk mengasingkan diri dari masjarakat bangsa-bangsa melainkan djustru untuk menjatakan diri dengan masjarakat bangsa-bangsa itu setjara bebas dan dinamik sebagai persjaratanpersjaratan jang tidak dapat ditawar bagi perkembangan jang pesat dari Kepribadian dan Kebudajaan Nasional kita jang pandangan-dunianja . bersumber pada Pantjasila. Kami ingin membuktikan bahwa falsafah demokrasi Pantjasila menos" (Tudjuan menghalalkan lak sembo·a " ·ustifies the m tfara), sehi gga sebagai falsafah demokrasi Pantjasila adalah humanisme kulturil · ng pengejawantahannja harus kami perdjuangkan dalam setiap sekto ehidupan manusia. Sembojan a-kulturil "The end justifies the 1 m ns" tersebut jang tidak mengakui perbedaan an tara tudjuan dengan Jara, mengakibatkan orang menudju tudjuan dengan menjisihkan pentingnja tjara mentjapai tudjuan itu, Demikianlah umpamanja dibidang pentjiptaan kerja-kerja kesenian ~ di mana orang lebih mementingkan aspek propagandanja daripada aspek kesenian!!i.a, adalah tjontoh pelaksanaan dari sembojan "The end justifies the means" sebagai satu sembojanjang bertentangan dengan Pantjasila. "The end justifies the means" -apabila orang mengemukakan apa jang bukan kesusastraan sebagai kesusastraan, apa jang bukan kesenian sebagai kesenian, apa jang bukan ilmu pengetahuan sebagai ilmu pengetahuan dsb. Perkosaan seperti itu bukanlah tjara insanijah, melainkan tjara alamiah . . Perkosaan adalah mentah sedang pentjiptaan kerdja mengalahkan kementahan dengan tjara man usia untuk mentjiptakan dunia jang da.mai. Kesenian sebagai pentjiptaan kerdja manusia akan abadi hanja apabila bukan sadja tus uannja adalah kemanusiaan, tetapi juga tjaranja adl!):ah kerpanusiaan.l-dan itulah implikasi jang paling hakiki dari Pantjasila sebagai falsafah demokrasi jang kami perdjuangkan setjara prinsipiil. ' Adapun bahaja bagi kebudajaan jang paling mengantjam datangnja dari wilajahnja sendiri, tetapi jang terang ialah bahwa sumber pokok dari bahiaa terse but terletak dalam ketjenderungan-ketjenderungan fetis i!' sebagai ketjenderungan non-kreatif. Adapu~ ketjenderungan tersebut manifestasinia tidak hanja dalam pendewaan, melainkan terdapat djuga sebagai umpamanja kami kenai dalam wilajah kesenidalam pers~an an. Sebagaimana fetisj-fetisj itu bermatjam-matjam, demikian pulalah kesenian fetisj. Sebagaimana terdapat fetisjisme dari djiwa-pelindung di126 djogja fights back samping fetisjisme dari djiwa-pendendam, demikianlah terdapat kesenian jang mengabdi kepada djiwa-pelindung dengan memberikan sandjungan-sandjungan setjara berlebih-lebihan pula. Tidak djarang terdjadi bahwa kedua matjam kesenian fetisj itu mempunjai prestasi "kesenian revolusioner", tetapi dalam hal jang demikian maka kesenian fetisj itu kita namakan kesenian dengan pengabdian palsu. Kesenian kreatif, berlawanan dengan kesenian dalam dirinja sendiri, sehingga dengan ini kami menolak fatalisme dalam sega1a bentuk dan manifestasinja. Keseniankreatif jang kami perdjuangkan dengan menjokong Revolusi tidaklah bersumber dalam fetisjisme dari djiwa-pelindung, sebaliknja mengeritik penjelewengan-penjelewengan dari Revolusi tidaklah pula bersumber dalam fetisjisme dari djiwa-pendendam. Kami tidak memperdewakan Revolusi karena kami tidak mempunjai pengabdian palsu, sebaliknja kamipun tidak mempersetankan Revolusi'karena kami tidak pula mempunjai pengabdian palsu. Tetapi kami adalah revolusioner. Kami tidak lebih dari man usia lainnja, direntjanakan dan merentjanakan, ditjiptakan namun mentjiptakan. Itu sadja dan tidak mempunjai pretensi apa-apa. Kamipun tidak akan merasa takut kepada kegagalan- kog•g.I•n bmi "ndici, krucen• k<g•gabn-kog•g.I•n itu bukmlah achic perdjuangan hidup kami. I1 II. Pekepribadian dan Kebudajaan Nasional Dalam dunia kesenian Indonesia dikenal istilah "humanisme univer- 1 l ~ sil". Tafsiran kami mengenai istilah itu adalah sebagai berikut: I ~' -~' Apabila dengan "humanisme universil" dimaksudkan pengaburan D .d' ~ · ~.Y kontr~dis antagonis, kontraqikasi an tara kawan dengan lawari, maka' ~kami akan menolak "humanisme universil" itu. Misalnja, sebagaimana ~ ~ jang dilakukan oleh Nica dulu, di mana diulurkan kerdjasama kebudajaan disatu pihak, tetapi dilakukan aksi militer dilain pihak. Sebaliknja kami menerima "humanisme universil" apabila di-maksudkan bahwa kebudajaan dan kesenian itu bukanlah semata-mata n_asional, tetapi djuga menghajati nilai-nilai unive.!§_il, ~ukan sematamata temporal...tetapi djuga menghajati nilai-nilai eternal. Apabila dengan kebudajaan universil itu dimaksudkan bukan kondisi objektif, melainkan perdjuangan man usia sebagai totalitas dalam usahanj a mengachiri pertentangan an tara man usia dan kemanusiaan, maka kami menjetudjui adjakan untuk meperuskan kebudajaan universil itu, karena dengan demikian kebudajaan universil itu merupakan "kekuatan ja~g menggerakkan sedjarah", dan itu sepenuhnja sama dengan pikiran 127 djogja fights back . ~ .