Bakcang
Synopsis
Gambaran Umum
Bakcang, dalam bahasa kuno disebut "jiaoshu" atau "tongzong", adalah makanan tradisional Tiongkok yang dikonsumsi terutama pada saat Festival Perahu Naga. Bahan utamanya adalah beras ketan, dibungkus dengan daun seperti daun bambu atau daun alang-alang, diisi dengan berbagai macam isian, lalu diikat dan dikukus atau direbus. Bentuknya beragam, yang paling umum adalah berbentuk piramida...
Ikhtisar
Bakcang, yang dalam bahasa kuno disebut "jiaoshu" atau "tongzong", adalah makanan tradisional Tiongkok yang terkait dengan musim, dan paling populer dikonsumsi selama Festival Perahu Naga. Bahan utamanya adalah beras ketan, dibungkus dengan daun seperti daun bambu (ruò yè), daun alang-alang, dan sejenisnya, diisi dengan berbagai isian, lalu diikat dan dikukus atau direbus. Bentuknya beragam, umumnya berbentuk kerucut, segi empat, atau memanjang. Bakcang bukan hanya makanan dengan rasa unik, tetapi juga pembawa memori sejarah dan budaya yang dalam, mencerminkan kebijaksanaan dan emosi dalam budaya kuliner Tiongkok.
Asal-usul Sejarah
Sejarah bakcang sangat panjang, dapat ditelusuri kembali ke Periode Musim Semi dan Gugur. Awalnya mungkin terkait dengan kegiatan ritual. Legenda paling populer tentang makan bakcang saat Festival Perahu Naga adalah untuk memperingati penyair Qu Yuan dari Negara Chu pada Periode Negara-negara Berperang. Menurut catatan "Xu Qixie Ji" oleh Wu Jun dari Dinasti Liang Selatan, setelah Qu Yuan bunuh diri dengan melompat ke Sungai Miluo pada hari kelima bulan kelima kalender lunar, rakyat berduka. Untuk mencegah ikan dan udang memakan tubuhnya, mereka membungkus beras dengan daun pohon chinaberry (liàn shù) dan melemparkannya ke sungai. Praktik ini kemudian berevolusi menjadi kebiasaan makan bakcang saat Festival Perahu Naga.
Sepanjang sejarah, bentuk dan makna bakcang terus berkembang. Pada Dinasti Han, "zong" sudah muncul, dibungkus dengan daun Zizania (gū yè, daun tanaman water bamboo) dan disebut "jiaoshu". Pada Dinasti Jin, bakcang menjadi makanan tetap Festival Perahu Naga dan mulai ditambahkan dengan bahan obat tradisional "yizhiren", disebut "yizhi zong". Pada Dinasti Tang, bakcang "putih dan transparan seperti giok", muncul dalam bentuk kerucut dan belah ketupat, serta ada "baisuo zong" yang digunakan sebagai hadiah. Pada Dinasti Song, muncul "mijian zong" dengan buah-buahan manisan. Pada Dinasti Ming dan Qing, bahan pembungkus berubah menjadi daun bambu (ruò yè), isian menjadi lebih beragam, ciri khas daerah semakin menonjol, dan tradisi ini terus berlanjut hingga kini.
Bahan dan Cara Membuat
Inti bakcang adalah beras ketan, ditambah berbagai isian, dan dibungkus dengan daun tanaman tertentu. Bakcang dari daerah yang berbeda memiliki perbedaan signifikan dalam bahan dan cara pembuatan, membentuk dua sistem rasa utama, yaitu asin dan manis, serta banyak varietas khas daerah.
Klasifikasi Bahan Utama:
* Bahan Pokok: Beras ketan (beras ketan bulat atau panjang), terkadang dicampur dengan milet atau ditambahkan air abu (untuk membuat bakcang air abu).
* Daun Pembungkus: Daun bambu (ruò zhú yè, paling umum), daun alang-alang, daun ek (hú yè), daun pisang, daun teratai, bambu, dll., memberikan aroma harum yang khas.
* Isian:
* Isian Asin: Daging babi berlemak, ham, kuning telur asin, ayam, kastanye, jamur shiitake, ebi kering, kerang kering, kacang hijau, kacang tanah, dll.
* Isian Manis: Pasta kacang merah, pasta kurma, kurma manisan, kacang merah, biji teratai, buah-buahan, kacang-kacangan, dll.
* Bahan Pengikat: Benang katun, tali rami, atau tali jerami.
Cara Dasar Membuat:
1. Persiapan: Rendam beras ketan dan kacang-kacangan kering selama beberapa jam; bumbui isian daging terlebih dahulu; cuci daun bakcang dan rebus hingga lunak.
