Papers by Wulfram I. Ervianto

Abstrak Isu keberlanjutan menjadi populer di berbagai negara dalam beberapa tahun ini. Salah satu... more Abstrak Isu keberlanjutan menjadi populer di berbagai negara dalam beberapa tahun ini. Salah satu pemicunya adalah fenomena pemanasan global yang mengkawatirkan keberlangsungan kehidupan di Bumi. Salah satu gejalanya adalah meningkatnya suhu rata-rata di Bumi yang disebabkan oleh efek gas rumah kaca. Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kota Yogyakarta telah mengakomodasi prinsip ramah lingkungan yang didasarkan pada dokumen ilmiah yang telah dipublikasikan, misalnya regulasi dan dokumen ilmiah lainnya. Metodologi penelitian yang digunakan didasarkan pada pendekatan kualitatif melalui interpertasi data sekunder yang tersedia dan dapat diakses oleh umum. Beberapa capaian tingkat aspek/faktor/indikator keberlanjutan di kota Yogyakarta adalah : (a) Suhu dan kelembaban kota Yogyakarta mengalami peningkatan relatif tinggi, salah satu penyebabnya adalah terbatasnya ruang terbuka hijau, yaitu ±584,38 ha (≈17,98%) dengan komposisi 329,58 ha (≈10,14%) ruang terbuka hijau publik dan 254,80 ha (≈7,84%) merupakan ruang terbuka hijau privat. (b) Dalam hal isu pencemaran udara, kadar sebesar ±559,54 part per million melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh World Bank, yaitu 381 PPM. (c) Tingkat ketidakmerataan distribusi pendapatan (rasio gini) berada pada ketimpangan moderat (0,451). Hasil kajian dalam mengakomodasi berbagai isu tersebut diatas adalah sebagai berikut: (a) Mengimplementasikan konsep kota berkelanjutan secara lengkap dan benar. (b) Mengevaluasi analisis dampak lingkungan untuk hotel, pusat perbelanjaan, dan fasilitas kesehatan di kota Yogyakarta. (c) Menerbitkan peraturan walikota yang mewajibkan setiap hotel, pusat perbelanjaan, dan fasilitas kesehatan memiliki fasilitas pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun secara mandiri dan melaporkan hasil audit secara berkala dan rutin. (d) Mengembangkan teknologi tepat guna untuk pengolahan limbah cair di tingkat kampung agar dapat dipergunakan untuk keperluan lain. (e) Menghidupkan aktivitas ekonomi di tingkat kampung. Abstract Sustainability issues have become popular in various countries in the last many years. These are caused by a global warming phenomenon that may concern the survival of life on the Earth by marking the increasing Earth's average temperature caused by the greenhouse effect. The purpose of this study is to find out how the city of Yogyakarta accomodates the principles of eco-friendly approaches which are based published scientific articles, such as domestic regulations and other related documents. The using of research methodology is based on qualitative approaches by interpreting both the availability and accesibility of secondary data base can be reached by the public. Several achievements of sustainability aspect/factors/indicators which are found in the city of Yogyakarta are (a) The increasing of Yogyakarta's temperature and humidity is relatively high, one of the effect is the lack of green open spaces, ± 584,38 ha (≈17,98%) which consists of 329,58 ha (≈10,14%) and the rest of 254,80 ha (≈7,84%) of private green open space. (b) In the case of air pollution issues indicate the level of carbon dioxide is 559.54 ppm exceeding the threshold applied by World Bank, i.e. 381 PPM. (c) The inequality of income distribution (ratio of gini) indicates at the moderate imbalance (0,51). The result of this study by accommodating various issues mentioned are as follows : (a) To implement the concept of sustainable city must be done completely and correctly. (b) To evaluate the environmental impact assessments for hotels, shopping centers, and health facilities of city of Yogyakarta. (c) To Issuie mayoral regulations requiring every hotel, shopping center and health facility must have facility for treating hazardous and toxic waste materials independently and reporting periodic and routine audit results. (d) To develop appropriate technology for the processing of wastewater at the village level in order to be used for other purposes. (e) To enable economic activity at the village situation.