~ . ..J- ¥ kami bahwa , kebudajaan universil itu adalah perdjuangan dari budi~ nurani universil dalam memerdekakan setiap manusia dari rantai-rantai belenggunja, perdjuangan jang memperdjuangkan tuntutan-tuntutan rakjat Indonesia, karena rakjat di mana-mana di bawah kolong langit ini tidak mau ditindas oleh bangsa-bangsa lain, tidak mau dieksploitir oleh golongan-golongan apapun, meskipun golongan itu adalah bangsanja sendiri; mereka menuntut kebebasan untuk menggerakkan setjara konstruktif aktivitas sosialnja, untuk mempertinggi kebahagian masjarakat; mereka menuntut kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, jaitu menuntut hak-hak jang lazimnja dinamakan demokrasi. (Lihat Bagian III: 'Literatur Pantjasila). Djadi "humanisme universil" djanganlah menjebabkan orang bersikap ".i,gdifferen" (atjuh tak atjuh) terhadap semua aliran (politik) sehingga &ng"an "humanismc universil" orang harus toleran terhadap imperialisme dan kolonialisme. Kami tetap menarik garis pemisah setjara tegas antara musuh-musuh dan sekutu-sekutu Revolusi, musuh-musuh dan sekutu-sekutu Kebudajaan, tetapi ini tidak berarti bahwa kami mempunjai sikap sektaris dan tjauvinis, karena sikap jang demikian itu · ~ dalh djustru mengaburkan garis pemisah terse but. Musuh kami bukanlah manusia, karena kami adalah anak manusia. Musuh .kami adalah unsur-unsur jang membelenggu manusia, dan ka;enanja kami ingin membebaskan manusia itu dari rantai-rantai belenggunja. Dalam perlawanan kami terhadap musuh-musuh kami itu kami tetap berpegang teguh pada pendirian dan pengertian bahwa tjahaja sedjahat-djahat manusia namun ia masih tetap meantjrk~ konsekwensinja kami harus menjelamatkan sinar-tjahaja Ilahi, ~ehinga Ilahi tersebut. Maka kepertjajaan jang kami kumandangkan ialah bahwa manusia adalah machluk jang baik, dan karena itulah maka kami bertjita-tjita membangunkan suatu masjarakat jang kuat tjenderung kearah masjarakat man usia jang baik itu, sesuai dengan garis-garis sosialisme Indonesia. Dengan begitu teranglah sudah posisi kami terhadap masalah "humanisme universiF'. Kami menampilkan aspirasi-aspirasi nasional, jaitu pengarahan-pengarahan kepada pembedaan dari tengah-tengah masjarakat bangsa-bangsa, bagi merealisasi kehormatan, martabat (dignitas), prestasi dan pengaruh, tetapi kami in gin mendjaga agar supaja pengarahan-pengarahan tersebut tidak menudju kearah kesombongan nasional dan tjauvinisme dalam segala bentuk dan manifestasinja. Adapun impl~ kasi dari aspirasi-aspirasi nasional ini ia-lah bahwa bangsa Indonesia sebagai suatu bangsa mempunyai kebebasan untuk mengembangkan ke- 1~. 128 djogja fights back pribadiannja, artinja bangsa Indonesia dapat terus-menerus menjesuaikan diri dengan perkembangan sekitarnja, tetapi tjaranja adalah unik dan dinamik. Untuk dapat mempunjai sifat dinamik inilah maka bangsa Tndonesia sebagai bangsa harus mempunyai kesenian sebagai sektor kehidupan kebudajaan, jaitu kesenian jang sepenuhnja merupakan pantjaran kebebasan. III. Politisi dan Estetisi Dalam duni,a kesenian Indonesia djuga dikenal istilah "realismesosialis". Menurut sedjarahnja, penafsiran tentang realisme-sosialis 1 1 ~ i\-11''"" a/~ itu ada dua mat' am: ang pertama Realisme-sosialis langsung merupakan kelandjutan , dari konsepsi kulturil Josef Stalin. Dalam tahun-tahun 30an dengan perkembangannja fetisjisme modern dengan Stalin sebagai suatu ~ ~ '~ barang pudjaan seakan-akan mengandung suatu kekuatan gaib, maka " ~ kebudajaan Rusia terantjam dengan amat mengerikan. Dengan Stalin /. v.~ 1 ~. maka metode kritik seni adalah deduktif, artinja kg,nsepsinja telah d ~ - } · _ kehidupan kesenian dan key _.,. t_£tapkan lebih dulu untuk "m~nertibka budajaan. Tjiri pokok pa_?a kesenian jang telah "ditertibkan" itu ialah. ~ adanja konsepsijang sama dan sektaristis mengenai seni. Itulah sebabnja maka djiwa objektif jang berpangkal pada budi-nurani universil tida selaras dengan realisme-sosialis, sehingga kami menolak realisme-sosialis dalam pengertian itu, di mana diisarnja ialah faham politik di atas estetik. Jang kedua: Realisme-sosialis menurut kesimpulan kami dari djalan pikir:in Maxim Gorki, jang dipandang sebagai otak dari realisme-sosialis itu, yakni bahwa sedjarahjang sesungguhnja dari rakjat pekerdja tak bisa dipeladjari tanpa suatu pengetahuan tentang dongengan kerakjatanjang setjara terus-menerus dan pasti mentjiptakan karja sastrajang bermutu tinggi seperti Faust, Petualang Baron von Munchausen, Gargantua dan Pantagruel, Thyl Eulenspiegelnja Coster dan Prometheus disiksa karja Shelly, karena dongengan kerakjatan kuno purbakala itu menjertai sedjarah dengan tak lapuk-lapukjna dan dengan tjarajang chas. Di situ sebenarnja Gorki menggariskan politik sastra jang berbeda dengan realisme-sosialis a la Stalin, karena pada hakikatnja Gorki telah menempuh politik sastra universil. Sesungguhnja politik sastranja itu bersumber dalam kebudajaan tidak sebagai suatu sektor politik, melainkan sebagai induknja kehidupan politik jang searah dengan garis Manifes ini. Berdasarkan fenomena-fenomena sedjarah maka seorang ahli sedjarah mengatakan bahwa kebudajaan dari suatu periode adalah senantiasa \ 7. t] J p0 ' 129 • • djogja fights back _ /. 