2. Membungkus: Ambil dua lembar daun bakcang, tumpuk, gulung membentuk corong, isi dengan sedikit beras ketan, tambahkan isian, tutup lagi dengan beras ketan, lipat daun untuk membungkus dengan rapat, dan ikat kuat dengan tali.
3. Memasak: Masukkan bakcang yang sudah dibungkus ke dalam panci, tambahkan air secukupnya, didihkan dengan api besar lalu kecilkan api dan rebus perlahan selama beberapa jam hingga beras ketan benar-benar matang dan lembut.
Tabel berikut secara singkat membandingkan karakteristik beberapa bakcang perwakilan:
| Nama Bakcang | Daerah Utama | Bahan Utama | Karakteristik Rasa |
|---|---|---|---|
| Bakcang Daging Segar Jiaxing | Jiaxing, Zhejiang | Beras ketan, daging kaki belakang babi, kecap, gula, garam | Gurih dan lezat, daging empuk, beras ketan berminyak dan lembut, merupakan perwakilan "Raja Bakcang Jiangnan". |
| Bakcang Daging Asin Kanton | Guangdong, Hong Kong | Beras ketan, kacang hijau, daging babi berlemak, kuning telur asin, jamur shiitake, ebi kering, bubuk lima rempah | Isian beragam, tekstur berlapis, rasa gurih dan kaya. |
| Bakcang Kurma Beijing | Daerah Utara | Beras ketan, kurma merah, kacang merah | Bentuk segi empat miring atau segitiga, rasa segar, dimakan dengan dicelup gula, manis tidak enek. |
| Bakcang Air Abu | Guangdong, Fujian, Jiangxi | Beras ketan, air abu (atau air abu kayu/rumput) | Warna keemasan semi-transparan, tekstur kenyal, sering dimakan dengan dicelup gula atau sirup, memiliki aroma khusus. |
| Bakcang Daun Ek | Bagian Henan, Shandong | Milet (atau beras ketan), kurma merah, kacang merah, dibungkus daun ek (hú yè) | Memiliki aroma harum khas daun ek, merupakan varietas kuno yang bersejarah. |
| Bakcang Pedas Sichuan | Sichuan | Beras ketan, kacang merah, garam dan merica, daging asap, bubuk cabai | Pedas, gurih, dan harum, rasa unik, berbeda dari yang lain. |
Makna Budaya
Bakcang telah melampaui sekadar makanan, menjadi simbol penting budaya Tiongkok.
1. Simbol Festival: Merupakan elemen tak terpisahkan dari Festival Perahu Naga, bersama dengan kebiasaan seperti balap perahu naga dan menggantung daun Artemisia, membentuk sistem budaya festival yang lengkap, memperkuat identitas budaya nasional dan ikatan reunifikasi keluarga.
2. Peringatan dan Pengharapan Emosional: Membungkus kenangan akan tokoh sejarah (seperti Qu Yuan), juga membungkus kasih sayang antar anggota keluarga. Membungkus bakcang sendiri dan saling memberi bakcang adalah cara penting dalam pertukaran emosional.
3. Pembawa Budaya Regional: Dari bakcang manis di utara hingga bakcang asin di selatan, hingga berbagai bakcang khas, perbedaannya secara hidup mencerminkan budaya regional Tiongkok yang beragam, "angin berbeda setiap seribu li, adat berbeda setiap seratus li".
4. Warisan Keterampilan Tradisional: Keterampilan membungkus bakcang adalah sebuah keahlian, mengandung kebijaksanaan hidup yang diturunkan dari generasi ke generasi, merupakan bagian dari tradisi keluarga dan memori komunitas.
Kini, sambil mempertahankan tradisi, bakcang juga terus berinovasi, muncul banyak varietas baru yang sesuai dengan selera modern, tetapi makna budaya intinya—peringatan, reunifikasi, dan doa—tidak pernah berubah. Ia bagaikan fosil hidup budaya, setiap tahun saat Festival Perahu Naga, dengan aroma harumnya yang tak berubah, membangunkan memori kolektif seluruh bangsa.
Referensi
- Situs Web Pemerintah Tiongkok - Festival Perahu Naga:
http://www.gov.cn/guoqing/2021-06/11/content_5616915.htm - Situs Warisan Budaya Nonbendawi Tiongkok · Museum Digital Warisan Budaya Nonbendawi Tiongkok - Festival Perahu Naga:
https://www.ihchina.cn/project_details/14322/ - CCTV.com - "A Bite of China" Season 3 Episode 6 "Crispy": Memperkenalkan keterampilan pembuatan dan budaya bakcang Jiaxing.
https://tv.cctv.com/2018/02/23/VIDE7pQ2Z7K8q3w0lY9vL9n3180223.shtml
Comments (0)