UNIVERSITY NETWORK FOR INDONESIA INFRASTRUCTURE DEVELOPMENT, 2017
Abstrak. Pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah di Indonesia saat ini belum merata. Berdasarkan d... more Abstrak. Pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah di Indonesia saat ini belum merata. Berdasarkan data Bank Indonesia tahun 2016, pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia sebesar 5,18%, namun di beberapa daerah di Indonesia masih terjadi pertumbuhan ekonomi negatif yaitu di Papua dan Kalimantan Timur, sedangkan daerah yang pertumbuhan ekonominya kurang dari 4% adalah Papua Barat, Kepulauan Babel, Jambi, Riau, dan Aceh. Kesenjangan ini telah direspon positif oleh pemerintah pusat dalam bentuk program pengembangan koridor ekonomi Indonesia melalui pembangunan infrastruktur sebanyak 226 proyek yang digolongkan dalam proyek strategis nasional. Selain itu, di akhir tahun 2025 diharapkan telah tercapai penerapan teknologi tinggi untuk pembangunan berkelanjutan sesuai dengan dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui hambatan dan tantangan dalam mewujudkan infrastruktur yang didasarkan pada penelaahan berbagai dokumen yang terkait. Pendekatan yang digunakan untuk menjelaskan tujuan tersebut diatas didasarkan pada pengetahuan dari berbagai dokumen yang terkait langsung maupun tidak langsung terhadap obyek kajian. Beberapa temuan yang diperoleh adalah untuk mencapai target penyediaan infrastruktur sebagaimana tersebut diatas, masih terdapat berbagai kendala diantaranya adalah: (a) tingginya persoalan korupsi atau suap dalam proyek konstruksi yang mencapai ± 9,1%. (b) belum terformulasinya konsep pembangunan berkelanjutan di tingkat praktis. (c) beragamnya pengetahuan penyedia jasa tentang prinsip berkelanjutan. (d) persoalan kapasitas stake holder yang terlibat dalam proyek konstruksi. (e) persoalan regulasi yang belum sepenuhnya mengakomodasi prinsip pembangunan berkelanjutan.

Prosiding Unwira Kupang, 2017
ABSTRAKS Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 514 kabupaten kota berdasarkan da... more ABSTRAKS Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 514 kabupaten kota berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri tahun 2016. Diantara kota-kota di Indonesia ada sejumlah kota yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi penduduknya, yang berdampak pada meningkatnya jumlah penduduk. Tujuan pendatang di kota dapat bersifat sementara maupun permanen. Belum adanya regulasi yang membatasi jumlah penduduk dalam sebuah kota berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan sistem yang telah ada. Di sisi lain, daya dukung lingkungan kota mempunyai kendala keterbatasan kapasitas penyediaan dan kapasitas tampung limbah. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan tersebut diatas dengan cara mengimplementasikan konsep kota hijau yang terdiri dari sembilan atribut, yaitu: infrastruktur jalan, transportasi, ruang terbuka hijau, air bersih, kebisingan, energi, perumahan, udara bersih, bangunan gedung. Semua atribut tersebut perlu segera dieksekusi didasarkan pada pendekatan sistem yang terintegrasi guna memenuhi prinsip pembangunan berkelanjutan (aspek ekonomi, sosial, lingkungan). Dalam hal ini diperlukan pengelolaan agar terjadi keseimbangan antara proses penyediaan infrastruktur dengan keterbatasan lingkungan. ABSTRACT Indonesia is an archipelago country, which consists of 514 urban district refering to 2016 data issued by the ministry of domestic affairs. This country has some cities that are able to generate secure and comfortable environment. Among its cities, there are some areas that are able to generate secure and comfortable environment for their population. They affect for increasing population. The nature of urban migrants' goal can be either temporarily or permanently. The absence of government regulation enhancing stable number of residents in urban area produces imbalance of the existing system. In addition, carrying capacity in an urban area is facing problem of both source availibility and waste management. By implementing the concept of green city isone theory to achieve a suitable solution in case of problem obove. There are nine atributes of green approaches, namely : road infrastructure, transportation, green open space, clean water, noise, energy, housing, clean air, building. All these attributes need to be executed immediately based on an integrated systems approach to meet the principles of sustainable development (economic, social, environmental). In this case, it is necessary to manage the balance between the process of providing infrastructure with environmental limitations.

ABSTRAK Proyek konstruksi sering kali dikonotasikan sebagai media untuk memperoleh keuntungan fin... more ABSTRAK Proyek konstruksi sering kali dikonotasikan sebagai media untuk memperoleh keuntungan finansial bagi pengelolanya. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Hal ini dibuktikan dengan semakin panjangnya daftar proyek yang masuk dalam kategori " dikorupsi " dan dikuatkan dengan semakin banyaknya pejabat publik yang telah dinyatakan bersalah selama mengelola sejumlah proyek di Indonesia. Berbagai penyebab terjadinya hal ini tidak terlepas dari banyak hal, antara lain: kapasitas pengelola proyek yang kurang mumpuni sehingga tergelincir masuk dalam daerah abu-abu yang rawan praktek korupsi atau keberadaan sebuah proyek telah direncanakan dengan sengaja untuk menyangga finansial berbagai aktivitas yang telah direncanakan. Kedua skenario tersebut pada akhirnya akan mengantarkan pengelola proyek dalam situasi yang tidak nyaman dan harus mempertanggungjawabkan seluruh bentuk kesalahannya. Khusus untuk proyek yang diadakan guna menyangga finansial sebuah kegiatan, dapat diartikan bahwa keberadaan proyek ini dengan sengaja direncanakan untuk dikorupsi. Adapun praktek korupsi dapat dikondisikan di sepanjang daur hidup proyek dan khususnya di tahap pengadaan. Dalam lingkup yang lebih sempit, praktek korupsi dapat dikondisikan oleh pengelola proyek dengan mempersiapkan " kantong " aktivitas yang akan dimanipulasi secara terstruktur. Hal ini dapat dilakukan dengan relatif aman apabila sejak awal telah dipersiapkan sistem dan bentuk pelaporan administrasi. Adapun bentuk dokumen yang terkait dengan praktek korupsi adalah (1) Dokumen Mutual Check (MC) 0%, (2) Spesifikasi, (3) Gambar Rencana Proyek, (4) Gambar Terbangun (as built drawing), (5) Laporan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Sedangkan praktek korupsi yang umumnya dilakukan adalah mereduksi kualitas dan kuantitas bangunan.