0 0 ~ V, ~ V..> ~\ ~ kebudajaan dari kelas jang berkuasao Akan tetapi sedjarah djuga mengadjarkan bahwa djustru karena tidak termasuk dalam kelas yang berkuasa maka orang berhasil membentuk kekuatan baruo Dan politik, sebagai kekuatan baru jang terbentuk di tengah-tengah pcnindasan kekuatan lama, merupakan faktor positif jang menentukan perkembangan kebudajaan dan keseniano Sebagaimana jang terdjadi di Perantjis sedjarah mengadjarkan bahwa kekuatan jang dibentuk oleh bordjuis revolusioner adalah kekuatan jang menentukan dalam melawan penindasan monarki mutlako Tetapi sajang, bahwa elan kreatifitas jang menjalanjala bersama-sama kekuatan baru itu mendjadi padam setelah kekuatan • bordjuis revolusioner itu mendjadi sempurnaoBahkan kekuatan politik jang sempurna itu merintangi kebudajaan dan keseniano Penindasan baru jang dilakukan oleh kelas baru itu dibidang kesenian dan kesusastraan chususnja telah menjebabkan timbulnja suatu kekuatan baru dengan lahirnja Angkatan 1830 jang mula-mula dipelopori Victor Hugo dan kemudian dilandjutkan oleh Theopile Gautier. Maka dapatlah k_ami mengambil kesimpulan bahwa faham politik ~ di atas estetikjang merumuskan bahwa p2J.itjk adalah primer dan est adalah sekunder dilihat dari sudut kebudajaan dan kesenian adalah suatu ~ Sebab faham itu djikalau dilaksanakan dengf!n djudjur hanja ~ akn memupuk dan menghasilkan perasaan-perasaan keketjewaan, dan djikalau dilaksanakan dengan tidak djudjur akan dapat merupakan tipumuslihat kaum politisi jang imbisius o Sebagai reaiis kami tidak mungkin menerima setiap bentuk utopia karena menjedari bahwa dunia ini bukan sorgao Karena berpikir setjara dialektik maka kami mengakui kenjataan-kenjataan bahwa lingkungan sosial kami senantiasa mengandung masalah-masalah, dan setiap tantanganjang kami djawab akan menimbulkan tentangan-tentangan baruo Oleh karena itu kami tidak pernah berpikir tentang suatu djaman, di mana tak ada masalah lagi, karena setiap pikiran jang demikian itu adalab terlalu "idealis'' dan karenanja tidak ilmiahoPekerdjaan seorang seniman senantiasa harus dilakukan di tengah-tengah dunia jang penuh dengan masalah-masalah, analog dengan pekerdjaan seorang dokter jang harus dilakukan di tengah-tengah dunia jang penuh dengan penjakitpenjakito Apabila dunia ini sudah sempurna tidak perlu lagi adanja senimano Oleh karena itu faham jang merumsukan bahwa politik adalah primer dan estetik adalah sekunder tidak memahami realisme karena apabila kekuatan politik telah mendjadi sempurna maka tidak perlu lagi kesusastraan dan kesenian, tidak perlu lagi estetiko Seandainja pada suatu ketika kekuatan politikjang dibentuk itu telah mendjadi sempurna, maka 130 " djogja fights back masalah apakah jang akan dibahas oleh kesenian revolusioner jang sebagai estetik murni baru mulai setelah itu? Tidak lebih dan tidak kurang daripada masalahjang dibahas oleh kaum estet, jaitu merekajang mempunjai paham estetik di atas politik, sehingga bersifat borjuis. Tidaklah berlebih-lebihan kiranja apabilakami mengambil kesimpulan bahwa paham politik di atas estetik itu memberikan tempat pada estetik sebelum pembentukan kekuatan politik mendjadi sempurna, sehingga selama djangka waktu pembentukan kekuatan politik itu tidak ada persoalan tentang estetik, sedangkan paham estetik di atas politik hanja dapat dilaksanakan apabila mendapat sandaran kekuatan politik iang sempurna pula. Maka kami dapat menarik kesimpulan selandjutnja, bahwa kedua paham kesenian tersebut mengandung kontradiksi-konstradiksi. Berbeda dengan itu adalah paham kami, jaitu jang tidak mengorbankan politik bagi estetik, tetapi sebaliknja, tidak pula mengorbankan estetik bagi politik, kerana pengorbanan tersebut tidak menundjukkan adanja dinamika, dan di dalam hal tidak adanja dinamika maka fungsi estetik murni adalah suatu imperialisme estetik. Dalam kondisi ini maka transformasi revolusioner dari negara kapitalis kearah negara sosialis tidak akan mengubah pula setiara revolusioner kondisi-kondisi kultu;ilnja. Berlawanan dengan itu kami menghendaki perobahan kondisi-kondisi kulturil itu setjara revolusioner menudju kearah masjarakat sosialis Pantjasila. Menurut kej akinan kami maka masjarakat sosialis Pantjasila jang kami perdjuangkan setjara kulturil revolusioner itu adalah keharusan sedjarah jang tidak dapat dihindarkan oleh sesiapapun, terutama oleh kami sendiri. . Demikianlah Pendjelasan Manifes ini dirumuskan. Djakarta, 17 Agustus 1963. LITERATUR PANTJASILA terdiri dari Bung Karno "N asionalisme, Islamisme dan Marxisme" "Pidato Lahirnja Pantjasila" Bung Karno Dr. H. Roeslan Abdulgani : "M.anipol-Usdek, Pidato Radio" "Peranan Institusi2 dalam MemperkemWiratmo Sukito bangkan Sosialisme