Synopsis
Selama Perang Dunia II, seorang petani Hebei bernama Ma Dasan dipaksa untuk menjaga seorang tentara Jepang dan seorang penerjemah, yang memicu serangkaian komedi hitam absurd namun mendalam. Disutradarai dan dibintangi oleh Jiang Wen, film ini memenangkan Grand Prix di Festival Film Cannes ke-53 dan memiliki rating 9,3 di Douban.
Ikhtisar
Devils on the Doorstep (Mandarin: Guizi Laile) adalah film drama perang Tiongkok yang dirilis pada tahun 2000, disutradarai dan dibintangi oleh Jiang Wen, dengan partisipasi aktor seperti Teruyuki Kagawa dan Yuan Ding. Berlatar belakang Perang Perlawanan terhadap Jepang, film ini menggunakan citra hitam putih dan humor gelap untuk menceritakan kisah tentang ketakutan, kebaikan yang naif, dan kelemahan manusia.
Film ini ditayangkan perdana pada Mei 2000 di Festival Film Cannes ke-53, di mana ia memenangkan Grand Prix. Dengan film ini, Jiang Wen sekali lagi membuktikan kemampuannya sebagai salah satu sutradara paling unik di Tiongkok. Di Douban, film ini meraih rating tinggi 9.3, dan kokoh berada di peringkat TOP250 Douban.
Sinopsis
Pada akhir Perang Dunia II, Ma Dasan (diperankan oleh Jiang Wen), seorang petani di Desa Guajiatai, Hebei, Tiongkok, hidup tenang di bawah pendudukan Jepang. Suatu malam, seorang gerilyawan tak dikenal mengancam dengan senjata di depan pintu Ma Dasan dan meninggalkan dua karung goni—satu berisi prajurit Angkatan Darat Jepang yang diculik, Hanaya Kosaburo (diperankan oleh Teruyuki Kagawa), dan satu lagi berisi penerjemah Dong Hanchen (diperankan oleh Yuan Ding). Gerilyawan itu berjanji akan mengambil mereka pada Malam Tahun Baru, tetapi tidak pernah muncul lagi.
Ma Dasan dan warga desa terpaksa menjaga dua tawanan ini. Awalnya, Hanaya Kosaburo berniat mati, ingin gugur sebagai pahlawan dengan semangat bushido. Ia bahkan mengajari penerjemah kata-kata makian dalam bahasa Jepang, tetapi sang penerjemah, untuk menyelamatkan nyawanya, menerjemahkan semuanya menjadi kata-kata permohonan ampun. Kesalahpahaman lintas bahasa ini penuh dengan efek komedi gelap yang absurd.
Seiring waktu, muncul kehangatan hubungan manusia yang halus antara warga desa dan para tawanan. Hanaya mengusulkan rencana untuk menukar tawanan Jepang dengan makanan, dan warga desa mempercayainya, membawa Hanaya kembali ke pos tentara Jepang. Namun, yang menunggu mereka bukanlah pertukaran yang damai, melainkan pembantaian berdarah.
Akhir film ini sangat mengguncang—dalam kekacauan setelah kemenangan Perang Perlawanan, Ma Dasan, membawa kapak, menerjang ke kamp tawanan perang Jepang untuk membalas dendam, tetapi justru dieksekusi sebagai penjahat perang oleh pasukan Nasionalis. Pelaku eksekusinya adalah Hanaya Kosaburo, yang pernah ia perlakukan dengan baik.
Pemeran Utama
| Aktor | Peran | Deskripsi Peran |
|---|---|---|
| Jiang Wen | Ma Dasan | Petani Hebei, baik hati namun naif |
| Teruyuki Kagawa | Hanaya Kosaburo | Prajurit Angkatan Darat Jepang |
| Yuan Ding | Dong Hanchen | Penerjemah, pandai mengambil hati |
| Jiang Hongbo | Yu'er | Kekasih Ma Dasan |
| Cong Zhijun | Paman Kelima | Tetua desa |
Produksi di Balik Layar
Devils on the Doorstep seluruhnya difilmkan dengan citra hitam putih, hanya adegan eksekusi terakhir yang menggunakan warna—darah yang memancar di layar bagaikan pukulan kekerasan terakhir terhadap dunia hitam putih film ini. Transisi dari hitam putih ke warna ini adalah salah satu metafora visual paling mengguncang dalam sejarah film Tiongkok.
Jiang Wen menyiapkan banyak bahan untuk film ini, mendalami detail kehidupan pedesaan Tiongkok utara selama periode Perang Perlawanan. Dialog film banyak menggunakan dialek Hebei, meningkatkan rasa autentisitas. Teruyuki Kagawa adalah aktor Jepang terkenal; aktingnya halus dan realistis, menggambarkan transformasi Hanaya dari penganut bushido yang fanatik, menjadi orang biasa yang ketakutan, hingga algojo yang dingin dengan cara yang mengerikan.
Penghargaan
| Penghargaan | Kategori | Hasil |
|---|---|---|
| Festival Film Cannes ke-53 | Grand Prix | Menang |
| Festival Film Cannes ke-53 | Palme d'Or | Nominasi |
| Festival Film Cannes ke-54 | Prix France Culture Cinéma (Sineas Asing Tahun Ini) | Menang (Jiang Wen) |
| Penghargaan Film Mainichi Jepang | Film Asing Terbaik | Menang |
Signifikansi Budaya
Devils on the Doorstep adalah salah satu refleksi paling mendalam film Tiongkok tentang perang dan kemanusiaan. Jiang Wen tidak membuat film perang tradisional, melainkan menggunakan pendekatan komedi gelap untuk mengungkapkan bagaimana kebaikan ala petani Tiongkok dieksploitasi dan diinjak-injak dalam perang.
Tragedi Ma Dasan bukan karena ia tidak cukup baik, tetapi justru karena kebaikannya itulah yang menjadi kelemahan fatalnya. Transformasi Hanaya Kosaburo dari ketakutan saat ditawan, menjadi rasa terima kasih setelah diperlakukan baik, hingga kekejaman saat menjalankan perintah, menunjukkan betapa rapuh dan mengerikannya manusia di hadapan mesin perang.
Film ini sempat tidak lolos sensor di Tiongkok, namun tidak diragukan lagi merupakan karya terbaik Jiang Wen dan salah satu film terpenting dalam sejarah sinema Tiongkok.
Referensi
- Douban Movie: https://movie.douban.com/subject/1291858/
- Wikipedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Devils_on_the_Doorstep
- IMDb: https://www.imdb.com/title/tt0245929/
Stills & Gallery
Comments (0)