🎬

Musim Gugur di Pegunungan

山居秋暝
Views
43

Synopsis

Puisi lima kata oleh Wang Wei yang menggambarkan pemandangan indah dan tenang di pegunungan pada senja hari musim gugur adalah karya representatif dari puisi lanskap dan pastoral.

Teks Asli

Setelah hujan di gunung sepi, cuaca sore hari terasa musim gugur.
Bulan terang bersinar di antara pohon pinus, air jernih mengalir di atas batu.
Gemerisik bambu tanda gadis pencuci pulang, gerakan teratai tanda perahu nelayan turun.
Biarkan saja wangi musim semi berlalu, sang pangeran boleh tinggal di sini.

Ikhtisar

"Gunung Tinggal di Musim Gugur Senja" adalah puisi lima kata delapan baris karya penyair Dinasti Tang, Wang Wei. Di masa tuanya, Wang Wei hidup menyendiri di Villa Wangchuan, Gunung Zhongnan, dan menciptakan banyak puisi bertema lanskap dan pedesaan. Puisi ini menggambarkan keindahan hutan gunung pada senja awal musim gugur setelah hujan, segar dan alami, tenang dan damai, merupakan salah satu karya representatif puisi lanskap dan pedesaan Wang Wei.

Profil Penulis

Item Isi
Nama Wang Wei (sekitar 701–761)
Nama Kehormatan & Julukan Zi Mojie, Julukan Mojie Jushi
Dinasti Dinasti Tang
Gelar "Penyair Buddha"
Karya Representatif "Gunung Tinggal di Musim Gugur Senja", "Diutus ke Perbatasan", "Mengantar Yuan Kedua ke Anxi", dll.

Wang Wei adalah penyair representatif aliran puisi lanskap dan pedesaan Dinasti Tang. Ia mahir dalam puisi dan lukisan. Su Shi memujinya dengan "ada lukisan dalam puisinya, ada puisi dalam lukisannya".

Apresiasi

Baris pembuka "Setelah hujan di gunung sepi, cuaca sore hari terasa musim gugur" langsung menunjukkan musim dan lingkungan — setelah hujan baru, gunung sepi terasa sangat segar, udara sore hari menyiratkan nuansa musim gugur. "Gunung sepi" bukan berarti benar-benar kosong, melainkan merujuk pada tempat yang sunyi jauh dari keramaian dunia.

Baris kedua "Bulan terang bersinar di antara pohon pinus, air jernih mengalir di atas batu" adalah dua baris paling terkenal dari puisi ini, juga kalimat abadi yang dikenang sepanjang masa. Cahaya bulan menembus hutan pinus menyinari tanah, air jernih mengalir gemericik di atas batu — sebuah lukisan tinta yang segar dan elegan.

Baris ketiga "Gemerisik bambu tanda gadis pencuci pulang, gerakan teratai tanda perahu nelayan turun" menggunakan suara untuk menonjolkan keheningan. Suara tawa dan canda dari hutan bambu menandakan gadis pencuci pakaian pulang; daun teratai bergoyang di permukaan air menandakan perahu nelayan meluncur mengikuti arus. Adegan kehidupan ini menambah nuansa kehidupan manusia pada hutan gunung yang sunyi.

Baris penutup "Biarkan saja wangi musim semi berlalu, sang pangeran boleh tinggal di sini" mengungkapkan kepuasan penyair terhadap kehidupan menyendiri — biarkan saja keindahan musim semi memudar, di tengah pemandangan musim gugur di gunung ini, aku dengan senang hati ingin tinggal di sini.

Baris Puisi Makna
Setelah hujan di gunung sepi, cuaca sore hari terasa musim gugur Gunung sepi baru saja turun hujan, cuaca sore hari menyiratkan nuansa musim gugur
Bulan terang bersinar di antara pohon pinus, air jernih mengalir di atas batu Bulan terang bersinar melalui hutan pinus, air jernih mengalir di atas batu
Gemerisik bambu tanda gadis pencuci pulang, gerakan teratai tanda perahu nelayan turun Keriuhan dari hutan bambu menandakan gadis pencuci pulang, goyangan daun teratai menandakan perahu nelayan lewat
Biarkan saja wangi musim semi berlalu, sang pangeran boleh tinggal di sini Biarkan saja bunga musim semi layu, aku ingin tinggal di sini

Referensi

  1. Wikipedia: https://zh.wikipedia.org/wiki/山居秋暝
  2. Situs Puisi Klasik: https://www.gushiwen.cn/
  3. Baidu Baike: https://baike.baidu.com/item/山居秋暝

Available in other languages

Comments (0)