ABSTRAK Kajian tentang perkotaan mulai banyak dilakukan yang berawal dari timbulnya berbagai feno... more ABSTRAK Kajian tentang perkotaan mulai banyak dilakukan yang berawal dari timbulnya berbagai fenomena berupa kepadatan penduduk yang diikuti dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur. Bangunan gedung terus bermunculan yang diikuti kepadatan lalu lintas di berbagai kota di Indonesia. Hal ini dibuktikan data nilai konstruksi yang diselesaikan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Faktor pemicunya adalah meningkatnya jumlah penduduk. Di sisi lain, tanah tempat berpijak berbagai jenis infrastruktur tersebut bersifat tetap yaitu Bumi. Dalam studi yang dilakukan oleh World Resources Institute tahun 1996, di akhir abad ini diperkirakan setengah umat manusia akan tinggal di wilayah perkotaan. Dalam Agenda Habitat dituliskan, pada tahun 2000 sebanyak tiga milyar orang tinggal di wilayah perkotaan, dimana peningkatan terbesar terjadi di berbagai kota di negara berkembang. Ketika komunitas perkotaan tumbuh maka interaksi antara manusia dan lingkungan menjadi sangat penting. Dengan demikian, kota akan menjadi beban bagi sumber-sumber alam, mengotori udara dan air, menimbulkan polusi lingkungan di tingkat lokal dan global. Demikian juga persoalan pembangunan di perkotaan secara nyata merusak lingkungan alam dan wilayah di sekitarnya. Namun demikian menjadi tidak tepat jika aktivitas pembangunan dihentikan karena alasan lingkungan, namun harus tetap dilakukan sebatas aktivitasnya mengakomodasi prinsip ramah lingkungan. Beberapa hal yang dipandang penting sebagai dasar mencapai kota berwawasan lingkungan adalah tercapainya masyarakat berwawasan ekologi yang mencakup beberapa hal sebagai berikut : pengelolaan pembangunan infrastruktur, persoalan transportasi, ketersediaan ruang terbuka hijau, memperhatikan sumber air dan ekosistem, pengelolaan kebisingan, sumber energi, perumahan yang layak, persoalan kualitas udara, pengelolaan bangunan gedung ramah lingkungan, pengelolaan lahan, dan pengelolaan sampah. Kota merupakan impian banyak orang sebagai ruang untuk hidup, beraktivitas dan merupakan pusat perjuangan keras manusia. Selain itu, kota juga sebagai pusat kreativitas dan budaya yang melambangkan kemajuan sosial dan ekonomi. Pembangunan infrastruktur yang belum merata dan minimnya kesempatan kerja di desa merupakan faktor pendorong urbanisasi. Sedangkan daya tarik kota salah satunya adalah terbukanya kesempatan kerja yang membuat sebagian orang meninggalkan pedesaan. Pada tahun 2050 diperkirakan populasi penduduk perkotaan di Asia mencapai 64%. Fenomena yang sama akan terjadi di Indonesia, dimana pada tahun 2025 penduduk perkotaan diperkirakan akan mencapai 67,5%. (Buletin Tata Ruang, Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional, Januari-Februari 2012). Menurut data Price Waterhouse Cooper tahun 2014, tingkat populasi urbanisasi Indonesia sebesar 51,4% atau tertinggi kedua setelah Malaysia (73,4%), sedangkan negara anggota ASEAN lainnya adalah Vietnam (31,7%), Thailand (34,5%), dan Filipina (49,1%). Secara umum pemicu terjadinya urbanisasi adalah : perubahan ekonomi, kelangkaan sumberdaya, perubahan teknologi, perubahan sosial, perubahan iklim, dan perubahan lingkungan. Ketika jumlah penduduk di perkotaan mengalami peningkatan maka kebutuhan akan sumberdaya akan meningkat yang berakibat pada penurunan cadangan sumberdaya. Apabila kebutuhan sumberdaya melebihi ketersediaannya maka akan menimbulkan dampak negatif berupa ancaman keberlangsungan kehidupan berbagai mahkluk hidup, sebagai contoh tentang ketersediaan sumberdaya yang bersifat tak terbarukan (sebut bahan bakar fosil yang diperkirakan oleh para ahli akan habis dalam 50 tahun mendatang). Selain itu, persoalan air bersih perlu menjadi perhatian mengingat sulitnya mendapat air bersih pada saat ini. Sesungguhnya persoalan urbanisasi merupakan hal yang umum terjadi di berbagai negara, namun urbanisasi yang terjadi di Indonesia menjadi lebih komplek karena melibatkan kultur yang lebih beragam. Beberapa isu yang timbul akibat urbanisasi adalah : (a) Lingkungan, (b) Energi, (c) Limbah, (d) Air bersih, (e) Infrastruktur, (f) Sanitasi, (g) Perumahan, (h) Pekerjaan, dan (i) Persoalan sosial.