Kreatif" "Rivalitas Kelas Persoalan Sosial" Harian Semesta 131 • djogja fights back SEKRETARIAT PIMPINAN PUSAT LEKRA Sidang Pleno ke I Lekra tanggal 28 J anuari 1959 telah memilih Sekretariat Pimpinan Pusat Lekra seperti di bawah: 1. Joebaar Ajoeb Sekretaris Umum 2. Henk Ngantung Wakil Sek. Umum I 3. Sudharnoto Wakil Sek. Umum II 4. Njoto Anggota Sekretariat 5. Basuki Resobowo sama 6. Rivai Apin sam a 7. M.S . Ashar sam a 8. Samandjaja sam a 9. Basuki Effendi sam a 10. Bakri Siregar sam a 11. S. Anantaguna sam a 132 djogja fights back PIMPINAN PUSAT LEKRA Kongres N asional ke I Lekra dalam Sidang Plenonja tanggal 28 Januari 1959 telah memilih susunan anggota seperti di bawah ini: I. Affandi 21. M.S. Ashar 2. Agam Wispi 22. Njoto 3. Bachtiar Siagian 23. Nurbakti 4. Bakri Siregar 24. Pramoedya Ananta Toer 5. Basuki Effendi 25. Rivai Apin G. Basuki Resobowo 26. Rumambi 7. Boejoeng Saleh 27. Samandjaja 8. Chrismanuputty 28. Sudharnoto 9. Dhalia 29. Sudjadi 10. Hadi S 30. Sugiarti Siswadi 11. Haznam Rachman 31. Suhardjo 12. Hendra Gunawan 32. Sunardi 13. Henk Ngantung 33. Sunito 14. Hr. Bandaharo 34. S. Anantaguna 15. Joebaar Ajoeb 35. S. Rukiah Kertapati 16. Kotot Sukardi 36. Suromo 17. Kurnia 37. Tan Sing Huat 18. K. Iramanto 38. Tjak Bowo 19. Martean Sagara 39. Utomo Ramelan 20. M.D. Hadi 40. Utuy Tatang Sontani 41. Z. Trisno 133 • • djogja fights back KEPUSTAKAAN Abidin, A.Z. dan Baharuddin Lopa. Bahaja Komunisme. Djakrt ~ Bulan Bintang, 1968. Aidit, D .N. Revolusi Indonesia, Latar Belakang Sedjarah dan Hari depannja. Djakarta: Yayasan "Pembaruan", 1964. · - - - - - . Dengan Sastra dan Seni fang Berkepribadian Nasional mengabdi Buruh, Tani dan Pradjurit. Djakarta: Yayasan ''Pembaruan", 1964. - -- --.- . cs. Partai Dalam Puisi. Djakarta: Yayasan "Pembaruan", 1962. Aidit, Sobron. Derap Revolusi. Djakarta: Lekra, 1963. Amin, S.M. Indonesia di bawah Rezim Demokrasi Terpimpin. Djakarta: Bulan Bintang, 1967. Anantaguna, S. Jang Bertanahair tapi Tidak Bertanah. Djakarta: Lekra, 1962. Balai Pustaka. Kebudajaan dan Pendidikan Nasional. Pola Pembangunan Nasional Berentjana. Djakarta: Balai Pustaka, 1964. Bandaharo, Hr. Dari Bumi Merah. Djakarta: Yayasan "Pembaruan", 1963. Birch, Cyril. Chinese Communist Literature. New York: Frederick A. Praeger, 1963. Brackman, Arnold G. Indonesian Communism. A: History. 2nd print. New York: Frederick A. Praeger, 1963. · South East Asia's Second Front. The Power Struggle in the Malay Archipelago. 2nd print. New York: Frederick A. Praeger, 1966. 134 djogja fights back Brooks, Cleanth. Modern Poetry and the Traditions. New York: Oxford University Press, 1965. Cassirer, Ernst. An Essay on Man. 12th print. New Haven: Yale University Press. 1964. Castro, Fidel. Revolusi dan Masalah Kebudajaan. (Terjemahan Saini K.M. dan Toto S. Bachtiar). Bandung: Penerbit Pertiwi, 1963. Clews, John C. Communist Propaganda Techniques. 1 London: Methuen, 1964. Collingwood, R.G. The Principles of Art. London: Oxford University Press, 1963. Crossman, Richard. The God that Failed. 2nd print, New York: Bantam Books, 1954. Deeter, Moshe. The Profile of Communism. A Fact by Fact Primer. • 2nd print. New York: Collier Books, 1966. Departemen Penerangan R.I. Almanak Lembaga2 Negara dan Kepartaian. Djakarta: Departemen Penerangan, 1961. Diah, B.M. (penulis katapengantar). Polemik H.R. dan Merdeka. Djakarta: Merdeka Press, 1965. Djilas, Milovan. The New Class. An Analysis of the Communist System. 6th printing. New York: FrederickA. Praeger, 1962. F!lith, Herbert. The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia. New York: Cornell University Press, 1962. Freemantle, Anne. Mao tze-tung. An Anthology of his writings. 2nd print. New York: A Mentor Book, 1963. Geertz, Clifford. The Religion of java. London: The Free Press of Glenco~, 1964. Hadimadja, Aoh. K. (Karlan ·Hadi). Beberapa Paham .Angkatan '45 Djakarta: Tintamas, 1952. Hamzah, Junus Amir dan H.B. Jassin. Tenggelamnja Kapal VanDer Wijck dalam Polemik. Djakarta: Mega Book Store, 1963. Haward, Max dan Leopold Labenz. (ed). Literature and Revolution in Soviet Literature (1917-1962) London: Oxford University Press, 1963. Heiney, Donald W. Contemporary Literature. New York: Barron's Educational Series; Inc., 1954. Hindley Donald. The Communist Party of Indonesia 1951- 1963. Berkeley and Los Angeles: University of California Press, 1964. Hough, Graham. An Essay on Criticism. Lon,don: Gerald Duckwood · & Co., 1966. 135 .. • djogja fights back Huges, John. Indonesian Upheavals. New York: David Mc~ay Co., Inc., 1967. Jajasan Prapantja. Bahan-bahan Pokok Indoktrinasi. Cetakan ke 2. Djakarta, 1964. Jassin, H.B. Gema Tanah Air. Prosa dan Puisi 1942-1948. Cetakan ke 4. Djakarta: Balai Pustaka, 1959. - - - - . Angkatan '45. Djakarta: Jajasan Dharma, 1951. - - - - . Chairil Anwar Pelopor Angkatan '45. Cetakan ke 3. Djakarta: Gunung Agung, 1968. - - - - . Kesusastraan Indonesia Moden dalam Kritik dan Esei (I). Cetakankef. Djakarta: GunungAgung, 1967. - - - - . Kesusastraan Indonesia Moden dalam Kritik dan Esei (II). Cetakan ke 2. Djakarta: Gunung Agung, 1967. - - - - . Kesusastraan Indonesia Moden dalam Kritik dan Esei (Ill). Djakarta: Gunung Agung, 1967. 4 - - - - - . Kesusastraan Indonesia Moden dalam Kritik dan Esei (IV). · Djakarta: Gunung Agung, 1967. - - - - . Angkatan 66 Prosa dan Puisi. Djakarta: Gunung Agung, 1968. Kerstiens, Thorn. The New Elite in Asia and Africa. 2nd print. New York: Frederick A. Praeger, 1966. Laporan Kebudajaan Rakjat. Dokumen (!). Djakarta, Lekra, 1959. Laporan Kebudajaan Rakjat. Dokumen (II). Djakarta, Lekra, (1962) Lekra. Menjambut Kongres Kebudajaan di Bandung. (6 sfd 9 Oktober 1951), Djakarta, 1951. Lekra. Dinasti 650 Djuta. Djakarta, 1961. : Lenin, V.I. What Is To Be Done. Translated by S.V. and Patricia Utechin. Edited with an introduction by S.V. Utechin. London: Oxford University Press, 1963. · Madjelis Luhur Taman Siswa. Kepribadian Nasional, Djogdjakarta, 1961. Maryanov, Gerald S. Politics in Indonesia: An Interpretation. (Papers on South East Asian Subjects, · no. 7). Kuala Lumpur: University of Malaya, 1966. McClosky, Hebert and John E. Turner. The Soviet Dictatorship New York: McGraw-Hill, 1960. McKie, Ronald and Beryl Bernay. Bali. Sydney: Angus & Robertson Ltd., 1969. Mehnert, Klaus. Peking and Moscow. New York: A Mentor Book, 1964. 136 .. djogja fights back Meyer, Alfred G. Leninism. 3rd print. New York: Frederick A. Praeger, 1965. Nasution, J.U. Sitar Situmorang sebagai Penjair dan Pengarang Tjerita pendek. Djakarta: Gunung Agung, 1963. Njoto (Penulis Katapengantar). Polemik Merdeka Harian Rakjat. Djakarta: Harian Rakjat, (1964). •· Notosusanto, Nugroho. Bidang Sosial-Budaja dalam rangka Ketahanan Nasional. Djakarta: Departemen Pertahanan-Keamanan, Lembaga Sejarah Hankam, 1968. Penerbitan Kedjaksaan Agung Bidang Chusus. Proses Peradilan Jusuf Muda Dalam. Djakarta : Kedjaksaan Agung, 1967. Prijono. Glimpses of Indonesian Education and Culture. Djakarta: Balai Pustaka, 1964. Rachim, A. (Penyusun). Capita S electa Revolusi Indonesia (I). Bahan• bahan Indoktrinasi. Djember: Penerbit "Sumber Ilmu", 1961. Rangkuti, B. Pramoedya Anania Toer. Djakarta: Gunung Agung, 1963. Schram, Stuart R. The Political Thought of Mao-Tse-Tung . 2nd print. New York: Frederick A. Praeger. (tanpa tahun). Siregar, Bakri. Sedjarah Sastra Indonesia Modern. jilid (I). Djakarta: Akademi Sastra dan Bahasa "Multatuli", 1964. Situmorang, Sitor. Sastra Revolusioner. Lembaga -Kebudayaan N asional, J awa Barat, 1965. Zaman Baru. Djakarta: Penerbit Zaman Baru, 1961. Soekarno. Di bawah Bendera Revolusi. ]ilid (I). Djakarta: Panitya Di bawah Bendera Revolusi, 1963. Sontani, Utuy Tatang. Si Kampeng. Djakarta: Yayasan Kebudayaan Sadar, 1964. Si Sapar. Djakarta: Yayasan Kebudayaan Sadar, (1964). - - - - - Selamat Djalan Anak Kufur. Bukittinggi & Djakarta: N.V. Nusantara, 1963. Sunardi. Lecture on the September 30 Movement, The Indonesian Communist Party and the Elimination of the Communists in Indonesia. (stensilan). Djakarta: Departemen PeneranganR.I., tanggal26 April 1959. Teeuw, A. Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru. Djakarta: Pembangunan, 1952. - - - - - . Modern Indonesian Literature. Translation Series 10. Koninklijk Instiuut Voor Taal-, Land- en Volkenkunde. The Hague: Martinus Nijhoff, 1967. T>esis 45 Tahun PKI. Djakarta: Yayasan "Pembaruan", 1965. 137 .. • djogja fights back Tjernisevski, ~.G Hubungan Estetik Seni dengan Realitet. (Terjemahan Samandjaja). Djakarta: Lekra, 1961. Universitas Indonesia, KAMI DAN KASI. Kebangkitan Semangat 66: Mendjeladjah Tracee Baru. (Simposium yang diadakan di Djakarta dari 6 sfd 9 Mei 1966). Djakarta: Badan Penerbitan Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, 1966. Vikery, Waltek N. The Cult of Optimism. Introduced and edited by Stephen G. Nicholas, Jr. New Haven & London: Yale University Press, 1964. Wellek, Rene and Austin Warren, Theory of Literature. 3rd edition. A Peregrine Book, 1963. Wertheim, ·w.F. Indonesian Society in Transition. 2nd edition. (revised). The Hague & Bandung: W. Van Hoeve, 1959. Wimsatt, William K., Jr and C::leanth Brooks. Literary Criticism. A Short History. Culcutta: Oxford and IBH Publishing Co, 1967. Wispi, Agam, cs. Matinja Seorang Petani. Djakarta: Lekra, 1961. ARTIKEL-ARTIKEL Abdulgani, H. Roeslan. " Pendjelasan Manipol-Usdek," Capita Selecta Revolusi Indonesia (I), Bahan-bahan Indoktrinasi. A Rachim (penyusun), h. 135-169. Aidit, D.N. "Kobarkan Ofensif Revolusioner dibidang Kebudajaan", Zaman Baru, no. 5 (Mei 1965), h. 1-3. - - - - - . "Hajo bersama-sama Bung Karno kita bina kebudajaan yang berkepribadian Nasional," Zaman Baru (Dec. 1964), h. 1- 3. - - - - - "Manikebu bertugas lutjuti sendjata rakjat", Lentera, no. 11, th, III, (31 Mei 1964). Ajoeb, Joebaar. "Idrus dan Surabaja", Indonesia, no. 8/9, th. IV. (Agustus-September 1953). Akustia, Klara. "Kepada Seniman Universil", dalam Beberapa Faham Angkatan 45. Aoh. K. Hadimadja (Karlan Hadi, penyusun), h. 82-91. Ali, Lukman. "Penelitian Kesusastraan." (kata pengantar), Bahasa dan Kesusastraan Indonesai sebagai tjermin Manusia Indonesia Baru. (Simposium Bahasa dan Kesusastraan 25 sfd 28 Oktober 1966 diselenggarakan oleh Lembaga Bahasa dan Kesusastraan dengan kerjasama Lembaga Sastra Universitas Indonesia, IKIP. Djakarta dan K.A.S. I. Jaya). Djakarta: Gunung Agung, 1967, h. 108-110. 