ABSTRAK Terkait agenda pembangunan konektivitas nasional yang dituangkan dalam dokumen Masterplan... more ABSTRAK Terkait agenda pembangunan konektivitas nasional yang dituangkan dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tentang pembangunan infrastruktur jalan, pelabuhan, bandar udara, dan sarana pendukung air minum akan berdampak langsung terhadap kestabilan lingkungan. Salah satu jenis infrastruktur yang membutuhkan lahan relatif luas adalah jalan raya. Berdasarkan data Statistik Transportasi Darat Indonesia tahun 2014 diperlihatkan data panjang jalan di Indonesia mencapai 517.663 km. Berdasarkan tingkat kewenangan pembinaannya, 417.793 km (80,71%) merupakan jalan kabupaten/kota. Sedangkan panjang jalan negara dan provinsi adalah 46.432 km (8,97%) dan 53.438 km (10,32%). Berdasarkan jenis permukaannya, 57,17% dari panjang jalan total merupakan jalan beraspal; 19,72% jenis permukaan kerikil, dan 17,84% jenis permukaan tanah dan 5,27% lainnya. Terlihat bahwa dominasi permukaan jalan di Indonesia berupa jalan beraspal dimana prosesnya tidak ramah lingkungan jika menggunakan pencampuran panas. Selain itu, luas lahan yang diperlukan dalam pembangunan jalan raya relatif luas yang berpotensi mengusik keanekaragaman hayati dan hewani. Saat pelaksanaan konstruksi seringkali berada di daerah yang tergolong sensitif, yaitu : (a) kawasan hutan, (b) kawasan rawan bencana, (c) kawasan lindung di luar kawasan hutan, (d) kawasan cagar budaya, (e) kawasan khusus, (f) kawasan komersial, pemukiman, dan lahan produktif, (g) daerah komunitas rentan (komunitas adat terpencil dan fakir miskin). Upaya untuk mengetahui seberapa ramah lingkungan proses pembangunan jalan raya diperlukan instrumen untuk mengetahui seberapa ramah lingkungan aktivitas proses yang dilakukan oleh kontraktor yang mencakup: Sumber dan Siklus Material, Manajemen Lingkungan Bangunan, Konservasi Energi, Kualitas Udara, Kesehatan dan Kenyamanan Dalam Proyek, dan Konservasi Air. Hal ini perlu dilakukan karena penerima dampak langsung adalah masyarakat dan lingkungan di sekitar proyek.

Konferensi Nasional Teknik Sipil ke-9
ABSTRAK
Maraknya pembangunan di Indonesia yang ditandai dengan meningkatnya nilai konstruksi yang... more ABSTRAK
Maraknya pembangunan di Indonesia yang ditandai dengan meningkatnya nilai konstruksi yang diselesaikan dari tahun ke tahun memberikan isyarat bahwa telah terjadi pengambilan material di quarry di seluruh Indonesia dan berpotensi menimbulkan waste akibat proses konstruksi yang belum tentu ramah terhadap lingkungan. Oleh sebab itu perlu adanya tatanan baru baik berupa regulasi maupun tata kelola di tingkat proyek konstruksi. Salah satu untuk pendekatan yang diyakini dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat disekitarnya adalah pendekatan green construction. Green construction adalah sebuah pendekatan baru dalam mengelola proyek konstruksi telah menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak bagi kehidupan manusia dan keberlanjutan lingkungan sebagai tempat untuk hidup. Pendekatan ini merupakan salah satu tahap dari serangkaian tahap dalam daur hidup proyek konstruksi. Sampai dengan saat ini belum ada informasi terkait dengan aktivitas kontraktor dalam menjalankan proses konstruksinya, apakah telah mengakomodasi hal-hal yang tidak merusak lingkungan dan hal-hal yang dapat menyebabkan terganggunya kesehatan bagi pekerja maupun masyarakat yang tinggal disekitar lokasi proyek. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal yang telah dicapai oleh kontraktor dalam menjalankan aktivitas proses konstruksinya khususnya dalam proyek bangunan gedung menggunakan model assessment green construction untuk proyek bangunan gedung yang dikembangkan oleh Ervianto. Proses assessment terhadap proyek konstruksi dilakukan melalui diskusi secara langsung maupun menggunakan e-mail dengan cara mengirimkan model assessment berupa software untuk diisi oleh pimpinan proyek (self evaluation). Hasil yang diperoleh adalah sebagian besar kontraktor telah melakukan konservasi energi; konservasi air; memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja; dan manajemen lingkungan bangunan. Namun demikian terdapat perbedaan yang siginifikan antara kontraktor milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan kontraktor milik swasta nasional. Untuk itu perlu dirancang mekanisme transfer of knowledge bagi kontraktor swasta nasional agar terbentuk perilaku dalam aktivitas proses konstruksi yang ramah lingkungan.
Kata kunci: Green construction, Model assessment, Proyek konstruksi bangunan gedung.
Seminar Nasional Energi Indonesia 2015, May 27, 2015
The increasing value of completed construction would have an impact on energy demand and trigger ... more The increasing value of completed construction would have an impact on energy demand and trigger environmental degradation. To anticipate both of these required precise project management is integrated project management. The research objective is to conduct a comprehensive study related to the management of environmentally friendly building projects that measured energy use. The energy issue is a major priority in some rating system in United State of America namely Leadership in Energy and Environmental Design (LEED)

Brunei International Conference Engineering Technology, Nov 1, 2014
In the 13 th summit of climate changes held by United Nations (UN) in Bali in December 2007, Indo... more In the 13 th summit of climate changes held by United Nations (UN) in Bali in December 2007, Indonesia agreed to decrease the concentrate of CO 2 on the air about 26% up to 41% at the end of 2020 This agreement could be reached if all industries sectors including the construction sectors have their commitment to environment issues/problems. As a developing country, Indonesia has a blueprint for the construction sector as a grand design and strategy called the "Indonesian Construction 2030". One of the proposed agenda is to promote sustainable construction in order to use the material efficiently, to reduce waste (waste of material) as well as to facilitate ease of maintenance of post-construction building. The objective of this research is to implement the green construction assessment system for building constructions in Indonesia in order to find out how green the process of construction of the project. The result of green construction assessment system trial in construction project, the knowledge obtained are as follows: (a) projects without green designs and are not constructed by green contractors will tend to obtain low score of Green Construction Score (GCS), (b) projects without green designs but constructed by green contractors will tend to obtain high score of GCS, (c) projects with green designs and constructed by not-green contractors will tend to obtain high score of GCS, and (d) projects with green designs and green contractors will tend to obtain high score of GCS.

Konferensi Nasional Teknik Sipil ke-8, Oct 17, 2014
Green construction sebagai konsep baru guna memenuhi proses konstruksi bangunan gedung ramah ling... more Green construction sebagai konsep baru guna memenuhi proses konstruksi bangunan gedung ramah lingkungan terus dikembangkan oleh berbagai pihak. Prinsip-prinsip green construction diperkenalkan di Indonesia pada tahun 2007 melalui proses transfer of knowledge dari perusahaan asing kepada perusahaan lokal di Indonesia. Belajar dari mekanisme tersebut, membawa dampak terhadap perkembangan green construction yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah proyek yang mengadopsi prinsip-prinsip green construction. Dalam kajian akademis, penelitian tentang green construction di Indonesia mengalami perkerkembangan cukup pesat yang ditandai dengan meningkatnya kuantitas penelitian disertai dengan temuan baru dalam berbagai hal. Salah satunya adalah terformulasinya sistem penilaian green construction untuk bangunan gedung di Indonesia. Berdasarkan hasil uji coba sistem ini dalam proyek konstruksi di Indonesia, dapat terpetakan capaian proses konstruksi ramah lingkungan. Hal ini mampu menunjukan bahwa setiap kontraktor dalam menjalankan aktivitas proses konstruksi di lapangan berbeda satu dengan yang lain yang ditentukan oleh kemampuan manajemen perusahaan tersebut. Pada umumnya kontraktor yang berada dalam kelompok besar mampu mencapai green construction lebih baik yang ditunjukan oleh Nilai Green Construction (NGC). Sebagian besar kontraktor yang mencapai NGC relatif tinggi telah menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Berdasarkan hal tersebut, dalam penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian terhadap peran penting dalam SMK3 yang mampu mendorong/mengedukasi kontraktor dalam menjalankan proses konstruksinya menjadi lebih baik. Proses analisis dilakukan dengan cara melakukan kajian dokumen SMK3 dan kemudian dilakukan konfirmasi terhadap kontraktor yang telah menerapkan sistem tersebut. Hasil yang diperoleh adalah adanya kecenderungan bahwa kontraktor kelompok besar dikelola menggunakan manajemen yang baik dan dituangkan dalam budaya perusahaan mampu mencapai prinsip-prinsip green construction secara signifikan.

The 2nd International Conference on Sustainable Civil Engineering Structures and Construction Materials, Sep 23, 2014
In the 13 th Konferensi Tingkat Tinggi about the climate changes (Bali summits), United Nations (... more In the 13 th Konferensi Tingkat Tinggi about the climate changes (Bali summits), United Nations (PBB) that held in Bali in December 2007, Indonesia agreed to decrease the concentrate of CO 2 on the air about 26% up to 41% at the end of 2020. This agreement could be reached if all industries sectors including the construction sectors have their commitment to environment issues/problems. Indonesia has had a blueprint to construction sectors as a grand design and strategy that called Indonesia construction 2030. One of the proposed agenda in Konferensi Tingkat Tinggi is to promote sustainable construction in order to create a building based on a design that concern to ecology, use of natural resources efficiently and friendly environment during building operations. Based on one of goals in the sustainable construction, it has not been reflected at this time. The purpose of this study was to determine the understanding of contractor about green construction. The obtained data by using questionnaires and the respondents are project manager, site engineer, and research development in one of constructing companies in Indonesia. Data analysis used descriptive and analysis of hierarchy process. The result of the study is the dominant factors that contribute to green construction are water conservation, energy conservation, health fieldwork on the construction proces, health and safety programs and appropriate land use. These five factors are a priority to contractor in carrying out the construction process. The dominant factors of green construction has been concentrated on a variety of environmental issues/problem where these are new issues in the industrial construction since last five year. Therefore, this achievement in green construction is still limited to association of behavior.