138 djogja fights back I. Ali, Lukman. "Buku-buku kesusastraan jang dilarang", Bahasa dan Kesusastraan, no. 1, th. I, 1967. Djakarta: Direktorat Bahasa dan Kesusastraan, h. 24-32. Angkatan Baru. "Waspada pada Gerpol dibidang budaja", no. 8, th. I, (1 Agustus 1965). , Budiman, Ariff. -"Djatatan Harian Manikebu", Horison, no. 5 th. II. (Mei 1967), h. 153-157. Dharta, A.S. "Djalan Perkembangan Kesusastraan," (preadvisnya dalam Kongres Kebudayaan Indonesia II di Band'ung, 1951 yang disponsori oleh Lembaga Kebudayaan Indonesia). Indonesia no. 1/2/3, th. III , (J anuari/FebruarifMaret 1952), h. 76-79. Harrison, James P. · "The Ideological Training of Intellectuals in Communist China," A sian SunJey, vol. 10, no. 10, (Oktober 1965), pp. 491-502. •Hindley, Donald. "The October Coup in Indonesia," The American Review. (Oktober 1967), pp. 51-69. Hutagalung, M.S. ''Zaman Baru" (sebuah sorotan), Mimbar Indonesia. no. 12, th. XVIII, (Disember 1963). Jassin, H.B. "Ketjenderungan Negatif dalam Kesusastraan Indonesia," Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (IV), 1967, h.ll0-114. - - - -. . " Apakah Tenggelamnja Kapal VanDer Wijck Plagiat?" Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (I), 1967, h . 64-71. Johns, A.H. "Pramoedya Ananta Toer; The Writer as Outsider- An Indonesian Example," Meanjin (Melbourne), (Maret-April) 1963. - - - - - . "A Poet between Two Worlds: Th~ Works of Sitor Situmorang," Westerly (Australia), (November 1966). Lenin, V.I. "Attitude of the Workers' Party towards Religion," Marx, Engles, Marxism by V.I. Lenin. 5th edition. Moscow: Foreign Publishing House, 1953, pp. 302. Marek, Siegfried. "Dialectical Materialism," History of Philosophical Systems. Virgilius F erm (ed. ). New Jersey: Littlefiled, Adams, 1961; pp. 306--314. Marx, Karl and Friedrich Engels "Social Reality as Class Struggle," The Modern Tradition: Background of Modern Literature. Richard Ellmann and Charles Feildelson, Jr. (ed.). New Y()rk: Oxford University Press, 1965, pp. 329-337. - Moeljanto, D.S. "Lahirnja Manifes Kebudajaan," Horison, no. 5, ~ th. II, (Mei 1~67), h. 158-159. 139 djogja fights back . . Mohamad, Goenawan. ''Contemporary Indonesian Literature," Solidarity, Vol. III, no. 9, (September 1968). Manila: Solidaridad Publishing House, pp, 22-28. Paget, Roger K. "Indonesian Newspapers 1965- 1967," dan "Djakarta Newspapers 1965-1967: Preliminary Comments," Indonesia, no. 4, (Oktober 1967). Modern Indonesian Project, Cornell University, Ithaca, New York, pp.170-226. Peacock, James L. "Anti-Dutch, Anti-Muslim Drama among Surabaja Proletarians: A Description of Performances and Responses," ',Indonesia, no. 4, (Oktober 1967). Modern Indonesian Project, Cornell University, Ithaca, New York, pp. 44--73. Saleh, Boejoeng. "Kaerah Seni Berisi, Sekitar soal tendens," Indonesia, no. 6/7, th. IV, (Juni/Juli 1953), h. 337-344. - - ---. "Perkembangan Kesusastraan Indonesia. Beberapa Kenjataan dan Kemungkinan," Almanak Seni. Djakarta: Badan Mu- " syawarah Kebudayaan Nasional (BMKN), 1957, h. 7-48. Sastrowardojo, Subagio. "Sadjak Perlawanan Taufiq Ismail dan Angkatan 66," Budaja Djaja, no. 13, th. kedua, (Juni 1969), h. 366382. Siregar, Bakri. "Pendukuggan Sastra pada Revolusi Agustus," ZamanBaru, no. 19 (Oktober 1961). - - - - - . "Dan Pengertian tetap Katjau." Beberapa Paham Angkatan 45, h. 74-78. - - - - - . "Prof. Dr. A Teeuw tentang Lekra," Zaman Baru, no. 3, (Juni 1956). Situmorang, Sitor. "Posisi Nasionalis di tengah-tengah matjam Phobia Kebudajaan." Suluh Indonesia, no. 187. th. 10, (16 Mei 1963). Soe Hok Djin. "Manusia dan Seni; Suatu renungan ten tang fungsi dan pengertian seni," Sastra, no. 6, th. III, 1963, h. 28-31. Soe Hok Gie. "The Future of the Indonesian Communist Movement," Solidarity, Vol III, no. 9, (September 1968). Manila: Solidaridad Publishing House, pp. 13-18. Sukito, Wiratmo. "Manifes dan Masalah-masalah Sekarang," Horison, no. 5, th. II, (Mei 19~7), h. 132-133. "Sastra Revolusioner," Sastra, no. 9/10, th. III, 1963, h. 1-2. "Manusia, Sastra dan Politik," dalam Antologi Esei tentang persoalan2 Sastra. S~styag ~ ah Hoerip (pemilihdan.penyuslln) . Djakarta: Sinar Kasih, 1969, h. 19-39. 140 djogja fights back Rosidi, Ajip. "Masalah Angkatan dan Periodisasi Sedjarah Sastra Indonesia," Budaja Djaja, no. 5, th. I, (Oktober 1968), h. 299-311. ' Tasrif, S. "Situasi Kaum Intelektual di Indonesia," Budaja Djaja, no. 4, th. I (September 1968), h. 201-208. Toer, Pramoedya Ananta. 