Seminar Nasional Arsitektur SCAN ke-5 , Jun 5, 2014
The growth of the amount of completed construction projects in Indonesia has been increased. Furt... more The growth of the amount of completed construction projects in Indonesia has been increased. Further, this construction development causes the use of natural resources enhancement that affects worse environmental burden by producing construction waste. Recently, it is really important to initiate an action by managing of its waste wisely in order to preserve environmental quality for the future. Environmental approach in construction processes should be attained by involving sustainability concept, while its concept focuses on natural resources availability and preserves the earth for the future. Sustainability issues must be applied as a basis of building management design to achieve the main objectives of sustainable view, for example, providing appropriate breathing space for human being. The new management scheme is desired to be applied as response concerning sustainability by integrating deconstruction stages in the process of project life cycle. In addition, building designers should consider the ease of building demolition procedures. Therefore, the former building materials/ components can be re-employed as a '3R' method implementation. Finally, general conclusion points out that new paradigm change of project management is required to aggregate the competencies of stakeholders which are involved in the process of project, from planning phase to deconstruction. That is necessary to create cooperation with the industrial sectors to arise the transfer of knowledge in various aspects, such as building fabrics technologies and construction systems.

Seminar Nasional Institut Teknologi Sepuluh Nopember ke-X, Feb 5, 2014
Studi mengenai green construction di Indonesia telah dimulai sejak beberapa tahun terakhir yang d... more Studi mengenai green construction di Indonesia telah dimulai sejak beberapa tahun terakhir yang diawali dengan berbagai kajian yang dilakukan oleh perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu. Dilain pihak, sebagian kecil penyedia jasa sebagai pelaku konstruksi telah mulai menerapkan prinsip green construction dalam melaksanakan pekerjaannya. Kementerian Pekerjaan Umum sebagai representasi dari pemerintah, berperan untuk mempersiapkan regulasi sebagai penentu arah konstruksi berkelanjutan Indonesia. Ketiga pihak tersebut diatas merupakan institusi yang berperan penting sebagai pendukung dalam mengembangkan konsep green construction di Indonesia. Pada saat ini, kajian-kajian dalam pengembangan green construction masih bersifat sporadis dan terpisah-pisah yang berdampak pada kecepatan penerapannya di Indonesia. Berpijak pada situasi tersebut diatas perlu kiranya dilakukan kajian untuk mengurai keterlibatan antar pihak sehingga terpetakan tugas dan fungsi masing-masing pihak. Tujuan penelitian ini adalah melakukan kajian terkait kendala dalam menerapkan green construction oleh penyedia jasa, lebih spesifik kontraktor di Indonesia. Penelitian ini diawali dengan melakukan kajian yang mendalam berbasiskan data sekunder untuk mengetahui sebaran informasi green construction yang masih bersifat terpisah-pisah. Selanjutnya, data dan informasi tersebut dikaji secara mendalam berdasarkan pendekatan kualitatif. Hasil kajian ini adalah: (a) Kontraktor masih terkendala oleh terbatasnya ketersediaan peralatan yang ramah lingkungan; (b) Belum tersedianya pekerja yang terlatih dalam melaksanakan pekerjaan yang berprinsip pada green construction; (c) Belum adanya kepastian jenis material ramah lingkungan yang dinyatakan oleh lembaga yang dilegitimasi; (d) Keterbatasan teknologi dalam melaksanakan green construction; (e) Belum efektif terjadinya internal kolaborasi antara kontraktor besar dengan kontraktor spesialis sehingga jumlahnya masih sangat terbatas; (f) Terbatasnya regulasi yang mengatur tentang green construction.
Konferensi Nasional Teknik Sipil ke-7, Oct 25, 2013
Pertumbuhan panjang jalan yang terus meningkat akan berdampak pada pemakaian sumberdaya alam seba... more Pertumbuhan panjang jalan yang terus meningkat akan berdampak pada pemakaian sumberdaya alam sebagai pembentuknya, oleh sebab itu perlu dikembangkan proses konstruksi yang mampu mengkonservasi sumberdaya agar pemanfaatannya dapat dipertanggungjawabkan.

Konferensi Nasional Teknik Sipil ke-7, Oct 24, 2013
Green construction sebuah konsep baru yang dipercaya mampu mereduksi terjadinya kerusakan lingkun... more Green construction sebuah konsep baru yang dipercaya mampu mereduksi terjadinya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh berbagai pembangunan di Indonesia. Isu menipisnya berbagai jenis sumberdaya alam yang digunakan sebagai bahan bangunan serta menumpuknya limbah konstruksi yang dihasilkan dari proses konstruksi maupun yang bersumber dari bangunan yang telah habis masa pakainya menjadi masalah besar bagi kehidupan manusia di Bumi. Selain itu, pertumbuhan penduduk cenderung mengalami peningkatan dalam jumlah yang signifikan yang berakibat pada meningkatnya kebutuhan akan berbagai infrastruktur sebagai penunjang kehidupan. Hal ini ditunjukan oleh meningkatnya nilai konstruksi dari tahun ke tahun, yang berarti bahwa pemakaian sumberdaya alam akan semakin tinggi dan jumlah limbah konstruksi yang dibuang ke lingkungan semakin besar. Jika pembangunan tidak dikelola dengan baik maka dapat berakibat terjadinya bencana lingkungan di masa mendatang. Salah satu jenis infrastruktur yang sangat dibutuhkan adalah jalan. Berdasarkan data tahun 2011, panjang jalan Nasional di Indonesia adalah 38.570 km. Dalam aspek tepat guna lahan, jenis infrastruktur ini membutuhkan lahan yang cukup luas dan meliputi beberapa propinsi di Indonesia. Terkait dengan pemilihan tapak yang akan digunakan, seringkali jalur jalan melewati hutan lindung dan daerah yang dinyatakan sebagai cagar alam. Tujuan dalam paper ini adalah merumuskan dan menetapkan faktor green construction pada infrastruktur jalan. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian yang lebih komprehensif agar tercipta proses pembangunan yang ramah lingkungan. Kajian diawali berdasarkan literature review untuk memformulasikan faktor green construction. Analisis data dilakukan secara deskriptif mengingat penelitian ini masih awal di Indonesia. Hasil yang diperoleh adalah terdapat sejumlah faktor penting untuk mencapai green construction, yaitu: sumber dan siklus material, manajemen lingkungan bangunan, konservasi energi, kualitas udara, kesehatan dan kenyamanan dalam proyek, dan konservasi air.

Seminar Nasional Teknik Sipil ke IX, Feb 13, 2013
Fenomena pemanasan global yang disebabkan oleh efek gas rumah kaca di Bumi diyakini oleh para pen... more Fenomena pemanasan global yang disebabkan oleh efek gas rumah kaca di Bumi diyakini oleh para peneliti disebabkan salah satunya adalah pembangunan. Sebuah gagasan yang dianggap berpotensi dapat mengurangi pemanasan global adalah dengan menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan. Konsep ini mengandung tiga pilar utama yang saling terkait dan saling menunjang yaitu pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan pelestarian lingkungan hidup. Salah satu terjemahan konsep pembangunan berkelanjutan di tingkat praktis dikenal dengan green construction dimana implementasinya mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak. Kajian tentang green construction ditinjau dari aspek teknis telah banyak dilakukan untuk meyakinkan dapat diterapkannya di Indonesia. Selain kajian aspek teknis tentu dibutuhkan kepastian apakah kerangka legislatif yang telah ada di Indonesia dapat mengakomodasi secara komprehensif bila green construction diterapkan. Sampai dengan saat ini belum ada informasi yang lengkap tentang pemetaan kerangka legislatif yang mendukung penerapan green construction. Tujuan penulisan ini adalah melakukan kajian terhadap berbagai peraturan yang telah mengakomodasi konsep green construction di Indonesia. Manfaat kajian ini adalah tersedianya mapping kerangka legislatif dalam mendukung penerapan green construction untuk bangunan gedung baru. Data dan informasi diperoleh melalui berbagai media dalam bentuk undang-undang, peraturan menteri, peraturan daerah dan peraturan lain yang terkait dengan obyek kajian. Beberapa landasan legislatif yang ada pada saat ini diantaranya adalah Undang-Undang Bangunan Gedung Nomor 28 tahun 2002. Sedangkan peraturan yang mengatur secara spesifik tentang bangunan ramah lingkungan adalah Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2010. Di tingkat Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang Bangunan Gedung Hijau adalah Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 38 Tahun 2012.

Seminar Nasional Teknik Sipil IX, Feb 6, 2013
Fenomena pemanasan global yang disebabkan oleh efek gas rumah kaca di Bumi diyakini oleh para pen... more Fenomena pemanasan global yang disebabkan oleh efek gas rumah kaca di Bumi diyakini oleh para peneliti disebabkan salah satunya adalah pembangunan. Sebuah gagasan yang dianggap berpotensi dapat mengurangi pemanasan global adalah dengan menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan. Konsep ini mengandung tiga pilar utama yang saling terkait dan saling menunjang yaitu pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan pelestarian lingkungan hidup. Salah satu terjemahan konsep pembangunan berkelanjutan di tingkat praktis dikenal dengan green construction dimana implementasinya mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan indikator green construction khususnya untuk bangunan gedung. Untuk mendapatkan data digunakan instrumen kuisioner dan sebagai respondennya adalah kepala proyek, bagian riset dan pengembangan pada perusahaan kontraktor dalam kualifikasi besar dan menengah yang berdomisili di kota besar sebagai representasi nasional Indonesia. Hasil yang diperoleh adalah: (a) jumlah indikator green construction yang dihasilkan adalah 142 indikator yang terdiri dari 77 indikator Prioritas I dan 65 indikator Prioritas II; (b) indikator green construction Prioritas I terdiri dari 16% kategori perilaku, 34,67%, kategori minimum waste, dan 49,33% kategori maksimum value; (c) indikator green construction Prioritas II terdiri dari 27,69% kategori Perilaku, 12,31% kategori Minimum Waste, dan 60% kategori Maksimum Value.