'fKesusastraan sebagai Alat." Indoneisa, no. 8, th. III (Agustus 19?2), h. 7-12. - - - - - . "Djembatan Gantung dan Konsepsi Presiden," Harian Rakjat, no. 1684, th. VII, (28 Feb. 1957). Toer, Pramoedy Anaf.l):ita. "Korps pengarang dikuras sampai tandas." Waspada, th. XIII, no. 3386, (6 Februari 1959). - - - - - . "Mas Sitor 6itumorang Panglima Kebudajaan Marhaenis," Republik, no. 1050, th. IV, (15 Juli 1959). • BAHAN-BAHAN DOKUMENTASI YANG TIDAK DICETAK Budiman, Arief. "Kekuatan Politik dalam Kesusastraan Indonesia. Sebuah Tindjauan Sedjarah." (tulisan tangan), tgl, 26 September 1968. Disimpan dalam dokumentasi Kesusastraan Drs. H.B. J assin. Lekra. "Sikap dan Pendirian Lembaga Kebudajaan Raikjat terhadap keadaan Dewasa ini." (stensilan). Djakarta: Sekretarat Lekra, tgl. 28 Disember 1950. Sukito, Wiratmo.. "Prinsip Kepengarangan Kita". Prasaran pada Konferensi Karyll;wan Pengarang se Indonesia. (stensilan). Konferensi ini diadakan di Djakart.a dari 1 sfd 7 Maret 1964. Tjung, Benny. "Sastra Indonesia punja Tradisi Revolusioner." Suatu prasaran dalam simposium pertama Lembaga Sastra Indonesia Lekra. Diadakan pada tanggal 29 April 1960 di Balai Budaya, Djakarta. Toer, Pramoedya Ananta. 'Realisme-sosialis dan Sastra Indonesia. Sebuah Tindjuan Sosial". Prasaran dalam Seminar Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Djakarta, yang diadakan pada 26 Januar1 1962. (stensilan). - - - - - . "Ide, Garis dan Aparat dalam Hubungan dengan Generasi Muda." Suatu prasaran dalam Simposium Generasi Muda Anjuran Lembaga Sastra Indonesia, Lekra, pada tanggal 29 April 1960 di Balai Budaya, Djakarta. 141 \. • djogja fights back • RIWAYAT HIDUP PENULIS Penulis dilahirkan pada tanggal 30 April 1960 di Simpang Lima, Parit Buntar, Perak, Malaysia. Mula-mula mendapat pelajaran di sekolah dasar berbahasa Melayu selama empat tahun. Setelah itu melanjutkan pelajaran di sekolah berbahasa lnggeris pada Methodist School, Parit Buntar selama tujuh tahun. Penulis menyelesaikan pelajaran menengah di Methodist Boys' School, Pulau Pinang pada tahun 1958. . Pada tahun 1959 penulis menjadi guru sementara di Bandar Bharu English School, Kedah dan pada tahun 1960 meneruskan pelajaran di Maktab Perguruan Bahasa (Language Institute), Kuala Lumpur selama dua tahun hingga mendapat "Certificate in education" dalam bidang pengajaran bahasa Melayu dan Inggeris. ' Setelah selesai belajar di Maktab Perguruan Bahasa penulis ditugaskan oleh Kementerian Pelajaran Malaysia untuk mengajar di Chung Ling High School, Pulau Pinang. Pengalaman sebagai guru tiqak berapa lama karena pada bulan Maret 1963 penulis pindah bekerja pada Dewan Bahasa dan Pus taka sebagai Pembantu Peneliti dalam bidang kesusastraan Melayu moden. Kesempatan yang banyak untuk studi dan mendalami lagi aspekaspek kesusastraan diberikan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka. Di Kuala Lumpur penulis banyak bergaul dengan para pengarang, sarjana dan wartawan-wartawan yang banyak berkumpul di sini. Hasil dari pergaulan dan pengalaman penulis dalam penelitian kesusastraan Melayu moden memungkinkan penulis menghasilkan karangan-hrangan tentang kesusastraan diberbagai majalah, harian dan juga dalam buku. 142 .. fl ,,• djogja fights back Karya-karya penulis dalam bentuk buku adalah: (1) Bimbingan Sastra Melayu Moden. Melaka: Penerbitan Abbas Bandung, 1967, 177 halaman. (2) Bimbingan Sastra Melayu. Lama Kuala Lumpur:- Penerbitan · Utusan Melayu, 1967. (3) Mengkaji F!ksyen. Singapura: Pustaka Nasional, 1967, 110 halaman. (4) Kesusastraan Moden dalam Esei dan Kritik (I). Singapura: Pustaka Nasional, 1967, 155 halaman. (5) Kesusastraan Moden dalam Esei dan Kritik (II). Singapura: Pustaka Nasional, 1968. (6) Langkah Kiri (novel). Kuala Lumpur: Syarikat Karyawan, 1967. (7) Penghuni Kamar 14. (novel). Singapura: Pus taka Nasional, 1968. Karangan-karangan penulis yang berupa kritiksastra, cerpen, puisi •dan esei banyak tersibar dalam majalah-majalah seperti Dewan Bahasa,. Dewan Masyarakat (kedua-duanya terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka), Bahasa (terbitan triwulan oleh Persekutuan Bahasa Melayu Universiti Malaya), Tenggara (terbitan Jurusan lnggeris Universiti Malaya), Penulis (terbitan Persatuan Penulis Nasional), Mastika (terbitan Utusan Melayu) dan Pemimpin (terbitan Kementarian Kebudayaan, Belia dan Sukan). Selain dari majalah-majalah di atas, karangan-karangan penulis juga ·dimuat dalam harian-harian dan mingguan-mingguan seperti Berita Harian fBerita Minggu, Utusan Melayu fUtusan Zaman dan Utusan Malaysia fMingguan Malaysia . . 