Seminar Nasional Konteks ke-6, Nov 1, 2012
Meningkatnya nilai konstruksi yang diselesaikan dapat diartikan bahwa semakin tinggi aktivitas pe... more Meningkatnya nilai konstruksi yang diselesaikan dapat diartikan bahwa semakin tinggi aktivitas pembangunan proyek konstruksi di Indonesia. Lebih jauh lagi dapat diinterpretasikan bahwa semakin tinggi pemanfaatan sumberdaya alam maka akan semakin besar beban lingkungan yang diakibatkan oleh limbah kontruksi. Berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 1227 Tahun 1989, luas wilayah Provinsi DKI Jakarta adalah 7.659,02 km 2 , terdiri dari daratan seluas 661,52 km 2 , termasuk 110 pulau di Kepulauan Seribu, dan lautan seluas 6.997,50 km 2 . Menurut catatan Collier International Research, luas bangunan kantor baru di Jakarta adalah 551.670 m 2 , luas total eksisting bangunan kantor adalah 5.948.590 m 2 sehingga luas total bangunan kantor adalah 6.500.260 m 2 . Struktur utama bangunan gedung yang umum digunakan adalah beton bertulang dengan perkiraan masa pakai ± 50 tahun. Jika setiap 1m 2 bangunan menimbulkan limbah ± 0,3542 m 3 material komponen struktur, maka dalam 50 tahun mendatang limbah struktur bangunan yang akan ditimbulkan sebesar ± 2.302.392 m 3 (≈3.483 m 3 /m 2 ). Jumlah limbah yang tidak sedikit ini perlu dikelola agar tidak menimbulkan bencana lingkungan bagi generasi mendatang. Hal ini tentu berseberangan dengan konsep sustainability yang mengedepankan keberadaan berbagai jenis material bagi masa datang dan kelestarian Bumi. Dalam kajian ini data primer diperoleh di Bandung dan Jogjakarta. Hasil yang diperoleh adalah (a) perlunya memasukkan aspek dekonstruksi dalam daur hidup proyek konstruksi, (b) pentingnya bagi perencana bangunan mempertimbangkan kemudahan dalam pembongkaran bangunan agar material/komponen bangunan dapat digunakan kembali. (c) menerapkan 3R dalam daur hidup proyek konstruksi.
Seminar Nasional Teknik Sipil, May 26, 2012
Uploads
Papers by Wulfram I. Ervianto
Maraknya pembangunan di Indonesia yang ditandai dengan meningkatnya nilai konstruksi yang diselesaikan dari tahun ke tahun memberikan isyarat bahwa telah terjadi pengambilan material di quarry di seluruh Indonesia dan berpotensi menimbulkan waste akibat proses konstruksi yang belum tentu ramah terhadap lingkungan. Oleh sebab itu perlu adanya tatanan baru baik berupa regulasi maupun tata kelola di tingkat proyek konstruksi. Salah satu untuk pendekatan yang diyakini dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat disekitarnya adalah pendekatan green construction. Green construction adalah sebuah pendekatan baru dalam mengelola proyek konstruksi telah menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak bagi kehidupan manusia dan keberlanjutan lingkungan sebagai tempat untuk hidup. Pendekatan ini merupakan salah satu tahap dari serangkaian tahap dalam daur hidup proyek konstruksi. Sampai dengan saat ini belum ada informasi terkait dengan aktivitas kontraktor dalam menjalankan proses konstruksinya, apakah telah mengakomodasi hal-hal yang tidak merusak lingkungan dan hal-hal yang dapat menyebabkan terganggunya kesehatan bagi pekerja maupun masyarakat yang tinggal disekitar lokasi proyek. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal yang telah dicapai oleh kontraktor dalam menjalankan aktivitas proses konstruksinya khususnya dalam proyek bangunan gedung menggunakan model assessment green construction untuk proyek bangunan gedung yang dikembangkan oleh Ervianto. Proses assessment terhadap proyek konstruksi dilakukan melalui diskusi secara langsung maupun menggunakan e-mail dengan cara mengirimkan model assessment berupa software untuk diisi oleh pimpinan proyek (self evaluation). Hasil yang diperoleh adalah sebagian besar kontraktor telah melakukan konservasi energi; konservasi air; memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja; dan manajemen lingkungan bangunan. Namun demikian terdapat perbedaan yang siginifikan antara kontraktor milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan kontraktor milik swasta nasional. Untuk itu perlu dirancang mekanisme transfer of knowledge bagi kontraktor swasta nasional agar terbentuk perilaku dalam aktivitas proses konstruksi yang ramah lingkungan.
Kata kunci: Green construction, Model assessment, Proyek konstruksi bangunan gedung.