143 -(1 djogja fights back djogja fights back { . ~ n '. PENUNJUK • c A Abangan, 40, 67 ABDULLAH SP, 41 AID IT, D.N., 4, 6, 8, 9, 10, 1416, 18, 21- 22, 24, 31- 32, 39, 47, 58, 64, 101' 102, 105108, 115. AIDIT, SOBRON, 19, 23, 33, 54, 57, 61-62, 115 AJDEB, JOEBAAR, 8 - 9, 20, 30, 33, 37- 39, 74, 132- 133 . AKUSTIA, KLARA (Lihat juga DHARTA, A.S.), 8 ---:- 9, 27, 32, 57, 97, 111 ANANTAGUNA, S., 23-24,39, 54, 56- 58, 62, 111, 113, 115, 132-133 Angkatan 45, 26- 28, 33, 85J 97 Angkatan 66, 109, 111 -112 ANWAR, CHAIRIL, 28, 33, 77, 110 B BANDAHARO HR (Lihat juga · HARAHAP, BANDAHARO), 19, 23-24, 54, 57-58, 113, 133 Bintang Timur, 20, 34, 36, 41, 81, 88-89, 95, 99- 102, 106 BUDIMAN, ARIEF (Lihat juga SOE HOK DJIN)., 44, 80, 86, 111, 114, 124 BUNG KARNO (Lihat SOEKARNO), BOESJE, MOTINGGO, 43, 116 Bukan Pasar Malam, 29, 33, 65, 115 fJukit 1211, 24, 57 CASTRO, FIDEL, 14 D Dalam Sajak, 46 Dari Bumi Merah, 24, 55, 57 Dekrit Presiden, 2, 6, 95, 98, 103, . 107, 117 Derap Revolusi, 61 - 62 DHARTA, A. S., (Lihat juga AKUSTIA, KLARA), 8 - 9, 27, 32, 57, 97, 111 Dinasti 650 juta, 57, .63, 74 Di ~ epi Kali Bekasi, 33 G Gerakan 30 September (Lihat juga G-30-S dan Gestapu) 1, 6, 37, 79, 108-109, 112 G-30-S (Lihat Gerakan 30 September)' ' Gestapu (Lihat gerakan 30 September) GORKI, MAXIM , 28, 129 H Hadiah Sastra, 43 HAMKA, 41 -42, 106 HARAHAP, BANDAHARO (Lihat BANDAHARO HR) Harian Rakjat, 9, 34, 36, 66, 88, 92, 95, 101 Hikayat Kadirun, 72 Hoa Kiaw di Indonesia, 23, 46 Horison, 79-80,113-114 145 djogja fights back 97-99, 102- 105, 107, (antiManipol 39, 42, 47, 68, 100102) MAO TZE-TUNG, 13-17, 2223, 78, 90 Marhaenisme, 5, 73, 75, 77-78 MARX, KARL, 49 Marxisme, 11, 17, 50--:-.52, 5960, 71, 76, 78, 97, 99 Marxisme - Leninisme, 5, 10, 21- 22, 31 - 32, 64, 68, 107 Matinja Seorang Petani, 24, 46, 56, 111 Mukaddimah KKPI, 84, 91 Mukaddimah Lekra, 8, 10-11, 28, 30, 64, 84, 121 Musso, 3 Humanisme Universil, 2, 27- 29, 43, 81, 85-86, 97, 112, 114, 127-128 HUTAGALUNG, POPPY, 43 HUTASUHUT; BOKOR, 80, 83, 87, 124 I IDRUS, 29- 30; 33, 46 ISMAIL, TAUFIQ A.G., 110 - 111, 114, 124 80, J 1 Jang Bertanahair tapi Tidak Bertanah, 24, 55 -56, 111 JASSIN, H.B., 9, 26-27, 33, 41, 43-44, 46, 62, 77, 80, 82-83, 85, 87, 89, 96-97, 100, 102-111, 113-114, 116, 124 N Nasakom, 6, 20, 44, 95, 99, 101,102, 105 (anti-Nasakora 89). Njoto, 4, 8-9, 11, 19-20, 24, 39, 57- 58, 64, 102, 132133 K KAMI (KesaJ;uan Aksi Mahasiswa Indonesia), 110, 112 KARTODIKROMO, MAS MARCO, 71-72 Keluarga Gerilja, 29, 33, 65, 113, 115 KKPI (Konfrensi Karyawan Pengarang se Indonesia), 8283, 86- 97, 99 -103, 106108 Kongres Nasional (I) Lekra, 8, 11, 35, 66 Konsepsi Kebudajaan Rakjat, 11, 30, 35 Korupsi, 29 KSSR (Konfrensi Sastra dan Seni Revolusioner), 10, 14, 16, 19, 21-22, 47, 106-108 p Pancasila, 4, 45, 75- 76, 80, 8485, 91, 93, 97-98, 103, 112, 124- 126, 131 (anti-Pancasila 85). Partai dalam Puisi, 24, 54, 115 Perburuan, 33, 61 - 62, 65 Peristiwa Madiun, 2- 3 Politik adalah Panglima, 1, 11 -12, 28, 42, 44, 58, 64, 67, 70, 81, 84, 86, 97 PRIJONO, 47, 87, 97-100 PKPI (Persatuan Karyawan Pengarang-Pengarang se Indonesia) 93 - 94 Pudjangga Baru, 71 Puisi protes, 58 L LENIN, V.I., 16-17, 40 LUBIS, MOCHTAR, 33, 47,113115 R Rasa Merdeka, 72 RASUANTO, BUR, 43, 80, 95, 110, 124 Realisme Sosialis 2, 28, 49- 53, 58- 59, 61, 64- 65, 69 -71, 81, 129 Realisma Sosialis dan Sastra Indonesia: Sebuah Tinjauan Sosial, 69 Revolusi 45 atau Revolusi Augustus, 2, 10-11, 15, 27, 35, 70, 121 ROSIDI, AJIP, 9, 27, 47, 104, 111, 115 M Manifes Kebudayaan, 2, 44, 46, 58, 79-82, 86- 89, 91, 93, 95-97, 99-104, 106-108, 112, 114, 124-125 Manifes Komunis, 10 Manipol (Lihat juga Usdek) 2, 6-7, 15, 20-21, 31, 37, 45, 47, 61, 64, 73, 75 -79, 81, 84, 87-89, 91, 93- 95, 146 djogja fights back s SUKITO, WIRATMO, 63, 80, 82, 85, 89, 91, 93, 102, 104-105, 124, 131 Surat Kertas Hijau, 33, 46 Surat Kepercayaan Gelanggang, 26-27, 30, 33, 85 Sahabat, 24, 57 \ SALLEH, BOEJOENG, 2, 19, 23, 28-29, 32, 57, 97, 133 Santri, 40, 67 Sastra, 43-44, 79, 81,- 82, 84, ll7, 103, 113 - 114, 116 Sejarah Sastra Indonesia Modern (I) 51, 71 Sekali Peristiwa di Banten Selatan, 41, 62 Seni untuk Rakjat, 2, 10, 28 Seni untuk Seni, 28-29 Si Kampeng, 41, 60, 62 SIREGAR, BAKRI, 19, 21, 23, . 27-28, 39, 51, 70-71, 77, 97, 132-133 Si Sapar, 41 S ITUMORANG, SITOR, 2, 19, 21, 23-24, 33, 39, 42, 44, 46-47, 54- 55, 57, 73• 78, 86, 89, 95, 97, 99, 115 SOE HOK DJIN (Lihat BUDIMAN, ARIEF) SOEKARNO (Lihat juga BUNG KARNO), 5-7, 10, 15- 16, 31, 37-39, 42, 44-45, 47-48, 61, 65-66, 7583, 88- 93, 95 - 96, 98, 100- 101, 103 -108, 110, 112, 125- 126, 131 SONTANI, UTUY TATANG, 19, 23, 41, 47, 60, 62, 74, 115, 133 Sticusa, 38- 39, 65, 73 Student Hidjo, 72 T Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, 41 TJERNISEVSKI, H.G., 52 TJUNG, BENNY, 32- 33, 57 TOER, PRAMOEDYA ANANTA, 2, 19, 20, 22-23, 29- 30, 33- 34, 39, 41, 44, 46-47, 53, 62, 65 -71, 73 -75, 77, 88-89, 97, 101, 115, 133 Tujuan menghalalkan cara, 81, 97, 107 u USAMAH, 43 - 44 Usdek (Lihat Manipol) w WISP!, AGAM, 19, 23-24, 33, 39, 46, 54, 56 - 58, 111' 113, 115, 133 z· Zaman Baru (majalah), 1, 16, 2728, 34, 39, 64, 68, 74, 88 95, 108 Zaman Baru (kumpulan puisi), 24, 54-55, 57, 74 147 ,. • • djogja fights back djogja fights back djogja fights back • djogja fights back
US